icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Desahan Sang Pejantan

Bab 5 Insiden

Jumlah Kata:1039    |    Dirilis Pada: 20/11/2022

mobil seraya berjalan menuju sebuah tempat. Namanya barak, gubuk b

ebagai tempat untuk tidur siang, makan, dan lain sebagainya. Di

rti itu saja. Namun, rasanya aku sangat malu jika terus bertahan. Sejak dinyatakan ta

ak secara mentah untuk ironi tersebut. Dengan membawa ponsel

g menyapa. Napas pun tak lagi bisa netral, aku selalu b

berjarak sekitar tiga meter

di hadapan kedua bola mata terbuka. Aku menatapnya sembari membuka folder penyimp

dangan realita. Si jago tempur pun hanya semakin kecil dan merunduk. Akibat ha

, dulu tidaklah membutuhkan waktu lama untuknya bangkit. Sekaran

pipi. Ternyata, mendapati hal demikian memang menyingkirkan rasa dalam

ng karena tak mampu memberikan nafkah batin. Hatiku menjerit, ditimp

as meninggalkan lokasi proyek untuk pulang ke rumah. Den

penanaman karet bulan depan. Hari-hariku disibukkan dengan berbagai keg

dup ini, baru sekaranglah terasa pukulan itu sangat berat kuhadapi. N

tanda maaf, aku pun berhenti dan ingin membelikan sebuah cincin. Tepat di

ada yang bisa saya ba

da permata berwarna putih. Kira-kira

akan cari di dalam dulu,

dukkan badan. Sembari memainkan ponsel, terli

li, kemungkinan ada hal penting yang akan dia katak

pa, Ma, nelep

um pulang? Ini u

kerjaan, tunggu

apa-apa. Mama khawatir kalau

kok. Sebentar lagi a

assalammua

ikumsal

erapa lama, pelayan yang menjual perhiasan pun datang dari da

delnya seperti

uju ke penjual. Tatapan sejurus tepat di sebuah cincin denga

ih cincin yang berada di tengah.

g ini, y

ya mau y

arganya tidak ter

kus yang i

dan dia memberikan dompet berwarn

apnya, lalu dia menyodor

dan membayarnya. Dengan langkah laju, tapakkan kaki ini

ng itu. 'Maafkan aku, Ma, yang enggak bisa membuat kamu bahagia.

jak gas mobil dan bergerak menuju jalan lintas. Di

kit lebih kencang. Tepat di ujung pandangan, terlihat beberapa cahaya berwarna

dengan sedikit pelan. Bungkusan di tangan pun terjatuh ke bawah

Sekilas, aku mencoba membuang tatapan menuju bawah kursi.

tika aku menatap, sebuah truk berukuran besar telah

ak .

br

liu ..

h sekujur tubuh. Tepat di tengah-tengah sekelompok orang, aku tak kuat lagi untuk membu

Tanpa mampu menatap, aku hanya bisa merasakan area sekitar. Banyak suar

urai panjang, dan kemungkinan itu adalah malaikat pencabut nyawa. Sejak k

sebut. Paluh lembah darah tampak jelas di samping kanan, pemandanga

ya sebuah mimpi. Apa pun yang terjadi, a

ambu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka