icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Racun Dokter Hancurkan Hidupku

Bab 2 

Jumlah Kata:469    |    Dirilis Pada: 05/12/2025

Tumangg

ka itu juga, sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua kakiku.

Aku ingin menghilang saja. Ini adalah mimpi terburukku. Aku, Saskia Tu

hkan kekacauan itu. Gerakannya profesional, tanpa ada sedikit pun cemoohan di matanya. Tapi itu

suaraku bergetar, hampir tidak terdengar. Aku mencoba

." Suaranya lembut dan menenangkan, hampir terlalu menenangkan. "Banyak pasien me

da posisiku. Aku ingin menangis, ingin lari, tapi tubuhku t

geluarkan ponselnya. Dia mengarahkannya ke area yang sedang

? Rasa maluku kembali melonjak, lebih kuat dari se

p, saya bisa lebih detail melihat kondisi di dalam," jelasn

kata itu tercekat di tenggorokanku. Aku hanya bisa memalingkan wajahku, berharap

pikir pemeriksaan ini hanya akan seperti pemeriksaan biasa. Cepat dan tidak terlalu memalukan. Tap

ya serius, seolah-olah dia sedang mempelajari sebuah karya se

l, mencekikku. Akhirnya, dia mendonga

ya berubah menjadi lebih ser

kencang. Firasat bu

a bakteri yang parah," lanjutnya. "Dan

idak mengerti. Aku selalu me

nya lagi, "obat-obatan saja tidak

Aku merasa seperti tersambar petir

akukan?" Suaraku pecah, penuh kepanikan.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Racun Dokter Hancurkan Hidupku
Racun Dokter Hancurkan Hidupku
“Demi menyelamatkan pernikahanku dari rasa nyeri misterius, aku diam-diam mendatangi Dr. Victor, spesialis kesuburan terkenal di kota. Namun, bukannya sembuh, aku justru dijebak dalam "terapi" menjijikkan di mana dia membiusku, melecehkanku, dan merekam aibku sebagai bahan pemerasan. Dia mengancam akan menyebarkan video saat aku "mengemis" sentuhannya-efek dari obat yang dia sebut pereda nyeri-jika aku tidak terus melayaninya. Aku merasa kotor, rusak, dan hampir gila karena ketergantungan aneh yang kurasakan pada tubuhnya. Sampai akhirnya, hasil pemeriksaan dari rumah sakit lain menampar kesadaranku. Dokter itu bertanya dengan wajah serius: "Nyonya, sejak kapan Anda mengonsumsi stimulan dan halusinogen dosis tinggi?" Ternyata aku tidak sakit. Bajingan itu sengaja meracuniku agar aku kecanduan padanya. Rasa takutku seketika lenyap, berganti dengan api kemarahan yang dingin. Aku akan kembali ke klinik itu, bukan sebagai pasien, tapi sebagai mimpi buruknya.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10