Boss With Benefits
r, satu-satunya Cafe yang buka sepanjang hari tanpa pernah tutup meskipun badai datang menghadang. Karena durasi itulah, sistem kerjanya mirip dengan t
atau malam. Dan untukku yang selalu kedapatan sulit tidur karena insomnia ini, tanpa pikir panjang aku langsung memilih untuk shi
ng juga bekerja di tempat yang sama. Seringnya mereka memintaku ganti shift dengan mereka untuk kencan dan juga acara keluarga. Sialnya, aku tidak punya pilihan. Bagaimana
Tetapi kali ini untuk pertama kalinya aku terpaksa menerimanya di saat aku baru saja hendak menikmati t
t ku bernama Vivian. Aku biasa memanggilnya
gu. Aku mengabaikan panggilannya yang semakin lama semakin mendesakku. Bahkan dia tidak membiarkanku untuk minum dengan tenang. Saat aku meng
ertakku sambil meletakk
, suaraku atau suara gelas yang membentur meja? Satu
nyaku seraya menarik pipiku ke bawah sampai wajahku ter
ah meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat sementar
u untuk mendapatkannya? Aku harus bertemu dengannya s
ntuk tidak luluh kali ini. Aku harus men
ia ini? Bukalah matamu lebar-lebar, kawan." ,
aku mengira penolakan halus dariku
setengah dari gajiku
ia tida
begini. Kelima kalinya kalian putus
gajiku. B
nnya dengan berat, "Dengar, percayal
Ini tawaran terakh
jadi yang terakhir kalinya, oke? Jika setelah ini kalian kembali bersama lalu b
ir dan mengangguk, "
dalam diriku. Memikirkan harus kembali bergelut di jalanan dan semua pekerjaan yang menanti di cafe, sebagian besar energi tersisa yang aku miliki langsu
n untuk menjaga agar mataku tetap terjaga, aku meneteskan masing-masing satu tetes mata. Aku pergi ke kamar Vivian untuk meminta kartu untuk absensi miliknya dan baru saja sampai di depan pintu, aku sudah
nya saja? Aku yakin itu akan lebih
Vivian terlihat kesal, "Kartuku ada di dalam
unya keluar, sesuatu ikut keluar dari tas dan jatuh ke lantai. Aku langsung memung
banyak parfum." , kataku seraya melambaikan kondom
tanganku. Aku bisa melihat wajah malunya. Pipinya yang sudah kemerahan
terlihat gugup, "Apa kau tidak pernah mend
eluargamu yang sangat taat beribadah itu tidak akan membiarkanmu hi
kum yang ditetapkan dalam agama akan mereka taati tanpa cela sedikitpun. Tentu dalam keluarga yang sempurna itu akan selalu ada satu orang yang jadi
ku menyayangi teman-temanku. Aku berniat untuk terus bersama dengannya untuk waktu yang lama. Sebenarnya alasan bahwa aku sangat menyayanginya adalah alasan klasik yang bia
r rambut tinggi seperti penyanyi Ariana Grande dan malah membu
ggu." , kataku dengan mata nyaris tertutup, mencoba untuk mengikat bagi
bebaskan tanganku. Tanpa menoleh ke belakang, aku bisa langsung tahu dari aro
tinggal,Cindy." , katanya menimpali pertanyaan dari wan
gan simpul yang khas, aku lansung berbal
mengangkat kedua tangannya dan menyampirkan p
g telah mencampakkannya 5 kali. Aku sudah bersumpah akan membunuh me
an aku langsung membalasnya, "Bagus. Memang harus begitu. Jika ka
rdua tersadar dan angin canggung datang berhembus membelai kami. Namun sedet
untuk melihatnya, tanga
ar aku yang memeriksanya." , k
benar saja, hanya ada aku yang berjaga. Aku menggenggam tanganku erat dan mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa aku deng
t. Sialnya aku lupa mengenakan lipstik ataupun riasan lainnya setelah mengaplikasikan alas bedak di wajahku. Segera aku mengulum bibirku d
dari bayangannya yang membelakangi cahaya lampu. Aku langsung mengangkat k
aat melihat ataupun mendengar peristiwa yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya aku me
hati, saat melihat pria it