Maduku Putri Konglomerat

Maduku Putri Konglomerat

Uci Ekaputra

5.0
Komentar
4.7K
Penayangan
65
Bab

Tak tahan hidup miskin membuat Mas Hilman tega mengkhianatiku, menghadirkan madu di pernikahan suci kami. Dengan teganya dia menikahi seorang putri dari keluarga kaya raya. Sanggupkah aku menahan kesedihan karena pengkhianatan suami yang sangat aku cintai itu?

Bab 1 Tiga Tahun

"Apa maksudnya ini, Mas?" tanyaku dengan tangan gemetar ketika menyodorkan ponsel kepada Mas Hilman.

Netraku mulai memanas merasakan pedih sakitnya menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Mas Hilman langsung buru-buru merebut ponselnya yang berada di tanganku.

"Kenapa kamu buka-buka ponselku?" bentak Mas Hilman membuat hatiku semakin teriris.

Tak terasa air mataku luruh seketika setelah mendengar bentakkan dari Mas Hilman. Padahal selama ini dia tidak pernah sekalipun membentakku atau meninggikan suara selama kami berumah tangga.

Sebenarnya aku juga tidak berniat membuka ponsel Mas Hilman, hanya saja dari tadi ponsel Mas Hilman berdering terus, akhirnya aku pun melihatnya. Tapi saat aku melihat siapa yang menelefon, betapa terkejutnya aku ketika melihat foto dari sang penelefon adalah foto sepasang pengantin, dengan Mas Hilman sebagai pengantin lelakinya.

Betapa hancurnya hatiku ketika kuperhatikan dengan seksama bahwa foto tersebut benar foto Mas Hilman. Foto suamiku sendiri dengan wanita yang tidak aku kenal.

"Jelaskan padaku, Mas! Jelaskan padaku apa maksud dari foto tadi," desakku pada Mas Hilman dengan suara serak.

Mas Hilman bergeming, dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia juga mengalihkan pandangannya, tidak menatapku sama sekali.

Aku sangat hafal betul tingkah Mas Hilman jika sudah terbukti bersalah. Dia tidak akan mau menatap mataku jika berbicara. Kebiasaan Mas Hilman ketika dia menyembunyikan sesuatu dariku.

Meski masih dua tahun berumah tangga dengan Mas Hilman, tapi aku sudah sangat hafal dengan sikap-sikap Mas Hilman. Dia tidak akan bisa berbohong padaku.

"Katakan sesuatu jangan diam saja, Mas! Katakan kalau yang ada di foto itu bukan kamu. Katakan kalau aku hanya salah lihat saja. Katakan sesuatu padaku!" Aku mencengkram lengan Mas Hilman dan mengguncang tubuhnya dengan keras. Aku sudah tidak sabar mendengar penjelasan Mas Hilman tentang foto tersebut.

"Ma-af ...."

Hanya satu kata yang keluar dari mulut Mas Hilman, tapi langsung membuat duniaku seakan runtuh. Tanganku seketika melepas lengan Mas Hilman, kakiku lemas tak bertenaga, aku jatuh terduduk bersimpuh di lantai. Tatapanku kosong, pandanganku memburam karena air mata yang semakin merebak. Aku tidak percaya lelaki yang selalu memperlakukanku bak ratu malah mengkhianatiku. Diam-diam menikah di belakangku.

"Maaf, kamu bilang, Mas? Maaf untuk apa?" gumamku lirih. Aku tidak mau percaya dengan apa yang terjadi.

"Maafkan aku, Ra. Aku tak bermaksud menyakitimu," ucap Mas Hilman menunduk, mencoba memegang tanganku.

Seketika aku langsung menepis tangan Mas Hilman. Aku marah, kecewa, merasa terkhianati olehnya.

"Lalu apa maksudmu, Mas? Kamu ingin membuatku senang, begitu?"

"Iya, Ra. Aku ingin membahagiakan kamu-."

"Membahagiakanku dengan menikahi wanita lain, Mas? Kamu pikir aku akan bahagia melihat suamiku sendiri menikahi wanita lain?" tanyaku lagi memotong ucapan Mas Hilman.

"Maafkan aku, Ra. Maafkan aku. Aku tidak bisa terus hidup miskin seperti ini. Aku juga ingin membuatmu bahagia, memberikan apa yang kamu mau. Tapi aku tidak bisa, aku tidak sanggup memberikannya karena kemiskinan ini. Maka dari itu aku menikahi Linda. Aku hanya ingin merubah nasib kita, Ra," jelas Mas Hilman membuatku tidak habis pikir. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu, membahagiakanku dengan menikahi wanita lain. Apa Mas Hilman wa*ras?

"Hahahaha ... lucu kamu Mas. Menikahi wanita lain untuk membuatku bahagia? Di mana pikiranmu, Mas? Katakan padaku, istri mana yang akan bahagia mengetahui suaminya menikah lagi dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya? Istri mana, Mas?" Air mataku terus berjatuhan, aku tidak sanggup lagi untuk menahan semua rasa yang bergejolak dalam hatiku.

"Maafkan aku, Ra. Aku janji, aku akan membahagiakanmu. Aku hanya butuh waktu tiga tahun, Ra. Setelah tiga tahun aku akan menceraikan Linda. Kita akan kembali hidup bahagia dengan harta yang aku kumpulkan selama menikahi Linda. Kamu harus percaya padaku, hanya kamu wanita yang sangat aku cintai. Berikan aku waktu tiga tahun saja, lalu kita akan hidup bahagia seterusnya," ucap Mas Hilman membuat hatiku merasa teriris.

Gi*la! Mas Hilman pasti sudah gi*la, tega-teganya dia memintaku berbagi suami dengan wanita lain dengan alasan harta. Dia memang sudah tidak wa*ras, siapa yang sudi menunggunya hingga tiga tahun, bahkan sedetik saja aku tidak mau, aku tidak pernah membayangkan akan dimadu seperti ini.

Aku segera bangkit dari lantai, perlahan kulangkahkan kaki meninggalkan Mas Hilman yang terus memanggil namaku, tapi telingaku seolah telah tuli. Aku tidak mau mendengarkan apa-apa lagi dari mulut Mas Hilman. Sudah cukup, aku bisa ikut gi*la seperti Mas Hilman jika tetap bertahan di posisiku.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Uci Ekaputra

Selebihnya

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku