icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bersama Kita Bangkit Dari Abu

Bersama Kita Bangkit Dari Abu

Penulis: Orion Frost
icon

Bab 1 

Jumlah Kata:1151    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

dah delapan bulan, dan ban mobil kami kempes. Tiba-tiba,

a menghindar. Truk itu

ang mengerikan merobek perutku yang hamil, aku menelepon

. bayinya... ada yang

r hanyalah suara saudari tirinya, Florence, yang

r suara Kian,

cuma menyerempet trotoar. Fl

ce daripada aku, daripada kakak iparnya

ng pianis terkenal di dunia, tidak akan pernah bisa bermain piano lagi.

h korban sampingan dalam

tahu, kami adalah

a

Wijay

a. Pada panggilan ketiga, saat lampu depan itu membesar menjadi matahari yang

adalah sebu

iri setiap wanita yang memimpikan akhir cerita dongeng. Kami menikahi si kembar Adhitama, Kian dan Cakra, pewaris kerajaan bisnis

tu terkelupas, menampakka

yang sama denganku. Tangannya, tangan berbakat yang diasuransikan miliaran rup

enggorokanku, sama sekali tidak berhubungan dengan kehamilan delapan bulan yang membuat gerakanku canggung. B

n. Kumohon,

ah buku yang terbuka untukku, penuh dengan kepastian dan cinta posesif yang ganas, yang kusalahartikan sebagai pengabdian. Tapi belakangan ini, terutama seja

k membanting setir untuk menghind

Cakra lagi," desakku pada Chint

nya memutih. "Sudah. Dia bilang hal yang

n pacarnya. Suara Kian dari panggilan singkatnya yang terakhir, yang penuh kejengkelan, bergema di telingaku. "Ya Tuha

uamiku, serta suami kakakku, memperlakukan drama sepele Florence seolah-olah itu masalah keamanan neg

da waktu untuk keluar, tidak ada waktu untuk melakukan apa pun selain bersiap menghadapi apa yang tak terelakkan. Chint

putar, dan kemudian segalanya hanyalah simfoni kehancuran-pecahan kaca, erangan baja yang bengkok, dan desahanku sen

k tubuhku, rendah dan dalam. Kram yang

ku terbang ke perutku. Perutku

wajar. Noda gelap menyebar di lengan bajunya, dan tangannya yang i

ugasnya, melesat pergi ke dalam k

ian. Berdar

batin suamiku lebih keras darip

tu yang hangat. Layarnya retak, tapi masih menyala. Aku meneka

sekali.

sudah kubilang aku sedang bersama Florence. Apa

Kian... kecelakaan... kami ditabrak... Chintya terluka, kuras

f berharap mendengar kepanikan, mendengarnya meneriakkan peri

belakang, rengekan menyedihkan dan manipulatif. "K

i. Tarik napas saja." Dia kembali bicara padaku, suaranya sedingin es. "Dengar, jangan drama. Kamu mungkin cuma

asanya seperti pukulan lain. "Kian, mobilnya han

uh. Tidak sepertimu. Urus saja sendiri. Dan janga

telepon

nutup

aku. Daripada kakak iparnya.

bukan sekadar kelalaian. Ini adalah pengabaian yang disengaja.

ap Chintya, yang begitu diam dan sunyi, lalu ke perutku yang kaku di mana denyut panik itu

k yang kucintai dengan segenap jiwa ragaku, s

hintya, melakukan sesuatu, apa saja, tapi tubuhku terasa seperti dipe

an hidupku, aku bersumpah. Jika aku selamat dari ini, Kian

ng anak yang akan hilang dariku. Putra kecilku. Jeritan tanpa s

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bersama Kita Bangkit Dari Abu
Bersama Kita Bangkit Dari Abu
“Aku dan kakakku terdampar di jalanan sepi. Kandunganku sudah delapan bulan, dan ban mobil kami kempes. Tiba-tiba, sepasang lampu truk menyorot tajam, menyilaukan mata kami. Truk itu tidak berusaha menghindar. Truk itu sengaja mengincar kami. Tabrakan itu adalah simfoni kehancuran. Saat rasa sakit yang mengerikan merobek perutku yang hamil, aku menelepon suamiku, Kian. Suaraku tercekat oleh darah dan ketakutan. "Kian... kecelakaan... bayinya... ada yang salah dengan bayinya." Tapi aku tidak mendengar kepanikan. Yang kudengar hanyalah suara saudari tirinya, Florence, yang merengek di latar belakang karena sakit kepala. Lalu terdengar suara Kian, sedingin es. "Jangan drama. Kamu mungkin cuma menyerempet trotoar. Florence lebih membutuhkanku." Dia menutup telepon. Dia memilih Florence daripada aku, daripada kakak iparnya, bahkan daripada calon anaknya sendiri. Aku terbangun di rumah sakit dengan dua kenyataan pahit. Kakakku, seorang pianis terkenal di dunia, tidak akan pernah bisa bermain piano lagi. Dan putra kami, bayi yang kukandung selama delapan bulan, telah tiada. Mereka pikir kami hanyalah korban sampingan dalam kehidupan sempurna mereka. Mereka akan segera tahu, kami adalah pembalasan mereka.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10