icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
closeIcon

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka

Buku Romantis untuk Wanita

Paling laku Berlangsung Tamat
Bukan Teman Tapi Sekamar?

Bukan Teman Tapi Sekamar?

Konten Dewasa 18+ Harap bijak dalam memilih bahan bacaan! “Apa sih di dunia ini yang tidak bisa kubeli dengan uang?” kata Amanda, gadis berusia 25 tahun anak crazy rich jakarta yang memiliki stasiun televisi lokal. Dengan percaya dirinya ia bilang hal ini pada sahabatnya yang sesama orang kaya juga. “Hoaaahh! Gue suka gaya loe!” Mereka berdua tersenyum senang setelah membeli harga diri seorang pelayan dengan uang. Apapun yang Amanda inginkan bisa dia dapatkan dengan mudah tinggal menjentikan jari dan menggesek kartu berwarna hitam saja, semua beres! Hari bahagia Amanda berubah saat dia menyetujui persyaratan dari ayahnya untuk mendapatkan sesuatu. Amanda tiba-tiba pingsan dan ketika ia sudah bangun, gadis ini mendapati dirinya ada di sebuah kasur, tidur bersama seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal. Apa yang telah mereka lakukan semalam dan sekarang dia sedang ada di mana? Amanda berakhir di pulau terpencil bersama seorang pria bernama Senja yang memiliki sikap dingin. Mereka berdua harus berakhir satu rumah, menyelesaikan misi dalam reality show yang diadakan sebuah stasiun televisi demi mendapatkan tujuan yang berbeda. Sayang, jalan tak selamanya mulus. Bumi dan langit seolah bersatu untuk menjatuhkan keduanya. Senja menjadi setengah gila karena mengurus Amanda yang tidak memiliki keahlian apa pun. Sementara Amanda frustasi karena sikap judes Senja dan ingin menyerah sejak hari pertama. Hidup satu rumah dengan orang yang berbeda 180’ membuat hidup mereka seperti di neraka. Benarkah demikian?
Cinta, Dusta, dan Vasektomi

Cinta, Dusta, dan Vasektomi

Dengan usia kehamilan delapan bulan, kupikir aku dan suamiku, Bima, sudah memiliki segalanya. Rumah yang sempurna, pernikahan yang penuh cinta, dan putra ajaib kami yang akan segera lahir. Lalu, saat merapikan ruang kerjanya, aku menemukan sertifikat vasektominya. Tanggalnya setahun yang lalu, jauh sebelum kami bahkan mulai mencoba untuk punya anak. Bingung dan panik setengah mati, aku bergegas ke kantornya, hanya untuk mendengar tawa dari balik pintu. Itu Bima dan sahabatnya, Erlan. "Aku tidak percaya dia masih belum sadar juga," Erlan terkekeh. "Dia berjalan-jalan dengan perut buncitnya itu, bersinar seperti orang suci." Suara suamiku, suara yang setiap malam membisikkan kata-kata cinta padaku, kini penuh dengan penghinaan. "Sabar, kawan. Semakin besar perutnya, semakin dalam jatuhnya. Dan semakin besar bayaranku." Dia bilang seluruh pernikahan kami adalah permainan kejam untuk menghancurkanku, semua demi adik angkatnya yang berharga, Elsa. Mereka bahkan memasang taruhan tentang siapa ayah kandung bayi ini. "Jadi, taruhannya masih berlaku?" tanya Erlan. "Uangku masih untukku." Bayiku adalah piala dalam kontes menjijikkan mereka. Dunia seakan berhenti berputar. Cinta yang kurasakan, keluarga yang kubangun—semuanya palsu. Saat itu juga, sebuah keputusan yang dingin dan jernih terbentuk di reruntuhan hatiku. Kukeluarkan ponselku, suaraku terdengar sangat stabil saat aku menelepon sebuah klinik swasta. "Halo," kataku. "Saya perlu membuat janji. Untuk aborsi."
Kebenaran Tentang Gundiknya

Kebenaran Tentang Gundiknya

Aku sedang hamil empat bulan, seorang fotografer yang bersemangat menyambut masa depan kami, menghadiri sebuah acara syukuran bayi yang mewah. Lalu aku melihatnya, suamiku Baskara, bersama wanita lain, dan seorang bayi yang baru lahir diperkenalkan sebagai "putranya". Duniaku hancur lebur saat gelombang pengkhianatan menerpaku, diperparah oleh ucapan Baskara yang meremehkan dan menyebutku "terlalu emosional". Selingkuhannya, Serena, menghinaku, mengungkapkan bahwa Baskara telah menceritakan komplikasi kehamilanku padanya, lalu menamparku, menyebabkan kram perut yang mengerikan. Baskara membelanya, mempermalukanku di depan umum, menuntutku untuk meninggalkan pesta "mereka", sementara sebuah akun gosip sosialita sudah memajang foto mereka sebagai "keluarga idaman". Dia sangat yakin aku akan kembali, menerima kehidupan gandanya, mengatakan pada teman-temannya bahwa aku "dramatis" tapi akan "selalu kembali". Kelancangan itu, kekejaman yang terencana dari tipu muslihatnya, dan kebencian Serena yang sedingin es, menyulut amarah beku yang nyaris tak kukenali dalam diriku. Bagaimana bisa aku begitu buta, begitu percaya pada pria yang telah memanipulasi mentalku selama berbulan-bulan sambil membangun keluarga kedua? Tapi di atas karpet tebal kantor pengacara itu, saat dia memunggungiku, sebuah tekad baru yang tak terpatahkan mengeras dalam diriku. Mereka pikir aku hancur, bisa dibuang, mudah dimanipulasi – seorang istri "pengertian" yang akan menerima perpisahan palsu. Mereka tidak tahu bahwa penerimaanku yang tenang bukanlah penyerahan diri; itu adalah strategi, sebuah janji dalam hati untuk menghancurkan semua yang dia sayangi. Aku tidak akan bisa diatur; aku tidak akan mau mengerti; aku akan mengakhiri ini, dan memastikan sandiwara keluarga sempurna mereka hancur menjadi debu.