icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Janda Bertemu Dengan Duda

Bab 4 tak pernah diungkapkan pada siapapun

Jumlah Kata:1150    |    Dirilis Pada: 13/12/2024

aneh, seolah ada aliran energi yang tak kasat mata di antara mereka. Tak ada kata-kata, hanya suara langkah kaki di lantai teras dan desaha

rasa seolah ada yang melindunginya, seolah ada sesuatu yang mengingatkann

nia tersenyum, tetapi ada sebersit kesedihan di matanya. Anak-anak itu, meskipun hidup dalam dunia yang penuh tantangan, masih bi

nuh makna. Sonia menoleh, memandang wajah pria itu, mencari tahu maksudnya. Ada kesedihan di matanya, sama sepert

dari yang ia kira. Tiba-tiba, dunia seakan melambat. Ada jeda d

i laut. Kadang tenang, kadang bergelora. Tapi kita harus terus melangkah, meski kita tahu kad

bentar, bisa mengucapkan kata-kata yang begitu dalam dan membuatnya merasa dipahami. Ia ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu siapa Yudha se

gaja menembus keheningan yang melingkupi mereka. Sonia terkej

terdengar ceria. Alif mengangguk, walaupun ia tahu ada sesuatu yang tidak dijelaskan sepenuhny

intu, membiarkan anak-anak masuk terlebih dahulu. Yudha mengikutinya,

kata Sonia, suaranya penuh rasa terima kasih

rasakan ada beban yang seakan dilepaskan, meskipun hanya sejenak. Mereka saling menatap, lalu Yudha berbalik dan berjala

ergegas dengan aktivitas mereka. Seperti biasa, suara klakson dan teriakan tukang ojek memenuhi udara, tetapi Sonia merasa ada sesuatu yang be

dian, keduanya muncul dengan ekspresi ceria, wajah mereka bercahaya seperti matahari pagi. Sonia menyuap mereka

g tertutup. Siapa yang datang di pagi hari seperti ini? Ia berjalan menghampiri

tadi malam," kata Yudha dengan senyum hangat. Sonia tidak bisa menahan rasa terkejutnya

baik-baik saja," Sonia menjawab

ngeluarkan sebuah kantong kecil dari balik jaketnya. "Mi

g ditemukan, terutama di dunia yang sering kali begitu sibuk dan egois. "Terima kasih banyak, Pak

a, lalu melangkah pergi. Sonia memandangi punggungnya yang mul

ayang kesedihan. Ia mulai berbicara lebih banyak dengan para tetangga, mengajak anak-anaknya untuk bermain dengan teman-teman baru. Yudha sering terlihat di sekitar, sesekali berbicara

nghadapi kenyataan bahwa hidupnya belum berakhir. Ada peluang baru, kesempatan untuk m

di kaca jendela memberi ketenangan, namun juga membuatnya teringat akan saat-saat sulit yang telah dilalui. Ketika ia menoleh ke arah jendela, pandangannya tertuju pa

anya penuh kekhawatiran. Yudha menoleh, kaget se

gingatkan saya pada sesuatu," jawab Yud

egup kencang. "Kadang, hujan memang membawa kenangan,"

"Kita semua punya kenangan, Bu Sonia. Tapi mungkin, hujan jug

g tetangga. Ada pengertian, ada rasa yang sama, yang membuatnya bertanya-tanya apakah ini ada

pan, mungkin ini saatnya untuk memulai kembali,"

u yang terbuka, di bawah hujan yang masih jatuh. Ada kehangatan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Janda Bertemu Dengan Duda
Janda Bertemu Dengan Duda
“Sonia adalah seorang wanita muda yang baru saja merasakan kesepian mendalam setelah kehilangan suaminya, Rizal, dalam sebuah kecelakaan mendadak. Kehilangan itu tak hanya meninggalkan luka di hati, tetapi juga rasa terasing di tengah komunitas yang mulai memandangnya dengan tatapan penuh simpati sekaligus keheranan. Merasa terjebak dalam kenyataan yang sulit, Sonia memutuskan untuk memulai babak baru: pindah dari rumah lama mereka yang penuh kenangan ke sebuah apartemen kecil bersama kedua anaknya, Alif yang berusia 3 tahun, dan Hana yang berusia 8 tahun. Di lantai atas apartemen yang sama, ada Yudha, seorang duda yang sudah lama hidup sendirian sejak istrinya meninggal secara tragis. Ia dikenal sebagai sosok yang karismatik dan penuh perhatian pada putrinya, Mira, yang kini berusia 14 tahun. Meski terlihat tegar di luar, Yudha menyimpan rasa sakit yang mendalam akibat kehilangan yang sama, dan sering berjuang untuk bisa membuka hatinya kembali. Saat Sonia dan Yudha bertemu secara kebetulan di lorong apartemen yang sepi, dua jiwa yang terluka itu menemukan kenyataan pahit: mereka saling mengenal rasa sakit yang sama. Namun, apakah mereka akan sanggup mengatasi dinding yang dibangun oleh kenangan, rasa takut, dan perasaan tidak percaya terhadap cinta yang pernah mengkhianati mereka?”