icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kekayaanku, Keluarga Benalunya

Bab 2 

Jumlah Kata:436    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

a. Dia mengerti dunia kita. Dia leb

amarah. Itu adalah sesuatu yang lebih mend

u perjelas. Kamu mengirimku, istrimu, wanita yang mendanai seluru

ikan tangan dengan acuh. "Aku harus membatalkan

tersenyum padaku, sebuah isy

u seorang penyintas. Kamu bisa mengat

g sunyi. Sebuah petualangan. Dia menyebut perjalanan

suaraku turun menjadi bisikan. "Itu melew

k. Kenapa dia harus merasa tidak nyaman sementara kamu bepergian dengan ama

non hidup dengan kode kehormatan. Aku menatapnya, memo

kkan diri dengan benang lo

an tangan di lenganku. Sentuha

Bayu adalah kepala keluarga. Dia tahu apa yang terbaik. Dahlia a

anak muda. "Iya, Mbak Kirana. Mbak kan selalu tangguh. Da

u melihat sekeliling ke wajah mere

ga rasanya bisa meretakkan fondasi rumah. "Kalian memperlakukan orang luar, seorang tamu

gemetar. "Kamu memperlakukan

at marah. "Janga

n," bentaknya. "Berhentilah mem

sa membiarkannya bepergian sendirian atau merasa tidak aman. Ini adalah t

mu untuk membuktikan bahwa kamu pr

ntu ganda lobi ya

i di sana, siluetnya

girangan. "Dahli

itu. "Aku kangen banget sama kam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kekayaanku, Keluarga Benalunya
Kekayaanku, Keluarga Benalunya
“Aku seorang dokter bedah saraf dengan penghasilan lebih dari lima miliar Rupiah sebulan. Aku menafkahi suamiku, seorang kapten tentara, dan seluruh keluarga benalunya. Setelah aku menyelamatkan mereka dari kehancuran finansial dengan cek senilai 75 miliar Rupiah, aku merencanakan liburan keluarga termewah ke Monako-jet pribadi, kapal pesiar sewaan, semua atas biayaku. Malam sebelum kami berangkat, suamiku mengumumkan mantan pacarnya, Dahlia, akan ikut. Dia sudah memberikan kursi jet pribadiku yang kubayar kepada wanita itu. Tiket baruku? Penerbangan komersial dengan transit di zona perang. "Dahlia itu rapuh," jelasnya. "Kamu kan kuat." Keluarganya setuju, memuja-muja Dahlia sementara aku berdiri di sana, tak terlihat. Adik iparku bahkan berbisik pada Dahlia, "Aku harap kamu kakak iparku yang sebenarnya." Malam itu, aku menemukan Dahlia di tempat tidurku, mengenakan gaun tidur sutra milikku. Saat aku menyerangnya, suamiku merentangkan tangan melindungi Dahlia dariku. Keesokan paginya, sebagai hukuman atas "perilakuku", dia memerintahkanku untuk memasukkan tumpukan koper mereka ke dalam iring-iringan mobil. Aku tersenyum. "Tentu saja." Lalu aku masuk ke ruang kerjaku dan menelepon. "Ya, saya punya sejumlah besar bahan terkontaminasi," kataku pada layanan pembuangan limbah berbahaya. "Saya mau semuanya dibakar habis."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10