5.0
Komentar
12.9K
Penayangan
36
Bab

Diana dijebak dan dijual oleh temannya kepada seorang pria yang tidak dia kenal. Karena hubungan satu malam itu, dia pun hamil. Beberapa tahun kemudian, Diana bertemu lagi dengan ayah dari anaknya tersebut. Namun sial, ternyata pria itu adalah kekasih sepupunya sendiri. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Diana jujur mengatakan jika dia memiliki anak dari pria itu?

Gadis Ternoda Bab 1 Episode 1.

Siang yang terik ini menjadi saksi perjuangan Diana mencari pekerjaan, namun dia tak kunjung menemukannya. Diana yang hanya tamatan SMA tak bisa berharap banyak untuk mendapatkan pekerjaan enak, apalagi di zaman yang serba sulit ini. Dari satu toko ke toko lain dia menawarkan diri agar bisa diterima bekerja, tapi semua nihil.

Dengan lelah, gadis berambut panjang itu duduk di halte bus, peluh menetes di sekitar pelipis dan lehernya. Tapi dia tak boleh menyerah, dia harus mendapatkan pekerjaan agar bisa menyambung hidup dan mengobati ibunya yang sedang sakit parah.

"Aku harus mencari pekerjaan di mana lagi?" keluh Diana sembari mengusap keringat di dahinya, tenggorokannya terasa kering sebab panas dan berkeringat membuatnya sedikit dehidrasi.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan Diana, kemudian seorang wanita berpakaian seksi dengan dandanan sedikit menor keluar dari mobil tersebut.

"Hai, Diana!" sapa wanita itu.

Diana memicingkan matanya, memperhatikan wanita itu, namun kemudian membelalak kala mengingat siapa seseorang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.

"Miranti?" Diana sontak beranjak dari duduknya.

Wanita bernama Miranti yang merupakan teman SMA Diana itu tersenyum lebar saat dirinya dikenali.

"Wah, kamu beda banget! Aku sampai pangling dan enggak mengenalimu!" Diana langsung memeluk temannya itu.

Miranti balas memeluk Diana, "Pantas kamu kayak orang bingung gitu waktu aku sapa."

Keduanya mengurai pelukan dan Diana mengamati Miranti dari bawah sampai atas, "Kamu cantik banget sekarang."

"Iya, dong. Ini semua berkat perawatan, kalau enggak perawatan, mana bisa seperti ini," sahut Miranti sambil tertawa.

Diana hanya tersenyum kecut saat mengingat dirinya yang saat ini terlihat kumal dan kucel.

"Eh, kamu sedang apa di sini?" tanya Miranti mengalihkan pembicaraan.

"Aku sedang istirahat, soalnya lelah dari tadi keliling mencari pekerjaan," jawab Diana jujur.

"Sudah dapat pekerjaannya?"

Diana menggeleng lemah, wajah cantiknya berubah sedih.

"Kamu mau aku kasih pekerjaan?" Miranti kembali bertanya.

Diana terkesiap, wajahnya berubah antusias, "Kerja apa, Mir?"

"Kerja enaklah pokoknya, dan bayarannya besar."

"Di mana?"

"Di hotel."

Diana mengernyit, "Di hotel?"

"Iya, nanti tugas kamu cuma melayani pengunjung dan menjamunya, pokoknya buat mereka senang," terang Miranti.

Diana berpikir sejenak, pekerjaan apa yang Miranti maksud?

"Kamu jangan takut! Sudah kubilang, kerjanya enak dan bayarannya banyak, apalagi kalau pengunjung puas dengan kerja kamu, bisa dapat bonus." Miranti mencoba meyakinkan Diana agar mau bekerja dengan dirinya.

Diana masih bergeming, dia sedikit ragu. Tapi dia sangat butuh pekerjaan saat ini, dan sekarang kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan ada di depan mata.

"Bagaimana, Di? Kamu mau enggak? Kalau enggak mau, aku cari orang lain saja."

Dengan segala pertimbangan , akhirnya Diana mengangguk setuju, "Iya, aku mau. Soalnya aku lagi butuh pekerjaan banget!"

Miranti pun tersenyum senang, "Baiklah, kalau begitu nanti malam pukul tujuh datang ke hotel Grand Luxury, tapi kamu harus berdandan yang cantik dan pakai pakaian yang bagus! Soalnya kita mau bertemu seseorang yang akan memberimu pekerjaan, nanti kita bertemu di sana," ujar Miranti.

"Kenapa bertemunya harus malam, Mir?"

"Karena dia bisanya malam, kalau siang dia ada pekerjaan lain," dalih Miranti.

"Baiklah, aku akan datang. Kalau gitu aku minta nomor telepon kamu, ya?"

Miranti mengangguk kemudian menyebutkan satu per satu nomor dan Diana buru-buru mencatatnya.

"Sampai bertemu nanti malam, ya. Aku masih ada urusan lagi," ucap Miranti.

"Iya, Mir. Terima kasih, ya!"

Miranti tersenyum dan bergegas masuk ke dalam mobilnya, kemudian melesat pergi.

"Akhirnya aku akan mendapatkan pekerjaan!" Diana tertawa senang.

Malam harinya, Diana sudah tiba di hotel yang Miranti maksud, dia berdandan cantik dan mengenakan stelan kemeja putih lengan pendek serta rok hitam sebatas lutut. Diana merasa penampilannya ini sudah cukup bagus dan rapi.

Dari kejauhan Miranti berjalan menghampiri Diana, "Hai, Di. Kamu kok pakai baju gini?"

"Kan mau interview, jadi aku pakai pakaian yang rapi seperti ini," jawab Diana polos.

"Enggak usah! Pakai baju biasa aja, ini bukan interview kerja yang formal, kok. Kamu jadi seperti anak magang kalau gini."

Diana mengernyit heran,"Aku kirain ini interview kerja seperti biasanya. Jadi gimana, dong!"

"Kebetulan aku ada bawa baju ganti di mobil, kamu pakai itu aja. Kayaknya ukuran tubuh kita enggak jauh beda."

Diana mengangguk pasrah, "Ya sudah, deh!"

"Tunggu sebentar!" Miranti kembali ke mobilnya dan mengambil pakaian yang akan dia pinjamkan ke Diana.

Keduanya pun lantas masuk ke dalam hotel berbintang itu dan menuju kamar mandi.

Setengah jam kemudian, Diana sudah berdiri di depan cermin wastafel dengan wajah masam. Dia sudah mengenakan pakaian yang Miranti pinjamkan, namun dia merasa tak nyaman. Bagaimana tidak, pakaian itu sangat terbuka, dia merasa risih sendiri.

"Apa enggak ada baju lain, Mir? Ini terlalu seksi, aku enggak pede!"

"Enggak ada, Di. Tapi kamu cocok pakai ini, kamu jadi cantik banget," puji Miranti.

Diana mengamati pantulan dirinya di cermin, dress dengan kerah Sabrina yang memamerkan pundak serta sebagian dadanya memang sangat cantik, tapi dia tak terbiasa memakai pakaian seperti ini.

"Sudah, jangan banyak mikir! Kita harus cepat menemui orang itu, nanti kamu bisa kehilangan pekerjaan kalau kelamaan," desak Miranti.

"Iya-iya, deh!" Diana pasrah.

"Eh, tunggu! Biar enggak gugup, kamu minum dulu!" Miranti mengeluarkan sebotol minuman rasa stroberi dan memberikannya pada Diana.

"Apa ini, Mir?" selidik Diana.

"Cuma minuman soda, sudah cepat minum!"desak Miranti.

Diana pun menenggak minuman itu, Miranti menyeringai licik.

"Sekarang kita pergi! Yuk!" ajak Miranti.

Keduanya meninggalkan toilet dan buru-buru naik lift menuju lantai atas.

Diana dan Miranti tiba di depan pintu salah satu kamar hotel, tak lama kemudian pintu itu terbuka setelah Miranti mengetuknya beberapa kali.

Seorang pria berwajah cukup ganteng yang mengenakan kemeja hitam menatap mereka dari balik pintu.

"Hem, Tuan. Ini Diana, yang tadi saya ceritakan," ujar Miranti.

"Silakan masuk!" pinta pria itu.

"Kamu masuk sana! Ingat ya, lakukan apa yang dia suruh, jangan melawan. Nanti kamu akan mendapatkan banyak uang dari dia," bisik Miranti.

"Maksudnya aku langsung kerja?" tanya Diana bingung.

"Iyalah, sudah cepat masuk!" Miranti mendorong pundak Diana.

"Tapi, Mir. Aku ...." Diana mulai bimbang.

"Mari masuk!" Pria itu kembali bersuara.

Dengan ragu Diana melangkah masuk, dia masih berusaha berpikir positif meskipun perasaannya mulai tidak enak. Entah mengapa dia merasa gelisah, jantungnya berdebar kencang seperti ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

"Nama kamu siapa?" tanya pria itu seraya mengunci pintu kamar.

"Diana, Pak."

"Jangan panggil bapak, aku rasa kita seumuran. Panggil Revan aja," pinta pria bernama Revan itu sembari berjalan mendekati Diana.

"I-iya." Diana mundur, perasaannya semakin tak enak, dia kian merasa tak nyaman dan gelisah.

"Malam ini kita akan bersenang-senang, cantik." Revan hendak meraih tangan Diana, tapi dengan cepat gadis itu mengelak dan menghindar.

"Maaf, saya .... ah ...." Diana ingin pergi dari kamar itu, tapi langkahnya terhenti karena mendadak kepalanya terasa pusing dan pandangannya mengabur.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Revan, dia memeluk Diana dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak gadis itu.

Diana merasa sesuatu mulai terpancing, dia merinding tapi masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Revan. Namun tentu Revan tak ingin melepaskannya begitu saja, dia semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi leher Diana, sehingga membuat gadis itu mendesah sambil memejamkan matanya.

Diana heran kenapa tubuhnya bereaksi aneh saat mendapatkan sentuhan dari Revan, dia seolah ingin meminta lebih padahal hati kecilnya menolak.

Revan semakin melancarkan aksinya, dia mencumbui Diana sampai gadis itu tak bisa menahan diri lagi.

Akhirnya malam itu mereka mengarungi surga dunia dalam kenikmatan, Revan merenggut kehormatan Diana tanpa ada perlawanan yang berarti dari gadis malang itu, karena dia juga sedang dikendalikan oleh hasrat yang memuncak.

Sementara itu, di dalam mobilnya, Miranti tersenyum senang melihat jumlah uang yang tadi siang Revan transfer ke rekeningnya.

"Maafkan aku, Diana! Kamu butuh uang, aku juga," gumam Miranti sinis, Diana tak tahu jika tadi dia sudah mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman yang gadis itu minum.

***

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh NEVI ANDRIANI

Selebihnya

Buku serupa

Pemuas Nafsu Keponakan

Pemuas Nafsu Keponakan

kodav
5.0

Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Aku, Rina, seorang wanita 30 Tahun yang berjuang menghadapi kesepian dalam pernikahan jarak jauh. Suamiku bekerja di kapal pesiar, meninggalkanku untuk sementara tinggal bersama kakakku dan keponakanku, Aldi, yang telah tumbuh menjadi remaja 17 tahun. Kehadiranku di rumah kakakku awalnya membawa harapan untuk menemukan ketenangan, namun perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkahku. Aldi, keponakanku yang dulu polos, kini memiliki perasaan yang lebih dari sekadar hubungan keluarga. Perasaan itu berkembang menjadi pelampiasan hasrat yang memaksaku dalam situasi yang tak pernah kubayangkan. Di antara rasa bersalah dan penyesalan, aku terjebak dalam perang batin yang terus mencengkeramku. Bayang-bayang kenikmatan dan dosa menghantui setiap malam, membuatku bertanya-tanya bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan beban ini. Kakakku, yang tidak menyadari apa yang terjadi di balik pintu tertutup, tetap percaya bahwa segala sesuatu berjalan baik di rumahnya. Kepercayaannya yang besar terhadap Aldi dan cintanya padaku membuatnya buta terhadap konflik dan ketegangan yang sebenarnya terjadi. Setiap kali dia pergi, meninggalkan aku dan Aldi sendirian, ketakutan dan kebingungan semakin menguasai diriku. Di tengah ketegangan ini, aku mencoba berbicara dengan Aldi, berharap bisa menghentikan siklus yang mengerikan ini. Namun, perasaan bingung dan nafsu yang tak terkendali membuat Aldi semakin sulit dikendalikan. Setiap malam adalah perjuangan untuk tetap kuat dan mempertahankan batasan yang semakin tipis. Kisah ini adalah tentang perjuanganku mencari ketenangan di tengah badai emosi dan cinta terlarang. Dalam setiap langkahku, aku berusaha menemukan jalan keluar dari jerat yang mencengkeram hatiku. Akankah aku berhasil menghentikan pelampiasan keponakanku dan kembali menemukan kedamaian dalam hidupku? Atau akankah aku terus terjebak dalam bayang-bayang kesepian dan penyesalan yang tak kunjung usai?

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Gadis Ternoda Gadis Ternoda NEVI ANDRIANI Romantis
“Diana dijebak dan dijual oleh temannya kepada seorang pria yang tidak dia kenal. Karena hubungan satu malam itu, dia pun hamil. Beberapa tahun kemudian, Diana bertemu lagi dengan ayah dari anaknya tersebut. Namun sial, ternyata pria itu adalah kekasih sepupunya sendiri. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Diana jujur mengatakan jika dia memiliki anak dari pria itu?”
1

Bab 1 Episode 1.

14/02/2024

2

Bab 2 Episode 2.

14/02/2024

3

Bab 3 Episode 3

15/02/2024

4

Bab 4 Episode 4.

15/02/2024

5

Bab 5 Episode 5.

15/02/2024

6

Bab 6 Episode 6.

15/02/2024

7

Bab 7 Episode 7.

15/02/2024

8

Bab 8 Episode 8.

15/02/2024

9

Bab 9 Episode 9.

15/02/2024

10

Bab 10 Episode 10.

15/02/2024

11

Bab 11 Episode 11.

15/02/2024

12

Bab 12 Episode 12.

15/02/2024

13

Bab 13 Episode 13.

15/02/2024

14

Bab 14 Episode 14.

15/02/2024

15

Bab 15 Episode 15.

15/02/2024

16

Bab 16 Episode 16.

15/02/2024

17

Bab 17 Episode 17.

15/02/2024

18

Bab 18 Episode 18.

15/02/2024

19

Bab 19 Episode 19.

05/03/2024

20

Bab 20 Episode 20.

06/03/2024

21

Bab 21 Episode 21.

07/03/2024

22

Bab 22 Episode 22.

08/03/2024

23

Bab 23 Episode 23.

09/03/2024

24

Bab 24 Episode 24.

10/03/2024

25

Bab 25 Episode 25.

11/03/2024

26

Bab 26 Episode 26.

12/03/2024

27

Bab 27 Episode 27.

13/03/2024

28

Bab 28 Episode 28.

14/03/2024

29

Bab 29 Episode 29.

15/03/2024

30

Bab 30 Episode 30.

16/03/2024

31

Bab 31 Episode 31.

17/03/2024

32

Bab 32 Episode 32.

18/03/2024

33

Bab 33 Episode 33.

19/03/2024

34

Bab 34 Episode 34.

20/03/2024

35

Bab 35 Episode 35.

21/03/2024

36

Bab 36 Episode 36.

22/03/2024