icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mahkota Sang Dewi

Bab 5 Keputusan

Jumlah Kata:1864    |    Dirilis Pada: 19/09/2023

ah pintu ruangan Rara. Dia masuk dan memperhatikan a

makan," ucap Rara dengan senyuman hangat. Sementara H

ia merepotkan." Fina mendekat

kepada anaknya, kemudian menatap Fina lagi.

atap anaknya. "Dia Teh Fina, kakak iparnya Mutia," lanjut

" tanya Rara, membuat Fina dan Mutia

ukannya Mutia?" tanya Mutia den

kok," jawab Rara agar tid

mi dengan keluarga Mutia. Itu sebabny

Mereka saling bertukar nomor dan berbincang ringan. "Mutia

a, kok, Teh

*

lah kepergian Fina dan Mutia. Husein han

m tau

h lucu Mutia. Mungkin anaknya ini masih ingin meyakinkan diri karena jarak usia

u Husein menolak, mungkin itu akan berpengaruh pada kondisi kesehatan bundanya.

Bunda untuk yangpertama kaliny

n. Dia akan segera memantapkan

*

u baru selesai menyelesaikan ujian akhir semesternya. Betapa leg

a!" pekik Mutia sembari meregangk

nya terasa dipenuhi oleh asap. Dia sudah tidak s

salah nyilang!"

ang jawaban yang seharusnya. Sialnya, dia baru sadar setelah mengumpulkan jawab

kasihan melihat Erika memukul-mukul kepalanya,

Erika menoleh pada Mutia dengan wajah begitu melas. Ha

ggak punya mata apa buat baca jawa

arusnya dia mengharapkan sebuah kebaikan dari sahabat to

tegas. "Kenyataan leb

am Erika. Dia kenal seambisius apa sosok Erika. Selalu ingin me

alian nggak saling sapa. Beneran udah putus?" tanya Erika hati-hati. Baru

ia mengedikkan kedua bahu. "Nggak tau. Yang jelas,

njelasan ke dia atau mencoba

rasa apa-apa ke Yusuf sejak awal. Perasaan itu ... buat oran

engakui bukan manusia yang baik, sengaja memanfaatkan keberadaan orang lain sebagai pelampiasan. Dia sel

ar bisa melupakan orang lama. Kebetulan Yusuf ada di sana menawark

erempuan di s

ngkin cukup dekat dengan pemili

ggak, sih? Padahal gue ngarep ada soal bonus." S

cantik Mutia. Jantung yang masih belum bisa biasa saja kala bertemu deng

gerti lagi gue udah ngarang berapa nomer,"

pa Leo pa

ertegur sapa dengan penyandang status Ketua OSIS SMA Nusaka itu. Mu

dengan suara pelan kar

S dulu, ya. Ditunggu anak-anak. B

Leo lenyap dari pandangan, Mutia sempat memperhatikan kalung salib yang terpampang nyata di leher pria itu. Dua kancing teratas k

s banget dihindarin," celetuk Erika, tepat set

. Karena sama-sama mendengar perkataan

utia walau jelas-jelas dia te

k yang baik ke semua orang terlihat lebih horor, 'kan? Kita sem

adi alasan gue nggak bisa berharap lebih sama dia. Bener-bener definis

ia. Mungkin dia bisa bantu kita buat ngajak Yusuf bicara." Topik pembicaraan

ng salah itu gue. Kalau Yusuf masih pen

s sekolah di lengan kanannya. "Gue mau ke loker

or. Gue bareng Wisnu. L

. "Kuota gue abis, minta to

udah sibuk dengan dunianya, Mutia pun pergi meninggalkannya menuju loker

n Leo di sampingnya. Pria itu juga sedang mengambil sesuatu dari lokernya. Tentu saja loker mereka berdampingan karena Leo juga berasal dari j

rhatikan. Akhirnya pria itu menoleh, mendapati Mutia berdiri tak jauh darinya. Kedua mata

suk

eo, Mutia juga merutuki dirinya sendiri yang tidak sadar sudah menyatakan perasaan. Bagaimana mungkin? Pa

ari memejamkan mata. Penyakit tidak

anya Leo yang akhi

liru. Padahal jelas dia sudah mengakui perasaanny

mau confess waktu wisuda." Kepala Mutia menu

a ngga

ggiran rok seraga

a dan mendongak. Dia memperhatikan baik-baik bibir Leo yang tersenyum padanya. B

lalu, waktu pendaftaran SMA." Di

paham. "Lumayan

atlah bagaimana respons pemuda itu yang tetap tenang dan ramah, sehing

gumam

gak nyangka cewek secantik lo punya

lah membuat Mutia bingung. Mungkinkah cintany

or

sentak kaget dan ref

kan, Mutia segera berbalik dan mendapati Will

nyengir sendirian di sini? Kesurupan?" Ucapan

tapi nihil. Laki-laki itu sudah tidak ad

tingkah Mutia yang tidak jelas. Gadis ini s

ada

lisnya. "Leo yang itu? K

-keras. Kalo ada yang denger bisa gawat. Erika, kan, juga nggak

uka Leo dulu seb

arkan. "Tapi, sekarang

elum p

alan lebih dulu di depan Willy. "Nggak

Mut

leh kepada seseorang yang baru saja memanggil nama Mutia.

utia tepat setelah Rend

ri Kak

a ada catatan kecil yang ditinggalkan. Mungkin ada pesan di dalamnya.

mana?" t

bisa ngasih ini langsung ke Kak Muti karena emang lagi sibuk banget sama gur

maka

, gue permi

mpai di dalam, Mutia memangku bunga itu dan menatapnya lekat. Dia jadi merasa bersalah kepada Yusuf.

ya, Wil. Dua cowok

a kemudian mulai menginjak gas.

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mahkota Sang Dewi
Mahkota Sang Dewi
“Sejatinya apa itu cinta? Bagi Husein, cinta adalah saat dia mengatakan 'saya terima' dalam sebuah akad pernikahan, yang berarti dia menyatakan menerima tanggung jawab untuk mencintai, dan melindungi istrinya. Sementara bagi Mutia, pernikahan adalah hal paling merepotkan yang ingin segera dia akhiri apabila ada kesempatan. Hati yang sudah dimiliki orang lain menjadi salah satu alasan untuknya. Lalu, bagaimana jika mereka berdua dipaksa bersama dalam sebuah pernikahan? Apakah mereka sanggup untuk saling menerima dan mempertahankan pernikahan? Instagram @hi.shenaaa”
1 Bab 1 Permulaan2 Bab 2 Firasat3 Bab 3 Takdir4 Bab 4 Pertemuan5 Bab 5 Keputusan6 Bab 6 Jodoh 7 Bab 7 Lamaran8 Bab 8 Perbincangan9 Bab 9 Pengalaman10 Bab 10 Pacar11 Bab 11 Menjadi Pengantin12 Bab 12 Karena Terpaksa13 Bab 13 Keluar dari Hidupnya!14 Bab 14 Di atas Meja Makan15 Bab 15 Merasa was-was16 Bab 16 Kebingungan17 Bab 17 Tidur Nyenyak18 Bab 18 Menonton Film19 Bab 19 Kupu-kupu di dalam perut20 Bab 20 Gelisah21 Bab 21 Demam22 Bab 22 Sedikit Cemburu23 Bab 23 Kejujuran24 Bab 24 Menyesal seumur hidup 25 Bab 25 Kecelakaan26 Bab 26 Lemas27 Bab 27 Sebuah Rahasia28 Bab 28 Bukan lagi Rahasia 29 Bab 29 Jaga Mahkotamu30 Bab 30 Bergetar31 Bab 31 Apa yang menarik 32 Bab 32 Pulang33 Bab 33 Kebingungan34 Bab 34 Meninggal35 Bab 35 Kekesalan36 Bab 36 Menangis37 Bab 37 Kesan pertama38 Bab 38 Sabar39 Bab 39 Kesadaran40 Bab 40 Mimpi buruk41 Bab 41 Perihal Cinta42 Bab 42 Romantis 43 Bab 43 Keheningan44 Bab 44 Dia hanya...45 Bab 45 Menikah lagi 46 Bab 46 Kegalauan47 Bab 47 Menunggu48 Bab 48 Air mata49 Bab 49 Hamil50 Bab 50 Rahasia51 Bab 51 Madu52 Bab 52 Mengulur waktu53 Bab 53 Gelap54 Bab 54 Ketahuan55 Bab 55 Pulang56 Bab 56 Polisi57 Bab 57 Lemah58 Bab 58 Lima bulan kemudian59 Bab 59 Extra Part 160 Bab 60 Extra Part 261 Bab 61 Extra Part 362 Bab 62 Extra Part 463 Bab 63 Extra Part 564 Bab 64 Extra Part 6