icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Bab 3 MHMI

Jumlah Kata:1187    |    Dirilis Pada: 21/10/2025

ketnya. Dengan gerak cepat, ia mengambil ponselnya, tapi begitu ia melihat nama ayahnya muncul di layar, d

mel dengan nada penasaran. Galang

a terdengar begitu dingin hingga A

kat bahu, tanpa rasa bersalah. "Mau naik atau giman

ir jernih. Tangan kanannya menggenggam kuat stang motor, sement

ya itu. Keningnya berkerut, dan ada semburat kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Dia menarik napas

galkan tempat itu. Amel hanya mengangguk pelan, hatinya masih diliputi kebingungan. Dengan

ang belum terpecahkan, sementara pikiran Amel melay

ti-hati mengarahkan kendaraannya menuju lokasi pusat perbela

a akhirnya, suaran

. Maaf ya, tadi aku nggak sengaja keras sama kamu."

apat di dalam dada. Sementara Amel sibuk menghilangkan kekecewaan dan rasa penasarannya dengan berbelanja keperluan ospek, Galang memilih untuk menunggu di t

nikan yang mulai menggelepar di dada, r

nggu Galang yang tak kunjung datang. Beberapa kali dia melirik ke arah jalan, berharap melihat sosok Ga

ucapnya dengan nada sedih, men

tunggu-tunggu akhirnya muncul. Galang berhenti tepat di sam

an sesuatu ke arah Amel. Sebuah boneka kec

kesal. "Kamu kira aku anak kecil?" tanyanya, suaranya

ikah," jawab Galang d

na terkejut dengan kepedulian yang ditunjukkan Galang. Meski kesal, dia tidak bisa menahan senyum yang merekah

**

ampu remang-remang. Udara malam itu terasa panas, membuat Galang hanya mengenakan kaos singlet dan

yang lambat, ia duduk tepat di depan televisi, menghalangi pandangan Galang. Amira hanya mengenak

kipas," ujar Amira, sambil menoleh memberikan senyuman yang canggung. Suaranya terd

malah tertuju pada sosok Amira yang duduk menghadapnya. Kulitnya yang terlihat berkilauan karena keringat

yang sulit dijelaskan; campuran antara keberatan dan ketertarikan. Wajahnya yang awalnya tampak kesal p

ng," keluhnya tanpa memandang G

ara Amira, hatinya tergerak ole

u?" tanyanya, suaranya mengan

rtemu Galang sesaat-ada lu

n, "Tapi... Lang, duduk sini dulu, aku mau

da, memaksa ia menggeser duduk lebih dekat

marinya seperti menari tanpa irama. "Sulit, Galang..." suar

tang menikmati hari ini tanpa harus terikat esok." Ada hampa dalam suaranya, laksana malam kelam yang menyelimuti jiwa yang seda

ta. "Tapi Ibu ingin lebih dari itu, ya, Bu?" tanyanya,

ingin rumah yang bisa kusebut milik, bukan sekedar tempat bertedu

rusaha memberi sudut pandang lain,

atau mungkin, takut tidak bisa m

ranya semakin lirih. "Tapi mungkin juga aku yang harus belajar m

i betapa rumitnya jalan yang harus dilalui Amira. Dalam hening, mereka berdua t

rinya sudah tidur. Galang, dengan nada santai, mengonfirmasi bahwa istrinya m

um tipis, seolah ada makna ter

uga gitu kok, sekarang dia juga udah tidur. Tapi kok aku merasa, malam ini seolah merestui kita ber

Dia mulai merespons dengan mengelus lembut kepala Amira, tangannya bergerak secara instingtif menunjukkan kenyamanan yang mulai terjalin di an

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar
“Galang duduk di ruang tamu dengan wajah tegang, matanya menatap lurus ke depan meski pikirannya berputar tak menentu. Ia baru saja mendengar kabar bahwa ibu dan adik iparnya akan tinggal bersama mereka di rumah yang sempit ini. Rasa tidak setuju menguasai hatinya; bayangan keributan dan ketidaknyamanan terus menghantui pikirannya. Namun, saat Gaby duduk di hadapannya, suara lembutnya membawa kehangatan yang berbeda. "Mas, kau tahu sendiri apa yang terjadi di desa. Ibu kita kehilangan rumahnya, dan adik juga kebetulan ingin lanjut kuliah. Mereka butuh tempat berteduh, setidaknya untuk sementara," katanya dengan mata berkaca-kaca. Galang menghela napas panjang, tubuhnya sedikit merunduk seolah menanggung beban berat. Kekhawatiran tentang bagaimana hidup bersama mereka akan berjalan, tentang ruang yang terbatas dan konflik yang mungkin muncul, tetap menghantui. Tapi tatapan penuh harap dari Gaby membuatnya luluh. "Aku mengerti, Gaby. Aku hanya ingin semuanya berjalan baik, tanpa ada yang terluka atau merasa tertekan," ucap Galang akhirnya, suaranya berat namun tegas. Gaby tersenyum tipis, meraih tangan Galang dan menggenggamnya erat. Di balik kekhawatiran itu, ada tekad bersama untuk menghadapi ujian ini. Galang tahu, ini bukan hanya soal tempat tinggal, tapi juga tentang keluarga yang harus tetap utuh di tengah badai.”