icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 6
Selamat Tinggal
Jumlah Kata:652    |    Dirilis Pada:08/12/2022

Di rumah lama Keluarga Widian.

Kediaman pribadi yang terletak di lereng bukit itu melambangkan keluarga kuno yang turun temurun sejak ratusan tahun. Dibandingkan dengan Grup Kuantum yang didirikan oleh Daniel, fondasi Grup Widian lebih tidak terduga dan tidak dapat diprediksi.

Hari sudah terang. Clara terbangun di sebuah kamar di kediaman itu.

Matanya terbuka lebar, dan dia melihat pemandangan yang tak asing. Aroma dan kehangatan rumah membuat matanya berkaca-kaca.

Sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi, pintu kamarnya terbuka. Melihat seorang pria berambut abu-abu masuk, Clara tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia mengangkat selimut dan bergegas menghampirinya.

"Ayah!"

Teo Widian menghela napas dan membelai rambut Clara.

Meskipun Teo berpura-pura marah, rasa sayang dan belas kasihan untuk putrinya terlihat jelas di matanya. "Kupikir kamu tidak akan pernah kembali!"

Niko Widian masuk ketika dia mendengar suara Clara.

Niko terlihat seperti ayahnya, tetapi dia lebih menawan dan percaya diri daripada ayahnya yang tegas. Keduanya sama-sama mendominasi dan memancarkan aura yang berbeda.

"Ayah, Clara sudah kembali. Jangan marah lagi. Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa Ayah seharusnya menunjukkan rasa bahagia Ayah?" Niko memutar bola matanya ke atas.

Teo memelototi putranya.

"Aku tidak pernah setuju Clara menyembunyikan identitasnya untuk menikah dengan pria itu. Dia bersikeras bahwa dia tidak akan mencampuradukkan urusan cintanya yang tulus dengan kepentingan uang. Seandainya kamu tidak mendukungnya begitu saja, aku tidak akan pernah membiarkannya menanggung penderitaan selama ini."

"Ayah, tenanglah. Anak muda selalu impulsif. Mereka akan melakukan apa saja demi cinta!" Niko mencoba menjelaskan.

"Maksudmu aku sudah tua?" Teo memelototi putranya lagi.

"Astaga! Aku tidak bermaksud begitu." Niko menggaruk kepalanya.

Clara tertawa dengan matanya yang berkaca-kaca ketika melihat ayah dan putra ini berdebat. Hidupnya kembali normal lagi. Dia sudah lama tidak merasakan cinta sejati dan kehangatan seperti itu.

"Ayah, Kak Niko, aku tahu aku salah. Ini semua salahku. Aku sudah membuat kesalahan besar. Aku menjadi keras kepala karena ingin bersama Daniel. Aku baru menyadarinya setelah menderita selama ini, tapi aku yakin tentang menceraikannya. Mulai sekarang, kami berdua tidak akan memiliki hubungan apa-apa lagi."

Teo memeluk Clara dengan erat. Dia merasa kasihan pada putrinya yang malang. "Itu benar. Bukankah Grup Widian kita cukup baik? Apa yang kamu lihat dari Grup Kuantum itu? Dia tidak pantas untukmu sedikit pun."

Niko tersenyum pada Clara dan mengacungkan jempol padanya.

"Aku sudah memiliki rencana untuk mengundang semua orang kaya dan berpengaruh di Kota Baiduri ke sini malam ini dan secara resmi memperkenalkan adikku pada mitra kita. Bagaimana menurut Ayah?"

Teo mengangguk puas. Ayah dan anak itu dengan cepat mencapai kesepakatan. Teo juga ingin mengadakan perjamuan untuk merayakan kepulangan putrinya yang manis setelah mengalami penderitaan.

Tak lama, Teo memperhatikan pakaian Clara dan menepuk pundak Niko. "Kamu bukan kakak yang baik! Bagaimana bisa kamu membiarkan Clara mengenakan pakaian murah seperti itu? Apa kamu tidak berpikir untuk mengganti pakaiannya ketika membawanya pulang?"

"Aku sudah meminta seseorang untuk menyiapkan pakaian untuknya." Niko telah mengatur segalanya sebelumnya. "Clara, aku sudah menyiapkan banyak pakaian yang dibuat khusus dari toko favoritmu. Kamu bisa memilih pakaian apa pun yang kamu suka. Simpan yang menjadi favoritmu dan buang sisanya."

"Terima kasih, Kak Niko." Clara tersenyum dan memeluk kakaknya.

Cinta dan tawa memenuhi udara. Mereka bertiga mengobrol sebentar. Kemudian, Niko dan Teo pergi untuk membahas detail perjamuan itu.

Sebelum keluar dari kamar, Niko menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Omong-omong, apa kamu ingin aku mengundang Daniel Sudarsa?"

"Kenapa tidak?" tanya Clara, mengangkat satu alisnya.

"Bagus! Itu baru adikku." Niko merasa lega mengetahui bahwa Clara telah kembali menjadi dirinya yang riang.

Setelah keduanya pergi, dokter pribadi Keluarga Widian melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Clara. Setelah memastikan bahwa dirinya dalam keadaan sehat, Clara pergi ke ruang makan untuk sarapan.

Para pelayan datang satu demi satu dan meletakkan berbagai macam makanan lezat di atas meja. Clara bertekad untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalunya. Oleh karena itu, dia mulai makan dengan gembira.

Memasukkan sesendok kaviar ke dalam mulutnya, Clara dengan santai menyalakan ponselnya.

Matanya membelalak ketika melihat dua puluh panggilan tak terjawab dari Daniel.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Tak Terduga2 Bab 2 Masuk Penjara demi Wanita Simpanannya3 Bab 3 Satu Triliun untuk Sebuah Tamparan4 Bab 4 Aku Memutuskan untuk Bercerai5 Bab 5 Dia Serius6 Bab 6 Selamat Tinggal7 Bab 7 Perjanjian Perceraian8 Bab 8 Air Mata Laut Biru9 Bab 9 Sebaiknya Kalian Pergi10 Bab 10 Palsu11 Bab 11 Penghinaan12 Bab 12 Memotret Diam-Diam13 Bab 13 Penerus14 Bab 14 Itu Tidak Mungkin Dia15 Bab 15 Kepedulian16 Bab 16 Betty yang Mabuk17 Bab 17 Pertanyaan18 Bab 18 Dia Pantas Mendapatkannya19 Bab 19 Topik Hangat20 Bab 20 Bukan Urusanmu21 Bab 21 Keadaan yang Berbalik22 Bab 22 Di Tengah Badai23 Bab 23 Konferensi Pers24 Bab 24 Pertemuan di Mal25 Bab 25 Menawar Gaun26 Bab 26 Menampilkan Keterampilan Aktingnya27 Bab 27 Akulah yang Mencampakkanmu28 Bab 28 Wanita yang Paling Penting dalam Hidupku29 Bab 29 Antagonis Wanita30 Bab 30 Clara yang Memesona31 Bab 31 Merayu Clara32 Bab 32 Rencana Siska33 Bab 33 Kuharap Cinta Kalian Berdua Abadi34 Bab 34 Aku akan Membuatnya Merasakan Akibatnya35 Bab 35 Gelang36 Bab 36 Foto Pernikahan yang Rusak37 Bab 37 Bukti38 Bab 38 Terbakar39 Bab 39 Cetak Salinan Lain40 Bab 40 Rencana41 Bab 41 Berinvestasi dalam Film42 Bab 42 Seseorang Mengerjainya43 Bab 43 Penampilan Sempurna44 Bab 44 Keluarga45 Bab 45 Simpanan Pria Kaya46 Bab 46 Berakting47 Bab 47 Rahasia48 Bab 48 Aku Perlu Bicara denganmu49 Bab 49 Tidak Masuk Akal50 Bab 50 Rasa Bersalah51 Bab 51 Adegan Penting52 Bab 52 Mata Dibalas Mata53 Bab 53 Video di Lokasi Syuting54 Bab 54 Tanggapan55 Bab 55 Opini Publik Berbalik56 Bab 56 Kambing Hitam57 Bab 57 Janji Temu58 Bab 58 Berita Mengejutkan59 Bab 59 Pangeran Piano60 Bab 60 Cinta pada Pandangan Pertama61 Bab 61 Kamu Perlu Membeli Lampu62 Bab 62 Serangan Verbal63 Bab 63 Taruhan64 Bab 64 Bukti65 Bab 65 Cerdas Tapi Bodoh66 Bab 66 Bertemu Lagi67 Bab 67 Pertunjukan Penuh Improvisasi68 Bab 68 Pengakuan69 Bab 69 Kehilangan Kendali70 Bab 70 Perjodohan71 Bab 71 Terlalu Menganggur72 Bab 72 Menambahkan Adegan73 Bab 73 Lebih Sibuk daripada Pemeran Utama74 Bab 74 Konspirasi75 Bab 75 Firasat Buruk76 Bab 76 Kecelakaan Mobil77 Bab 77 Jatuh ke Air78 Bab 78 Kebetulan Sekali79 Bab 79 Daniel Adalah Orang yang Menyelamatkanku80 Bab 80 Membedakan antara Kebaikan dan Kebencian81 Bab 81 Aku Ingin Melihat Apakah Kamu Mati karena Tenggelam82 Bab 82 Kebohongan83 Bab 83 Separuh Benar84 Bab 84 Kemewahan yang Tidak Bisa Kuberi85 Bab 85 Tidak Berhati Lembut86 Bab 86 Putusan Pengadilan87 Bab 87 Kejutan88 Bab 88 Sebuah Planet Kecil89 Bab 89 Makan Siang Bersama Keluarga90 Bab 90 Mengunjungi Almarhum Ibunya91 Bab 91 Rahasia Daniel92 Bab 92 Cinta Pertama93 Bab 93 Syuting Selesai94 Bab 94 Dies Natalis SMA95 Bab 95 Teman Sekolah96 Bab 96 Orang yang Sama97 Bab 97 Wanita Gila98 Bab 98 Konfrontasi99 Bab 99 Kamu akan Membayar100 Bab 100 Ancaman