DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

Hwali

4.9
Komentar
75.3K
Penayangan
112
Bab

"Menikah denganku, Vi. Gunakan diriku untuk mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikmu," ucap Reza pada Vivi, wanita yang seharusnya jadi menantunya. Untuk menepati janji, Reza menjodohkan putranya dengan anak sahabatnya, Vivi. Namun, semuanya tidak berjalan lancar karena Krisna malah menyakiti Vivi dengan melamar seorang wanita tepat di hari ulang tahun Vivi. Untuk melindungi putri sahabatnya, Reza rela mengorbankan diri, dia melamar Vivi membuat putra serta keluarganya menjadi shock.

DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA Bab 1 ULANG TAHUN MENGENASKAN

Vivi membuka kedua mata perlahan, kepalanya pusing dan ia berusaha bangun dari tempat tidur dengan susah payah.

"Ini dimana?" Vivi berusaha mengingat kejadian semalam dengan kepala sakit.

Semalam ia mengunjungi kakek tunangan di rumah sakit setelah menghadiri meeting manajemen di hotel. Saat itu ia bertemu dengan Krisna, tunangannya bersama seorang wanita dewasa yang cantik seperti model di luar ruangan.

Vivi menghela napas melihat tangan tunangan memegang tangan wanita itu, ia sudah bisa menebak kalau wanita itu salah satu kekasih tunangannya. Selama masih bertunangan, Vivi tidak akan keberatan. Itulah yang diajarkan keluarga tunangan.

Semua orang di dalam ruangan terdiam begitu Vivi, Krisna dan wanita itu masuk ke dalam ruangan bersamaan.

"Kakek, Vivi sudah membuatkan sup kesukaan Kakek." Senyum Vivi sambil meletakan isi tas yang dibawanya ke atas nakas tempat tidur rumah sakit.

"Hari ini kamu sudah kerja keras, para manajer tadi memuji hasil kerjamu," puji ibu Krisna.

Vivi terkejut, selama ini ibu Krisna selalu menatap sinis dirinya dan sekarang memuji? apakah hasil kerja kerasnya selama ini diakui?

"Terima kasih."

Entah kenapa semua orang tersenyum sinis menatap dirinya. Ah, tak apa. selama diakui calon ibu mertua maka-

"Sudah berapa tahun ya kamu tinggal di rumah kami?" tanya Ibu Krisna.

"Sepuluh tahun," jawab Vivi. Ia mengingat tanggal kecelakaan kedua orang tua yang menyebabkan dirinya dititipkan di rumah keluarga Aditama hari itu juga.

Ibu Krisna tersenyum dan menepuk tangan Vivi. "Berarti sudah saatnya kamu keluar dari rumah kami."

Senyum Vivi lenyap.

"Sekarang kondisi kakek sudah stabil, nenek juga sudah bisa mendapatkan perawatan terbaik, hotel-hotel keluarga kami sudah bisa menghasilkan pendapatan bersih lalu kami akan memberikan kompensasi yang sesuai untuk kamu."

Kami?

"Ah, coba minum ini dulu." Wanita yang dibawa Krisna memberikan secara paksa sebuah gelas ke Vivi. "Ini untuk merayakan kemenangan kami makanya kami berkumpul disini."

Vivi menundukan kepala dan menatap gelas di tangan dengan mata berkaca-kaca.

"Minum, bersulang."

Vivi menarik napas panjang, lalu meminum sampai habis.

Ibu Krisna dan Krisna tersenyum puas melihatnya.

Tak lama, entah kenapa Vivi merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi entah kenapa tidak bisa mengacaukan suasana bahagia di tempat ini, karena tidak mau mengganggu ia memutuskan pamit pulang dan terburu-buru keluar.

Setelah berusaha keras mencapai parkir mobil, ia tidak menemukan satupun mobilnya.

Vivi menelepon sopir, tidak diangkat. Telepon rumah pun tidak ada yang mengangkat. Di tengah guyuran hujan dan susah payah melangkah dengan mata berkabut berusaha menahan air mata, ia mencari mobil.

Vivi melihat seluruh tangan membengkak dan ia juga merasakannya di wajah. Vivi melihat spion kaca mobil orang lain, seluruh wajah bengkak memerah. Rasa mual menghampiri.

"Kamu baik-baik saja?"

Vivi mengangkat kepala. Ia melihat seorang pria tinggi yang sedang memegang payung menutupi mereka berdua dari hujan.

Perlahan kesadaran mulai memudar. Dan sekarang, entah berapa lama ia terbangun di sebuah kamar yang tidak dikenalnya.

"Itu-"

Pria itu berdiri di samping tempat tidur dan menatap Vivi. "Kamu pingsan di parkir rumah sakit. Dokter sudah periksa dan mengobatimu, kamu menunjukan gejala keracunan."

Vivi tertawa. Tentu saja.

"Ini."

Vivi menatap sebuah kotak besar di tangan pria itu. "Apa ini?"

"Hadiah ulang tahun kamu."

"Bagaimana-"

"Saya melihat id card."

Vivi menerima kotak itu dan membukanya. "Gaun?"

"Selamat ulang tahun."

Vivi kembali menatap pria itu, matanya berkaca-kaca. Tidak ada yang mengucapkan ulang tahun setelah kedua orang tua meninggal. "Terima... kasih..," ucapnya dengan lirih.

"Pulanglah, keluargamu pasti khawatir. Saya akan menyuruh sopir-"

"Tidak perlu!" tolak Vivi, "Saya bisa pulang sendiri."

Pria itu balik badan dan menelepon seseorang.

Vivi buru-buru bangun dari tempat tidur dan lari mencari kamar mandi. Ketemu! ia segera memuntahkan seluruh isi di dalam perut ke toilet.

"Saya sudah memanggil taxi." Pria itu sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.

Vivi mengangguk dan buru-buru membersihkan toilet.

Setelah selesai, Vivi mengucapkan terima kasih ke pria itu dan keluar ruangan. Ia terkejut, ternyata ini bukan hotel ataupun apartemen tapi Villa. Ia membaca petunjuk jalan sambil melihat sekeliling, masing-masing kamar terlihat seperti rumah biasa tapi dalam ruangan pasti mewah seperti yang dilihat di ruangan tadi.

Vivi menghela napas panjang. Selama ini dia hanya dididik menangani budget hotel atau city hotel. Mungkin menangani villa tidak terlalu berbeda.

Vivi menghentikan langkahnya. Tidak, ini bukan sekedar villa tapi juga resort. Ada lapangan golf tidak jauh dari sini. Terbesit keinginan kecil Vivi untuk belajar di tempat ini.

"Apa pria tadi tamu disini? sayang sekali aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya." Gumam Vivi sambil melihat kotak di tangan.

Begitu mencapai lobby, ia disapa bellboy dengan ramah. "Taxi sudah datang dan sudah dibayar, jadi anda bisa diantar kemanapun."

Vivi mengangguk, mengikuti arahan bellboy. Begitu masuk ke dalam taxi dan memberitahu alamat rumah, Vivi segera menghubungi rumah untuk melaporkan kondisi. Lagi-lagi tidak diangkat.

Vivi menelepon sekali lagi. Nihil. Dia menatap luar jendela mobil. Sudah lama pingsan, ini sudah hampir jam 7 malam.

Beberapa menit kemudian, dia sampai ke rumah. Vivi terkejut melihat mobil-mobil mewah diparkir di sekitar rumah.

Vivi tersenyum, menutup mulut karena tidak percaya. Dia keluar dari mobil dan lari kecil ke dalam rumah dengan antusias.

"Saya ingin mengumumkan sesuatu yang spesial disini."

Terdengar pengumuman bersamaan dengan masuknya Vivi, jantung Vivi berdebar keras. Hari ini ulang tahunnya, apakah ini kejutan dari tunangan setelah berhasil menstabilkan hotel keluarga?

"Saya akan menikahi seorang perempuan cantik."

Senyum Vivi lenyap setelah melihat pemandangan di atas panggung.

"Almira, setelah perjuanganmu selama ini menemaniku dari bawah. Maukah kamu menikahiku?"

Vivi menjatuhkan kotak di tangan. Jadi ini alasan dirinya diberi minuman? supaya mendapatkan perawatan dan tidak bisa masuk kesini lalu mengganggu acara ini di hari ulang tahun? Wanita itu yang semalam di rumah sakitkan?

Orang-orang di dekat Vivi menatap jijik Vivi sambil menutup hidungnya. Vivi merasa malu.

Menyadari atmosfer suasana mulai berubah, Krisna dan ibu di atas panggung melihat Vivi berdiri di tengah ruangan sambil menundukan kepalanya.

Almira yang melihat itu, menatap tidak suka Krisna. "Sayang-"

"Apa yang kamu lakukan disini?"

Vivi mengangkat kepalanya dan menatap terkejut Krisna. "Aku-"

"Hari ini adalah hari istimewa aku, kamu yang hanya anak angkat tidak berhak masuk ke dalam sini," tegur Krisna.

Vivi lupa kalau dia diperkenalkan sebagai anak angkat keluarga Aditama, pertunangannya dengan Krisna hanya diketahui pihak keluarga atau orang tertentu dengan alasan Krisna dan Vivi masih terlalu kecil.

"Aku- aku sudah berusaha keras melakukan yang terbaik, kita sudah bertunangan-" ucap Vivi.

Ibu Krisna turun dari panggung, berjalan mendekati Vivi dan menamparnya. "Apa yang kamu katakan tentang kakakmu, saya mengangkat kamu sebagai anak, adik Krisna bukan tunangan!"

Vivi menyentuh pipi yang ditampar. "Tapi-"

"Semalam kamu habis darimana?" tanya Almira.

Vivi hendak menjawab.

"Kamu pasti berkeliaran lagi, setiap malam pulang dengan alasan kuliah malam tapi pada kenyataannya kamu bersenang-senang dengan pria lainkan?" tuduh ibu Krisna.

Vivi bingung dengan perkataan ibu Krisna, ia menatap Krisna untuk meminta tolong. Krisna harusnya tahu kemana saja ia pulang malam.

Krisna mengalihkan tatapan dan tersenyum ke Almira.

Hati Vivi berdenyut sakit.

Ibu Krisna menjambak rambut Vivi hingga Vivi jatuh ke depan tepat di bawah sepatu ibu Krisna. "Ambilkan sapu! selama ini ternyata aku mendidik anak liar!"

Vivi merasa malu, ia mendengar bisikan dan tatapan tajam para tamu mengelilingi dirinya.

Alih-alih sapu, pelayan menyerahkan pukulan rotan. Ibu Krisna memukul Vivi tanpa ampun.

"Selama ini aku menjadikan kamu anak supaya bisa menjadi perempuan baik-baik dan menikah dengan laki-laki baik. Tapi apa- kamu malah mempermalukan keluarga!" teriaknya tanpa memperdulikan tamu yang hadir.

Krisna memijat kening sementara Almira mengerutkan kening. Ibu Krisna memang dikenal temperamen di rumah tapi bukan berarti sampai bersikap seperti ini di acara penting.

Almira turun dari panggung dan menghampiri ibu mertua berusaha menghentikan apa yang dilakukan beliau.

"Nona Almira, jangan dihentikan! itu memang pantas untuk dia, hukuman seperti ini masih ringan," tegur salah satu tamu wanita setengah baya

"Hanya seorang anak angkat, harusnya bisa berterima kasih. Bukannya melakukan hal yang mempermalukan nama baik keluarga ini."

"Benar-benar mengecewakan."

"Anak liar tetap saja anak liar."

Krisna yang mengejar Almira, merangkul pundaknya. "Tidak apa, ibu hanya mendidik. Tamu yang hadir disini adalah kenalan keluarga kami."

Almira masih tidak puas.

Krisna tersenyum bangga. "Kamu masih memiliki hati malaikat ya."

Vivi tidak menjerit, ia menerima semua pukulan ibu Krisna sambil menelan kesakitan. Ia mendengar apa yang dikatakan Krisna.

"KAMU MASIH TIDAK MAU MENGAKU!"

Vivi menitikan air mata. Orang tuanya tidak pernah memukul, ia juga tidak pernah berbuat di luar batas, selalu menurut tapi kenapa justru ia dituduh hal seperti ini?

"Saya- sepulang kuliah, pergi ke hotel, belajar dan bekerja manajemen disana..." lirih Vivi.

"BOHONG!"

Teriak para tamu satu persatu.

'"Belajar manajemen hotel di malam hari? kamu kira kita buta?" Krisna tersenyum sinis.

"Lalu apa? pagi sampai sore aku merawat kakek dan nenek, setelah jam lima sore aku kuliah lalu jam sepuluh sampai jam dua pagi aku di hotel untuk belajar mencari tamu, menerima tamu bahkan perhitunga-"

"Mencari tamu dan menerima tamu?" potong Almira yang terkejut, "Sayang. Apa kamu mempekerjakan anak ini di malam hari?"

Para tamu yang mendengar sontak terkejut. Apa yang dilakukan anak perempuan keluar masuk hotel di malam hari? Tidak mungkin belajar bukan?

Wajah Krisna berubah merah karena marah begitu mendengar pertanyaan tersirat Almira. "Tidak ada yang seperti itu!"

"JANGAN MELONTARKAN KEBOHONGAN!" teriak Ibu Krisna.

Para manajer hotel yang bekerja di bawah naungan keluarga Aditama percaya dengan perkataan Vivi karena faktanya memang begitu. Tapi mereka tidak bisa mengucapkan apapun karena tidak mau dipecat, di masa pandemi dan kesulitan mencari pekerjaan aman benar-benar beresiko untuk dipecat.

Vivi yang memahami jalan pikiran para manajer, tidak menyentuh mereka.

"Ma-"

"Siapa mama kamu!" Ibu Krisna semakin membabi buta memukul Vivi. Ia lupa kalau mengakui Vivi sebagai anak angkat di depan umum.

Tidak ada yang menghentikannya sampai Ibu Krisna lelah memukul, Almira menepuk tangan ibu mertua.

"Bawa anak ini ke dalam kamarnya!" perintah Ibu Krisna.

Almira menyipitkan mata dan menatap kotak yang jatuh tidak jauh dari Almira. "Kotak itu-"

Krisna mengambil kotak dan melihat isi. "Gaun? ini gaun yang kamu inginkan bukan?"

Almira menutup mulut dengan terkejut. "Itu memang gaun yang aku inginkan, ini mahal dan harus menunggu berbulan-bulan. Kenapa bisa-"

Vivi yang kesakitan, sontak memeluk kaki Krisna. "Kembalikan padaku, itu punyaku."

Itu hadiah ulang tahun pertama setelah kedua orang tuanya meninggal. Selama tinggal di keluarga ini, ia diingatkan untuk bersikap dewasa dan tidak mengingat masalah kecil seperti ulang tahun sementara ia ingat kalau Krisna dan adik perempuannya merayakan ulang tahun setiap tahun.

"Tolong kembalikan."

Krisna menendang Vivi untuk menjauh, lalu menyerahkan kotak itu Almira.

Almira mengeluarkan gaun dan menatap kagum gaun itu.

"Itu harusnya milik kamu," ibu Krisna bahagia melihat senyum cantik menantu.

"Itu milikku." Vivi menepuk dada dengan keras. "Itu kado ulang tahunku."

"Kamu membelinya darimana? menggunakan uang apa? keluarga Aditama, kan?" senyum Ibu Krisna dengan sengaja mengeraskan suara. "Saya tidak pernah memberikanmu uang sebanyak gaun itu."

"Jangan-jangan-" Almira menatap putus asa Krisna.

Krisna mengangguk mengerti. "Kamu mencuri uang hotel."

Vivi menggeleng putus asa, para manajer menghela napas panjang melihat perilaku tidak bermoral keluarga Aditama.

"Kurung dia ke dalam kamar, jangan diberikan makanan sampai besok!" perintah Ibu Krisna.

Para pelayan menyeret Vivi tanpa rasa hormat, mengabaikan rasa sakit yang diderita Vivi.

Ibu Krisna dan Krisna bercakap-cakap dengan Almira, para tamu mendekati mereka dan melontarkan pujian karena masih mau menerima anak luar yang jelas merugikan keluarga mereka.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Hwali

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA Hwali Miliarder
“"Menikah denganku, Vi. Gunakan diriku untuk mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikmu," ucap Reza pada Vivi, wanita yang seharusnya jadi menantunya. Untuk menepati janji, Reza menjodohkan putranya dengan anak sahabatnya, Vivi. Namun, semuanya tidak berjalan lancar karena Krisna malah menyakiti Vivi dengan melamar seorang wanita tepat di hari ulang tahun Vivi. Untuk melindungi putri sahabatnya, Reza rela mengorbankan diri, dia melamar Vivi membuat putra serta keluarganya menjadi shock.”
1

Bab 1 ULANG TAHUN MENGENASKAN

04/05/2023

2

Bab 2 VIVIANNE

04/05/2023

3

Bab 3 MEETING DIAM-DIAM

04/05/2023

4

Bab 4 CALON AYAH MERTUA MUNCUL

04/05/2023

5

Bab 5 LUKA VIVI

04/05/2023

6

Bab 6 PEMBELAJARAN

04/05/2023

7

Bab 7 KESIBUKAN VIVI

04/05/2023

8

Bab 8 NENEK

04/05/2023

9

Bab 9 ANAK-ANAK REZA

04/05/2023

10

Bab 10 DUNIA POLITIK

04/05/2023

11

Bab 11 KEMARAHAN REZA

07/05/2023

12

Bab 12 ALMIRA

07/05/2023

13

Bab 13 CAMPUR TANGAN

07/05/2023

14

Bab 14 TIDAK BISA MELEPASNYA

07/05/2023

15

Bab 15 PENGANIAYAAN

07/05/2023

16

Bab 16 LUKA FISIK

07/05/2023

17

Bab 17 DUNIA SUDAH GILA

07/05/2023

18

Bab 18 INGIN BALAS DENDAM

07/05/2023

19

Bab 19 DI DALAM MOBIL

07/05/2023

20

Bab 20 DI DALAM MOBIL II

07/05/2023

21

Bab 21 MEETING

11/05/2023

22

Bab 22 MEETING II

11/05/2023

23

Bab 23 MEETING III

14/05/2023

24

Bab 24 KEBIMBANGAN VIVI

14/05/2023

25

Bab 25 KEBINGUNGAN KRISNA

15/05/2023

26

Bab 26 PERMOHONAN KRISNA

16/05/2023

27

Bab 27 PERMOHONAN KRISNA II

17/05/2023

28

Bab 28 PERSELINGKUHAN REZA

18/05/2023

29

Bab 29 MASA LALU REZA

19/05/2023

30

Bab 30 MASA LALU REZA II

20/05/2023

31

Bab 31 MASA LALU REZA III

20/05/2023

32

Bab 32 BUKAN PERNIKAHAN RESMI

21/05/2023

33

Bab 33 DUKUNGAN UNTUK VIVI

21/05/2023

34

Bab 34 PRIA TUA JATUH CINTA

22/05/2023

35

Bab 35 PRIA TUA JATUH CINTA II

22/05/2023

36

Bab 36 ANAK-ANAK BERTEMU NENEKNYA

23/05/2023

37

Bab 37 ISTRI BARU

23/05/2023

38

Bab 38 PEMBATASAN

24/05/2023

39

Bab 39 BEKAL BUATAN CALON ISTRI

24/05/2023

40

Bab 40 DI BAWAH MEJA

24/05/2023