searchIcon closeIcon
Batalkan
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Buah Apel dari Taman Eden

Ranjang Panas Istri Kedua

Ranjang Panas Istri Kedua

Cerita _46
Bella menggeliat di bawah tubuh Bram, kedua tangannya mencengkeram erat sprei yang sudah kusut. Nafasnya terengah, bibirnya tak berhenti mengeluarkan desahan. "Ahh... Bram... ahhh... lebih dalam..." suara itu pecah, bercampur antara kenikmatan dan keputusasaan. Tubuhnya bergetar setiap kali Bram menghantam, membuatnya semakin terhanyut. "Ahh... enak sekali... jangan berhenti..." rintih Bella, matanya terpejam, wajahnya memerah diliputi panas yang semakin membakar. Bram hanya terkekeh rendah, melihat bagaimana istrinya tenggelam dalam permainan mereka. Semakin Bella mendesah, semakin cepat gerakannya, membuat kamar itu penuh dengan suara ranjang yang berderit, bercampur dengan panggilan dan rintihan Bella yang semakin tak terkendali.
Romantis R18+Cinta yang dipaksakanBudak seksualPria SejatiTampan
Unduh Buku di App

Eu estava na prisão, o cheiro de mofo e desespero impregnado na pele, uma cicatriz latejando nas minhas costas.

A porta da cela se abriu e Marina, deslumbrante como sempre, mas com um brilho gélido nos olhos, apareceu.

"Gabriela, está na hora."

Meu coração bateu descontrolado. Hora de assinar os papéis para outra doação de órgão.

Eu sabia o que aquilo significava: a morte. Uma pessoa não sobrevive sem os dois rins.

"Eu não vou", minha voz saiu fraca.

Ela apenas sorriu. "É para a Luiza."

Meu mundo congelou. Luiza estava morta.

Mas Marina disse que não. Que Luiza estava em coma e precisava de um doador compatível. Eu.

Tudo se encaixou: a "morte" de Luiza, meu aprisionamento, a primeira doação forçada. Era tudo um plano para me aniquilar.

"Eu já te dei tudo, Marina! Carreia, meu amor, meu rim. Isso vai me matar!"

Baca Sekarang
Cicatrizes de Um Passado

Cicatrizes de Um Passado

Yara
Eu estava na prisão, o cheiro de mofo e desespero impregnado na pele, uma cicatriz latejando nas minhas costas. A porta da cela se abriu e Marina, deslumbrante como sempre, mas com um brilho gélido nos olhos, apareceu. "Gabriela, está na hora." Meu coração bateu descontrolado. Hora de assinar os
LGBT+
Unduh Buku di App
Buah Apel dari Taman Eden Wattpad IndonesiaDownload Buah Apel dari Taman Eden novel PDF Google DriveBuah Apel dari Taman Eden gratis tanpa beli koin dan offlineBuah Apel dari Taman Eden
Yuk, baca di Bakisah!
Buka
close button

Buah Apel dari Taman Eden

Temukan buku-buku yang berkaitan dengan Buah Apel dari Taman Eden di Bakisah. Baca lebih banyak buku gratis tentang Buah Apel dari Taman Eden Wattpad Indonesia,Download Buah Apel dari Taman Eden novel PDF Google Drive,Buah Apel dari Taman Eden gratis tanpa beli koin dan offline.