icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bersama Kita Bangkit Dari Abu

Bab 3 

Jumlah Kata:881    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

Wijay

n, kehidupan bergulir. Di dalam, waktu telah berhenti, membeku dalam tablo kesedihan dan aroma antiseptik. T

tar. Sebuah pesan v

ar saat aku mene

rsandar pada tumpukan bantal di tempat tidur yang jelas-jelas milik Kian. Kian sendiri duduk di tepi ranjang, dengan sabar menyuapinya sup, e

g dibuat-buat. Dia meletakkan tangan di perutnya yang masih rata. "Terima kasih

eluarga mereka berkumpul di ruangan itu, semua menatap den

anya, "Di mana Gloria? Bukank

am oleh paduan suara pujian tentang

itu be

h parade kemenangan. Ejeka

nselnya sendiri, wajahnya topeng kaku penuh

mbahayakan. "Aku sudah selesai meras

ku menarik napas dalam-dalam, rasa sakit di tulang r

ntah di ponselku. Jari-jariku terbang di atas layar, mengisi formulir. Nama: Gloria Wi

cerai telah diajukan. Tembakan resmi pertama dalam perang kami telah dilepaskan. Aku mene

a telepon. Tidak ada secercah pengakuan melalui ikatan kami yang kini terput

nya. Dia menjawab

oria?" Suaranya k

sudah teri

runtung aku masih mau bicara denganmu. Apa kamu tahu seberapa banyak

Sudah. Terim

tangani apa pun. Kamu mau bertingkah seperti anak kecil, silakan. Tapi kamu tetap istriku. Seka

permainan. Sebuah amukan. Dia pikir aku sedang mencoba mencari

kang, manis seperti sirup. "Kian, sayang,

belum itu aku mendengarnya be

ngurus Florence, ya. Apa dia sudah baikan

i itu!" geramnya. "Dia sedang tidak enak badan. Dia ham

menyakitkan. Pandanganku kabur. Se

luka mentah, terkoyak dari bagian terdalam jiwaku. "Pernah

a adalah seb

kamu masih sedih soal itu? Aku turut berduka cita atas kehilanganmu. Sungguh. Tapi mungkin... mu

g memuncak di dalam diriku. Ruangan mulai berputar. Aku tidak bisa bernapas. Rasa sakit fisik,

embiarkannya mengatakannya. Dia membiarkan Flore

nya dingin dan jauh. "Kamu histeris.

tidak akan pernah peduli. Baginya, anak kami adalah ketidaknyamanan. Rasa sakitku

seolah dia memutus jiwaku. Hubungan itu layu dan mati, me

ponsel dan membungkuk, isak tangis yang

ndiri membasahi rambutku. "Dia tidak pantas mendapatkannya, Glo," bisiknya deng

-nyala. "Kita tidak akan menunggu izin

a akan ajukan gugatan cerai paksa. Lih

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bersama Kita Bangkit Dari Abu
Bersama Kita Bangkit Dari Abu
“Aku dan kakakku terdampar di jalanan sepi. Kandunganku sudah delapan bulan, dan ban mobil kami kempes. Tiba-tiba, sepasang lampu truk menyorot tajam, menyilaukan mata kami. Truk itu tidak berusaha menghindar. Truk itu sengaja mengincar kami. Tabrakan itu adalah simfoni kehancuran. Saat rasa sakit yang mengerikan merobek perutku yang hamil, aku menelepon suamiku, Kian. Suaraku tercekat oleh darah dan ketakutan. "Kian... kecelakaan... bayinya... ada yang salah dengan bayinya." Tapi aku tidak mendengar kepanikan. Yang kudengar hanyalah suara saudari tirinya, Florence, yang merengek di latar belakang karena sakit kepala. Lalu terdengar suara Kian, sedingin es. "Jangan drama. Kamu mungkin cuma menyerempet trotoar. Florence lebih membutuhkanku." Dia menutup telepon. Dia memilih Florence daripada aku, daripada kakak iparnya, bahkan daripada calon anaknya sendiri. Aku terbangun di rumah sakit dengan dua kenyataan pahit. Kakakku, seorang pianis terkenal di dunia, tidak akan pernah bisa bermain piano lagi. Dan putra kami, bayi yang kukandung selama delapan bulan, telah tiada. Mereka pikir kami hanyalah korban sampingan dalam kehidupan sempurna mereka. Mereka akan segera tahu, kami adalah pembalasan mereka.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10