icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Bab 5 MHMI

Jumlah Kata:1146    |    Dirilis Pada: 21/10/2025

t membangunkan Gaby yang terlelap di sampingnya. Langkahnya pelan, hati-hati menyelinap ke jendela, di mana u

di dadanya, membuatnya bertanya-tanya dengan semberono, b

dalam labirin kebingungan dan takut. Dengan langkah berat, ia meni

-setiap suara yang terdengar dari balik pintu itu menyesakkan

kat dalam benaknya. Galang menempelkan mata di celah pintu, napasnya tertaha

nyadari kebenaran yang mungkin te

nya sosok yang tengah duduk di atas kursi kayu tua itu terlihat. Amel, dengan ra

telinganya lebih dekat ke pintu

arannya memuncak saat telinganya mena

takkan ponselnya. Langkah Galang pelan mendekat sambi

buat Amel tersentak, seolah tersengat. Dengan refleks, A

cepat, matanya berkilat sebelum ia buru-

menangis?" tanya Galang

h Galang dengan mata yang penuh kekecewaan. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang perasaan aku," ucapnya den

ilnya, tapi Amel terus berjalan tanpa menoleh. Galang menyadari kesalahannya, ia menjejar

s-remas. Galang melihat betapa bibir Amel gemetar, mencoba meny

g yang telah menjadi bagian dari hidupku," ucap Amel dengan suara ya

iba. Dia meraih tangan Amel, memberikan s

kamu," kata Galang dengan nada penyesalan. Amel menghela napas

nya butuh waktu untuk bisa menerima semua ini," tutur Amel, suarany

uang dan waktu bagi Amel untuk

engusap pipinya dengan hati-hati, men

kamu menemukan seseorang yang lebih

birnya mencoba tersenyum tapi m

ng memandangnya, "Itu keputusan baik," ucapn

an Amel. Dia berjalan lesu, tubuhnya merebah tanpa

secangkir kopi, "Oh, kirain siap

gantuk?"

diam, hanyut dalam film di layar, hingga sebuah adegan tak

rutkan alis, tangan terlipat di dada-sebuah

dalam dada yang rapuh.Galang hanya tersenyum santai, mencoba meny

ote-nya," jawabnya ringan, tap

nggak tahu bakal ada adegan itu..." Ketidaknyam

tak terucap. Namun, Galang memecahnya dengan nada lebih berani, mata m

yang menusuk lembut tapi dalam. Ada dorongan tak tertahankan untuk

duduknya di sebelah Galang, mencari k

mata melebar penuh harap dan kebingungan,

ya mengembang sedikit, "Iya, itu

imalnya, gimana?" tanya dia, rasa penasaran yang me

sejenak, menunggu jawab dan kejujuran yang aka

rti lah," sahut Galang, membuat

m pernah ciuman, paling jauh tangan ku aja yang dipegang," ucap A

tidak percaya, lalu menggumam ringan, "Penjara

pi ucapannya. "Ciuman itu... ah, menjijikkan!" nada suarany

k mengerti kenapa ora

kening, bagian dari dirinya

k," batinnya sambil merasakan

kan dengan orang yang dicinta

askan, sambil matanya

a cinta, hanya untuk... sensasi." Kata-kat

na?" potong Amel, mat

n, bahkan bisa membuat pikiran lebih jernih!" kali ini ia

h, tangannya refleks menutup mulut. "Hueek, hanya membaya

i cangkir itu, menambah aroma semerbak di udara. Wajahnya terlihat rileks

logika, mungkin saja," ucap Galang sambil meletakkan cangkir di at

asti lebih asik. Toh, pacaran tapi nggak pernah ngapa-ngapain itu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
“Galang duduk di ruang tamu dengan wajah tegang, matanya menatap lurus ke depan meski pikirannya berputar tak menentu. Ia baru saja mendengar kabar bahwa ibu dan adik iparnya akan tinggal bersama mereka di rumah yang sempit ini. Rasa tidak setuju menguasai hatinya; bayangan keributan dan ketidaknyamanan terus menghantui pikirannya. Namun, saat Gaby duduk di hadapannya, suara lembutnya membawa kehangatan yang berbeda. "Mas, kau tahu sendiri apa yang terjadi di desa. Ibu kita kehilangan rumahnya, dan adik juga kebetulan ingin lanjut kuliah. Mereka butuh tempat berteduh, setidaknya untuk sementara," katanya dengan mata berkaca-kaca. Galang menghela napas panjang, tubuhnya sedikit merunduk seolah menanggung beban berat. Kekhawatiran tentang bagaimana hidup bersama mereka akan berjalan, tentang ruang yang terbatas dan konflik yang mungkin muncul, tetap menghantui. Tapi tatapan penuh harap dari Gaby membuatnya luluh. "Aku mengerti, Gaby. Aku hanya ingin semuanya berjalan baik, tanpa ada yang terluka atau merasa tertekan," ucap Galang akhirnya, suaranya berat namun tegas. Gaby tersenyum tipis, meraih tangan Galang dan menggenggamnya erat. Di balik kekhawatiran itu, ada tekad bersama untuk menghadapi ujian ini. Galang tahu, ini bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga tentang keluarga yang harus tetap utuh di tengah badai.”