Leo Hayes
3 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Leo Hayes
Kebenaran Tentang Gundiknya
Romantis Aku sedang hamil empat bulan, seorang fotografer yang bersemangat menyambut masa depan kami, menghadiri sebuah acara syukuran bayi yang mewah.
Lalu aku melihatnya, suamiku Baskara, bersama wanita lain, dan seorang bayi yang baru lahir diperkenalkan sebagai "putranya".
Duniaku hancur lebur saat gelombang pengkhianatan menerpaku, diperparah oleh ucapan Baskara yang meremehkan dan menyebutku "terlalu emosional".
Selingkuhannya, Serena, menghinaku, mengungkapkan bahwa Baskara telah menceritakan komplikasi kehamilanku padanya, lalu menamparku, menyebabkan kram perut yang mengerikan.
Baskara membelanya, mempermalukanku di depan umum, menuntutku untuk meninggalkan pesta "mereka", sementara sebuah akun gosip sosialita sudah memajang foto mereka sebagai "keluarga idaman".
Dia sangat yakin aku akan kembali, menerima kehidupan gandanya, mengatakan pada teman-temannya bahwa aku "dramatis" tapi akan "selalu kembali".
Kelancangan itu, kekejaman yang terencana dari tipu muslihatnya, dan kebencian Serena yang sedingin es, menyulut amarah beku yang nyaris tak kukenali dalam diriku.
Bagaimana bisa aku begitu buta, begitu percaya pada pria yang telah memanipulasi mentalku selama berbulan-bulan sambil membangun keluarga kedua?
Tapi di atas karpet tebal kantor pengacara itu, saat dia memunggungiku, sebuah tekad baru yang tak terpatahkan mengeras dalam diriku.
Mereka pikir aku hancur, bisa dibuang, mudah dimanipulasi – seorang istri "pengertian" yang akan menerima perpisahan palsu.
Mereka tidak tahu bahwa penerimaanku yang tenang bukanlah penyerahan diri; itu adalah strategi, sebuah janji dalam hati untuk menghancurkan semua yang dia sayangi.
Aku tidak akan bisa diatur; aku tidak akan mau mengerti; aku akan mengakhiri ini, dan memastikan sandiwara keluarga sempurna mereka hancur menjadi debu. Empat Puluh Sembilan Buku, Satu Perhitungan
xuanhuan Suamiku, Baskara, punya sebuah pola. Dia akan berselingkuh, aku akan mengetahuinya, dan sebuah buku langka akan muncul di rakku. Empat puluh sembilan pengkhianatan, empat puluh sembilan permintaan maaf yang mahal. Ini adalah sebuah transaksi: kebungkamanku ditukar dengan sebuah benda yang indah.
Tapi pengkhianatan yang keempat puluh sembilan adalah puncaknya. Dia melewatkan upacara penghargaan ayaku yang sedang sekarat—sebuah janji yang dia buat sambil memegang tangan ayah—demi membeli sebuah apartemen untuk kekasih masa SMA-nya, Jelita.
Kebohongan itu begitu enteng, begitu biasa, hingga rasanya lebih menghancurkanku daripada perselingkuhan itu sendiri.
Lalu dia membawa perempuan itu ke taman kenangan ibuku. Dia hanya berdiri di sana sementara perempuan itu mencoba mendirikan sebuah monumen untuk kucingnya yang sudah mati, tepat di sebelah bangku ibuku.
Ketika aku mengonfrontasi mereka, dia punya nyali untuk memintaku menunjukkan belas kasihan.
"Tunjukkanlah sedikit belas kasihan," katanya.
Belas kasihan untuk perempuan yang menodai kenangan ibuku. Belas kasihan untuk perempuan yang telah dia ceritakan tentang keguguranku, sebuah duka suci yang dia bagikan seolah-olah itu adalah rahasia kotor.
Saat itulah aku sadar, ini bukan lagi sekadar soal patah hati. Ini tentang membongkar kebohongan yang telah kubantu dia bangun.
Malam itu, saat dia tidur, aku memasang alat penyadap di ponselnya. Aku seorang ahli strategi politik. Aku sudah menghancurkan karier orang dengan modal yang jauh lebih sedikit. Buku kelima puluh tidak akan menjadi permintaan maafnya. Buku itu akan menjadi pernyataan penutupku. Anda mungkin suka
Gairah Liar Dibalik Jilbab
Gemoy Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku.
''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur.
''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur.
lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman.
''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku.
jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi .
Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri.
''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga.
Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku.
''Jangan nak... ibu mohon....
Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat.
Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............
Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat!
Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar.
Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.
Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"