Sekretaris Rahasiaku

Sekretaris Rahasiaku

Mandaour

5.0
Komentar
35
Penayangan
20
Bab

Rinka tidak bisa menolak keinginan Rendi yang terus-menerus menuntutnya menjadi istri rahasia. Dia terjebak dalam kehidupan mewah dan glamour, tapi juga penuh dengan bahaya dan tantangan. Rendi memiliki musuh yang kuat dan Rinka menjadi target berikutnya. Suatu hari, Rinka menemukan rahasia tentang masa lalu Rendi yang kelam. Dia merasa bahwa Rendi tidak sepenuhnya jujur padanya. Rinka mulai mempertanyakan apakah cintanya pada Rendi hanya ilusi belaka. Sementara itu, Rendi semakin terobsesi dengan Rinka. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya. Rendi harus melindungi Rinka dari bahaya yang mengancam, tapi dia juga harus menghadapi perasaan cintanya sendiri. Bagaimana Rinka dan Rendi menyelesaikan masalah mereka? Apakah cinta mereka dapat mengatasi semua rintangan ataukah kebohongan dan rahasia akan menghancurkan hubungan mereka?

Bab 1 Saya Tidak Butuh Uang Anda!

Kesunyian menyelimuti lantai teratas Menara Arkana. Lampu-lampu koridor telah dipadamkan, hanya menyisakan sorotan tajam dari lampu meja Rinka di sudut kantor megah itu. Pukul sebelas malam, Rinka masih terpepet di balik tumpukan dokumen merger terbaru, bau kertas dan kopi dingin adalah aroma yang tak terhindarkan dari profesi sekretaris bagi CEO sekelas Rendi, sosok yang terkenal tak mengenal kata istirahat.

Rinka mengusap keningnya yang sedikit berkeringat. Rambut hitamnya sudah mulai terlepas dari cepol rapinya. Meskipun lelah, ia menyukai pekerjaannya, dan ia bangga akan dedikasinya, sebuah kualitas yang sering disalahgunakan oleh atasannya.

Tiba-tiba, interkom di mejanya menyala, memecah keheningan.

"Rinka, masuk."

Suara bariton Rendi terdengar dingin dan tak terbantahkan, memicu lonjakan adrenalin kecil di perut Rinka. Tanpa basa-basi atau sapaan malam, hanya sebuah perintah. Rinka segera merapikan sedikit penampilannya dan berjalan menuju pintu kayu mahoni di ujung ruangan, pintu menuju takhta Rendi.

Di dalam, Rendi duduk tegak di balik meja marmer gelapnya. Pria itu tampak sempurna dalam balutan jas yang bahkan di malam hari pun masih terasa elegan. Dia tidak membaca dokumen, melainkan menatap kosong ke pemandangan lampu kota dari balik jendela. Kesempurnaan wajahnya selalu dibarengi dengan aura bahaya dan misteri yang membuat siapa pun enggan berlama-lama di dekatnya.

"Kau butuh sesuatu, Tuan Rendi?" tanya Rinka, berusaha mempertahankan profesionalisme meskipun kakinya terasa pegal.

Rendi tidak langsung menjawab. Ia mengambil waktu sejenak untuk menyesap wiski di tangannya, seolah mengukur kesabaran Rinka.

"Duduklah, Rinka. Kita tidak sedang membicarakan laporan keuangan."

Rinka merasa tegang. Nada suara itu... terlalu pribadi untuk urusan kantor. Ia menurut, duduk di sofa kulit di hadapan Rendi, menjaga jarak sewajarnya.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Rendi? Mengenai pertemuan besok atau mungkin urusan pribadi?"

Rendi meletakkan gelasnya dengan denting keras di atas meja. Mata tajamnya menembus Rinka. Di matanya, tidak ada kebaikan, hanya kalkulasi murni.

"Aku punya masalah. Masalah yang harus diselesaikan segera. Dan kau adalah satu-satunya solusi," ujar Rendi lugas.

Rinka mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."

"Jangan pura-pura bodoh, Rinka. Kau tahu aku bisa mengendalikan apa pun yang aku inginkan, kapan pun aku mau. Termasuk kau."

Rinka menggenggam tangannya. "Tuan Rendi, jika ini menyangkut pekerjaan, tolong jelaskan dengan rinci. Jika tidak, saya harus kembali menyelesaikan draf merger."

"Draf merger itu sudah selesai. Tugasmu yang berikutnya jauh lebih penting, menjadi istriku."

Ruangan terasa membeku. Rinka merasa oksigen menghilang dari paru-parunya. Apakah ia salah dengar?

"Tuan Rendi, Anda pasti sedang bercanda," katanya, tawa hambar keluar dari tenggorokannya.

"Aku tidak pernah bercanda tentang masalah sebesar ini, Rinka." Rendi berdiri, melangkah mendekati sofa, memaksanya mendongak. "Aku perlu istri sekarang. Untuk menghadapi dewan direksi, untuk meredam kecurigaan musuh, dan yang terpenting, untuk mengamankan beberapa aset pribadi. Kau tahu posisiku. Menikah dengan figur sosialita hanya akan menarik lebih banyak mata."

"Lalu kenapa harus saya?" Rinka memprotes, suaranya sedikit bergetar. "Ada ratusan wanita yang siap menjadi istri Anda tanpa paksaan. Saya hanyalah sekretaris Anda!"

Rendi membungkuk sedikit, senyum sinis tersungging di bibirnya. Senyum yang biasanya memikat kini terasa menakutkan.

"Justru itu kuncinya. Kau tidak menarik perhatian. Kau tidak punya koneksi yang bisa mengancamku. Kau patuh, jujur, dan mudah dikendalikan. Tapi yang paling penting..." Rendi berhenti, matanya menelusuri Rinka dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau adalah rahasia sempurna."

Rinka tersentak. Dia menyadari Rendi tidak meminta. Ini adalah pernyataan.

"Tidak! Saya tidak mau, Tuan Rendi. Saya punya hidup saya sendiri, impian saya sendiri. Saya tidak akan menikah hanya karena Anda butuh alibi bisnis!" Rinka berdiri, berniat segera pergi dari ruangan itu.

Namun, sebelum ia sempat bergerak, Rendi telah memegang pergelangan tangannya dengan cekatan. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakitkan.

"Kau pikir kau bisa menolakku?" Rendi menariknya kembali ke sofa, kali ini duduk di sampingnya, membuat Rinka merasakan panas tubuhnya.

"Dengar baik-baik, Rinka. Ini bukan pernikahan yang didasari cinta, ini kontrak. Kau hanya perlu menjalani peranmu selama dua tahun, dan setelah itu, kau bebas. Aku akan memastikan kau mendapatkan kekayaan yang cukup untuk menghidupi tujuh turunan."

"Saya tidak butuh uang Anda!"

"Oh, kau butuh, Sayang. Semua orang butuh uangku," desis Rendi, menggunakan kata sapaan intim yang membuatnya merinding. "Tapi, ini bukan tentang uang saja."

Rendi tiba-tiba menjauhkan diri dan meraih sebuah tablet dari meja kopi. Ia mengetuk layarnya dan memutarnya menghadap Rinka.

Di layar itu, tampak sebuah gambar, ibunya, yang selama ini sakit-sakitan, baru saja dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sangat mahal. Di gambar lain, terlihat laporan bank tentang pinjaman besar yang telah melilit keluarganya sejak lama, pinjaman yang sebentar lagi jatuh tempo.

"Pilihanmu mudah. Kau setuju menjadi istri rahasia, dan semua biaya perawatan ibumu, serta hutang-hutang keluargamu, lunas pagi ini juga. Kau dan keluargamu aman, bahkan mapan," Rendi menyandarkan punggungnya, kembali tampak santai. "Atau, kau menolak. Dan besok pagi, ibumu kembali ke ruang perawatan kelas tiga, rumah sakit menuntut pembayaran segera, dan pinjaman itu jatuh tempo."

Dunia Rinka terasa runtuh. Matanya mulai berembun. Dia tahu Rendi adalah pria berkuasa, tetapi ia tidak pernah menduga Rendi telah menggali sedalam ini, menyerang tepat di titik kelemahannya, keluarganya.

"Kau... kau tidak punya hati," lirih Rinka.

Rendi tersenyum, kali ini bukan senyum sinis, melainkan senyum puas seorang predator.

"Mungkin tidak. Jadi, bagaimana, Rinka? Kontrak ini menawarkanmu kemewahan dan keselamatan, tetapi dengan satu syarat, menjadi sekretaris di siang hari, dan istri rahasia yang sepenuhnya patuh di malam hari. Aku ingin jawabanmu sekarang juga."

Rinka menatap tablet yang memperlihatkan nasib keluarganya di ujung tanduk. Dia terjebak. Antara martabat pribadinya dan keselamatan orang-orang yang dicintainya.

Udara terasa mencekik. Rendi menunggu, diam, seperti singa yang menanti mangsanya. Kehidupan normalnya, karier idealisnya, semua lenyap dalam sekejap karena ulah pria yang kini menjadi atasannya, dan sebentar lagi, paksaan tak terhindarkan, akan menjadi suaminya.

Rinka menarik napas panjang, kepalanya tertunduk. Ia tidak punya pilihan.

"Baik, Tuan Rendi. Saya setuju," katanya, suaranya hampir tidak terdengar, seolah ia baru saja menjual jiwanya kepada iblis.

"Pilihan yang cerdas," Rendi membalas, meraih tangannya dan mencium punggungnya, gerakan yang seharusnya romantis tetapi terasa seperti stempel kepemilikan. "Selamat datang di hidupku, Nyonya Rahasiaku. Tapi ingat, di luar ruangan ini, kau tetaplah Sekretaris Rinka yang bekerja keras."

Saat Rinka mengangkat kepalanya, air matanya jatuh. Namun, sebelum ia sempat memprotes takdirnya, Rendi kembali menatap layar tablet dan tersenyum misterius. Ia tidak menunjukkan senyum kemenangan, melainkan senyum kecemasan. Seolah-olah pernikahan ini, yang dipaksakan Rendi sendiri, adalah sebuah ancaman yang lebih besar daripada sekadar kontrak.

"Dan satu hal lagi, Rinka. Jika kau mencoba kabur, ingatlah bahwa bukan hanya keluargamu yang terancam. Tapi kau sendiri akan tahu betapa gelapnya masa lalu yang sedang aku lindungi darimu," bisik Rendi, suaranya mengandung ancaman nyata, menjanjikan bahwa ikatan rahasia ini baru saja dimulai, dan bahaya sesungguhnya belum terlihat.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

kodav
5.0

WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?

Fantasi Tukar Pasangan Ranjang

Fantasi Tukar Pasangan Ranjang

WHS Production
5.0

Maya dan Adrian, serta sahabat mereka Sinta dan Rizky, tampaknya memiliki segalanya: karier yang sukses, rumah yang nyaman, dan kehidupan sosial yang aktif. Namun, di balik fasad kebahagiaan mereka, hubungan mereka masing-masing mengalami ketegangan dan kekosongan yang menyedihkan. Suatu malam, dalam upaya untuk menyegarkan hubungan mereka yang hambar, Maya dan Sinta memutuskan untuk mengusulkan sesuatu yang ekstrem: "fantasi tukar pasangan ranjang." Awalnya, ide ini tampak gila dan di luar batas kenyamanan mereka. Namun, dengan dorongan dan desakan dari pasangan mereka, Maya dan Adrian, serta Sinta dan Rizky, setuju untuk mencoba. Ketika fantasi tersebut menjadi kenyataan, keempatnya merasakan perasaan canggung, kebingungan, dan kecemasan yang tak terduga. Namun, dalam perjalanan mereka melalui pengalaman ini, mereka mulai menggali lebih dalam tentang hubungan mereka, mengungkapkan kebutuhan dan keinginan yang mungkin terlupakan, serta menyembuhkan luka-luka yang telah terbuka dalam pernikahan mereka. Dalam prosesnya, mereka menghadapi konflik, kecemburuan, dan ketidakpastian yang tidak terelakkan. Namun, mereka juga menemukan keintiman yang lebih dalam, pemahaman yang lebih besar tentang satu sama lain, dan kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang hampir putus asa. Novel "Fantasi Tukar Pasangan Ranjang" menawarkan pandangan yang tajam tentang kompleksitas hubungan manusia, dengan sentuhan humor, kehangatan, dan kisah cinta yang penuh dengan emosi. Di tengah fantasi yang menggoda, mereka menemukan keberanian untuk menghadapi kenyataan, menerima kekurangan masing-masing, dan membangun kembali fondasi cinta mereka dengan cara yang lebih kuat dan lebih tulus.

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku