icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pendekar Pedang Patah

Pendekar Pedang Patah

Penulis: HunterB
icon

Bab 1 Takdir Sang Pendekar

Jumlah Kata:1238    |    Dirilis Pada: 08/02/2022

seorang pendekar berambut panjang dengan parasnya yang di atas rata-rata. Para pendekar dari berbagai macam sekte dan alir

r Pedang Patah!" teriak salah seorang dari r

g Patah itu. Dia tampak santai dengan eskpresi mengejek, menat

ak. Bisa saja kau yang lebih dulu pergi ke neraka, Pak Tua!

enaga dalamnya yang tinggi, wajahnya terlihat jauh lebih muda dibandingkan usia sebenarnya. "Ak

mengompol saking takutnya," ledek si pendekar yang berge

dan berambut putih yang ia yakini berumur lebih dari seratus tahun. Sama seperti pendekar sebelum

n salahkan kami jika kau meregang nyawa kemudia

. "Apa yang perlu kutakutkan jika aku memiliki pedang ini?" Ia meng

ekuatan sesungguhnya dari pedang tanpa bilah itu berasal. Setiap kali serangan-baik itu fisik atau tenaga dalam-dapat dihalau dengan muda

ngan Pedang Pembalik Takdir milikku, Anak

is dan panjang. "Pedang aneh macam apa itu?" tanyanya sedikit mengolok. "Mari kita beradu saja kalau begitu

ntu saja tidak menyia-nyiakan waktu, mereka menarik keluar se

AAA

engah kerumunan pendekar tingkat tinggi itu. Setiap serangan yang terara

raja? Nenekku bahkan bisa melakukannya lebih baik," ejeknya samb

musuh segala pendekar itu langsung mengeluark

ekar Pedang Patah. Sebuah gelombang udara tak kasat mata

hat serangan itu. "Lambat," ucapnya melihat serangan dari Genting Mahesa yang memang terkesan lambat.

mulai mendekat padanya, ia langs

memukul gelombang serangan itu kembali pada Genti

laju dua kali lebih cepat-sontak membulatkan matanya. "Ap-sial." Pak t

perti keris menahan dan menghilangkan serangan itu. "Lawanmu adalah aku, Pan

ra marah ketika serangannya dihalau dengan mudah. "Kau benar-bena

gelengkan kepalanya mendengar hal itu. "Kau benar-benar anak nakal, Panca. Kemarilah. Pak Tua yang tak asi

Mereka memang pendekar tingkat tinggi, tapi hanya segelintir pendekar suci saj

akhir itu balik menantang dengan meledakkan aura pembunuhnya yang berada di tingkat

Tua. Mungkin aku ak

, ia memberikan isyarat t

Pak Tua. Bersiaplah!" Setelahnya, Panca melayang di

ka berdua melakukan jual beli serangan di udara. Para pendeka

tu dengan melakukan perbuatan onar, merusak sekte, dan bertindak semaunya. Selama beberapa ta

nggi di sana selagi ia bertukar serangan dengan Surawisesa. Akibatnya, hanya ter

awisesa dengan napasnya yang terengah-engah. Ia melihat sekelilingnya di mana

usia yang cukup jauh di antara mereka. Kalau saja Surawisesa berada di us

ke sini untuk bertarung, Pak Tua. Pergilah ke tempat lain kalau kau hanya ingin mengocehkan

ada cara lain. Aku harap kau bisa berubah setelah ini, Panca," ucapnya.

an pedang berkelok itu, membuat Panca yang

AAK

R

jauh lalu terjatuh d

*

pingsannya, ia mengerang sambil memegangi k

akan tangannya menyusut di balik baju yan

nya ke depan. "Aku berubah jadi bayi?!" Ia lantas berlari ke sung

asti mimpi. T

ragannya yang tinggi, serta sepak terjangnya yang begitu buruk di dunia persilatan, kini sedang terp

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pendekar Pedang Patah
Pendekar Pedang Patah
“Pancaka adalah musuh bagi seluruh sekte aliran putih, netral, dan hitam. Dia membuat onar dan meratakan semua sekte tanpa sebab. Namun, siapa sangka jika Panca sang pemegang pedang tanpa bilah yang sanggup menepis semua serangan itu berhasil dikalahkan. Ia dikalahkan dan dikirim kembali ke masa lalu. Akankah ia merubah sifatnya menjadi lebih baik setelah dikirim ke masa lalu, atau ia malah semakin menjadi jahat, siapa yang tahu?”
1 Bab 1 Takdir Sang Pendekar2 Bab 2 Perjalanan Baru Pancaka3 Bab 3 Sekte Pedang Suci4 Bab 4 Erlangga Kusuma5 Bab 5 Murid Baru6 Bab 6 Unjuk Kebolehan7 Bab 7 Penculikan Asih8 Bab 8 Sekte Awan Merah9 Bab 9 Tulang Naga Langit10 Bab 10 Bantuan11 Bab 11 Tumbang12 Bab 12 Racun Adamantis13 Bab 13 Misi Penyelamatan14 Bab 14 Bukit Kabut15 Bab 15 Takdir yang Berbeda16 Bab 16 Chimera17 Bab 17 Kembali Pulih18 Bab 18 Efek Samping19 Bab 19 Kedatangan Surawisesa20 Bab 20 Rencana Pemulihan21 Bab 21 Pendekar Berbakat22 Bab 22 Penyergapan23 Bab 23 Ibukota Mekarsari24 Bab 24 Aura Pembunuh25 Bab 25 Pertempuran di Malam Hari26 Bab 26 Rawa Rontek27 Bab 27 Situasi Genting28 Bab 28 Bencana29 Bab 29 Bayangan yang Merayap30 Bab 30 Kemelut Pertempuran31 Bab 31 Kematian Jaka32 Bab 32 Musuh Lain33 Bab 33 Tiga Lawan Satu34 Bab 34 Terpojok35 Bab 35 Jalan Buntu36 Bab 36 Jaya Drata37 Bab 37 Berlalunya Badai38 Bab 38 Berkabung39 Bab 39 Asih di Ambang Kematian40 Bab 40 Menjadi Mata-Mata41 Bab 41 Wanita Berambut Ular42 Bab 42 Siluman Hutan Lindung43 Bab 43 Desa Rondo44 Bab 44 Medusa45 Bab 45 Pertanyaan Maut46 Bab 46 Lembah Kematian Bagian Dalam47 Bab 47 Memancing Keributan48 Bab 48 Interogasi49 Bab 49 Informasi Besar50 Bab 50 Tesudut51 Bab 51 Teror Sekte Awan Merah52 Bab 52 Penyerangan ke Sekte Golok Putih53 Bab 53 Kehancuran Sekte Golok Putih54 Bab 54 Teror yang Menghantui