icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Derita Seorang Gadis Desa

Bab 5 butik sudah sepi

Jumlah Kata:2006    |    Dirilis Pada: 28/09/2025

ggalkan bayangan panjang di lantai marmer yang licin. Alya masih berdiri dengan tubuh

angkuh dulu, tidak juga penuh cemooh. Ada sesuatu di dalam matan

sendiri kesulitan mengeluarkan kata-kata. "Ak

but itu hanya 'salah'? Kamu tahu nggak apa yang sudah kamu ambil dari aku

h keterlaluan. Waktu itu aku bodoh, aku egois. Aku kira semua bisa kulakukan s

ang bisa kamu permainkan? Hanya gadis desa yang nggak p

a menghujam hatinya lebih d

juga tahu bahwa ini adalah saat Alya melepaskan unek-unek yang selama ini ia pendam. Dengan

p kali pintu diketuk. Aku merasa kotor, nggak berharga. Kamu tahu rasanya jadi aku, Arka? Kamu tahu rasanya berjuan

u nggak bisa menghapus itu, Alya. Aku bahkan

ti itu. Tapi amarahnya belum reda. "Kalau kamu benci pada dirimu, kenapa

seakan ia menatap ke masa lalu yang

hening. Kata itu begitu ju

jah pria itu. "Pergi. Aku nggak mau lihat kamu lagi.

ly

lya membentak, suaran

idak bisa memaksa. Ia membuka pintu butik, dan sebelum keluar ia sempat menoleh sekali lagi. Wajah A

pu yang tadi ia genggam terlepas dari tangannya. Sinta s

a berani. Kamu sudah

ku harus ketemu dia lagi, Kak? Kenapa ak

n ini cara Tuhan bikin kamu kuat. Kamu ngg

ikit lega, meski ketakutan masih menghantuinya. Ia mencoba fokus bekerja,

an Alya. Ia duduk di balkon apartemennya yang mewah

an...? Kenapa wajah itu t

p dengan kebebasan penuh, melakukan apa pun sesuka hati tanpa peduli dampaknya. Tapi

suatu. Aku nggak bisa t

rak pakaian, seorang kurir datang memb

ibuka, ternyata isinya sebuah kotak berisi gaun ca

i maafmu. Aku hanya ingin kau

metar memegang kartu itu. S

i aku bisa lupa?!" Alya membanting kotak it

ngsung menghampiri. "

marah. "Aku nggak butuh ini! Yang ak

nga, makanan, bahkan uang dalam amplop. Alya menolak semua

yang datang lagi. Kali ini ia ber

mendapati pria itu menunggu. "Apa l

cara sebentar,"

g aku nggak mau

berubah. Aku mau menebus

rmatanku nggak bisa kamu beli dengan uang atau hadiah. Luka ini nggak bisa sembuh hanya

akukan apa saja supaya kamu bisa percaya lagi

"Percaya? Kamu pikir aku bisa percaya lagi s

ng berantakan. Arka tidak menjawab, hanya

nya dengan keras, meninggalkan

menangis. "Kenapa dia nggak pergi saja da

ak bisa ia tolak: rasa penasaran. Apakah Arka be

i benaknya, menambah beban pada

ang bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang menghadapi kenyat

Alya menumpang. Ia terbangun dengan mata bengkak, bekas tangis semalaman yang belum juga benar-benar r

rtanya, "Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apa salahku hingga h

Ada neneknya di desa yang masih menunggu kabar darinya. Nen

irinya di cermin tua yang sudah buram. Gadis itu masih sama-wajah

duk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Namun, ada sesuatu yang membuatnya gelisa

il Ibu Ratna kepa

t Bu Yati samb

ya dia sudah membant

alu menjawab pelan, "A

a-tiba pergi tanpa bicara padaku

i subuh, dia hanya pamit singkat. Kat

ya yang ia kenal adalah gadis yang sopan, rajin, dan selalu berte

narnya? bati

erisi beberapa potong pakaian. Ia benar-benar tidak tahu harus ke mana. Kakinya melan

sa yang pernah menawarkan bantuan jika ia butuh tempat singgah di

angkot menuju alamat yang samar-samar ia ingat. Hatinya terus b

mah sederhana dengan papan nama kecil bertuliskan "

ikum..." sua

ruh baya dengan wajah ramah namun letih. B

llah, ini b

"Bu Mira... bolehkah saya numpang di sini

emeluknya. "Nak, kau boleh tinggal di sini. Anggap saja rumah

mbali. Setidaknya, untuk pertama kali se

emainkan ponsel. Sama sekali tidak ada rasa bersalah di wa

k pintu kamarnya dengan wajah

atu tentang Alya? Dia ti

pembantu, Bu. Kalau mau pergi,

ngan bicara begitu. Alya anak baik.

b Arka enteng. "Dia memang ti

ng janggal dari cara Arka bicara. Namun ia memili

Bu Mira menjahit, membersihkan rumah, bahkan sesekali ikut mengantar pesa

mbali menghantuinya. Ia terbangun dengan keringat dingin, t

peka akhirnya

di rumah majikanmu dulu? Kenapa kau tiba

rlahan ia menceritakan semuanya. Dari awal ia bekerja di ruma

lya erat. "Nak... kau tidak bersalah. Jangan menyalahkan

hidup saya sekarang sudah hancur. Siap

erhenti di sini. Kau masih punya masa depan. Dan jika dia benar-b

hati Alya. Walau jalan ke depan masih gelap,

yang tidak beres. Suatu hari, ia berusaha mencari tahu keberadaan gadis it

yang mengatakan bahwa Alya adalah anak baik, berjuang demi nen

jadi di rumahnya yang membuat Alya pergi. D

bersama Bu Mira. Namun, perasaan takut selalu menghantuinya. Ia

aja berpapasan dengan salah satu teman Arka di pasar. Teman

nya sambil menatap foto Alya yang dikiri

ni, Alya? Baguslah. Perma

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Derita Seorang Gadis Desa
Derita Seorang Gadis Desa
“Alya, seorang gadis cantik berusia 19 tahun, sejak usianya baru menginjak dua tahun sudah menjadi yatim piatu. Sejak saat itu, ia hanya dibesarkan oleh neneknya yang kini sudah tua renta dan sakit-sakitan. Karena keterbatasan biaya, Alya hanya bisa menamatkan sekolah sampai jenjang SMP. Meski demikian, Alya tidak pernah berhenti berharap untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Suatu hari, ia memutuskan meninggalkan desanya dan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Dengan tekad bulat, ia ingin mengubah nasibnya demi bisa membantu sang nenek. Tak disangka, keberuntungan seperti berpihak kepadanya. Ia bertemu dengan seorang wanita dermawan bernama Ibu Ratna, yang kemudian mempekerjakannya di rumah besar milik keluarganya. Alya pun merasa bersyukur, karena akhirnya ia memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika putra sulung Ibu Ratna, bernama Arka, pulang dari luar negeri, kehidupan Alya berubah drastis. Malam itu, sebuah petaka menimpa dirinya-kehormatan Alya direnggut secara paksa oleh Arka. Alih-alih menyesal atau bertanggung jawab, Arka justru bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan, dengan dingin ia merendahkan Alya dan menyuruhnya pergi dari rumah ibunya. Hati Alya hancur berkeping-keping, namun ia tahu, hidupnya tidak boleh berhenti hanya karena luka ini.”
1 Bab 1 Usianya baru sembilan belas tahun2 Bab 2 kesukaan Ibu Ratna3 Bab 3 Ia sudah berusaha menghindar4 Bab 4 Kenangan5 Bab 5 butik sudah sepi6 Bab 6 mencarinya7 Bab 7 bayangan malam kelam8 Bab 8 seorang perempuan9 Bab 9 teratur10 Bab 10 kita akan selalu bertemu11 Bab 11 membiarkanmu pergi12 Bab 12 pengkhianatan13 Bab 13 membongkar14 Bab 14 menghadapi jebakan yang lebih licik15 Bab 15 ketakutan 30