Janda Pemikat Hati

Janda Pemikat Hati

NEVI ANDRIANI

5.0
Komentar
4.4K
Penayangan
24
Bab

Perpisahan pasti membuat semua orang sedih dan terluka, begitu juga dengan Ruby yang baru saja bercerai dari mantan suaminya. Dia hancur dan nyaris hilang arah. Demi menghibur diri, dia pun memutuskan untuk bersenang-senang di sebuah bar bersama kedua sahabatnya. Namun sebuah kejadian memalukan di dalam toilet bar mempertemukan Ruby dengan Dinan, mereka akhirnya berseteru dan Ruby melarikan diri dari pria itu. Tapi siapa sangka beberapa hari kemudian Ruby bertemu lagi dengan Dinan, dan sialnya ternyata pria itu adalah atasannya yang selama ini dicintai sang adik. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Yuk baca kisah serunya! Jangan lupa tekan ❤️, ya.

Bab 1 Episode 1.

Pernikahan adalah momen indah dalam setiap hidup manusia, tapi keindahan itu seketika hancur jika sebuah perceraian datang melanda. Inilah yang dirasakan Ruby Milana, wanita cantik berumur dua puluh lima tahun yang baru saja bercerai dari suaminya .... Arkana Willian.

Ruby memutuskan menggugat cerai Arkan karena lelaki itu ketahuan berselingkuh dengan bawahannya sendiri. Sebelum bercerai, sebenarnya rumah tangga mereka sudah tidak harmonis dikarenakan mereka belum juga memiliki momongan, padahal sudah dua tahun menikah. Orang tua Arkan juga selalu menuntut cucu dari mereka.

Dan hari ini berakhir sudah mahligai rumah tangga yang sejatinya sudah terkoyak lama, meskipun sakit karena dia masih mencintai Arkan, tapi dia berusaha ikhlas menerima takdir hidupnya ini.

Ruby mengundang Laura dan Keke ke rumahnya, setelah memutuskan berpisah dari Arkan, Ruby pun kembali ke rumah peninggalan orang tuanya dan tinggal bersama sang adik yang bernama Safira.

Ruby dan Safira yatim piatu, kedua orang tua mereka sudah meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan. Keduanya telah terbiasa mandiri dan hidup sederhana sejak ditinggal oleh ayah dan ibu mereka. Bahkan saat Ruby menikah dengan Arkan pun, Safira tidak ditanggung biaya hidupnya. Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu memilih bekerja sambil kuliah. Dan kini dia sudah bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai staf marketing.

Ruby masih menangis terisak-isak setelah mencurahkan isi hatinya kepada kedua sahabatnya itu.

"Yang sabar, ya, By. Kamu harus kuat dan ikhlas." Ujar Laura sembari mengusap punggung belakang Ruby.

"Iya, By. Jangan bersedih lagi! Laki-laki seperti Arkan itu tidak pantas ditangisi." Sela Keke.

Ruby hanya bergeming sambil mengusap jejak air matanya.

"Keke benar, kamu terlalu baik untuk Arkan. Jangan buang air matamu hanya untuk manusia seperti dia."

"Tapi aku masih mencintainya, Ra." Sahut Ruby pelan.

"Mencintai orang yang selalu menyakitimu itu adalah suatu kebodohan, By! Jangan buang-buang waktumu! Kamu masih muda dan cantik, di luar sana pasti ada seseorang yang bisa mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Jadi buka matamu dan berhenti menyiksa diri sendiri!" Ucap Laura.

"By, kami tahu kamu sedih dan terluka. Tapi jangan berlarut-larut! Sekarang waktunya kamu menikmati hidup dan jemput kebahagiaanmu."

"Aku tidak tahu bagaimana hidupku setelah ini. Tidak mudah menjadi seorang janda, aku merasa malu." Balas Ruby.

"By, janda itu bukan aib. Janda itu hanya wanita yang kurang beruntung karena harus berpisah dari suaminya. Jadi kamu tidak perlu malu." Imbuh Keke.

"By, percayalah! Semua pasti baik-baik saja karena kami akan selalu ada untukmu." Sambung Laura.

"Terima kasih, kalian memang sahabat terbaikku. Aku sangat menyayangi kalian." Ruby memeluk Laura dan Keke.

"Kami juga menyayangimu." Balas Laura dan Keke bersamaan.

Ketiga sahabat itu saling berpelukan, Ruby benar-benar merasa beruntung memiliki sahabat seperti Laura dan Keke. Mereka sudah seperti saudara untuk Ruby.

Keke menjauhkan dirinya. "Sekarang bagaimana kalau kita bersenang-senang ke bar?"

"Ide yang bagus! Yuk, By!" Ajak Laura.

"Aku sedang malas."

"Ayolah, By! Kita kan sudah lama tidak nongkrong bareng. Please!" Rengek Laura.

Ruby menghela napas lalu mengangguk dua kali.

"Yeeee! Let's go!" Seru Keke girang.

Ketiganya pun bersiap kemudian bergegas pergi.

Saat hendak berangkat, mereka berpapasan dengan Safira yang baru pulang kerja karena lembur.

"Loh, pada mau ke mana?" Tanya Safira bingung.

"Mau ajak Kakakmu bersenang-senang, biar tidak galau terus." Jawab Keke. "Kamu mau ikut?"

Safira menggeleng. "Tidak, ah! Aku lelah banget habis lembur, ini saja mau langsung istirahat."

"Oh, ya sudah. Kalau begitu kami pergi dulu." Ujar Keke.

"Bye, Safira." Laura melambaikan tangan.

Safira mengangguk sambil ikut melambaikan tangan.

"Kakak pergi dulu, ya." Ruby pamit pada adiknya itu.

"Iya, Kak. Selamat bersenang-senang!" Balas Safira.

Mereka pun berangkat dengan menaiki mobil Laura.

💘💘💘

Ruby, Laura dan Keke datang ke sebuah klub malam. Ketiganya menenggak Vodka sambil menikmati lantunan musik yang dimainkan DJ, gemerlap lampu dan bisingnya suara musik, ditambah lagi canda tawa kedua sahabatnya itu, membuat Ruby sejenak melupakan kesedihannya. Dia bahkan juga sudah mulai mabuk, walaupun tidak berat.

Namun sepertinya kesedihan tidak mau terlalu lama meninggalkan Ruby. Saat janda cantik itu mulai merasa lebih baik, tiba-tiba Arkan dan kekasihnya datang dan melenggang masuk ke dalam klub malam. Hati Ruby kembali merana melihat wanita seksi yang bernama Renata itu bergelayut manja di lengan sang mantan suami, tapi sepertinya sepasang kekasih itu tidak menyadari keberadaan Ruby dan teman-temannya.

"By, jangan pedulikan! Kamu harus kuat!" Laura mengusap punggung belakang Ruby, berusaha menguatkan dan menenangkan sahabatnya itu.

Ruby hanya bergeming, memandang Arkan dan Renata dengan mata yang berkaca-kaca.

"Atau kita pergi saja dari sini?" Cetus Keke.

Ruby menggeleng. "Tidak usah! Aku tidak apa-apa, kok. Mau tidak mau aku harus siap melihat semua ini."

"Iya, kamu benar. Aku yakin kamu bisa melalui semua ini." Sahut Laura.

Tapi mendadak perut Ruby terasa mual dan hendak muntah, ini mungkin akibatnya karena dia meminum alkohol dalam keadaan perut kosong. Sebab sejak siang dia belum memakan apa pun.

Ruby menutup mulut sambil memegangi perutnya.

"By, kamu kenapa?" Tanya Laura cemas. "Kamu sakit?"

"Perutku mual, aku mau muntah." Jawab Ruby.

Perut Ruby semakin terasa mual, seperti ada dorongan dari dalam yang ingin keluar. Dengan tergesa-gesa Ruby beranjak dan berlari ke toilet.

"By, mau ke mana?" Teriak Laura, tapi Ruby tak menghiraukannya.

"Aku susul dia, kamu tunggu di sini!" Pinta Keke yang langsung menyusul Ruby.

Tapi sial, Keke kehilangan jejak Ruby. Dia tak tahu ke mana sahabatnya itu pergi.

💘💘💘

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh NEVI ANDRIANI

Selebihnya

Buku serupa

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku