Aku Menikahi Paman Mantanku

Aku Menikahi Paman Mantanku

Antonio Broom

5.0
Komentar
31
Penayangan
11
Bab

Di hari pernikahanku, si pengganggu dari SMA dulu datang untuk mengacaukan acaraku dan membuat hidupku sengsara. Aku percaya Carsten Morgan akan berdiri teguh di sisiku. Namun, dia melepaskan tanganku dan berjalan dengan tegas menuju wanita itu. Kemudian, ketika aku menggugat pengganggu tersebut dan mengungkap pelecehan masa lalunya, Carsten menekan kasus itu. Dia bahkan menggugat balik aku atas tuduhan pencemaran reputasi terhadap pengganggu tersebut. Dalam semalam, aku menjadi bahan tertawaan di Internet. Di sebuah pesta, Carsten mencibir dengan penuh penghinaan, "Bekas luka di tubuhmu membuatku merasa tidak nyaman." Dia menambahkan, "Menyerahlah. Aku punya paman yang kaya di belakangku. Kamu tidak mungkin menang." Saat itu juga, paman yang dia banggakan melingkarkan lengannya di pinggangku. Dia berbisik lembut di telingaku, "Jika aku bisa membuat mereka semua dipenjara, apakah kamu akan menjalin hubungan denganku?"

Bab 1

Pada hari pernikahanku, pengganggu di sekolah menengah yang menyiksaku mengacaukan upacara pernikahan.

Saya yakin Carsten Morgan akan berdiri teguh di sisi saya.

Namun dia melepaskan tanganku dan berjalan tegas ke arahnya.

Kemudian, ketika saya menggugat si pengganggu dan mengungkap pelecehan yang pernah dialaminya, Carsten menutup kasus tersebut.

Dia bahkan menggugat balik saya karena mencemarkan nama baik dirinya.

Dalam semalam, saya menjadi bahan tertawaan internet.

Di suatu jamuan makan, Carsten mencibir dengan nada menghina, "Bekas luka di tubuhmu membuatku jijik."

Dia menambahkan, "Menyerahlah." Saya punya paman yang sangat kaya yang mendukung saya. "Kamu tidak bisa menang."

Saat berikutnya, paman yang dibanggakannya itu melingkarkan lengannya di pinggangku.

Dia berbisik lembut di telingaku, "Jika aku memenjarakan mereka semua, apakah kau akan memilihku?"

1

"Tuan Carsten Morgan, apakah Anda menerima Nona Amelia Waston sebagai istri Anda? Tuan Morgan?"

Lelaki di sampingku tersadar kembali pada kenyataan saat mendengar pertanyaan itu.

Dia menyadari keingintahuan di mataku.

Dia ragu-ragu, tampak bingung.

Para tamu memperhatikan kami dengan saksama.

Aku meremas tangannya dengan lembut.

Aku berbisik dengan khawatir, "Ada apa, Carsten?"

Sebuah bayangan berkelebat di mata Carsten.

Dia memaksakan senyum tipis sambil menatapku.

Tepat saat dia membuka mulut untuk berbicara, pintu auditorium terbuka tiba-tiba.

Suara panik dan penuh air mata terdengar, "Carsten! Bukankah kau bilang kau hanya akan menikah denganku?"

Kata-kata itu mengejutkan orang banyak, yang kemudian menoleh.

Seorang wanita cantik dalam gaun pengantin berdiri di sana, matanya merah, menatap ke arah calon suamiku.

Ruangan itu dipenuhi bisikan-bisikan.

Aku terpaku saat mengenali wajahnya. Napasku tercekat.

Kenangan yang terukir dalam di tulangku membuatku gemetar.

Itu Eleanor Morley, gadis yang menindas saya di sekolah menengah.

Rasa terkejut berganti menjadi rasa takut yang luar biasa.

Kakiku gemetar, dan secara naluriah aku menggenggam tangan Carsten.

Namun tanganku tak dapat menggapai apa pun.

Aku mendongak dengan tak percaya.

Carsten menatap wanita di bawah panggung.

Matanya berbinar karena gembira dan kasih sayang.

Darahku menjadi dingin.

"Carsten, kau..." Dia melirik ke arahku, ada kilatan rasa kasihan di matanya.

Setelah terdiam sejenak, dia berkata lembut, "Maafkan aku, Amelia. "Bersamamu hanya untuk menebus kesalahan Eleanor." Dia menambahkan, "Saya hanya mencintainya."

Dengan itu, Carsten melompat dari panggung.

Dia melangkah menuju Eleanor.

Para tamu tersentak kaget.

Eleanor bersandar padanya, menyeringai penuh kemenangan. "Amelia, kamu kalah padaku lagi." Senyumnya berseri-seri dan penuh kebanggaan.

Tatapan aneh dan penuh rasa iba dari penonton tertuju padaku, sendirian di atas panggung.

Aku melihat kedua sosok itu berjalan menjauh, bergandengan tangan.

Wajahku memucat dan tubuhku menegang.

Setelah beberapa saat, aku menoleh, air mataku pun jatuh.

Namun senyum samar dan tersembunyi melengkungkan bibirku.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Antonio Broom

Selebihnya

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku