Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku

Memey Azzura

5.0
Komentar
5.3K
Penayangan
78
Bab

Nayla Rahmawati terpaksa menikahkan suaminya dengan seorang gadis sholehah demi mempunyai keturunan. Pernikahannya yang menginjak angka delapan tahun tetapi, ia tak kunjung hamil. Mampukah Nayla berbagi suami dengan sang Madu? Ada apakah gerangan yang membuat Nayla tak kunjung hamil? Ikuti kisah rumah tangga Nayla dan Burhan serta Bella yang unik dan penuh dengan air mata dan kekompakan mereka menjalani rumah tangga yang berbeda dari umumnya. Ini kisah poligami yang berbeda dari yang lain.

Bab 1 Pernikahan

"Saya terima nikah dan kawinnya Bella Ariyanti binti alm. Muhammad Nuh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dalam satu tarikan nafas Burhan berhasil menghalalkan gadis muda disampingnya.

Gadis belia yang mengenakan gamis dan khimar putih, wajahnya ditutupi niqab menunjukkan betapa dirinya gadis sholehah. Sedang Burhan mengenakan setelan kemeja senada menambah kesan serasi.

Semua didominasi warna putih yang melambangkan kesucian. Menunjukkan acara ini sangat sakral serta lambang sebuah ketulusan dan kemurnian.

"Bagaimana saksi, sah." Penghulu bertanya pada wanita yang duduk tepat belakang mempelai pria. Wanita itu pun mengangguk dan disambut tepuk tangan meriah dari para undangan.

"Sah."

"Sah."

"Sah."

Kata itu menggema di seluruh penjuru ruangan. Semua yang hadir turut merasa bahagia atas momen paling berharga ini. Namun, tidak bagi wanita yang menjadi saksi.

Semburat kesedihan terpancar jelas di wajah tirusnya. Ia tetap memaksakan untuk tersenyum pada siapa saja yang menatapnya. Menyembunyikan kesedihan yang membuncah karena ini semua terjadi atas kehendaknya.

Berdiam diri mematung menatap punggung pengantin pria, yang tengah sibuk menandatangani berkas. Pertanda bahwa pernikahan itu sah dimata hukum dan agama.

Ia terus meremas ujung kebaya jingga yang melekat pada tubuh langsingnya, dipadukan dengan rok batik khas Jambi. Rambut lurus sebahu dibiarkan tergerai hanya dijepit bagian samping membuatnya semakin mempesona.

Wanita itu bernama Nayla Rahmawati, merupakan istri pertama pria yang baru saja mengikrarkan janji suci pada wanita bercadar di sampingnya.

Remasan di ujung kebayanya kian erat lalu mendadak berdiri hingga kursi plastik yang didudukinya terjatuh kebelakang. Setengah berlari keluar dari gedung untuk pergi sejauh-jauhnya.

Ia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan rentetan acara yang akan merubah dunianya setelah ini. Entah berapa kali menabrak tamu undangan hingga tersungkur. Terdengar cacian dan makian untuknya.

Ia kembali berlari dan terus berlari keluar dari tempat itu dan pergi menjauh. Keadaanya benar-benar kacau saat ini. Entah berapa kali dia jatuh bangun tetapi, tetap tidak menyerah untuk menjauh dari sana.

Hatinya hancur tak beraturan, luluh lantak dan takkan pernah bisa pulih sekalipun ia yang menginginkannya. Apalagi saat menyaksikan suami yang teramat dicintai mengecup dahi wanita yang beberapa menit lalu resmi menjadi madunya.

Selama ini ialah yang selalu berada di posisi wanita itu. Mendapatkan ribuan kecupan dari si pria setiap harinya kala mereka bersama. Dan kini? Ah, membayangkannya saja tak sanggup. Sungguh tak mampu membayangkan harus berbagi kasih sayang dan juga ranjang dengan wanita lain.

Berlari dan terus berlari tanpa tujuan. Air matanya tak henti mengalir deras. Jika itu sungai mungkin akan terjadi banjir bandang. Memang pernikahan ini ia yang menginginkannya, tetapi tidak terbayang akan sesakit ini.

Ternyata kenyataan jauh lebih menyakitkan dari yang dikhayalkan. Hidup berdampingan bersama adik madu tanpa cemburu. Bersama mengarungi lautan dengan satu kapal dan nahkoda yang sama.

Dari jauh hari ia telah menyiapkan mental untuk hari ini sayangnya tetap tergores perih dan berdarah. Teringat seminggu yang lalu Burhan memohon untuk membatalkan pernikahan yang sama sekali tidak harus terjadi.

"Tidak bisakah dibatalkan saja, dik. Abang tidak bisa, abang tidak bisa melihatmu sakit hati," ujar Burhan memelas berharap Nana merubah keinginan gilanya.

Mereka duduk di balkon menunggu waktu magrib. Ditemani secangkir teh hangat dan nastar buatan Nana sebagai cemilan.

"Tidak Bang, Abang harus menikahi Bella," balas Nana penuh penekanan diikuti tatapan tajam yang kerap membuat Burhan tak mampu membantah lagi

.

"Lupakan Abang yang tidak menyukai Bella. Abang takut kau terluka, Dik," bujuk Burhan mengusap pucuk kepala wanita yang telah mendampinginya hampir sewindu. Jantungnya berdegup sangat kencang.

"Tidak," bentak Nana menepis tangan Burhan yang terus mengusap rambut hitam tebalnya.

"Sayang ... Kamu berani meninggikan suara pada suamimu ini, Dik. Atas ambisi gilamu itu." Burhan sedikit menaikan nada suaranya.

"Aku ingin anak, Bang." Nana menundukan wajahnya netranya menatap lantai. Matanya mulai berembun, tidak pernah mendengar nada suara Burhan meninggi membuat hatinya iba.

"Tapi tidak seperti ini caranya, Dik," ujar Burhan pelan tahu istrinya tengah ketakutan karna bentakannya.

"Tidak ada jalan lain. Aku tidak bisa hamil, Bang. Aku tak memiliki rahim dan sampai kapan pun tak akan pernah ada janin yang tumbuh dalam diri ini." Nana mulai terisak.

"Tapi Abang tidak butuh anak. Kita bisa terus bersama itu sudah cukup, Dik." kedua tangannya mengusap bahu sang istri.

"Aku selalu memimpikan tangis bayi di rumah ini, Bang. Rumah ini terlalu sunyi" Nana berhambur dalam dekapan Burhan tangisnya semakin terdengar.

"Kita adopsi anak saja." Burhan mengusap punggung nana. Ia juga bersedih tetapi, tidak bisa untuk meneteskan air mata.

"Aku mau anak itu dari benihmu. Dia akan jadi anak yang paling beruntung karena memiliki dua orang ibu." Nana mendongakan wajahnya menatap tajam mata elang milik sang suami.

"Kamu wanita, ini sangat tidak mudah. Abang takut menjadi bumerang untuk rumah tangga kita." Burhan mengalihkan pandangan sungguh dia tidak sanggup terlalu lama beradu pandang dengan wanita yang rela menerimanya yang miskin.

Wanita yang mengangkatnya dari kubangan lumpur lalu menjadikannya permata. Burhan tidak lupa siapa dirinya dulu, walau kini bergelimangan harga. Ia tetaplah Burhan yang hanya buruh panen di kebun milik mendiang orang tua Nana.

"Kita sudah membahas hal ini jauh hari. Dan, Abang setuju. Lalu sekarang mengapa berubah pikiran. Lakukan demi cintamu padaku, Bang," tukas Nana berlalu masuk ke kamar melemparkan tubuh langsingnya keranjang.

"Aku laki-laki, Dik. Cepat atau lambat meski tanpa cinta pasti akan terbiasa dengan hadirnya wanita lain diantara kita. Tapi Aku tidak yakin dengan hatimu. Selama ini saja kau selalu cemburu melihat aku dekat dengan wanita lain. Padahal hanya sebatas teman," batin Burhan menggelengkan kepala.

Bagi Burhan permintaan Nana sangat konyol. Saat wanita diluar sana membenci poligami, Nana justru menginginkan.

Setahun terakhir Nana terus menodong untuk menikah lagi, tetapi selalu ditolaknya dengan berbagai alasan, mengulur waktu dan secara halus menghindar. Rasa cinta yang begitu besar sama sekali tidak mempermasalahkan kondisi Nana yang tak memiliki rahim.

Sengaja mendirikan panti asuhan sebagai pelarian saat Nana kesepian. Berharap dengan berada diantara anak panti akan melupakan keinginan memiliki anak. Sayangnya Nana tetaplah Nana, yang keras kepala, setiap kehendaknya harus terwujud.

Berbagai upaya Burhan menggagalkan ambisi Nana sia-sia belaka dan hari ini puncaknya. Keinginan Nana menjadi kenyataan.

Ck, Nana berdecak lalu mengusap kasar wajahnya. Duduk di halte menjadi pilihan karena lelah berlari. Ia tidak dapat lagi menangis meski masih ingin menangis untuk mengurangi beban yang menghimpit.

Jemari lentiknya meraih gawai dalam tas selempang kesayangan. yang dibeli seharga seratus lima puluh ribu. Meski kaya raya ia bukanlah pecinta barang-barang branded.

Baginya sangat tidak bermanfaat, lebih baik uangnya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Menjadi bermanfaat untuk orang lain adalah kebiasaannya.

Diusapnya layar lima koma lima inci itu yang bagian belakangnya terpampang tulisan yang seperti orang Jawa bertanya. Jam menunjukan pukul setengah dua artinya sudah dua jam meninggalkan tempat itu.

Hatinya bertanya-tanya apakah suaminya menyadari keberadaannya atau justru sibuk dengan Bella sang istri muda. Nana memukul kepala yang berpikir bodoh. Sudah pasti suaminya sangat mengkhawatir terbukti ada puluhan chat dan panggilan dari nomor sang suami.

Dengan menekan tombol off, sementara gawainya dipensiunkan. Masih belum siap untuk berbicara dengan siapapun.

"Aku hanya butuh waktu untuk mengobati luka hati ini dan saat luka ini sembuh dan mengering maka aku akan kembali ke tengah-tengah kalian." Monolognya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat

Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat

Renell Lezama
5.0

Tunangan Lena adalah pria yang menyerupai iblis. Dia tidak hanya berbohong padanya tetapi juga tidur dengan ibu tirinya, bersekongkol untuk mengambil kekayaan keluarganya, dan kemudian menjebaknya untuk berhubungan seks dengan orang asing. Untuk mencegah rencana jahat pria itu, Lena memutuskan untuk mencari seorang pria untuk mengganggu pesta pertunangannya dan mempermalukan bajingan yang selingkuh itu. Tidak pernah dia membayangkan bahwa dia akan bertemu dengan orang asing yang sangat tampan yang sangat dia butuhkan. Di pesta pertunangan, pria itu dengan berani menyatakan bahwa dia adalah wanitanya. Lena mengira dia hanya pria miskin yang menginginkan uangnya. Akan tetapi, begitu mereka memulai hubungan palsu mereka, dia menyadari bahwa keberuntungan terus menghampirinya. Dia pikir mereka akan berpisah setelah pesta pertunangan, tetapi pria ini tetap di sisinya. "Kita harus tetap bersama, Lena. Ingat, aku sekarang tunanganmu." "Delon, kamu bersamaku karena uangku, bukan?" Lena bertanya, menyipitkan matanya padanya. Delon terkejut dengan tuduhan itu. Bagaimana mungkin dia, pewaris Keluarga Winata dan CEO Grup Vit, bersamanya demi uang? Dia mengendalikan lebih dari setengah ekonomi kota. Uang bukanlah masalah baginya! Keduanya semakin dekat dan dekat. Suatu hari, Lena akhirnya menyadari bahwa Delon sebenarnya adalah orang asing yang pernah tidur dengannya berbulan-bulan yang lalu. Apakah kesadaran ini akan mengubah hal-hal di antara mereka? Untuk lebih baik atau lebih buruk?

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku