Sakya Kumara

Sakya Kumara

Lexza

5.0
Komentar
132
Penayangan
11
Bab

Sakya Kumara, pangeran iblis yang merupakan pewaris tunggal Kerajaan Kumara di Dunia Iblis memutuskan pergi ke Dunia Mortal untuk menemukan Pedang dan Kitab Sakti agar bisa menjadi Pendekar Dewa Pedang. Pedang Dewa Langit dan Pedang Iblis Bumi beserta Kitab Jurus Pedangnya yang sudah lama hilang di Dunia Mortal menjadi sasaran Sakya Kumara selain Kitab Dewa Mabuk yang merupakan jurus tangan kosong terkuat saat ini. Tujuannya hanya satu yaitu pergi ke Dunia Naga membalaskan dendam kepada Dewa Naga Abadi karena telah menghancurkan dunianya. Tapi kehidupan di Dunia Mortal tidak seperti harapannya. Berbagai kesulitan akan Sakya hadapi di dunia yang kacau balau ini sebelum dia berhasil menjadi Pendekar Dewa Pedang. Berhasilkah Sakya Kumara melewati semua rintangan ini dan berhasil membalaskan dendamnya sekaligus mengembalikan lagi dunianya seperti semula? Ikuti terus ya petualangan Sakya Kumara ...

Sakya Kumara Bab 1 Iblis Semesta Alam

Jutaan tahun yang lalu saat Bumi Kahiyang masih berupa pusaran kosmis dan langit di atasnya masih berupa ruang hampa yang kosong tanpa udara.

Di pusaram kosmis ini hidup Iblis Semesta Alam yang merupakan musuh para Dewa yang saat itu berkuasa di Alam Ruang Hampa.

Pada masa itu, Alam Ruang Hampa dipimpin oleh 7 Dewa Abadi yang sudah hidup ratusan juta tahun bahkan lebih.

Kemunculan Iblis Semesta Alam akan mengacaukan kehidupan abadi mereka karena Iblis Semesta Alam memiliki Mustika Hidup Abadi yang bisa menyerap kehidupan abadi mereka.

Syarat Iblis Semesta Alam hanya satu kepada 7 Dewa dan Dewi ini yaitu membiarkan dirinya membentuk Alam Iblis sendiri dari pusaran kosmis yang dia tempati sekarang.

Tujuh Dewa dan Dewi Abadi yang berkuasa pada masa itu yaitu :

Dewa Naga Abadi

Dewa Pendekar Mabuk

Dewa Semesta Abadi

Dewi Bulan Bintang

Dewi Phoenix Semesta

Dewa Maha Sakti

Dewa Pedang Pusaka

Ketujuh Dewa dan Dewi ini tidak mengijinkan Iblis Alam Semesta membentuk Dunia Iblis karena mereka memerlukan pusaran kosmis ini untuk membentuk Dunia Tanpa Keabadian (Dunia Mortal) yang dihuni oleh makhluk yang disebut pendekar beserta makhluk-makhluk tanpa keabadian lainnya.

Tujuan mereka hanya satu yaitu agar pendekar bisa memuja mereka sebagai dewa dan dewi, serta menuruti semua keinginan mereka.

Dewa dan Dewi Abadi ini ingin menguasai Dunia Mortal sepenuhnya, berbeda dengan Iblis Semesta Alam yang murni ingin membangun Dunia Iblis yang aman tentram tanpa perlu memuja dirinya seperti halnya Dunia Mortal yang dibangun dewa dan dewi abadi ini.

*****

"Iblis Semesta Alam ...!" teriak Dewa Semesta Abadi, "Pergi segera ke duniamu dan jangan kembali lagi ke Alam Ruang Hampa ini."

Iblis Semesta Alam tidak mengubris perintah Dewa Semesta Abadi, yang membuat dewa ini sangat marah kepadanya dan mulai menyerangnya.

"Pergi sekarang atau aku yang akan memaksamu pergi!" teriak Dewa Semesta Abadi lagi yang menyerang Iblis Semesta Alam dengan serangan sinar yang menyerupai cahaya bintang.

Iblis Semesta Alam tidak beranjak dari posisinya yang berada di dalam pusaran kosmis ini. Hanya dengan menyodorkan telapak tangannya saja, serangan Dewa Semesta Alam berhasil diatasi olehnya.

"Kurang ajar kamu, Iblis Semesta Alam ...!" Dewa Pedang Pusaka bergerak dengan pedangnya yang besar berusaha menebas Iblis Semesta Alam.

Lagi-lagi serangannya kandas karena Iblis Semesta Alam menjepit ujung pedang besarnya begitu saja dan mematahkannya.

Kekalahan dua dewa yang sangat telak itu membuat tiga dewa bergerak maju sekaligus mengeroyok Iblis Semesta Alam.

"Rasakan Jurus Mabukku ini!" teriak Dewa Pendekar Mabuk yang mulai mengeluarkan Jurus Pendekar Mabuk menyerang ke arah Iblis Alam Semesta.

"Terimalah seranganku!" teriak Dewi Bulan Bintang yang mengeluarkan serangan sinar dari kedua telapak tangannya yang mengarah ke Iblis Semesta Alam.

Dewi Phoenix Semesta juga tidak mau kalah dengan dua rekan dewanya ini. Bahkan Dewi Phoenix Semesta berubah menjadi burung Phoenix yang sakti yang langsung menyerang Iblis Semesta Alam.

Lagi-lagi serangan ketiga dewa-dewi ini berhasil dikandaskan oleh Iblis Semesta Alam dengan mudahnya.

Tangan kanan Iblis Semesta Alam menahan serangan Dewa Pendekar Mabuk, tangan kirinya mengeluarkan sinar untuk menahan sinar dari Dewi Bulan Bintang, dan tiupan dari mulutnya melemparkan Dewi Phoenix Semesta jauh ke Alam Ruang Hampa tiada berbatas.

Kedua dewa-dewi yang tersisa juga terpental jauh oleh energi alam semesta yang dikeluarkan oleh Iblis Alam Semesta.

"Kabulkan saja permintaanku untuk membentuk Dunia Iblis, maka aku juga akan mengijinkan kalian para dewa menciptakan Dunia Mortal yang berisi para pendekar beserta makhluk-makhluk tidak abadi lainnya," ujar Iblis Alam Semesta.

"Kami tidak akan ijinkan kamu membentuk Dunia Iblis karena sangat berbahaya untuk alam semesta yang akan kami bentuk nanti!" teriak Dewa Maha Sakti.

"Aku akan ijinkan para pendekar yang menghuni Dunia Mortal memuja kalian sebagai dewanya," ujar Iblis Alam Semesta, "Kita bentuk dua dimensi yang berbeda tapi masih di dalam satu semesta."

"Tidak perlu banyak bicara lagi! Rasakan seranganku!" teriak Dewa Maha Sakti.

Dewa ini mengeluarkan serangan yang tidak main-main. Serangannya sangat kuat dan memaksa Iblis Semesta Alam keluar dari pusaran kosmisnya.

"Baru kali ini aku menghadapi serangan yang hebat seperti ini!" teriak Iblis Semesta Alam yang senang sekali karena akhirnya mendapatkan lawan yang sepadan.

Saling tukar jurus terjadi di antara keduanya.

Pertarungan ini sudah berlangsung 7 hari 7 malam, tapi belum kelihatan siapa pemenangnya.

Dewa Naga Abadi tidak ikut campur dalam pertarungan antara Dewa Maha Sakti dengan Iblis Alam Semesta karena dia ingin bertarung melawan Iblis Alam Semesta sendiri setelah Dewa Maha Sakti dikalahkan oleh Iblis Semesta Alam.

Pertarungan terus berlanjut hingga hari ke-50 tanpa ada yang merasa kelelahan dan ingin berhenti.

Bahkan pertarungan yang terjadi terlalu lama ini menimbulkan persahabatan antara Dewa Maha Sakti dengan Iblis Semesta Alam karena saling menghargai di antara mereka.

Pertarungan akhirnya dihentikan di hari ke-51 karena Dewa Maha Sakti akhirnya menyetujui permintaan Iblis Semesta Alam.

Dewa Naga Abadi yang tidak setuju menantang Iblis Semesta Alam untuk bertarung dengannya.

Sosok Naga dari Dewa Naga Abadi sangat besar dan menutupi seluruh Alam Ruang Hampa yang menjadi tempat pertarungan mereka.

Naga Merah dari Dewa Naga Abadi ini terus menyemburkan api abadi ke arah Iblis Alam Semesta, tapi tanpa kesulitan berarti iblis ini berhasil mengisap habis semburan api dari naga ini hingga tidak bersisa sama sekali.

"Menyerahlah Dewa Naga Abadi!" teriak Iblis Alam Semesta.

"Aku tidak sudi menyerah kepada iblis! Lebih baik aku mati!" teriak Dewa Naga Abadi.

"Dewa Naga Abadi, hentikan saja pertarungan ini! Kita masih bisa membentuk dua dunia yang berbeda yang masing-masing berdiri sendiri," seru Dewa Maha Sakti.

"Diam kamu penghianat! Kamu telah menghianati kepercayaan kami semua dan bersekutu dengan iblis!" teriak Dewa Naga Abadi yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Tujuan utama Dewa Naga Abadi ini adalah untuk menyingkirkan Iblis Alam Semesta selamanya, karena menurutnya Dunia Mortal lebih baik tanpa iblis di dalamnya.

Serangan yang dilancarkan Dewa Naga Abadi makin gencar tapi Iblis Alam Semesta tidak kesulitan untuk melawannya.

Dewa Naga Abadi kemudian berubah kembali ke bentuk pendekarnya. Jurus demi jurus dilancarkannya ke arah Iblis Alam Semesta, tapi iblis ini terlalu kuat baginya.

"Dewa Maha Sakti ...!" panggil Dewa Naga Abadi, "Cepat bantu aku kalahkan Iblis Alam Semesta ini."

Dewa Maha Sakti tidak bergeming dengan perintah Dewa Naga Abadi.

"Aku sudah berjanji dengan Iblis Alam Semesta, dan janjiku ini akan kutepati!" seru Dewa Maha Sakti.

Dewa Naga Abadi kemudian memikirkan sebuah rencana licik yang akan dijalankannya, karena dia tidak berhasil mengalahkan Iblis Alam Semesta.

"Baiklah ... aku menyerah!" seru Dewa Naga Abadi yang langsung menghentikan serangannya.

Apa sebenarnya rencana licik Dewa Naga Abadi ini yang akan mengelabuhi Iblis Semesta Alam?

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Sakya Kumara Sakya Kumara Lexza Fantasi
“Sakya Kumara, pangeran iblis yang merupakan pewaris tunggal Kerajaan Kumara di Dunia Iblis memutuskan pergi ke Dunia Mortal untuk menemukan Pedang dan Kitab Sakti agar bisa menjadi Pendekar Dewa Pedang. Pedang Dewa Langit dan Pedang Iblis Bumi beserta Kitab Jurus Pedangnya yang sudah lama hilang di Dunia Mortal menjadi sasaran Sakya Kumara selain Kitab Dewa Mabuk yang merupakan jurus tangan kosong terkuat saat ini. Tujuannya hanya satu yaitu pergi ke Dunia Naga membalaskan dendam kepada Dewa Naga Abadi karena telah menghancurkan dunianya. Tapi kehidupan di Dunia Mortal tidak seperti harapannya. Berbagai kesulitan akan Sakya hadapi di dunia yang kacau balau ini sebelum dia berhasil menjadi Pendekar Dewa Pedang. Berhasilkah Sakya Kumara melewati semua rintangan ini dan berhasil membalaskan dendamnya sekaligus mengembalikan lagi dunianya seperti semula? Ikuti terus ya petualangan Sakya Kumara ...”
1

Bab 1 Iblis Semesta Alam

23/08/2022

2

Bab 2 Tiga Dunia di Bumi Kahiyang

23/08/2022

3

Bab 3 Kebangkitan Dunia Iblis

23/08/2022

4

Bab 4 Terdampar di Dunia Mortal

23/08/2022

5

Bab 5 Petani Misterius

23/08/2022

6

Bab 6 Sekte Teratai Hitam

23/08/2022

7

Bab 7 Kebangkitan Sakya Kumara

23/08/2022

8

Bab 8 Mencari Tabib Sakti

23/08/2022

9

Bab 9 Kota Singkarak

23/08/2022

10

Bab 10 Pengkhianatan

24/08/2022

11

Bab 11 Terluka Parah

29/08/2022