icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dignity ( Demi Harga Diri)

Bab 5 Kamu Jual, Aku Borong.

Jumlah Kata:1787    |    Dirilis Pada: 21/08/2022

nggu. Masa ayah kerja juga?" celetukan polos Wira membuat Suri sedih. Hal-hal seperti inilah yang membuatnya gaman

tuk perempuan lain. Hanya saja Pras tidak ingin ia perjuangkan. Semakin hari mereka berdua semakin jauh walau masih tinggal dalam rumah dan ranjang yang sa

uaan terus. Bu Murni juga sudah tidak membawa kendaraan sendiri lagi ke kantor. Pras yang mengantarjemputnya setiap hari. Ro

kannya walaupun hari Minggu. Seperti Wira juga. Kalau ada PR, Wira harus mengerjakannya juga buka

k sekolah." Wira mengangguk puas. Suri lega. Syukurla

ira mengguncang-guncang tangannya. Hari Minggu seperti ini memang waktunya membawa Wira berjalan-jalan. B

n nasi goreng dulu ya? Baru setelahnya

ngacungkan jempol seperti ini, Wira mirip sekali dengan Pras. Ba

awa Wira menuju gerai es krim. Tepat pada saat akan melangkah masuk ke dalam gerai, pandangan Suri tidak sengaja membentur sepasang insan yang tengah tertawa bahagia. Tangan keduanya saling terjalin mesr

njauhkan Wira dari Pras dan Murni. Ia ti

u ayah k

ang belum menyadari kehadiran mereka berdua. Pras

sudah terlanjur

Timezone saja," seru Suri gugup. Ia tidak mau membuat W

. Ayah!" Suri kaget saat Wira melepaska

Murni kaget melihat kehadiran Wira. Jal

i ini, Suri terpaksa turun tangan. I

unda yang salah." Wira memegang tangan Pras dengan bangga. P

juga oleh Wira. Makanya ia bersikap biasa-biasa saja. Berbanding terbalik dengan Pras dan Murni. Keduany

Kalau begitu kenapa kita tidak berangkat bersama-sama aja tadi? 'Kan n

ng. Jelas keduanya tidak meng

apa yang kamu katakan, Wira?"

Wira punya PR sekolah. Makanya Ayah harus menyelesaikan PR kerja Ayah. Eh rupanya tempat Ayah mengerjakan PR di mall. Kan har

ras dan Murni saling memandang. Mereka pasti keh

serius pula. Jadi kita jangan menganggu Ayah dan atasan Ayah ya, Nak? Biar Ayah cepat menyelesaikan PRnya. Oke, Wira?" Suri memutuskan untuk menyudahi saja perte

ang kursinya panjang kayak sofa di rumah kita." Wira berlari masuk ke gerai

. Pras sendiri yang menghubungi saya. Jadi kamu jangan berpikir kalau saya memerah keringat staff saya dengan sem

karakter Pras. Sesungguhnya saat ini Pras sedang merasa malu. Bagaimana tidak malu, sikapnya bagai c

negaskan kedudukannya sebagai seorang lady boss. Selain itu ada maksud terselubung dalam kalimat ; Pras sendiri yang menghubunginya. Murni mengulang kata-kata itu berkali-kali. Artinya, Murni ingin mengatakan bahwa

Wira yang tidak bisa menilai keadaan. Seperti juga Bu Murni dan

amun saat berbalik, nyaris tidak mampu menahan lajunya air mata. Dirinya perempuan biasa. Seorang istri pula. Bukan hal mudah, menahan diri untuk tidak memaki-maki suami yang tertangkap basah bersama dengan wanita lain. Bukan perkara gampang juga mencegah tangannya untuk tidak menjamba

gup menahan semua perasaan yang bercampur baur itu dengan sikap datar dan kepala tegak. Ia

akan mempermalukan dirinya di sana dengan drama ala-ala istri yang ter

ah. Untuk kali ini saja ia menangisi Pras. Istri yang baru saja menang

*

buat Suri refleks memindai jam dinding

i ini ia tidak mau capek-capek membuka pintu gerban

juga Mbok Inah. Oleh karenanya lebih praktis kalau Pras membawa kunci rumah sendiri. Jadi, jam berapa pun Pras pulang, tidak akan ada orang yang terganggu. Kala it

embuka kancing-kancing kemeja dan celananya. Selanjutnya

ik air terdengar dari pancuran. Suara botol shampoo atau entah apapun itu, terdengar berjatuhan di dalamnya. Sepertinya Pras sedang tidak enak hati dan melampiask

an pintu kamar mandi

h, ia sentak dengan keras. Setelahnya Pras menarik celana pendek dan kaus putihnya sembarangan. Alhasil lipatan pakaian

t Suri kalem. Ia tidak sedikit pun terpancing denga

li. Jadi untuk apa kujawab bukan?" Suri balik bert

? Kamu tidak bertanya aku dari mana atau

ai raja, ia menggerutu. Dirinya tidak memerlukan pengabdiannya katanya. Giliran tidak dianggap,

aja. Lebih baik napasku kugunakan untuk hal yang lebih berguna. Meneruskan rajutanku mis

sombong. Kuceraikan betulan baru tahu rasa kamu!" Pras ma

o gininya adil, aku sih tidak masalah. Jadi kapan Ma

ual, a

Aku sudah lelah menyuapi ego la

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dignity ( Demi Harga Diri)
Dignity ( Demi Harga Diri)
“Menjelang delapan tahun usia pernikahannya, Suri Hidayah merasa tidak bisa mempertahankan rumah tangganya lagi. Karena Prasetyo Prasojo, suaminya telah berubah menjadi sosok yang tidak lagi ia kenali. Pras berubah setelah karirnya melesat ke puncak. Dari seorang karyawan biasa, Pras kini menjadi seorang direktur pelaksana yang disegani. Pras lupa diri. Pras yang sekarang telah berdasi, kerap merudung Suri, secara fisik dan psikis. Merendahkan pendidikan Suri yang hanya tamatan SMP, serta mencela penampilan Suri yang menurut Pras norak alias kampungan. Dalam pandangan Pras, perempuan sempurna itu haruslah seperti Murni Eka Cipta. Anggun, cerdas, berpendidikan tinggi juga berharta. Murni adalah lady boss perusahaan tempat Pras bekerja. Suri yang sakit hati, dalam diam terus berusaha memperbaiki diri. Ia mencoba mengubah penampilannya menjadi lebih baik, dan juga belajar mencari penghasilan sendiri. Suri secara otodidak belajar memasarkan hasil rajutannya melalui media sosial. Hanya saja Suri terkendala dengan masalah modal. Ia tidak mempunyai cukup dana untuk membeli benang-benang dalam jumlah besar untuk keperluan merajutnya. Adalah seorang Damar Adhiyatna, mantan suami Murni yang kebetulan bertemu dengan Suri secara tidak sengaja. Damar adalah pemilik PT. Karya Tekstil Adhiyatna. Perusahaan yang bergerak dalam bidang benang jahit. Damar yang mengetahui kesulitan Suri bersedia membantu dengan sistem barter. Damar memasok benang, dan Suri memajang hasil rajutannya di toko kerajinan tangan ibunya. Bagaimana perjuangan jatuh bangunnya Suri dalam mengumpulkan serpihan harga diri? Bagaimana juga akhir kisah cinta segitiga antara Suri, Damar, Pras dan juga Murni? Cerita ini akan menjadi saksi betapa kekuatan cinta akan mengubah segalanya. Cinta sejati itu tidak pernah pudar karena rupa, dan tidak padam dimakan usia.”