icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mahkota Sang Dewi

Bab 4 Pertemuan

Jumlah Kata:1989    |    Dirilis Pada: 19/09/2023

deh. Ditelpon, kok, nggak bisa," gumam Fina, mencoba mengh

mendorong kursi roda ibu-ibu yang baru

saya perbuat," ucap bapak yang tadi telah mencuri dan hampir Mutia

melihat ibu yang merupakan korban dari perbuatan pria ini memaafkan den

at setelah semua orang kembali ke tempatnya masi

a ada urusan dengan suster se

etidaknya Ibu dianter ke ruangan Ibu dulu. Kan, kalau kayak gitu, Ibu jadi sendirian nggak ada yang jagain

is di depannya ini. Selain baik, gadis ini juga ceria dan lucu. Tiba-tiba saja mengingatkannya pada

rang dari belakang, me

aran, siapakah yang dipanggil dengan nama

Tet

ana aja, sih? Lama banget ke toi

idak gatal. "Aku emang kesasar, terus n

k tangan ibu tersebut dan mencium punggung tangannya. Berbeda dengan

akah yang dari tadi dipanggil Mut

'kan, Bu? Iya, dong. Saya memang cantik." Mu

jah Mutia agar berhent

akutnya Teteh

ik. Baru saja mereka hendak mencari Mutia dengan petunjuk yang minim, Allah sud

Putri dari Yuda dan Div

pertinya ibu ini mengenali orang tu

ain ke rumah karena kata kamu masakan Ibu enak. Mun

utkan keningnya. Berusaha mengingat n

saya Mira yang kepa

a. Dia tidak percaya bahwa akhirnya bertemu lagi dengan

kat dan memeluknya begitu erat. Kedua matanya terpeja

kamu. Kamu sudah besar dan sangat cantik," ucap Rar

tap lekat wajah Rara yang berubah setelah bebe

Kedua mata Mutia berkaca-kaca. Gadis itu t

ngan tenang, tidak ingin Mutia khawatir

il suster," ucap Fina. Dia sendiri bingung harus bersikap baga

" ucapnya dengan bibir yang mencebik,

Nanti kalau sudah selesai kontrolnya, Teteh

galkan ibu tersebut dengan Mutia sendirian. Lantaran

ada yang nemenin. Iya, 'kan, Mutia?" Rara me

udah langsung nyusul, ya, Teh. A

i Umi telponin ke anak Umi

gia. "Asyik! Ayo, Mi! Aku dorong ke k

masih belum berubah. Dia sangat ceria, aktif, dan men

Mutia memutar kursi roda

akal." Fina memperin

i hal tentang kehidupan sekolahnya setelah perpisahan mereka dulu. Hal yang paling Mutia ingat, Rara adalah te

dengan lembut atau disertai candaan. Sehingga sama sekal

ring berantem

ngkan lengan Rara di lehernya, kemudian

udah dewasa, ya." Rara sedikit terkejut dengan

Tapi, sumpah, tubuh Umi Rara ringan banget.

kstrakurikuler PMR. Jadi, udah biasa

lu mengaitkan anak rambut gadis itu ke telinga. "K

get cari ribut. Sering banget buka sesi ceramah, padahal Mutia males banget dengerin! Mutia pikir, setelah married Abang bakal sedikit berubah. E

itu,

. "Jadi, Umi Rara bukan menany

laki-laki yang suka sama kamu. Tapi, bagusnya kecantikan kamu cuma dit

ia

mi k

Temen-temen juga begini. Jadi, agak aneh kalau pakai kerudung.

n, Sayang. Menutup aurat. Tujuannya agar tidak menimbulkan syahwat untuk laki-la

kumnya, tapi belum siap untuk ngejalanin aja. Mungkin kalau udah nikah atau udah punya anak, aku akan coba istikamah

ndapat hidayah lebih

gak, sih? Mutia, tuh, kangen banget sama Umi. Dulu Mutia pikir, Mutia nggak akan ke

mi boleh sakit, tapi harus cepet-cepet sembuh. Jangan lama-lama di rumah sakit. U

merasa nyaman ada di dekatnya. Padahal dia hanya selalu senang menjadi pendengar untuknya karena ocehan-ocehan ajaib gadis itu selalu b

stik berisi mi ayam pesanan bundanya. Dia sendiri masih bingung keti

sedangkan Mutia tidak dengar dan masih menidurk

us-salam,"

a tentang siapakah perempuan yang sedang duduk di sebelah Rara

bakal menjalani hari-hari dengan sangat indah. Ada banyak banget yang pingin Mutia ceritain ke Umi. Kehidupan re

endengar gadis itu menyebut dir

ah wanita yang telah dipilih Rara untuknya? Padahal baru kemarin dia menemukan tempat kerja ayah Mutia dan

Husein mendekat ke brankar. Dia baru menyadari a

a dengan cara langsung menunduk. Membuat Mutia tersinggung karena

ya memang m

n membuka aplikasi kamera. Namun, tidak ada apa-apa. Wajahnya mas

egas keberadaan pria itu, selain karena

tadi, Rara terkekeh. "Dia anak

mata. "Umi punya anak co

pondok. Makanya, kam

an tangan di depan Husein. "Gue Mutia, Bang. Bisa dipa

a, menolak dengan halus jabatan tangan Mu

" jawabn

erasakan kesal yang berlipat ganda. Dia me

kterinya, kok. Selalu

empuan yang dipilih bundanya ternyata begitu menggemaskan dan cantik. Walau memang dia tidak punya perasaan

ya hampir jatuh ke selokan. Udah gila lo ninggalin Umi sendirian di lorong? Kalo ma

pat dilihat wajahnya sangat gelisah

-pa, 'kan? Gimana kondisi Bunda? Maafin Husein, ya, Bun.

makin kesal. Padahal dia bisa berbicara sepanjang itu kepada bundanya, kenapa tidak ke

. Untung ada Mutia. Ter

ya sekian detik, dia langsung meliriknya begitu tajam. Mengeluarkan jurus ketusnya kala menghadapi pria-pria

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mahkota Sang Dewi
Mahkota Sang Dewi
“Sejatinya apa itu cinta? Bagi Husein, cinta adalah saat dia mengatakan 'saya terima' dalam sebuah akad pernikahan, yang berarti dia menyatakan menerima tanggung jawab untuk mencintai, dan melindungi istrinya. Sementara bagi Mutia, pernikahan adalah hal paling merepotkan yang ingin segera dia akhiri apabila ada kesempatan. Hati yang sudah dimiliki orang lain menjadi salah satu alasan untuknya. Lalu, bagaimana jika mereka berdua dipaksa bersama dalam sebuah pernikahan? Apakah mereka sanggup untuk saling menerima dan mempertahankan pernikahan? Instagram @hi.shenaaa”
1 Bab 1 Permulaan2 Bab 2 Firasat3 Bab 3 Takdir4 Bab 4 Pertemuan5 Bab 5 Keputusan6 Bab 6 Jodoh 7 Bab 7 Lamaran8 Bab 8 Perbincangan9 Bab 9 Pengalaman10 Bab 10 Pacar11 Bab 11 Menjadi Pengantin12 Bab 12 Karena Terpaksa13 Bab 13 Keluar dari Hidupnya!14 Bab 14 Di atas Meja Makan15 Bab 15 Merasa was-was16 Bab 16 Kebingungan17 Bab 17 Tidur Nyenyak18 Bab 18 Menonton Film19 Bab 19 Kupu-kupu di dalam perut20 Bab 20 Gelisah21 Bab 21 Demam22 Bab 22 Sedikit Cemburu23 Bab 23 Kejujuran24 Bab 24 Menyesal seumur hidup 25 Bab 25 Kecelakaan26 Bab 26 Lemas27 Bab 27 Sebuah Rahasia28 Bab 28 Bukan lagi Rahasia 29 Bab 29 Jaga Mahkotamu30 Bab 30 Bergetar31 Bab 31 Apa yang menarik 32 Bab 32 Pulang33 Bab 33 Kebingungan34 Bab 34 Meninggal35 Bab 35 Kekesalan36 Bab 36 Menangis37 Bab 37 Kesan pertama38 Bab 38 Sabar39 Bab 39 Kesadaran40 Bab 40 Mimpi buruk41 Bab 41 Perihal Cinta42 Bab 42 Romantis 43 Bab 43 Keheningan44 Bab 44 Dia hanya...45 Bab 45 Menikah lagi 46 Bab 46 Kegalauan47 Bab 47 Menunggu48 Bab 48 Air mata49 Bab 49 Hamil50 Bab 50 Rahasia51 Bab 51 Madu52 Bab 52 Mengulur waktu53 Bab 53 Gelap54 Bab 54 Ketahuan55 Bab 55 Pulang56 Bab 56 Polisi57 Bab 57 Lemah58 Bab 58 Lima bulan kemudian59 Bab 59 Extra Part 160 Bab 60 Extra Part 261 Bab 61 Extra Part 362 Bab 62 Extra Part 463 Bab 63 Extra Part 564 Bab 64 Extra Part 6