icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Terjebak Pesona Seuami Tanteku

Merah Jambu

4.9
Komentar
249.6K
Penayangan
76
Bab

Luna Valleryn adalah seorang perempuan muda yang baru dinikahi oleh Dion satu bulan yang lalu. Tapi ia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan sebagai pengantin baru karena suaminya yang terlalu sibuk bekerja. Suatu ketika, saat Dion pergi ke luar kota, Luna menginap di rumah Maya, tantenya. Ia merasa iri melihat rumah tangga Maya dan Berend yang masih hangat kendati usia pernikahan mereka sudah belasan tahun. Maya membayangkan seandainya ia memiliki suami seperti Berend, tentu ia tidak akan merasa kesepian. Seolah membaca pikiran Luna, Berend pun menggoda perempuan muda itu. Disanalah bermulanya perselingkuhan antara Berend dan Luna.

Bab 1 Ditinggal Suami Ke Luar Kota

Namaku Luna Valleryn, biasa dipanggil Luna. Aku seorang gadis muda berusia dua puluh lima tahun yang baru menikah satu bulan yang lalu. Suamiku bernama Dion Wijaya, seorang arsitektur. Usia kami tidak terpaut jauh, hanya tiga tahun saja. Dahulu dia adalah kakak kelasku di SMA, dan kami tidak sengaja bertemu kembali ketika reuni. Satu minggu setelah pertemuan itu, Mas Dion langsung datang ke rumah dan melamarku.

Aku menerima lamaran Mas Dion karena kurasa aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Dia pria yang tampan dan mapan. Apa lagi yang harus aku pertimbangkan? Lagipula, usiaku pun sudah cukup matang untuk berumah tangga. Kupikir Mas Dion laki-laki yang baik, buktinya ia langsung meminangku. Bukankah itu salah satu bukti nyata bahwa dia serius dan sungguh-sungguh mencintaiku? Tapi ternyata, setelah menjadi istrinya, aku baru menyadari bahwa anggapan itu keliru.

Orang bilang, masa-masa pengantin baru adalah masa-masa yang menyenangkan. Namun yang kurasakan justru sebaliknya. Setiap hari Mas Dion sibuk dengan pekerjaannya, dan hampir setiap akhir pekan ia melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Boro-boro mau bulan madu, bahkan Mas Dion saja baru satu kali menyentuhku, itu pun pada saat malam pertama, hanya sekitar setengah jam setelah itu ia mendengkur tidur. Saat itu aku masih memaklumi, mungkin Mas Dion lelah karena resepsi yang memakan waktu seharian. Aku pun begitu. Kupikir, kami akan mengulangnya di malam berikutnya, dengan persiapan yang lebih matang dan terencana mungkin. Nyatanya, malam-malam yang kunantikan itu tidak pernah datang lagi.

“Pakaianku sudah siap, Lun?” tanya Mas Dion yang baru ke luar dari kamar mandi.

“Mas jadi berangkat ke Bali hari ini?” balasku.

“Iya. Aku sudah membuat janji dengan klien di sana,” jawabnya.

Aku memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper, sebenarnya aku juga telah mempersiapkan pakaian itu sedari tadi karena Mas Dion memang sudah memberi tahuku dari tiga hari yang lalu.

“Aku ikut ya, Mas,” pintaku penuh harap.

“Jangan dong. Aku di sana sibuk, nanti kamu malah sendirian di hotel.”

“Apa bedanya dengan di sini? Toh sepanjang hari aku juga sendiri,” balasku sarkas.

Ia membelai rambutku. “Nanti kalau aku udah nggak terlalu sibuk, kita liburan satu minggu full, okay?”

Aku mendengus, sudah begitu muak mendengar kata ‘nanti’ itu.

“Entar malam aku ke rumah Tante Maya ya, kemarin anaknya ulang tahun, aku mau ngasih kado sekalian silaturahmi. Tante Maya juga udah nyuruh aku main ke sana dari kemarin-kemarin,” ujarku beberapa menit berselang.

“Ya, sampaikan salamku pada Tante Maya dan Om Berend,” balas Mas Dion sambil mengenakan pakaian yang telah aku sediakan untuknya.

“Padahal Tante Maya juga pengen ketemu kamu lho, Mas. Mereka kan nggak sempat hadir ke pernikahan.”

“Iya, nanti, ya. Kalau aku sudah sibuk.”

Aku mendengus untuk yang kedua kalinya. Kalau aku sedang sibuk? Kamu tidak pernah tidak sibuk, Mas, batinku.

Tidak lama berselang, Mas Dion pun berangkat ke Bali. Aku tidak ikut mengantar ke Bandara karena rasanya juga akan percuma. Di sepanjang perjalanan Mas Dion hanya akan membahas agendanya bersama Galih, asistennya. Yang ada aku hanya akan semakin makan hati.

Pukul setengah tujuh malam, aku tiba di kediaman Tante Maya. Niko langsung menyambutku dengan girang, apa lagi saat tahu aku datang membawa kado untuknya.

“Bilang apa ke kakaknya, Sayang?” ujar Tante Maya yang datang menghampiri aku dan Niko.

“Terima kasih, Kakak Cantik,” ujar bocah sepuluh tahun itu.

“Iya, sama-sama, Niko Ganteng,” balasku,

Lantas aku menyalami Tante Mira dan dia langsung membalas dengan pelukan hangat, lengkap dengan ciuman di pipi kanan dan kiri. “Kok datang sendiri sih, Lun? Suami kamu mana?” tanya Tante Mira.

“Mas Dion baru berangkat ke Bali tadi sore, Tante, ada urusan kerjaan,” jawabku.

“Lho, kamu kok nggak ikut? Kan bisa sekalian bulan madu.”

Aku mengibaskan tangan. “Nggak nyaman juga bulan madu tapi suami masih sibuk dengan kerjaannya.”

Tante Mira terkekeh. “Iya, iya, mending nyari waktu yang tepat dulu, ya.”

Aku menanggapi dengan senyum tipis. Lantas Tante Maya mengajakku mengobrol di sofa. Tante Maya ini adalah sepupu jauh mamaku, tapi aku cukup dekat dengannya karena aku pernah menginap di rumahnya beberapa bulan saat kuliah dahulu. Saat tengah mengobrol, Om Berend, suaminya Tante Maya pulang bekerja.

“Eh, ada tamu rupanya,” sapa Om Berend hangat. Aku langsung menyalami suami tanteku itu.

“Kapan datang, Lun?” tanya Om Berend lagi.

“Baru banget, Om, sekitar lima menit yang lalu.”

“Ooohh.” Om Berend beralih mendekati istrinya. Ia memeluk dan memberikan kecupan hangat di dahi Tante Maya. Om Berend memang tidak pernah berubah, ia selalu memperlakukan Tante Maya dengan romantis meski usia pernikahan mereka sudah lebih sepuluh tahun.

“Kamu kok cantik banget sih hari ini, Sayang,” puji Om Berend pada Tante Maya.

“Apaan, ibu-ibu pake daster gini kok dibilang cantik?” elak Tante Maya, meski kulihat pipinya merona merah saat mendapatkan pujian itu.

“Justru karena pakai daster kamu terlihat lebih seksi,” goda Om Berend lagi.

Tante Maya langsung mencubit pinggang suaminya itu. “Malu tahu, ada Luna.”

Om Berend hanya terkekeh sendiri. “Aku mau mandi dulu ya, Sayang. Udah keringetan banget nih rasanya.”

“Iya, aku langsung nyiapin makanan, ya.”

“Okay.” Om Berend pun menaiki lantai dua, menuju kamarnya.

Jujur saja, aku iri melihat keromantisan Om Berend pada Tante Maya. Mas Dion tidak pernah memperlakukanku sehangat itu. Jangankan memeluk dan memberikan kecupan setiap berangkat dan pulang kerja, memuji aku saat aku berdandan cantik saja Mas Dion tidak pernah.

Aku membantu Tante Maya menyiapkan makan makan malam. Sekitar setengah jam kemudian, Om Berend kembali bergabung bersama kami. Rambutnya basah habis keramas, menyeruakkan aroma shampoo yang menggelitik penciuman. Ia mengenakan celana pendek dan baju kaos polos. Dengan penampilan seperti itu, Om Berend sama sekali tidak terlihat seperti bapak-bapak kepala empat. Ia justru terlihat sepuluh tahun lebih muda dari umurnya.

Om Berend memang merawat tubuhnya dengan baik. Dia rajin berolahraga, seminggu tiga kali. Ia juga selalu mewarnai rambutnya dengan warna hitam dan mencukur berewoknya secara berkala. Dahulu, ketika masih tinggal di rumahnya, aku pernah tidak sengaja melihat Om Berend bertelanjang dada. Perutnya kotak-kotak, dadanya bidang. Sepertinya juga belum berubah hingga sekarang.

“Malam ini kamu menginap di sini, Lun?”

Pertanyaan Tante Maya berhasil membuyarkan lamunanku yang sedang membayangkan keindahan tubuh Om Berend.

“Eng-enggak, Tante, lain kali saja,” jawabku dengan sedikit tergagap. Saat itu Om Berend juga melirik padaku, wajahku langsung berubah merah padam. Apa Om Berend tahu bahwa tadi aku memerhatikannya?

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Buku lain oleh Merah Jambu

Selebihnya
Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku