Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan

Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan

Marigold Finch

5.0
Komentar
61
Penayangan
10
Bab

Demi Rangga, kekasihku, aku rela mengorbankan segalanya. Aku memberikan desain arsitektur terbaikku untuk membantunya memenangkan kompetisi besar, percaya pada janji manisnya tentang masa depan kami. Namun, di ambang pintu pesta perayaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya. Dia menyebutku "alat yang berguna" dan berencana bertunangan dengan Zahira demi strategi bisnis. Malam itu juga, di atas panggung, dia mencuri karyaku dan mengumumkan pertunangannya dengan Zahira di hadapan semua orang. Lebih menyakitkan lagi, setelah malam intim kami, dia mengirimiku pesan singkat. "Jangan lupa minum pil pencegah kehamilan." Cinta sepuluh tahunku ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Aku hanyalah batu loncatan untuk ambisinya, seorang gadis naif yang dibutakan cinta. Dihina dan dikhianati, aku memutuskan untuk menghilang. Aku pindah ke kota lain, membangun kembali hidupku, dan menemukan cinta sejati. Aku pikir aku sudah bebas, sampai suatu hari, pria itu muncul lagi di depan pintuku, terobsesi untuk mendapatkanku kembali.

Bab 1

Demi Rangga, kekasihku, aku rela mengorbankan segalanya. Aku memberikan desain arsitektur terbaikku untuk membantunya memenangkan kompetisi besar, percaya pada janji manisnya tentang masa depan kami.

Namun, di ambang pintu pesta perayaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya. Dia menyebutku "alat yang berguna" dan berencana bertunangan dengan Zahira demi strategi bisnis.

Malam itu juga, di atas panggung, dia mencuri karyaku dan mengumumkan pertunangannya dengan Zahira di hadapan semua orang.

Lebih menyakitkan lagi, setelah malam intim kami, dia mengirimiku pesan singkat.

"Jangan lupa minum pil pencegah kehamilan."

Cinta sepuluh tahunku ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Aku hanyalah batu loncatan untuk ambisinya, seorang gadis naif yang dibutakan cinta.

Dihina dan dikhianati, aku memutuskan untuk menghilang. Aku pindah ke kota lain, membangun kembali hidupku, dan menemukan cinta sejati. Aku pikir aku sudah bebas, sampai suatu hari, pria itu muncul lagi di depan pintuku, terobsesi untuk mendapatkanku kembali.

Bab 1

Aluna POV:

"Lihat saja si Aluna itu, apa dia pikir dia bisa menyingkirkan Zahira dengan mudah?"

Kepalaku terasa pening, seperti ada palu godam yang menghantam tenggorokan. Suara itu, suara yang familiar, membuat darahku seolah membeku. Aku berhenti tepat di ambang pintu, tangan gemetar memegang kenop.

"Aluna? Siapa dia? Dia tidak punya apa-apa dibandingkan dengan Zahira," Rangga berkata, suaranya dipenuhi ejekan. Kata-kata itu menusuk jantungku, setiap suku kata bagai pecahan kaca yang mengoyak.

"Tapi dia selalu menempel padamu seperti lintah. Apa kau akan mengumumkan hubungan kalian setelah kau memenangkan kompetisi ini?" Suara lain, seseorang yang kukenal sebagai teman Rangga, bertanya. Nada bicaranya santai, seolah membicarakan hal sepele.

Jantungku berdebar kencang, menabuh di dadaku seperti genderang perang. Aku menahan napas, berharap apa yang kudengar hanyalah mimpi buruk.

"Hubungan?" Rangga tertawa kecil, tawa yang dingin dan menusuk. "Dia hanya alat yang berguna, tidak lebih. Setelah kompetisi ini, aku akan bertunangan dengan Zahira. Ini semua adalah bagian dari strategi bisnis, untuk mengamankan kerja sama dengan keluarga Radjiman."

Duniaku runtuh. Kata-kata itu menghantamku seperti gelombang pasang, menarik semua udara dari paru-paruku. Kakiku lemas, dan aku harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. Punggungku terasa dingin, seperti diguyur es. Aku merasakan mual yang luar biasa, seolah isi perutku ingin keluar.

"Hebat juga rencanamu, Rangga," teman Rangga memuji. "Menggunakan desainnya, lalu membuangnya. Dan dia, si Aluna kecil yang naif, pasti tidak akan curiga."

"Dia terlalu dibutakan cinta untuk melihat kenyataan," Rangga menjawab, suaranya terdengar sombong. "Lagipula, apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya seorang gadis biasa yang beruntung bisa dekat denganku."

Aku menutup mata, berharap kegelapan bisa menelan semua rasa sakit ini. Tapi suara mereka terus berdenging di telingaku, menghantam dinding batinku berulang kali. Ini adalah kenyataan. Ini adalah kebenaran yang kejam.

Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan tangis yang mendesak. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat rapuh di hadapan mereka. Aku membersihkan tenggorokanku, berusaha menormalkan suaraku.

"Rangga, sayang? Ada apa? Kenapa lama sekali?" Aku berjalan masuk, mencoba memasang senyum terbaikku, senyum yang terasa hambar di bibirku. Hatiku menjerit, tapi aku harus bertindak seolah tidak ada yang terjadi.

Rangga menoleh, senyum manis langsung terukir di wajahnya, seolah beberapa detik yang lalu ia tidak mengatakan hal-hal mengerikan tentangku. "Tidak apa-apa, Luna. Hanya bicara bisnis sebentar. Kau sudah menunggu lama?" Dia menarik tanganku, menatapku dengan mata yang penuh kebohongan. Matanya, yang dulu selalu kuanggap sebagai jendela hatinya, kini terlihat seperti jurang kegelapan.

Aku membiarkan dia menarikku lebih dekat, tubuhku terasa seperti robot. Setiap sentuhan darinya kini terasa menjijikkan, kotor, dan penuh kepalsuan. "Tidak juga," jawabku, suaraku nyaris berbisik. Aku merasa udara di sekitarku menipis, menyesakkan napas. Aku ingin lari, jauh dari sini, jauh dari kebohongan ini.

Dia munafik. Dia bajingan.

Pikiranku berteriak, tapi bibirku tetap terkatup rapat. Aku harus pura-pura. Aku harus menunggu saat yang tepat.

"Aku... aku merasa tidak enak badan, Rangga," kataku, berusaha melepaskan diri dari genggamannya. Aku harus keluar dari ruangan ini, segera. "Aku butuh ke kamar mandi."

"Kau baik-saja? Wajahmu pucat sekali," Rangga bertanya, nada suaranya terdengar khawatir. Kekhawatiran yang terasa sangat palsu.

"Aku butuh sendirian sebentar," kataku, tanpa menatap matanya. Aku berbalik dan berlari, secepat yang aku bisa, meninggalkan suara tawa dan obrolan mereka di belakangku.

Aku mengunci diri di kamar mandi, tubuhku merosot ke lantai. Air mata mengalir deras, membasahi pipiku, leherku, hingga ke bajuku. Aku menutup mulutku, berusaha meredam isak tangis yang histeris. Aku tidak ingin ada yang mendengar.

Kata-kata Rangga terus terngiang di kepalaku, berputar-putar seperti rekam jejak yang tak ada habisnya. "Hanya alat yang berguna." "Bertunangan dengan Zahira." "Bagian dari strategi bisnis."

Aku memukul lantai dengan kepalan tanganku, rasa sakit di pergelangan tanganku tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku. Kepalaku terasa kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh jutaan pertanyaan.

Apa yang salah? Apa yang kulakukan sehingga pantas mendapatkan ini?

Aku mengingat kembali malam kemarin, malam "perayaan" kami. Rangga memelukku erat, berbisik janji-janji manis tentang masa depan kami. Dia bilang, setelah kompetisi ini, dia akan mengumumkan hubungan kami. Dia akan melamarku.

Kebohongan. Semuanya kebohongan.

Dia membelai rambutku, senyumnya begitu lembut, tangannya begitu hangat. "Kau adalah segalanya bagiku, Aluna. Kau tahu itu, kan?"

Aku mengangguk, mencium bibirnya, merasakan kebahagiaan yang melingkupiku. Aku percaya padanya, sepenuhnya. Aku telah memberikan segalanya untuknya, bahkan karyaku yang paling berharga.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Rangga.

Rangga: Jangan lupa minum pil pencegah kehamilan.

Mataku terbelalak. Pil pencegah kehamilan. Dia... dia bahkan tidak ingin ada jejakku di hidupnya. Dia tidak ingin ada konsekuensi dari malam kami. Dia begitu dingin, begitu kejam.

Aku mengingat betapa bahagianya aku setelah malam itu. Aku membayangkan masa depan kami, rumah yang akan kami bangun bersama, anak-anak kami. Semua itu kini terasa seperti lelucon yang kejam.

Dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya memanfaatkan kebodohanku, cintaku yang buta. Aku telah menjadi boneka dalam permainannya, alat untuk mencapai tujuannya.

Pikiranku dipenuhi dengan skenario terburuk. Bagaimana jika aku hamil? Aku tidak punya siapa-siapa. Aku sendirian. Rasa takut mencengkeramku, membuatku gemetar hebat.

Dengan tangan gemetar, aku membuka tas tanganku. Aku mengeluarkan uang tunai dan kunci mobil. Aku harus pergi. Sekarang. Sebelum aku berubah pikiran.

Aku harus membeli pil itu. Aku harus menghapus semua jejaknya dari tubuhku.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku mencintainya. Sejak kami masih kecil, sejak dia adalah anak laki-laki pendiam yang selalu bersembunyi di balik buku-buku. Aku selalu ada untuknya, selalu mendukungnya, selalu mencintainya.

Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Dia duduk sendirian di taman, membaca buku arsitektur. Aku mendekatinya, menawarkan persahabatan. Dia tersenyum, senyum yang mengubah duniaku.

Dia adalah anak yang kesepian, orang tuanya terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku menjadi satu-satunya temannya, satu-satunya orang yang dia percayai. Aku selalu berpikir, kami memiliki ikatan yang spesial. Ikatan yang tidak akan pernah putus.

Ternyata salah.

Aku tertidur di lantai kamar mandi yang dingin, air mata membasahi pipiku. Rasa sakit di hatiku begitu besar, aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

Ponselku berdering keras, membangunkan aku dari tidur yang gelisah. Aku meraih ponselku, mataku terasa berat. Nama Raisa terpampang di layar.

"Aluna? Kau di mana? Kenapa tidak datang ke pesta perayaan? Rangga mencarimu," Raisa terdengar khawatir.

"Aku... aku tidak enak badan," kataku, suaraku parau.

"Tidak enak badan? Rangga baru saja mengumumkan pertunangannya dengan Zahira di atas panggung! Mereka berdua berdansa dengan mesra! Semua orang melihatnya!" Raisa berteriak, suaranya dipenuhi kemarahan.

Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan telak. Aku sudah tahu, tapi mendengarnya dari Raisa, dengan detail yang begitu jelas, membuat rasa sakit itu semakin nyata.

"Dia... dia melakukannya?" tanyaku, suaraku gemetar.

"Tentu saja! Bajingan itu! Dia bilang desain yang memenangkan kompetisi adalah hasil kolaborasi dengan perusahaan Zahira! Dia mencuri semua karyamu, Aluna!" Raisa marah. Kemarahannya terasa begitu tulus.

Aku menutup mata, membayangkan Rangga berdiri di atas panggung, dengan Zahira di sampingnya, mengumumkan pertunangan mereka, mengklaim karyaku sebagai miliknya. Rasa sakit, kemarahan, dan penghinaan bercampur aduk di dalam diriku.

Ini adalah akhirnya.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Marigold Finch

Selebihnya
Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Romantis

5.0

"Aku tak pernah menyangka, setelah empat puluh tahun, kebenaran bisa terungkap dari tablet cucuku." Niat hati ingin mengunduh lagu anak-anak di tablet baru cucu, jari saya malah tak sengaja membuka folder bernama "Proyek Riset". Isinya bukan dokumen kerja, melainkan ribuan foto mesra suami saya dengan sahabat karib saya sendiri, Wulandari, di berbagai negara selama empat puluh tahun terakhir. Ternyata, "perjalanan dinas" suami saya selama ini hanyalah kedok untuk bulan madu abadi mereka, sementara saya di rumah menjadi babu gratisan. Yang lebih menghancurkan hati, saya menemukan video anak kandung saya, Rizal, sedang tertawa lepas membantu Wulandari mengangkat lukisan berat. Padahal seminggu lalu, dia menolak membantu saya menggeser lemari dengan alasan "saraf kejepit". Di video itu, Rizal mencium pipi pelakor itu dan berbisik, "Mama yang seharusnya." Dunia saya runtuh seketika. Rupanya, karena Wulandari mandul, mereka bersekongkol menjadikan saya "inkubator" hidup untuk melahirkan keturunan bagi keluarga terpandang suami saya. Saya hanyalah wanita desa polos yang dimanfaatkan, tidak dicintai, dan diam-diam dihina oleh suami dan anak sendiri. Mereka pikir saya akan diam demi reputasi dan takut hidup miskin? Salah besar. Hari itu juga, saya mengemasi barang, menuntut cerai, dan menguras harta gono-gini yang menjadi hak saya. Saya pergi ke Bali, menjadi penenun sukses yang dipuja ribuan orang. Dan ketika mereka datang mengemis di kaki saya setelah hancur lebur dan kehilangan segalanya, saya hanya tersenyum dingin dan menutup pintu selamanya.

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Putra Rahasianya, Aib Publiknya

Putra Rahasianya, Aib Publiknya

Ava Sinclair
5.0

Namaku Alina Wijaya, seorang dokter residen yang akhirnya bertemu kembali dengan keluarga kaya raya yang telah kehilangan aku sejak kecil. Aku punya orang tua yang menyayangiku dan tunangan yang tampan dan sukses. Aku aman. Aku dicintai. Semua itu adalah kebohongan yang sempurna dan rapuh. Kebohongan itu hancur berkeping-keping pada hari Selasa, saat aku menemukan tunanganku, Ivan, tidak sedang rapat dewan direksi, melainkan berada di sebuah mansion megah bersama Kiara Anindita, wanita yang katanya mengalami gangguan jiwa lima tahun lalu setelah mencoba menjebakku. Dia tidak terpuruk; dia tampak bersinar, menggendong seorang anak laki-laki, Leo, yang tertawa riang dalam pelukan Ivan. Aku tak sengaja mendengar percakapan mereka: Leo adalah putra mereka, dan aku hanyalah "pengganti sementara", sebuah alat untuk mencapai tujuan sampai Ivan tidak lagi membutuhkan koneksi keluargaku. Orang tuaku, keluarga Wijaya, juga terlibat dalam sandiwara ini, mendanai kehidupan mewah Kiara dan keluarga rahasia mereka. Seluruh realitasku—orang tua yang penuh kasih, tunangan yang setia, keamanan yang kukira telah kutemukan—ternyata adalah sebuah panggung yang dibangun dengan cermat, dan aku adalah si bodoh yang memainkan peran utama. Kebohongan santai yang Ivan kirimkan lewat pesan, "Baru selesai rapat. Capek banget. Kangen kamu. Sampai ketemu di rumah," saat dia berdiri di samping keluarga aslinya, adalah pukulan terakhir. Mereka pikir aku menyedihkan. Mereka pikir aku bodoh. Mereka akan segera tahu betapa salahnya mereka.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku