Menikahi Bu Manajer

Menikahi Bu Manajer

Ursa Mayor

5.0
Komentar
2.6K
Penayangan
125
Bab

Prastu menemukan seorang wanita tergeletak di trotoar. Wanita itu bernama Erika Hana, seorang manager yang bekerja untuk sebuah industri makanan. Karena janji orang tua keduanya di masa lalu, mereka terpaksa harus bertunangan tanpa cinta.

Menikahi Bu Manajer Bab 1 Wanita Di Trotoar

Wanita itu masih berbaring di tempat tidur saat aku keluar dari kamar mandi. Aku menemukannya tergeletak di trotoar dalam perjalanan pulang dari kedai mie ayam milikku. Aku tidak kenal wanita itu sama sekali. Mungkin dia terlalu banyak minum alkohol namun kalau kuperhatikan wajahnya, dia sama sekali tidak terlihat seperti wanita pemabuk atau wanita yang bekerja di klub malam.

Aku tidak bermaksud buruk terhadapnya, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu wanita itu supaya tidak kedinginan di luar sana saat hujan begini. Bajunya sudah ku ganti dengan yang kering. Meski ukurannya kebesaran, setidaknya dia tidak akan masuk angin karena mengenakan baju yang basah.

Sambil menunggunya bangun, aku menyibukkan diri bermain playstation. Memasang semua kabel penghubung ke smart TV. Logo produsen muncul begitu kutekan tombol pada remote. Selanjutnya, aku menekan tombol untuk menghubungkan ke playstation. Menu game kemudian muncul. Sudah lama sekali aku tidak memainkan playstation yang sudah lama kubeli ini.

"Siapa?"

Terdengar suara parau dari belakang.

"Sudah bangun?" tanyaku tanpa menoleh ke sumber suara karena mataku fokus pada layar dan jariku asik menekan konsol.

"Ke ... kenapa aku di sini?"

Aku tidak langsung menjawab. Suara konsol game terdengar lebih menyenangkan.

"Kamu siapa?" tanyanya lagi.

Aku masih tidak memperdulikannya dan fokus pada permainanku. Lalu tiba-tiba saja layar smart TV berubah jadi gelap.

"Aish! Lagi seru, nih!" umpatku.

Wanita itu mengacungkan remote, seakan-akan benda itu adalah senjata. Rambut hitam panjang sebahu wanita itu terlihat lepek dan kusut. Mata sipitnya melebar.

"Kamu siapa? Kenapa aku di sini?"

Aku meletakkan konsol game di lantai, berdiri dan pelan-pelan mendekat. Tatapan matanya awas. Sembari terus mengarahkan remote seperti mengarahkan pistol, dia mundur selangkah-selangkah seiring dengan langkahku yang maju mendekat.

"Bingung?"

"Apa maksudnya itu? Tentu saja aku bingung. Bangun-bangun ada di rumah orang asing!" nadanya mulai meninggi.

"Justru aku yang bingung. Lagian, kamu ngapain tidur di trotoar malam-malam begini? Apa kamu mabuk?"

Aku mendekatkan wajahku lalu mengendusnya.

"Gak bau alkohol sama sekali."

Kaki jenjangnya terus melangkah mundur hingga masuk kembali ke kamar.

Aku duduk di tepi tempat tidur sementara, dia tetap waspada, menjaga agar bagian depan badannya tetap berhadapan denganku.

"Aku mau pulang!" rengeknya.

Dengan santai aku meraih gorden, menyibak nya. Menunjuk suasana di luar, begitu gelap di tengah derasnya hujan.

"Masih hujan deras di luar. Sudah larut malam juga."

"Pokoknya aku mau pulang!"

Degar!

Petir menggelegar di luar sana, bak lampu flash kamera yang memotret objek. Wanita itu merosot ke lantai sambil menutup kedua telinga dengan tangan kurusnya.

"Yakin berani pulang sendiri?" tanyaku sambil menyilangkan kaki.

"Pokoknya aku mau pulang, titik!" bentaknya.

"Oke!"

Aku menarik tangan yang menempel di telinganya, mengantarnya ke pintu kemudian menghempas tubuhnya keluar, mengunci pintu secepat mungkin.

Bukannya bermaksud kasar terhadap wanita tapi, dia sendiri yang merengek ingin pulang.

Degar!

Petir kembali menggelegar di langit dalam waktu sepersekian detik.

"Buka! Buka pintunya!" teriak wanita itu dari luar.

Dia menggedor pintu dengan keras.

"Buka pintunya, woy!"

"Pulang saja sendiri!" teriakku dari dalam.

Bukannya berhenti menggedor pintu, dia malah menggedor semakin keras. Nyaris memecah gendang telinga.

"Berisik! Katanya mau pulang?" bentakku sembari membuka pintu lebar-lebar.

Wanita itu terisak, mengedikkan bahu mendengar bentakanku.

"Masuk!" perintahku.

Dia masuk dengan langkah lunglai, menunduk dan takut. Namun begitu melewatiku yang berdiri memegang pintu, dia berlari ke ruang tamu, duduk di lantai beralaskan karpet berwarna biru muda.

"Merepotkan!" umpatku pada diri sendiri.

Aku melenggang ke belakang konter dapur. Mengambil gelas kaca lalu memenuhinya dengan cairan berwarna bening dari dispenser. Aku membawanya ke hadapan wanita itu.

"Tenang dan minum dulu!"

Gemang, tangan wanita itu merebutnya dengan kasar, nyaris tumpah namun diteguknya juga cairan berumus kimia H2O itu, habis dalam sekali teguk bak seorang kelana dari gurun pasir yang menemukan oasis.

Aku bersila berhadapan dengannya di atas karpet.

"Jangan dekat-dekat!" bentaknya.

Aku mengusap wajah, mengela napas dan mengembuskannya kasar.

"Mau aku keluarkan lagi atau bagaimana?" Kutatap dalam-dalam matanya yang basah.

Lagi-lagi, dia hanya terisak.

"Aku bukan orang jahat, Nona!"

Dia memeluk lutut.

"Kalau lapar, di atas meja makan ada bubur. Mungkin udah sedikit dingin tapi, masih layak makan, kok. Kamu mau pulang pun gak bisa!"

Derau air di luar sana semakin deras, hujan malam ini tidak akan mereda dalam waktu singkat.

"Besok aku harus tunangan, kalau gak pulang malam ini apa kata orang tuaku nanti?" ucapnya lirih.

"Kalau hujannya sederas ini tidak akan segera mereda. Di luar juga bahaya!" Aku mengingatkan.

"Malam ini boleh pakai kamarku, aku tidur di kamar sebelah," ucapku sembari meninggalkannya yang masih duduk memeluk lutut.

Aku masuk ke dalam selimut putih. Meski mencoba untuk memejamkan mata tetap saja alam bawah sadarku tidak dapat mendorongku untuk masuk ke mimpi. Pikiranku terganggu oleh wajah tirus wanita itu. Dari jendela kamar ini, aku melihat dengan jelas hidung pesek yang mengembang dan mengempis karena menarik napas.

***

Sudah jam setengah dua belas malam, sejak dia merengek ingin pulang aku jadi hanya mengerjap- ngerjapkan mata di atas kasur. Entah sudah berapa posisi yang kucoba untuk memaksa diri ke alam mimpi akan tetapi tetap saja, aku mengkhawatirkannya. Tidak tahan lagi dengan perasan gelisah ini, aku menghampirinya. Posisi duduknya tidak berubah, masih memeluk duduk dan menopang dagunya di atas lengan.

"Kamu kenapa?" tanyaku.

Alih-alih menjawab pertanyaanku dia menangis sejadi-jadinya.

"Eh ... Ssssst!" Aku menempelkan jari telunjuk di bibir. Mencoba menenangkannya.

"Ini tengah malam, bisa-bisa suaramu mengganggu tetangga!" bisikku.

Melihat tingkahnya seperti bocah, aku menepuk pipiku. Entah kenapa aku jadi menyesal membawanya ke sini meski niatku baik.

"Nona, tenanglah!" tegasku sekali lagi.

Mataku berkelana mencari sesuatu untuk menenangkannya lalu, terhenti ketika mataku menangkap bungkus teh hijau di atas konter dapur. Otakku bergerak dengan cepat, memerintah untuk menyeduhkannya teh hijau. Aku kembali padanya dengan cangkir yang mengeluarkan uap, duduk bersila di depannya.

"Minumlah!" Kusodorkan cangkir benda di tanganku kepadanya.

"Ini udah malam, setelah ini tidur, ya!" ucapku kepadanya yang sedang menyeruput teh.

Wanita itu mengangkat wajah, memandangku lekat-lekat.

"Kamu gak ngapa-ngapain aku, kan?" tanyanya penuh curiga.

"Ngapa-ngapain gimana?"

Sejurus kemudian dia mengerutkan badan. Menyadari dia sudah salah sangka, aku menepuk pipi.

"Huft. Jangan negatif thinking begitu. Aku pilih-pilih kalau soal wanita. Aku gak selera sama wanita yang tiduran di trotoar!" ucapku.

Mata wanita itu kembali memincing. Aku sudah salah sangka karena menganggapnya menerima niat baikku.

"Tapi, kamu itu laki-laki. Tampangmu mesum!"

Seenaknya saja berkata begitu. Benar-benar wanita tidak tahu diri. Padahal aku sudah menolongnya sampai mengorbankan waktu tidurku.

"Masih bagus tampangku saja yang terlihat mesum. Kalau kamu dipungut oleh pria mesum beneran gimana?" umpatku.

Matanya memandangku lurus-lurus, menutup seluruh bagian depan tubuhnya dengan lutut.

"Kalau gak percaya padaku, kamu cuma punya satu pilihan. Keluar!" ucapku.

Dia malah membulatkan mata, ujung bibirnya melengkung turun.

"Di luar sana bahaya malam-malam begini. Kamu bisa ketemu pria hidung belang, begal atau anjing liar."

Melihat wajahnya memucat, aku menghentikan kata-kataku.

"Besok pagi aku akan mengantarmu pulang. Sekarang tidurlah!"

"Bener?"

"Kenapa harus bohong?"

Aku berdiri, sekali lagi memperingatkannya untuk kembali tidur. Ragu-ragu, dia melangkah pelan ke kamarku. Menutup pintu kemudian, aku tidak tahu lagi kegiatannya di dalam kamar kesayanganku itu.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Ursa Mayor

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Menikahi Bu Manajer Menikahi Bu Manajer Ursa Mayor Romantis
ā€œPrastu menemukan seorang wanita tergeletak di trotoar. Wanita itu bernama Erika Hana, seorang manager yang bekerja untuk sebuah industri makanan. Karena janji orang tua keduanya di masa lalu, mereka terpaksa harus bertunangan tanpa cinta.ā€
1

Bab 1 Wanita Di Trotoar

25/02/2022

2

Bab 2 Hari Pertunangan

25/02/2022

3

Bab 3 Satu Atap

25/02/2022

4

Bab 4 Korban Janji Orang Tua

25/02/2022

5

Bab 5 Kedai Mie Ayam

25/02/2022

6

Bab 6 Kebiasaan Buruk Bu Manajer

25/02/2022

7

Bab 7 Hal Kecil Yang Harus Dihargai

25/02/2022

8

Bab 8 Kunjungan Mama

25/02/2022

9

Bab 9 Selebaran

25/02/2022

10

Bab 10 Mengantar Pulang

25/02/2022

11

Bab 11 Terpaksa Berpisah

25/02/2022

12

Bab 12 Melamar Pekerjaan

25/02/2022

13

Bab 13 Interview

25/02/2022

14

Bab 14 Pertengkaran

25/02/2022

15

Bab 15 Belajar Masak

25/02/2022

16

Bab 16 Pengumuman Hari Pernikahan

25/02/2022

17

Bab 17 Masakan Erika

25/02/2022

18

Bab 18 Merajuk

25/02/2022

19

Bab 19 Galau

25/02/2022

20

Bab 20 Postugram

25/02/2022

21

Bab 21 Mi Ayam Rasa Kecamuk

25/02/2022

22

Bab 22 Diterima Kerja

25/02/2022

23

Bab 23 Hari Pertama Kerja

26/02/2022

24

Bab 24 Hubungan Erika Dengan Rey

26/02/2022

25

Bab 25 Pipi Merah Erika

26/02/2022

26

Bab 26 Indera Perasa Erika

28/02/2022

27

Bab 27 Tes Organoleptik

28/02/2022

28

Bab 28 Menjadi Perasamu

28/02/2022

29

Bab 29 Apakah Itu Menyiksa

28/02/2022

30

Bab 30 Kepergian Papa

28/02/2022

31

Bab 31 Hari Kremasi

01/03/2022

32

Bab 32 Pernikahan Yang Dipercepat

01/03/2022

33

Bab 33 Perjanjian

01/03/2022

34

Bab 34 H-3 Pernikahan

01/03/2022

35

Bab 35 Fitting Pakaian Pengantin

01/03/2022

36

Bab 36 Hari Pernikahan

01/03/2022

37

Bab 37 Kekacauan

01/03/2022

38

Bab 38 Rasa Yang Membuncah

01/03/2022

39

Bab 39 Perjanjian Pernikahan Nomor 5

02/03/2022

40

Bab 40 Pecundang di Cermin

02/03/2022