Jasper Quinn
1 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Jasper Quinn
Racun Dokter Hancurkan Hidupku
Romantis Demi menyelamatkan pernikahanku dari rasa nyeri misterius, aku diam-diam mendatangi Dr. Victor, spesialis kesuburan terkenal di kota.
Namun, bukannya sembuh, aku justru dijebak dalam "terapi" menjijikkan di mana dia membiusku, melecehkanku, dan merekam aibku sebagai bahan pemerasan.
Dia mengancam akan menyebarkan video saat aku "mengemis" sentuhannya-efek dari obat yang dia sebut pereda nyeri-jika aku tidak terus melayaninya.
Aku merasa kotor, rusak, dan hampir gila karena ketergantungan aneh yang kurasakan pada tubuhnya.
Sampai akhirnya, hasil pemeriksaan dari rumah sakit lain menampar kesadaranku.
Dokter itu bertanya dengan wajah serius:
"Nyonya, sejak kapan Anda mengonsumsi stimulan dan halusinogen dosis tinggi?"
Ternyata aku tidak sakit.
Bajingan itu sengaja meracuniku agar aku kecanduan padanya.
Rasa takutku seketika lenyap, berganti dengan api kemarahan yang dingin.
Aku akan kembali ke klinik itu, bukan sebagai pasien, tapi sebagai mimpi buruknya. Anda mungkin suka
Kutandatangani Surat Cerai, Dia Kehilangan Segalanya
Jasper Night Selama dua tahun, aku memainkan peran sebagai istri yang sempurna, bodoh, dan penurut untuk miliarder Baskara Adiputra.
Namun malam ini, dia melemparkan draf perceraian ke hadapanku karena cinta pertamanya, Jasmine, telah kembali dalam keadaan sakit.
Baskara menatapku seolah aku adalah noda menjijikkan, memberiku kompensasi murah dan menyebutku pemburu harta yang tidak tahu diri.
Keluarganya ikut menghinaku habis-habisan di acara makan malam, sementara Jasmine dengan licik memalsukan kecelakaan mobil untuk menjebakku atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Baskara membela wanita itu mati-matian, berteriak menyuruh polisi menangkapku, dan mengusirku dari pandangannya.
Dia mengira aku akan hancur, menangis, dan memohon untuk tidak dibuang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa rekam medis Jasmine adalah pemalsuan tingkat tinggi, dan ada dalang yang mendanai penipuan ini dari balik layar.
Alih-alih menangis, aku menatap matanya dengan tenang.
"Aku ingin penthouse ini, lima persen saham perusahaanmu, dan tunjanganku digandakan."
Setelah memeras kekayaannya dan menandatangani surat cerai, aku kembali ke kamar, membuka brankas rahasia di balik lemari, dan mengeluarkan pistol Glock 19 serta laptop terenkripsiku. Waktunya berhenti bermain rumah-rumahan.