Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
5.0
Komentar
2.7K
Penayangan
100
Bab

Diangkat dari kisah nyata seorang wanita kuat. Bunda adalah wanita yang dari kecil sudah di adopsi oleh keluarga yang tidak mempunyai anak. Sementara orang tua kandung bunda sendiri adalah orang berada. Karena banyak nya hinaan dan penderitaan Bunda bangkit menjadi sosok wanita pengusaha yang tangguh, dan saat ia jatuh hanya dengan mengandalkan kiriman uang 350 ribu setiap minggunya dari putra nya ia bertahan hidup dan bisa membesarkan sepasang anak kembarnya. Jadilah si kembar Nayla dan Nathan anak-anak yang cerdas dan sukses walaupun mereka pernah kelaparan kedinginan.

Bab 1 Aku Bunda dan Enat

Cerita ini mengandung bawang, dan konten dewasanya.šŸ˜˜

Aku hanya tinggal bertiga dengan bunda dan adik kembarku enat. Yang akhirnya aku tahu kalau sebenarnya aku dan adikku Enat bukanlah saudara kembar.

Namun apapun yang dilakukan Bunda dan Ayah aku yakin yang terbaik.

Setelah Ayah pergi untukencari nafkah keluar kota, Bunda sering sakit, dan terus menangis memanggil dua kali yang sudah berkeluarga dan tidak pernah aku kenal.

Sampai aku dan adikku menemukan buku harian Bunda,

Bunda yang berjuang selama ini untuk membesarkan kami yang hanya anak pungut,padahal kalau mau,bunda bisa meninggalkan kami dan ikut dengan putra pertamanya di Jakarta.

Bunda yang bertahan dengan uang kiriman putranya 350 ribu setiap bulan, ternyata dimasa lalunya adalah pengusaha yang sukses sampai akhirnya menikah dengan Ayah, sejak itulah kehidupan bunda berubah.

Saat menikah bunda berusia 48 tahun dan Ayah 29 tahun.

Aku dan adiku enat membaca setiap lembar buku harian bunda, dan semakin kami menyayangi bunda. Namun bagaimana mungkin kedua anak kandung Bunda sebegitu bencinya pada Bunda? Apa karena masa lalu bunda seperti yang aku baca dari beberapa buku harian usang yang tertumpuk dalam kotak.?

Dheki dan Dinda dua anak pertama Bunda yang sangat bunda rindukan,, yang selalu kami demgan disetiap ujung malam.

Jangan menangis Bunda..! Ada aku dan adik yang akan terus menjaga bunda, seburuk apapun masalalu bunda, yang kami tahu semua bunda lakukan untuk kebahagiaan keluarga.

SURAT BUNDA UNTUK INONG,

Setelah membantu Bunda mengambil wudhu aku menyiapkan sajadah untuk kami sholat berjamaah.

Kegiatan Rutin apapbila kami dirumah selalu melakukan sholat berjamaah dengan Enat adiku yang menjadi imamnya.

Dan setiap selesai sholat,bunda selalu memeluk kami dan mendoakan sambil mencium kepala kami.

Yang tidak pernah ketinggalan adalah ucapan Bunda " Terimakasih ya sayang,,,!Maafkan Bunda ya Nay Nat, bunda selalu saja merepotkan kalian.." entah kenapa Bunda selalu mengucapkan kalimat itu setiap usai kami sholat. Kalimat itu selalu Bunda ucap kan sejak kami kecil, Bunda sangat tegas mengajarkan kami untuk disiplin.

Dari kecil kami dididik mandiri, dari mulai memakai kaos kaki, memakai sepatu dan baju sendiri. Dan selalu Bunda mengatakan ini " kalian harus bisa mengurus kalian sendiri, Bunda tidak akan selamanya bersama kalian..!"

Berkat dididikan Bunda kami selalu mendapat peringkat pertama disekolah sejak kami PAUD dulu.

Pagi itu seperti biasanya aku merapihkan kamar Bunda, kami menempati rumah kecil dengan dua kamar. Aku tidur dengan Bunda, dan adiku menempati kamar depan.

Rumah yang kami tempati ini dahuku Bunda beli dari Pak Aki setelah Pak Aki meninggal dunia para putranya memjalankan amanah Pak Aki untuk menjual rumah ini hanya kepada Bunda dengan harga sangat murah saat itu Bunda hanya membayar 9 juta rupiah. Itupun Bunda membayarnya dengan menyicil,dan sebagian uangnya dari A Dheki putra pertama nya Bunda, yang sampai sekarang aku belum pernah lagi bertemu.

Terakhir bertemu A dheki saat idul Fitri lima belas tahun lalu, aku sendiri sudah lupa kalau tidak melihat foto yang diprint oleh Bunda.

Hari itu Bunda sudah berangkat usai sholat subuh ke Villa Umi, Bunda yang dipercaya oleh Umi dan keluarganya mengurus asrama santrinya dan Villa keluarga Adiwinata.

Tidak sengaja aku memjatuhkan tumpukan buku didalam lemari Bunda.

Ada tulisan disana,

"Surat ku untuk Inong"

Penasaran aku mulai membacanya,

Inong, maafin mama..!" Setiap saat mama selalu memanggil Inong. Lagi apa aja mama selalu ingat. Apalagi kalau lihat anak kecil, mama selalu teringat Inong.

Jutaan sesal mama tak bisa mama lukiskan dengan kata. Terlalu banyak salah mama sama Inong, sampai Inong sebenci ini sama mama.

Untungnya ada Instagram, walaupun Inong kunci account nya untungnya WO lumintu open account, jadi mama bisa lihat bagaimana prosesi pernikahan Inong..

Bahagia mama melihat nya, mama ga marah Inong ga ngasih tau mama. Mama sadar diri kalau mama tidak pantas berada di pesta semewah dan semegah itu.

Apalah mama ini Inong,, mama sangat bersyukur melihat kebahagiaan Inong,dheki,arva.

Mama juga lihat betapa sibuknya mama debi, mama sangat berterimakasih sama mama debi sudah sangat begitu baik mengurus semua detail pernikahan Inong.

Tidak seperti mama yang tidak bisa membuat pesta mewah untuk dheki waktu itu, malah dheki sampai harus berhutang untuk pestanya.

Seandainya boleh meminta, mama minta mama di izinkan bertemu dan memeluk Inong sebelum mama menghadap Alloh nanti.

Untuk apa yang sudah terjadi, ini kesalahan mama bukan kesalahan Inong. Mama yang membentuk Inong jadi seperti ini.

Terlalu perih rindu ini,, mama hanya bisa menguraikan rindu ini dalam untaian kata tak terbaca..

Dalam keheningan malam dalam uraian doa, memohon padaNya untuk memberikan jalan dipertemukan dengan buah hati mama.

Hanya bisa memeluk dalam dzikir.. dzikir rindu pada putriku Dinda Sukma Dewi.

Tak bisa mama memutar waktu, seandainya pun pintu Dora Emon itu ada pastilah sudah mama beli. Kembali di tahun sembilan puluh empat, dimana Inong nya mama lahir.

Ku dekap dalam kandunganku selama sembilan bulan kurang seminggu, bolak balik rumah sakit karena kontraksi palsu.

Sampai akhirnya aku melihat rambut ikal mu,Inong.

Saat - saat terberat dalam kehidupan mama, belum satu tahun usiamu mama dan bapak bercerai karena ada orang ketiga yang tidak pernah diakui nya, tapi akhirnya dinikahi juga dan sampai sekarang menjadi mama Inong,mama yang Inong akui bukan aku mama kandung mu tapi dia mama debi.

Mama bahagia dengan kebahagiaan Inong sekarang, mama turut bahagia walaupun hanya bisa melihat dari kecanggihan digital.

Inong kecil mama yang membenci mama sekarang.. maafin mama nong..!" Maafin mama..!!!"

Selalu kata itu yang terucap setiap saat.. setiap ingat Inong.

Dada ini bergetar sesak setiap melihat anak kecil berlari atau anak kecil berseragam sekolah.

Sesal yang tak berujung

Kenangan kita hidup berdua di Jordan selalu membuat mama menangis.. indahnya masa itu kita bermain salju..belanja berdua.. mama ngantar sekolah..

Maafin mama yang selalu galak.. mama ga bisa bujuk inong seperti mama lain..mama terlalu sibuk sekolah dan kerja..

Maafin mama..!

Temani mama dalam keheningan di pengasingan. Dalam dinginnya lantai pelur semen yang basah saat hujan.

Mama disini Inong.. ditempat ini... Mengambang dalam dekapan sepi dan sesal.

Mama tak lelah mengetuk hati Inong dalam doa.. dalam dzikir mama.

Sedang apapun hati ini selalu bergetar saat mulut bergumam hanya sekedar memanggi.." Inong,ini mama..!"

Sontak mama akan menjerit dalam sekap tak bersuara.. memanggil dalam rintihan.

Tak jua Alloh menjawab pinta mama... Untuk hanya sekedar Inong sapa.

Saat jemari ini terus menuangkan perasaan,, air mata tak bisa diajak diam sesaat.

Akankah kering air mata ini pada saatnya?

Inongku... Inong nya mama..

Adakah Inong rasakan rindu ini..?

Menatap foto Inong.. Inong cantik lebih cantik dari BI neng..

Hinyi hinyi.. mama kangen hinyi hinyi..

Inong balagadindong.. adakah Inong ingat sedikit saja tentang mama .?

Rindu seorang ibu..ibu kandung Inong..

Maafkan lisan mama.. maafkan semua kesalahan mama..

Mama hanya manusia yang hanya bisa membuat anaknya malu..

Mama rindu Inong..

Tulisan bunda tertulis rapih, aku membaca dengan berderai airmata. Aku ikut merasakan kesedihan Bunda.

".

" Assalamualaikum.." terdengar seseorang mengucapkan salam didepan rumah.

Aku bergegas merapikan buku dan mengembalikan kedalam lemari. Lalu berjalan kedepan.

" Neng, Bunda dirumah sakit" Ucap Nini sambil memegang tanganku.

" Bunda kenapa Nini..?" Tanyaku panik.

" Bunda tadi tiba-tiba pingsan neng, langsung dibawa ke puskesmas,tapi dokter puskesmas langsung mengirim Bunda ke rumah sakit Santosa dengan ambulan, ayok neng kita ke rumah sakit, bawakan baju ganti Bunda..!" Ucap Nini.

Aku kembali masik kedalam.setengah neralri dan memasukan beberapa baju Bunda kedalam tas.

Aku memberikan helm pada Nini, dengan berboncengan motor kamipun berangkat ke rumah sakit dengan perasaan ku yang entah seperti apa rasanya.

Sesampainya dirumah sakit aku langsung menemui Bunda yang hanya boleh dilihat dari balik tirai.

Bunda masih tidak sadarkan diri.

" Enat sudah dikasih tau neng?" Tanya Nini.

Aku mengangguk, Nini tetangga kami. Nini sudah seperti ibu buat Bunda.

" Nini, apa sebaiknya A Dheki dikasih tahu?" Tanyaku ragu.

" Neng ada nomor telepon nya?" Tanya Nini, aku mengangguk.

" Coba saja neng..!" Ujar Nini.

Aku pun segera mengeluarkan handphone ku dan mengetik pesan pada A Dheki.

[Assalamualaikum A Dheki, ini enay. Maaf ganggu, mau ngasih tau kalau Bunda sekarang dirumah sakit, tadi pingsan.]

Terkirim

Tak berapa lama masuk balasan dari A Dheki.

[ Suaminya kemana? Suruh dia dong tanggung jawab!]

[ Ayah sudah lama tidak pulang A...]

Jawabku dengan tangan mulai gemetar, Nini melihat percakapan aku dengan A Dheki lalu menggeleng kan kepalanya.

[ Butuh uang berapa?" ] Pesan masuk lagi dari A Dheki.

[ Enay ga tau A, enay cuma ngasih tau Aa aja kondisi bunda] jawabku lagi.

Tidak lama ada pesan masuk dari a Dheki foto bukti transfer dan satu fito saldonya di bank BCA yang tinggal 285 ribu.

[ Suruh Budi pulang dan bertanggung jawab,,! Saya juga punya anak dan istri yang butuh biaya untuk makan dan susu..]

Tak kuat lagi airmata ku jatuh juga membaca pesan masuk dari A Dheki.

Nini memeluk ku.

" Sabar neng...!" Ucap Nini.

" Teh, Bunda mana? bunda kenapa?" Enat yang datang terlihat panik. Adiku Enat memang sangat dekat dengan Bunda.

" Bunda masih belum sadar de.." jawabku.

" Teteh kenapa nangis? A Dheki..?" Tanya Enat setelah membaca percakapan aku dengan A Dheki.

" Teteh ngapain ngasih tau A dheki sih? Kalau bunda baca ini, Bunda pasti akan nangis lagi semalaman... Lain kali kalau mau hubungi A Dheki tanya Bunda dulu..!"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Dinda sukmadewi

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku