icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bisakah Untuk Tidak Memilih

Bab 5 Pertemuan Dengan Orang Baru

Jumlah Kata:2376    |    Dirilis Pada: 15/05/2024

s dengan baik. Kalau ada apa-apa kayak kemarin, kamu langsung te

ara papanya juga langsung pulang tanpa melihat pesawat itu pergi. Harus diketahui bahwa papanya tidak pernah setuju dengan kem

*

gi bersenda gurau. "Jelena, kamu udah baikan? Badannya udah ngga

andakan dia mulai baikan, tersimpan rasa bahagia dihatinya karena Yadi memperhatikannya.

n terkaget, "Yadi, Jelena, aku pulang dulu yah

an lagi oleh Yadi, "Aku antar ya

hubungi aku." Rachel langsung menarik tangan Tristan sementara Tristan yang baru datang sudah pasti bingung dengan Rachel yang tiba-tiba mena

tarik paksa akhirnya menarik tangannya, "Ngapain sih Rachel, sakit tau nggak ditarik gini! Ka

h, "Tolong dong Tan anterin aku pulang ke rumah soalnya ada kerj

an apa sih Rachel? Perasaan kamu baru dua min

seperti model, "Kamu nggak lihat tadi nggak ada yang jagain Jelena? Masa Jelena ditinggalin sendirian emang kamu mau? Lagian aku juga bukan mau ngerjain endorse tapi ahh ... udahlah makin lama ngejelasinnya makin l

depan rumah Rachel, "Udah samp

jaan temenin Yadi sana jagain Jelena. Nanti

tihan dancenya. Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa langsung telpon kita-kita

emilik rumah sebelah yang sangat Rachel kenali beserta supir yang juga sangat dikenalinya. Jujur Rachel sangat bingung karena sudah sekian lama Pak Tarno, supir sahabatnya itu tidak pernah keluar dari rumah sahabatnya

ya sampai tidak sadar kalau bibinya t

" Sambil terus memandang sebelah ruma

*

kangen juga sama udaranya Jakarta. Udah lama nih aku nggak pernah ke Jakarta, kira

terlalu heboh lah kak Indira, Jakarta juga masih sama aj

! Pak Tarno mana Javas, udah di telpon, kan?" Indira me

ia tetap melihat sekelilingnya dan kemudian matanya m

Non Indira, Tuan Javas dan Tuan Haniel, Pa

a." Javas membantu Pak Tarno mengangkat barang-barang mereka d

k langsung masuk ke rumah. Javas langsung menemui Pak Tarno dan membantunya membawa sedikit ba

alau tuan mau pulang ke Indonesia sesua

mah jadi saya rasa tidak perlu memberitahukan kedatangan saya." Jav

belajarnya dengan kertas-kertas yang berserakan. Dia tidak mendengar

*

rusaha mengguncang badan Indira y

ot kakaknya itu, "Apaan sih kak Javas, Indira masih

au ikut nggak? Haniel nggak mau

as ah Kak, Indira juga masih capek ini, l

malah ketemu sama orang jahat. Aku di sana cuma tiga hari jadi usahakan dalam tiga hari itu jangan bikin masalah dan jangan sampai ada yang lihat kalian masuk dalam

ih, Kak?" tanya In

Kakak berangkat dulu yah, ingat juga jangan susahin mbok sama

n barang-barang yang mau dibawah Javas. "Mau disopir

yetir sendiri. Ya udah saya berangkat dulu, Indira sama Haniel

a atau Haniel dan jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, Indira nggak mau temuin barang aneh di mobil kak Javas pas pulang!" Javas tersenyum melihat sepu

yang keluar dari sebuah rumah besar samping rumah Rachel yang menurut dia lagi tidak ada penghuninya. Rachel yang kebetulan sudah selesai bersiap-siap memperhatikan mobil

nya mengerti apa yang dilamunkan Janet

aku agak bingung juga karena hampir bertahun-tahun m

g aja ada urusan apa Pak Tarno bawa mobilnya Javas padahal setahu aku semenjak tidak ada Javas di s

chel nggak usah dipikirin, kali aja papanya Javas lagi suruh sesuatu ke Pak Tarno. Kita mending ke rumah

*

depan mobilnya. Secepatnya Javas mengerem mobilnya namun depan mobilnya kayaknya sudah mengenai sepeda sekaligus pengendaranya. Javas dengan sigap keluar dari m

pa kok, kakinya aja yang agak keseleo dikit." Ce

tu tunggu

tu. Cewek itu kaget dan langsung meneriaki

u, sepeda kamu nggak bakalan aku curi kok." Javas berjala

rusaha mengangkatnya, "Eh, kamu mau ngapain

m aja biar aku yang gendong!" Javas langsung menggendong cewek itu sedangkan cewek itu terdiam memandang wajah

galin aku, ternyata dia baik banget tapi kayaknya dia bukan orang sini deh soalnya aku ngga

senyum kayak gitu?" Cewek itu hanya menggeleng lalu menunduk, tidak berani melihat Javas

lagi, ya udahlah nanti bi

teriak c

tnya ada yang ketabrak lagi, "Kenapa sih musti te

tapi nggak mau berhenti, rumahnya udah

ti, "Kamu tinggal di dekat rumah oma aku?!" tanyanya sambil

ya Oma Hana?! Aku sering tuh main ke rumahnya tapi nggak tau k

angsung memarkirkan mobilnya di depan rumah omanya, "Kita udah samp

manya sudah pasti bingung karena cucunya datang bersama cewek yang dia juga kenali. Mereka lebih bingung lagi karena Javas terus terdiam dengan

pan jalan sana. Oh iya tunggu bentar aku ambilin sepeda kamu." Javas kembali

ucap cewek itu

ra, kamu nggak apa-apakan sayang? Ada lagi yang luka selain kaki kamu?" Cewek itu hanya menggeleng sambil tersen

"Nggak usah tante,

dalam, kita mau coba resep kue baru soalnya." Mam

bosan dengan keadaan itu akhirnya memulai pembicaraan, "Jad

Javas, "Katanya cucu oma hana

yang lalu, niatnya cuma mau datang lib

a bertemu. Aku baru dua bulan balik ke Indonesia, selama ini aku tinggal di Swiss bareng papa. S

sampai kapan." Suara Javas memelan, ada perasaan dalam dirinya untuk tidak lagi meninggalkan

kamu nggak capek sayang? Kalau capek mending pul

maaf yah soal kejadian tadi dan kalau ada apa-apa kamu bisa

a nggak bakalan balik ke luar negri dan tetap tinggal di Indonesia? Apa aku agak memaksa ka

yum gitu ada apa sih sayang?" tanya mamanya. Tiara menggeleng, sepertinya belum saatnya dia bilang ke mamanya kalau dia menyu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bisakah Untuk Tidak Memilih
Bisakah Untuk Tidak Memilih
“Hidup tidak pernah berjalan sesuai dengan rencana kita dibalik itu semua sangat banyak pilihan yang berikan kepada kita. Jalan yang kita ambil menurut kita mungkin bagus tapi semua pilihan pasti ada kosekuensinya. Kita sebagai manusia yang berakal harus pandai melihat pilihan dan situasi ke depannya. Apakah kita mau memilih dari salah satu pilihan yang diberikan ditambah dengan konsekuensinya masing-masing? Bisa saja kita tidak memilih apapun, berjalan mengikuti arah angin tapi tetap saja itu punya konsekuensi tersendiri. Pikirkanlah itu semua, jangan menyesal karena telah salah menjatuhkan pilihan.”
1 Bab 1 Come Back Home2 Bab 2 Perkenalan 3 Bab 3 Awal Mula Segalanya4 Bab 4 Ada Apa Dengannya 5 Bab 5 Pertemuan Dengan Orang Baru6 Bab 6 Penyamaran yang Terbongkar7 Bab 7 Mimpi yang Nyata8 Bab 8 Pertemuan Dari Mimpi9 Bab 9 Semua Apakah Baik-baik Saja 10 Bab 10 Ketika Dari Hati11 Bab 11 Takdir yang Kejam12 Bab 12 Kotak Hitam13 Bab 13 Saling Menjauh14 Bab 14 Sebenarnya Kenapa 15 Bab 15 Salah Paham16 Bab 16 Bos Mafia17 Bab 17 Yang Tinggal dan Meninggalkan18 Bab 18 Persaingan Oh Persaingan19 Bab 19 Tumbal Pujaan Hati20 Bab 20 Pengakuan21 Bab 21 Peringatan Pertama22 Bab 22 Tidak Baik-baik Saja23 Bab 23 Teman Baru dan Konflik Baru24 Bab 24 Kamu yang Meninggalkan Perih25 Bab 25 Perihnya Berjanji26 Bab 26 Menekan Emosi27 Bab 27 Pengakuan Akan Berdosa28 Bab 28 Satu Persatu Akan Mati29 Bab 29 Janji yang Benar Janji30 Bab 30 Hal yang Harus Diselesaikan31 Bab 31 Dunia Penuh Kenyamanan32 Bab 32 Kehancuran Beruntun33 Bab 33 Pertandingan Memperebutkan Keegoisan34 Bab 34 Datang dan Tak Kembali35 Bab 35 Lepaskan dan Pergilah