icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri

Pembalasan Pamungkas Mantan Istri

icon

Bab 1 

Jumlah Kata:1121    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

ku selama dua puluh tahun, Baskar

stari, adik angkatnya, wanita yang telah menjadi

khirnya, dia memberikan seluruh kerajaan teknologi kami-ha

edinginan di dalam mobil mogok sementara Baskara bergega

ang melawannya, perang yan

sudah menjadi seorang remaja. Aku kembali ke panti asuhan, tepat di hari

ki dengan mata penuh siksaan yang kukenal

ama terkejut

a pucat pasi. "Maafkan aku. Kali ini

erakhir kali dia berjanji akan menyelamatkanku

a

n suamiku, Baskara Aditama

Lestari, adik angkatnya, wanita yang telah menghantui per

afkan aku. Aku tidak bisa melindungimu. Aku meningg

peluru ke kepalanya, dan pikiran terakhirnya adalah tentang wanita lain. Segalanya, kerajaan teknologi k

Bunga. Dialah alasan anak kami mati, ditinggalkan membeku di dalam mobil mogok di jalan terpencil

rang melawannya, perang y

n ini terasa seperti beban fisik, meremukkan udara dari paru-paruku. Lalu, r

ng penuh sesak. Dindingnya berwarna krem yang menyedihkan, catnya mengelupas di sudut-sudut. Jantungku berdebar kencang.

i kepalaku. "Eva, bangun! Ke

g sama ketika keluarga kaya Aditama datang untuk memili

ap yang kukenal dan mata yang penuh siksaan, sedang menatap l

a pucat pasi. "Maafkan aku. Kali ini

bibirku. Terakhir kali dia berjanji akan menyelamat

iket keluarku. Aku telah meneliti mereka selama berminggu-minggu, mempelajari minat mereka, kepribadian mereka, apa yang mereka cari dari seorang anak. Aku te

hampir b

seorang gadis yang ingusan dan tampak m

tuanya, suaranya penuh dengan rasa kasihan sok pahlawan yang salah ka

lakang Baskara dan membisikkan kebohongan tentangku. "E

pelindungku, langsung memercayainya. Dia menatapku dengan kekece

tahun lagi yang menyedihkan di panti asuhan sementara Bunga disa

memenangkan kasih sayang mereka. Aku adalah wanita berusia 40 tahun dalam

mbut, sudah tersenyum padaku. "Halo, sayang. Kamu pasti Eva. D

kata pengurus panti, suaran

, matanya memohon padaku. "Bu, Ya

tuhan putus asa untuk menebus kesala

i, aku ingin

mulut untuk setuju, sebuah tang

t pada gadis lain. Pergelangan kakinya dibalut perban kotor, dan air m

Ibu Aditama bergegas ke s

laki-laki yang lebih besar di sudut. "Mereka mendorongku. Mereka bilang...

ehidupanku yang pertama, aku menggunakan akalku untuk bertahan hidup

bisa melihat konflik di matanya. Secercah keraguan. Dia tahu Bunga mampu melakukan ini

rahku, rasa bersalahnya ber

t pilihan yang salah la

s. "Dia benar. Anak laki-laki di sini sangat k

ati palsu. "Baskara, kamu harus melindunginy

ihan sekali kamu, sayang," katan

ia tidak bisa mengerti mengapa aku menyer

sebuah protes bingung

aat yang sama, suaraku se

il B

ndiri menggema ucapanku, didorong ol

an tela

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
“Hal terakhir yang diberikan suamiku selama dua puluh tahun, Baskara Aditama, adalah surat bunuh diri. Surat itu bukan untukku. Surat itu untuk Bunga Lestari, adik angkatnya, wanita yang telah menjadi hantu yang menghantui pernikahan kami sejak awal. Dia menembakkan peluru ke kepalanya, dan dengan napas terakhirnya, dia memberikan seluruh kerajaan teknologi kami-hasil kerja kerasku seumur hidup-kepada Bunga dan keluarganya. Selalu saja dia. Dialah alasan anak kami mati, membeku kedinginan di dalam mobil mogok sementara Baskara bergegas menolongnya karena Bunga menciptakan krisis palsu lagi. Seluruh hidupku adalah perang melawannya, perang yang sudah telak aku kalahkan. Aku memejamkan mata, lelah luar biasa, dan ketika aku membukanya lagi, aku sudah menjadi seorang remaja. Aku kembali ke panti asuhan, tepat di hari ketika keluarga kaya Aditama datang untuk memilih seorang anak untuk diasuh. Di seberang ruangan, seorang anak laki-laki dengan mata penuh siksaan yang kukenali sedang menatap lurus ke arahku. Baskara. Dia tampak sama terkejutnya denganku. "Eva," bisiknya tanpa suara, wajahnya pucat pasi. "Maafkan aku. Kali ini aku akan menyelamatkanmu. Aku janji." Sebuah tawa getir nyaris lolos dari bibirku. Terakhir kali dia berjanji akan menyelamatkanku, putra kami berakhir di dalam peti mati kecil.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10