icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Menikahi Pengawalku

Menikahi Pengawalku

Sischa Daniasri

5.0
Komentar
86
Penayangan
1
Bab

Bagaimana jadinya seorang gadis tiba-tiba saja mengandung benih dari sang pengawal pribadinya yang selama ini didaulat untuk melindunginya? Kisah ini dialami oleh Vita Jaya Kusuma berusia 23 tahun. Vita dijebak oleh seseorang. Yang tidak lain adalah sahabat dekatnya sendiri. Hingga Vita mengandung bayi sang pengawal itu sendiri. Setelah mengetahui yang menjebaknya, Vita hanya bisa terdiam dan mencari jawabannya. Kenapa sang sahabatnya itu menjebaknya? Hingga satu tabir yang tersingkap antara keluarga Vita, sang sahabatnya dan juga sang pengawalnya itu. Indra Yanuar seorang pria berusia 28 tahun yang sengaja ditugaskan untuk menjaga Vita. Indra adalah pria sebatang kara yang memiliki hidup pas-pasan. Namun dibalik hidup pas-pasan Indra memiliki otak jenius. Sehingga Indra dapat membantu pekerjaan kantor Vita yang menumpuk. Namun Indra tidak sengaja menghamili Vita sang bosnya itu. Mau tidak mau Indra harus bertanggung jawab atas kehamilan Vita. Apakah perjalanan pernikahan mereka akan mulus? Atau mereka akan berpisah meninggalkan luka untuk sang putra?

Bab 1 AKU HAMIL.

Seorang gadis muda bernama Vita terbangun dari tidurnya. Vita merasakan perutnya tidak nyaman. Vita segera berlari menuju ke toilet dan memuntahkan isi perutnya. Sementara di luar apartemen seorang pria bernama Indra masuk dan mencari keberadaan Vita. Namun Indra hanya mendengar suara muntah. Seketika Indra diam membisu dan tubuhnya melemas.

"Apakah Nona Vita hamil?" tanya Indra dalam hati.

Indra menuju ke toilet dan melihat Vita yang sedang muntah. Indra bingung ingin masuk ke dalam. Indra semakin gelisah dengan keadaan nonanya. Setelah muntah Vita menyiramnya dan keluar. Tak sengaja Vita mendekati Indra dan memeluknya. Vita mengendus aroma maskulin dari tubuh Indra. Ada perasaan nyaman yang menggelayut dari hati Vita. Namun reaksi Indra semakin bingung sekarang ini. Indra ingin terlepas dari pelukan Vita.

"Nona... Lepaskan saya!" titah Indra.

"Tidak! Aku ingin memelukmu!" tegas Vita.

"Nona," lirih Indra.

Selesai memeluk Indra, Vita memandang wajah Indra yang tampan. Vita sempat tertegun dan menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku bingung."

"Nona bingung karena apa?" tanya Indra.

Belum sempat menjawab Vita pingsan. Dengan refleks Indra segera menangkap tubuh mungil Vita dan menggendongnya lalu membaringkannya di ranjang. Kemudian Indra pergi ke dapur untuk membuat bubur.

Sejam berlalu Vita bangun dari tidurnya untuk mencari Indra. Namun hidungnya mencium aroma masakan Indra. Vita menuju ke dapur dengan sempoyongan. Sementara Indra sudah selesai memasak dan melihat Vita yang berjalan sempoyongan. Indra segera berlari dan mendekatinya. Kemudian Indra memapahnya dan membantunya duduk.

"Apa yang nona rasakan?" tanya Indra.

"Perutku rasanya tidak enak. Kepalaku pusing dan ingin muntah," jawab Vita.

"Hari ini nona tidak ada jadwal hingga dua Minggu ke depan. Nona bisa beristirahat sejenak dari dunia modeling," jawab Indra.

"Bisakah kamu menemaniku?" tanya Vita.

"Saya selalu ada waktu dua puluh empat jam penuh," jawab Indra.

"Kalau begitu selama liburan aku menyuruhmu tinggal di sini!" perintah Vita.

"Tapi nona," tolak Indra sambil menyodorkan bubur ke hadapan Vita.

"Kamu tidak boleh menolak! Ini perintah!" titah Vita.

"Baiklah," balas Indra yang duduk di hadapan Vita. "Makanlah nona! Setelah ini saya akan mengantarkan nona ke rumah sakit!"

"Bisakah kamu tidak mengajakku ke rumah sakit? Setiap badanku tidak fit saja kamu selalu membawaku ke rumah sakit," kesal Vita sambil menekuk wajahnya.

"Tapi nona... Saya hanya memastikan kesehatan anda," ucap Indra.

"No," balas Vita dengan cepat.

Indra tidak melanjutkan pembicaraan ini lebih lanjut. Namun Indra menyuruhnya makan. Indra termenung dan bingung. Entah kenapa Indra perasaan yang mengganjal di dalam hati. Indra takut jika sang nonanya hamil.

Beberapa hari sudah Vita selalu muntah. Bahkan Vita tidak bisa bangun dari ranjangnya karena tubuhnya sangat lemas. Mau tidak mau Vita menuruti keinginan Indra ke rumah sakit. Sesampainya di sana Vita menemui dokter pribadinya dan berkonsultasi. Namun dokter pribadinya menyuruhnya pergi ke dokter obgyn. Vita semakin bingung dengan dokter pribadinya itu.

Siang itu juga Vita akhirnya menemui dokter obgyn yang sudah direkomendasikan. Vita masuk dan menanyakan dengan tubuhnya serta menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah itu dokter obgyn pun langsung memeriksa keadaan Vita. Setelah selesai Vita menunggu hasil labnya. Sambil menunggu Vita melihat ada anak kecil makan coklat. Vita menunjuk dan berkata, "Aku ingin itu."

"Nona mau coklat?" tanya Indra.

"Ya," jawab Vita. "Belikan aku coklat ya."

Tak selang berapa lama suster memanggil Vita untuk segera datang ke bagian administrasi. Mereka langsung menuju ke sana dan mengambil surat hasil labnya. Setelah mengambil dari surat dari lab mereka akhirnya pergi dari rumah sakit.

Di dalam perjalanan menuju apartemen Vita menagih janji ke Indra untuk membelikan coklat. Indra yang mendapat tagihan itu langsung tertegun. Bagaimana bisa sang nona ingat akan permintaan itu? Biasanya sang nona akan melupakan pesanannya karena kesibukan. Akhirnya Indra menuruti permintaan itu.

Indra sengaja menghentikan mobilnya ke minimarket yang berada di tepi jalan. Sebelum turun Indra menawarkan agar Vita turun. Namun Vita menolaknya dan ingin di dalam mobil saja. Lalu Indra turun dan masuk ke dalam minimarket tersebut.

Saat memilih coklat Indra tidak sengaja melihat ada dua orang wanita sedang berbelanja. Kebetulan sekali Indra mengenal mereka. Ketika hendak membayar Indra mendengar percakapan kedua wanita itu dengan seksama. Kemudian Indra mengingat nama orang itu. Mereka adalah Agnes dan Lia yang ternyata teman akrabnya Vita.

"Eh... Lo... Sudah menjebak Vita?" tanya Lia.

"Udah donk. Udah dua bulan lebih kali," jawab Agnes.

"Bagaimana lu menjebak? Bukannya Vita selalu berada di dekat kulkas berjalan itu?" tanya Lia.

"Ada dech. Gue memang sengaja memanggil si kulkas berjalan agar menjauh dari Vita sebentar. Kemudian gue meminta pelayan untuk memasukkan obat perangsang. Gue berharap Vita hamil dari pria lain. Yang di mana nantinya bayinya lahir tidak memiliki ayah sama sekali. Setelah itu gue akan melakukan konferensi pers untuk membuka kedoknya di media. Dan lu tahu karir Vita setelah ini tamat," jawab Agnes dengan tertawa terbahak-bahak.

Untung di minimarket suasananya masih sepi. Jadi Indra bisa menajamkan telinganya dan mendengarkan percakapan mereka. Setelah mendengar mereka ngobrol wajah Indra berubah menjadi dingin. Indra ingin menegur mereka namun niatnya diurungkan. Indra memutuskan untuk membayar coklat itu dan pergi dari minimarket tersebut.

Vita yang melihat Indra baru datang langsung menekuk wajahnya. Kemudian Indra tidak sengaja menoleh dan menahan tawanya. Entah kenapa akhir-akhir ini Vita sering memasang wajah ditekuk. Hingga membuat Indra sedikit terhibur.

"Nona," panggil Indra.

"Ada apa?" tanya Vita.

"Jika nona ada apa-apa. Nona tidak boleh patah semangat. Nona harus bisa menjalani hidup ini dengan penuh kebahagiaan," jawab Indra yang gelisah.

"Kamu ngomong apa sih Ndra?" tanya Vita.

"Lebih baik kita pulang ke apartemen terlebih dahulu," jawab Indra yang menyalakan mobilnya.

***

Vita segera menghempaskan tubuhnya di ranjang. Baru keluar beberapa jam Vita merasakan tubuhnya sangat lemas dan tidak bertenaga. Tak sengaja Vita mengingat surat labnya dan segera meraih tasnya di atas nakas. Vita membuka tas itu dan mengambil hasil labnya. Sementara itu Indra masih berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan Vita. Pandangannya tidak terlepas apa yang dilakukan oleh nonanya.

Ketika membuka surat itu dan membacanya Vita langsung meraung. Vita mendapati kenyataan kalau dirinya sedang berbadan dua. Indra yang masih di dalam posisi sama terkejut. Indra mendekati Vita dan meraih surat itu. Kemudian Indra membacanya tubuhnya mulai melemas.

"Nona hamil anakku," ucap Indra dalam hati.

Indra bingung dan melihat nonanya yang semakin histeris. Indra terpaksa meraih tubuh Vita dan memeluknya. Indra bingung harus berbuat apa setelah ini. Indra tidak akan mungkin menikahinya karena kasta mereka berbeda. Disisi lain Indra harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

Setelah selesai menangis Vita mengangkat kepalanya dan melihat Indra. Sambil berlinang air matanya Vita berkata, "Aku ingin mati."

"Apa yang nona katakan?" tanya Indra.

"Aku ingin mati. Aku sudah membuat aib dalam keluargaku," jawab Vita yang sesenggukan.

"Nona tidak boleh mati. Nona harus hidup dan meraih cita-cita nona untuk menjadi model terkenal," tutur Indra dengan lembut.

"Kamu tahu... Hasil lab mengatakan aku hamil," ucap Vita.

"Nona... Dengarkan saya terlebih dahulu. Nona bisa mengajukan cuti selama dua tahun dari dunia permodellingan sebentar. Setelah nona melahirkan... Nona bisa lanjut lagi," saran Indra.

"Lalu bagaimana dengan anak ini?" tanya Vita.

"Biarkan anak itu hidup nona. Jika nona tidak mau merawatnya. Berikan kepadaku," pinta Indra dengan serius.

"Apa-apaan kamu ini Indra?" tanya Vita dengan menggelengkan kepalanya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Sischa Daniasri

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Menikahi Pengawalku
1

Bab 1 AKU HAMIL.

09/07/2022