icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Luka Cinta Dari Suami Obsesif

Bab 4 

Jumlah Kata:499    |    Dirilis Pada: 12/12/2025

Ekaput

ari ke arah Simon. Dia memeluknya erat, kepalanya bersand

mendongak, matanya berkaca-kaca. "Kalau tidak ada aku, kau ti

g berantakan. "Lihat apa yang dia lakukan pada vilamu! Dia mengotori s

. Jari-jariku yang patah terasa seperti dihantam palu godam. Dia menendangku la

kata Virginia. "Kau harus memintany

ajahnya yang cantik da

sudah tidak berbentuk lagi. Rambutku lengket

ak meng

murni yang dia ciptakan untukku. Dia menganggap kekacauan di vila ini adalah

ia tidak menyadari bahwa wanita yang hancur di depannya ini adalah

mon dingin, menusu

ulan dan tendangan yang aku terima. Itu mengh

erak, suara yang bukan milikku. Aku menatapnya, memohon belas kasihan. Memohon ag

ncian murni. Dia bahkan tidak m

gayunkan tangannya, memberi

ya datar, tanpa emosi. "Biarkan air sungai

an mati. Keputusasaan ya

a tak terlukiskan, tapi tidak sebanding dengan rasa sakit di hat

ai baru saja menjatuhkan hukuman m

sungai yang mengalir deras. Airnya din

ek muncul. Senyumnya yang hangat. Maafkan

nggelegar dari kejauhan. "Non

dah ter

tku. Aku dilemparkan k

s. Dinginnya air segera merenggut sisa kesa

patnya. Wajahnya pucat pasi. Real

sungai, tidak peduli dengan penjaga yang mencoba mena

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Luka Cinta Dari Suami Obsesif
Luka Cinta Dari Suami Obsesif
“Aku dipaksa menikah dengan Simon Adijaya, pria yang mengurungku selama sepuluh tahun, demi menyelamatkan nyawa kakekku. Namun, tepat di hari kakekku seharusnya pulih, aku malah dihajar habis-habisan oleh kekasih barunya, Virginia. Dia dan teman-temannya menyeretku, mematahkan jari-jariku, dan menghancurkan wajahku hingga tak bisa dikenali. Saat Simon pulang, dia melihatku yang berlumuran darah dan cat, tergeletak di antara puing-puing lukisan bunga matahariku. Tanpa ragu, dia menyebutku "sampah". "Buang dia ke sungai," perintahnya dengan dingin. Aku dilempar ke air yang sedingin es. Saat kesadaranku hampir hilang, aku mendengar kabar yang menghancurkan segalanya: kakekku telah meninggal pagi itu. Simon, pria yang merebut orang tuaku, kebebasanku, dan tanganku, kini juga telah merenggut satu-satunya alasanku untuk hidup. Api dendam yang selama ini terpendam akhirnya meledak. Aku bersumpah, aku akan menghancurkan dunianya, membuatnya merasakan setiap tetes penderitaan yang kurasakan, sampai dia berlutut memohon kematian yang tak akan pernah kuberikan.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10