icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Penulis: Bugis cek
icon

Bab 1 MHMI

Jumlah Kata:1341    |    Dirilis Pada: 21/10/2025

. Berusia 19 tahun, ia mengenakan seragam bengkel sederhana yang sedikit kebesaran, tanda bahwa

minggu lalu sebagai bentuk tantangan sekaligus perjalanan belajar. Matanya yang tajam menyiratkan tekad

lan, melainkan panggung untuk menaklukkan ketakutan dan men

dekat. Raut wajahnya berubah saat ia mengintip dari balik jendela dan melihat sosok yang ta

h keberatan. Itu adalah mertuanya, yang datan

tuk menyambutnya. Raut wajahnya yang sem

gan kirinya canggung menggaruk belakang kepala, sementara tan

yang menyisir setiap sudut bengkel kecil itu-seakan

a?" ucap Amira, nada suaranya menyat

berhenti kerja. Bagi saya, punya usaha sendiri lebih tenang dan menjanjikan,"

emaja, melangkah masuk dengan langkah ring

," sapa Amel pe

m yang lebih lebar-sebuah upaya menyembuny

um bisa ia ucapkan. Akankah keluarga benar-benar b

katanya seraya melirik ke adik iparnya, Amel, da

samping. Sesampainya di ruang tamu rumah s

mandi," ujarnya sambil tersenyum kecut. Ia be

a tercekat. Geby hanya mengenakan pakaian dalam. Jantung

Galang bergetar, terbungkus h

yang bergemuruh di dadanya. "Gas, gas, malam aja deh," balas Geby san

tapi matanya sudah menaru

dan Amel udah

ya kini sarat kekecewaan, seperti

Di benaknya, sosok Amel berputar-putar-dulu polos, culun, dengan kulit ge

erubah drastis menjadi

malah kureng, panoan... Aahh, apa yang terjadi? Kenapa aku tak pernah melihat

u memaksanya bangkit, melangka

kejutan kecil yang menandakan harapan. "Beneran dikasih nanti malam?" ta

embut wajah Galang. "Iya, kalau aku ngg

Ibu dan Amel ada di luar," ujarnya ringan sambil mengecup pipi Gaby s

yusuri pintu belakang yang langsung

ia tahan, pecah begitu saja. Dengan langkah goyah ia mendekat, meluapkan segala rasa yang bercampur baur dalam pe

i, Ibu dan adikmu sudah sangat bersyukur. Di kampung, Ibu sering dicap sebagai janda gatal, dan itulah sebabnya Ibu menjual rum

a. Matanya berkaca-kaca. Ketika melihat Ibu dan kakaknya berpelukan, Amel segera meny

ecewakan. Akan menjadi anak yang membang

lahan, menatap Amel deng

iah, ya," katanya, kedua tangannya men

hkan, "Ingat, di kota ini banyak pergaulan yang bisa menyesa

r tamu. Di ambang pintu, dia menoleh, "Bu, aku siap-siap dulu

i pinggiran kasur, matanya lelah tapi

ahkan diri, memeja

mandi di kamarku aja. Yang di belakang lagi direnovasi." Tanpa menunggu jawaban, di

nya menjelajahi setiap sudut rumah. Sesampainya di teras, dia memilih untuk duduk, membiarkan sejuknya pagi mem

ang dikerjakan. Ia bisa melihat kesalahan yang dilakukan Galang.

kenapa harus repot-repot lep

Saya sudah bilang juga, tapi dia bilang be

sebagai mekanik. "Dek, kamu ini nggak ngerti soal motor. Biarkan yang profesional

likasi dan mulai mencari tutorial cara menambal ban tubless.

ner, lebih simpel dan cepat,"

endalam dalam hatinya. Ia mendekat dan mencoba fokus menyim

instruksi dari video tersebut dan

alang, terengah-eng

, merespons, "Kalau nggak bisa o

jamin, kalau lain kali bapak datang kesini denga

nggan itu pun berlalu dengan wajah

a tangannya spontan memegang tangan Amel yang lembut. Mereka saling menatap,

, "Ada oli kak, hehe

kan rasa gugupnya, "Makasih dek, sebenarnya ini tidak perl

dulu dong," sahut Amel dengan senyum m

ok Amel yang menjauh. "Sadar lang," gumamny

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
“Galang duduk di ruang tamu dengan wajah tegang, matanya menatap lurus ke depan meski pikirannya berputar tak menentu. Ia baru saja mendengar kabar bahwa ibu dan adik iparnya akan tinggal bersama mereka di rumah yang sempit ini. Rasa tidak setuju menguasai hatinya; bayangan keributan dan ketidaknyamanan terus menghantui pikirannya. Namun, saat Gaby duduk di hadapannya, suara lembutnya membawa kehangatan yang berbeda. "Mas, kau tahu sendiri apa yang terjadi di desa. Ibu kita kehilangan rumahnya, dan adik juga kebetulan ingin lanjut kuliah. Mereka butuh tempat berteduh, setidaknya untuk sementara," katanya dengan mata berkaca-kaca. Galang menghela napas panjang, tubuhnya sedikit merunduk seolah menanggung beban berat. Kekhawatiran tentang bagaimana hidup bersama mereka akan berjalan, tentang ruang yang terbatas dan konflik yang mungkin muncul, tetap menghantui. Tapi tatapan penuh harap dari Gaby membuatnya luluh. "Aku mengerti, Gaby. Aku hanya ingin semuanya berjalan baik, tanpa ada yang terluka atau merasa tertekan," ucap Galang akhirnya, suaranya berat namun tegas. Gaby tersenyum tipis, meraih tangan Galang dan menggenggamnya erat. Di balik kekhawatiran itu, ada tekad bersama untuk menghadapi ujian ini. Galang tahu, ini bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga tentang keluarga yang harus tetap utuh di tengah badai.”