Kepentok Cinta Sang Idol

Kepentok Cinta Sang Idol

MRS LEE

5.0
Komentar
2.2K
Penayangan
45
Bab

Karena kesalahpahaman, Adara, gadis yang menjadi wartawan ini di cap sebagai tersangka penyebar berita yang yang membuat Artis itu tidak nyaman, siapa lagi dia adalah Benard. Dan tidak pernah di duga kalau gadis itu terjebak dengan masalah percintaanya dengan Aktor tersebut. Lantas? Bagaimana cara gadis itu menyelesaikannya?

Kepentok Cinta Sang Idol Bab 1 1. Awal Bertemu

Menjadi Idol bukanlah hal yang sangat mudah. Seperti yang dilakukan oleh Benard Djaya Aditya yang kini berprofesi sebagai Artis solo di agency MC Entertainment. Agency ini adalah salah satu perusahaan hiburan Seoul-Korea Selatan yang dibentuk oleh Robert Chan. Di sana terdapat beberapa artis solo dan grup, salah satunya adalah Benard yang lolos tanpa mengikuti audisi di beberapa kota. Itu semua tentunya membuat banyak yang mengaguminya.

Benard diambil Agency tersebut dari sekolahannya dikarenakan dia memiliki suara emas sejak kecil dan juga dirinya sering disorot di televisi sejak berusia 19 tahun. Maka dari itu, pihak Agency menyeret Benard untuk ikut debut.

Bukan hanya itu Benard juga mempunyai bakat, terutama tentang music. Wajahnya juga terlihat tampan dan mempunyai visual, alasan itu juga Agency menyukai pria tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Benard dijuluki penggemarnya dengan Raja Beruang, yang diambil dari namanya Benard-Bear.

Tap Tap Tap

Suara derap langkah mereka terdengar nyaring di lobi bandara. Saking sepinya, sampai-sampai dia merasakan kalau dirinya ini sendirian saja di bandara ini. Padahal tidak, dia sekarang bersama dengan Asisten Pribadinya yang bernama Ronald.

Langkahnya terhenti ketika terdengar suara teriakan dari sebrang sana. Sontak membuat Benard menoleh ke belakang, ternyata dugaannya benar banyak penggemar dan wartawan di belakangnya.

"Benard!"

"Astaga," gumamnya. Penyamarannya sepertinya tidak ada gunanya.

Jujur saja, dirinya ingin bebas sehari saja dari serbuan dari penggemar dan juga wartawan. But it's free,

"Sehari saja mau sendiri bisa tidak sih?" gumamnya, dirinya langsung berlari keluar dari area bandara tersebut.

Kadang, dirinya merasa tertekan karena ulah sasaeng yang menurutnya sangat berlebihan. Dari menguntit ke dormnya sampai mengikuti sampai kamar mandi bahkan ke rumahnya sendiri.

"H-hei! Benard! Kau gila!" pekik Ronald spontan, melihat Benard yang berlari terlebih dahulu.

Benard terus berlari tidak peduli apa yang dikatakan Ronald barusan, dia terus mencari celah untuk bersembunyi dari penggemarnya itu.

***

Seorang gadis yang berparas cantik dan memiliki tubuh kecil serta berambut pendek itu melangkah keluar dari restoran setelah selesai membeli makanan buat Ibunya pada siang hari itu.

Adara menghentikan langkahnya, ketika melihat seorang pria tampan di seberang sana dengan berpakaian tertutup berlarian dari serbuan orang di belakang sana.

Mata gadis itu dipicingkan, pria itu ternyata sedang dikejar sama kerumunan wartawan dan beberapa perempuan.

Adara sempat mengerutkan kening dan mengumpat, dia berpikiran kalau semua perempuan itu adalah kekasih atau mantan pria itu. Pikiran yang tidak masuk akal. "Apa mereka kekasihnya semua?"

"Ah, apa yang kau pikirkan Adara!" Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan hal-hal yang jelek.

Adara tidak ingin berpikir panjang, menaikkan bahunya, karena itu juga bukan masalahnya juga. Segera ia melanjutkan perjalanan pulang.

Ternyata pria itu menyebrang ke arah Adara. Dan masih berlarian karena menghindar dari wartawan yang berada di belakangnya.

Pria itu tidak melihat di depannya ada gadis yang sedang berjalan. Matanya membulat ketika ia akan menabrak perempuan itu.

"Awas!" teriak seorang pria tersebut dengan suara nyaringnya.

Adara menoleh ke belakang, matanya membulat ketika pria itu sudah akan dekat dengannya. Bagaimana pria itu sudah di belakangnya?

Brukk!!

"Aww!" pekiknya.

Adara terpental ke bawah sembari meringis kecil, sambil mengusap pantatnya yang sudah mendarat bebas di tanah sana.

"Ugh! Kalau jalan pakai mata dong! Tidak tau apa ada orang besar di depannya!" omel Adara dengan nada cepat, sambil berdiri pelan. Padahal tadi dia sudah menghindar, tapi pria itu tetap saja menabraknya, sangat menyebalkan.

"Apa kau tidak punya mata hah!?"

"Ah maaf, aku dikejar tadi. A-ku buru-buru."

"Tidak mau, kau harus bertanggung jawab!"

"Hah! Ta--"

"Benard!!!"

Ucapan pria itu terpotong saat ada salah satu penggemarnya memanggil namanya. Sontak pria itu menoleh ke belakang. Tentunya membuat pria itu sangat shock.

"Sial! Mereka masih mengejarku," umpat pria tersebut, lalu menatap Adara yang kini menatap tajam seakan dia mau berbicara.

Tanpa berkata apapun Benard menarik lengan Adara untuk bersembunyi dari serbuan wartawan dan penggemar-nya itu, alhasil gadis itu mengikutinya.

"A--ah! Mau bawa ke mana, lepaskan tidak!" Adara terus memberontak, namun nihil kekuatan pria itu lebih kuat darinya.

"Hei! Kau salah bawa orang!" lanjutnya, sesekali melirik ke belakang.

"Diam, cerewet banget sih!" katanya sambil berlari. Adara yang tadinya memberontak kini terdiam saat melihat ke arah belakang.

Ternyata mereka masih mengikuti pria ini.

Terus, apa masalahnya denganku? batin Adara sambil melirik pria yang lari bersama dengannya dengan penuh tanda tanya.

Padahal dia tidak saling mengenal. Nama, alamat, ah sudahlah mungkin dia cuma modus saja dengannya.

Tidak menghabiskan waktu lama, akhirnya dia terhenti di tempat yang jauh dari sana. Nafas mereka tidak beraturan, terlihat sangat jelas wajah kelelahan apalagi Adara. Karingat juga mulai keluar dari keningnya, mereka seperti baru lari marathon.

"Gila, itu kekasihmu semua," ucap Adara spontan, menunduk sekilas dengan nada polosnya. Adara melirik tangannya yang kini masih dicekal oleh pria tersebut.

"Lepas?!"

"Hei! Enak saja. Mereka bukan kekasihku." Napas pria tersebut tersenggal-senggal. Lalu, melepaskan tangan gadis itu. "Sorry."

"Hei! Dikira aku gadis murahan gitu? kamu cuma minta maaf begitu saja?" Adara asal bicara begitu saat saat mendengar permintaan maaf dari Benard. Lalu menatap pria tersebut dengan tajam.

Benard memicingkan matanya heran.

"Ya, terus? Lagipula cuma dipegang saja kan? Tidak akan hamil juga kan? Untuk apa aku harus bertanggung jawab!?" Benard meringis kecil, lalu memutarkan bola matanya.

Adara memicingkan matanya dengan wajah geli.

Dengan cepat dia menarik masker yang menutup wajahnya, dan topi yang dikenakan. Karena menurut dia seperti orang yang sok misterius.

"E-ehh!" Benard sontak shock saat Adara membukanya.

"Kau mau mati ditangan mereka hah!" ucap Benard dengan nada tinggi. Adara terdiam sepertinya dia pernah melihat wajah ini? Tetapi dimana. Sedari tadi dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia masih bertanya-tanya dibenaknya.

"Kau saja, aku tidak!?" ucapnya dengan nada tidak santai.

"Hei!" Benard memukul kening Adara dengan keras.

"Aws!"

"Apa yang kau pikirkan sekarang?"

"Ah ya, pasti kau berpikiran kalau aku tampan? Atau kau juga salah satu penggemarku yang--" ucap Benard sambil menunjuk kening Adara dengan sangat percaya diri. "Mengikutiku diam-diam?" cicitnya.

Adara membulatkan matanya saat pria itu menunjuk kening mulusnya, lalu dia melirik tangannya yang berada di dahinya.

"Hah? Apa kau bilang coba? aku tidak mendengar perkataanmu tadi," ucap Adara sambil mendekatkan telinganya.

Benard melihat tingkah Adara langsung menahan pipinya dengan jari telunjuknya dan mendorongnya dengan cepat.

"Kau tuli ya?"

Adera membulatkan matanya lagi, ketika Benard berbicara seperti itu.

Sial, batin Adara, ia tidak terima ketika Pria itu berbicara seperti itu.

Sesekali melirik kaki milik Benard, tanpa disadari dia mendekat kearah Benard dengan memasang wajah sok manis.

Benard yang mengetahui gerak-gerik Adara, lalu bertanya. "Mau apa? Benar kan perkataanku?" tebak Benard dengan sangat percaya diri. Adara tidak merespon.

Lalu~

"Argh! Bodoh! Kakiku! Damn!" sontak Benard menjerit kesakitan saat kaki gadis itu melayang di kakinya.

"Mampus!"

"Bagaimana rasanya enak kan? Heum?" tanya Adara sambil menjejerkan gigi putihnya.

Tangannya dilipat di depan dadanya. Dia menaikkan kepalanya-sombong.

Benard menatap Adara tajam, tersenyum masam-lalu melangkah mendekatinya. Dia sangat gemas dengan gadis ini, tidak biasanya gadis diluar sana bertingkah seperti ini padanya.

"Lebih enak lagi kalau ...." Benard mendekati Adara dengan wajah jail. Sontak membuat gadis itu membulatkan matanya ketika Benard mendekatkan wajahnya. Tangan Adara mengepal menaikan ke atas untuk bersiap-siap menonjok wajah tampan Benard.

"Mau apa kau, hah!" tanya Adara dengan nada tinggi. Dia shock melihat pria tersebut mendekatinya tanpa alasan. Namun, Benard hanya menyunggingkan senyuman jahilnya.

"Melangkah sekali lagi, aku akan menendang masa depanmu," ancam Adara, kali ini dia sangat panik dan juga bingung harus melakukan apa. Tubuhnya sudah terpojokan di tembok, dia melirik ke samping lalu menatap Benard dengan tatapan was-was.

Adara menegukkan ludahnya, dia berpikir aneh-aneh dengan pria misterius ini.

Tangan Benard kini sudah berada di samping kepalanya. Wajah Benard sudah terpampang jelas di depan mata Adara.

"Kau penggemarku bukan? Atau seseorang sasaeng yang menyamar?" Benard menaikkan sudut bibirnya miris.

Beberapa kali, Adara menegukkan ludahnya. Dia menggelengkan kepalanya dengan polos. Tidak hanya itu saja, dia juga menetralkan jantungnya saat Benard berada tepat di depannya.

"Are you serious? Jangan bercanda!"

"Astaga, ini orang sudah gila ya?" batin Adara.

"Kau berpura-pura bodoh di depanku kan?" lanjutnya.

"Aku tidak bercanda, aku ...."

"Aku bahkan tidak mengenalmu!"

"..."

"Eh, sebentar. Diam!"

"Kau mirip dengan--?" ucapan Adara menggantung, matanya dipincingkan, ia melihat wajah Benard dengan jelas. Ia masih ingat waktu pertama kali ia masuk ke kantor, dan kemungkinan Benard adalah orang yang sama.

"Ceo di perusahaan Satria Garuda bukan?! Kau sudah menolakku waktu itu."

Benard terdiam dia memikirkan apa yang dikatakan sama wanita ini. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Adara. Memang dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Apa maksud dia? batin Benard.

"Tidak mau mengaku juga heum?!" Adara menunjuk-nunjuk wajah Benard, benard tidak merespon gadis itu lalu menepis tangan Adara.

"Aku tidak pernah melihatmu sebelum ini," ucap Benard dengan desisan, sesekali melirik ke sekitar untuk melihat keadaannya.

"Aish, kau amnesia atau bagaimana hah?"

"Sepertinya kau salah orang," ujar Benard.

Benard membenarkan posisinya dengan berdiri dengan benar. Dia menghela nafasnya dengan lega, lalu memutarkan bola matanya dengan jengah. Bagaimana bisa dia bertemu dengan gadis bodoh seperti Adara.

"Tidak, aku tidak salah orang! memang iya aku pernah bertemu denganmu sebelum ini." Adara tidak mau kalah, karena ia benar-benar pernah melihat pria ini di kantor yang pernah ia masuki, tapi ditolak karena penulisan Cv kurang tepat itu saja, kecewa sudah pasti tapi bagaimana lagi.

Benard mengepal tangannya dengan gemas. "Terserah kau, intinya aku tidak pernah bertemu denganmu," ucap Benard, diiringi dengan senyuman tipisnya lalu meninggalkannya gadis itu sendirian di sana.

Adara berkedip polos, pipinya digembungkan seperti ikan.

"Sepertinya salah orang, tapi memang dia kemarin ih!" sorot mata Adara masih ke arah punggung Benard yang semakin lama semakin menghilang.

"Siapa namanya?" gumamnya.

Saat Adara melangkah, tidak sengaja melihat dompet yang tergeletak tidak jauh dari tempat tadi, dia menautkan alisnya. Tidak apa apapun kecuali ATM dan juga kartu namanya.

"Dompet?" Adara memutuskan mengambil dan mengecek isi yang ada di dalam dompetnya.

"Benard Djaya Aditya. Oh ... orang tadi. Eh hei! Kamu meninggalkan dom--" Adara mau berteriak. Namun nihil, pria sudah terlalu jauh. Adara berdecak pelan, lalu memutuskan untuk pulang dan mengembalikan dompet dilain waktu.

***

Sesampai di rumahnya, Adara terus memandangi Dompet tersebut. Bukan hanya ATM dan juga tanda pengenalnya, akan tetapi ada gambar waktu pria itu masih kecil.

"Lucunya, apa ini kecilnya pria tadi? Hish, beda sekali dengan gambar di kartunya."

"Adara! Ayo kita makan!" teriak Ibunya dari luar, menata makanan yang sudah di belikan oleh Adara.

"Iya, Bu! Adara keluar." Adara menyimpan dompet tersebut di laci kamarnya, lalu beranjak keluar dari kamarnya.

"Kenapa lama sekali tadi? Ada masalah di jalanan heum?" tanya Ibu Lastri selaku Ibu angkat Adara, disela-sela makannya.

Adara menoleh ke Ibunya itu, lalu menduduki kursi di samping Ibunya. "Tidak Ibu, Adara tadi menunggu pesanan. Ramai di sana, mau tidak mau ya harus menunggu," jawab Adara dengan kekehan kecilnya di sela makannya.

Ibu Lastri mengangguk kecil. "Terus, bagaimana dengan pekerjaanmu heum? Apa diterima di kantor yang kau maksud kemarin?"

Adara terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Aku tidak diterima di sana," gumamnya sambil mencebikkan bibirnya.

Ibu Lastri sempat terkekeh melihat tingkah Anak angkatnya ini.

"Kau jangan lemas gini dong, semangat! Mungkin belum rezekinya juga."

Adara menganggukkan kepalanya. "Siap Bu Bos!"

Jujur saja Adara sangat beruntung mempunyai Ibu yang menyayanginya. Meskipun Ibu Lastri adalah bukan Ibu kandungnya. Senyuman Adara melebar, menatap Ibunya itu dengan dalam.

Ibu selalu beri semangat aku, terimakasih Ibu. Panjang umur selalu, batinnya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh MRS LEE

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya

Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya

Alvis Lane
5.0

Claudia dan Antonius telah saling mengenal selama dua belas tahun. Setelah tiga tahun berpacaran, tanggal pernikahan mereka telah ditetapkan. Berita tentang rencana pernikahan mereka mengguncang seluruh kota. Emosi memuncak ketika banyak wanita sangat iri padanya. Awalnya, Claudia tidak terlalu peduli dengan kebencian tersebut. Namun, ketika Antonius meninggalkannya di altar setelah menerima telepon, hatinya merasa hancur. "Dia pantas mendapatkannya!" Semua musuhnya menikmati kemalangan yang menimpanya. Berita itu menyebar dengan cepat. Suatu hari, Claudia memposting pembaruan di media sosialnya. Itu adalah foto dirinya dengan akta pernikahan yang diberi keterangan, "Panggil aku Nyonya Dreskin mulai sekarang." Di saat publik masih berusaha menyerap kejutan tersebut, Bennett-yang sudah bertahun-tahun tidak memposting di media sosial-mengunggah sebuah postingan dengan keterangan yang berbunyi, "Aku sudah menikah." Publik seketika heboh. Banyak orang menyebut Claudia sebagai wanita paling beruntung di abad ini karena berhasil menikahi Bennett. Semua orang tahu bahwa Antonius tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rivalnya. Claudia menang pada akhirnya. Dia menikmati komentar terkejut dari musuh-musuhnya sambil tetap rendah hati. Orang-orang masih berpikir bahwa pernikahan mereka aneh. Mereka percaya bahwa itu hanyalah pernikahan formalitas. Suatu hari, seorang awak media dengan cukup berani meminta komentar Bennett tentang pernikahannya, yang dijawab pria itu dengan senyum lembut, "Menikahi Claudia adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku."

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Kepentok Cinta Sang Idol Kepentok Cinta Sang Idol MRS LEE Romantis
“Karena kesalahpahaman, Adara, gadis yang menjadi wartawan ini di cap sebagai tersangka penyebar berita yang yang membuat Artis itu tidak nyaman, siapa lagi dia adalah Benard. Dan tidak pernah di duga kalau gadis itu terjebak dengan masalah percintaanya dengan Aktor tersebut. Lantas? Bagaimana cara gadis itu menyelesaikannya?”
1

Bab 1 1. Awal Bertemu

01/03/2024

2

Bab 2 2. Bertemu Kembali

01/03/2024

3

Bab 3 3. Sebuah Gambar

01/03/2024

4

Bab 4 4. Penyebar Berita Hoax

01/03/2024

5

Bab 5 5. Diculik Artis

01/03/2024

6

Bab 6 6. Klarifikasi

01/03/2024

7

Bab 7 7. Kekasih Bayaran

01/03/2024

8

Bab 8 8. Ber-ulah

01/03/2024

9

Bab 9 9. Trauma

01/03/2024

10

Bab 10 10. Mendadak Perhatian

01/03/2024

11

Bab 11 11. Tanda Tangan Kontrak

01/03/2024

12

Bab 12 12. Kembali

01/03/2024

13

Bab 13 13. Ibu Sakit

01/03/2024

14

Bab 14 14. Penasaran

01/03/2024

15

Bab 15 15. Serba Salah

01/03/2024

16

Bab 16 16. Muncul Perasaan

13/03/2024

17

Bab 17 17. Tamu Yang Tak diundang

14/03/2024

18

Bab 18 18. Ulah Kitty

15/03/2024

19

Bab 19 19. Jantung Berdebar

16/03/2024

20

Bab 20 20. Rosa

17/03/2024

21

Bab 21 21. Memaksa Rosa Jujur

18/03/2024

22

Bab 22 22. Perempuan Aneh

19/03/2024

23

Bab 23 23. Ibu Hampir Celaka

20/03/2024

24

Bab 24 24. Hadiah

21/03/2024

25

Bab 25 25. Salah Paham

22/03/2024

26

Bab 26 26. Reporter

23/03/2024

27

Bab 27 27. Sakit

24/03/2024

28

Bab 28 28. Candy

25/03/2024

29

Bab 29 29. Khawatir

26/03/2024

30

Bab 30 30. Kita Berbeda

27/03/2024

31

Bab 31 31. Aditya

28/03/2024

32

Bab 32 32. Suatu Pilihan

29/03/2024

33

Bab 33 33. Dekat Dengan Mama Benard

30/03/2024

34

Bab 34 34. Menenangkan Diri

31/03/2024

35

Bab 35 35. Mencari Benard

01/04/2024

36

Bab 36 36. Pingsan

02/04/2024

37

Bab 37 37. Amnesia

03/04/2024

38

Bab 38 38. Dengkuran

04/04/2024

39

Bab 39 39. Kembali Ke Rumah

05/04/2024

40

Bab 40 40. Mendingan

06/04/2024