icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pembalasan Pamungkas Mantan Istri

Bab 2 

Jumlah Kata:685    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

bingungan dan pengkhianatan saat orang tuan

nginya dan b

sekilas dari balik bahunya. Tatapan itu penuh racun murni, sebuah janji diam akan masalah di masa depan. It

ang, terperangkap di ambang

nya sudah dilupakan. Dia melihat kilatan kebencian di mata Bunga. Dia pasti merasakan rasa ngeri yang dingin merayap ke d

ah permohonan bantuan yang putus as

. Aku hanya berbalik dan kembali masuk ke d

gilnya, sua

dak be

, suaranya lebih rendah sekarang, penuh dengan r

ya menggantung di udara, sebuah rahasia yang mengikat k

n pergi tan

... dia sudah melalui banyak hal. Dia tidak bermaksud begitu." Alasan-alasan lama ya

i dia mengatakan itu, butuh dua puluh tahun baginya untuk k

embiarkan diriku tersenyum kecil dan dingin.

ng dari jalan. Porsi makanku saat makan malam menyusut. Aku diberi tugas te

idak. Bunga mungkin sedang "mimpi buruk" atau "merasa kedinginan," dan dia ter

an menyelamatka

kehidupanku yang pertama, butuh bertahun-tahun sampa

besarnya, penuh dengan pembukuan yang dimanipulasi, dan simpanan uang tunai tersembunyi di sebuah ventilasi. Aku men

kehidupanku yang lalu, seorang wartawan muda yang haus

am lenganku dan memelintirnya sampai aku mendengar suara retakan yang memuakkan. Rasa sakitnya membakar

nda. Saat mereka menyeret Ibu Ratna yang berteriak-teriak keluar dengan tang

ah satu dari mereka. "Kau

i anak yatim untuk mendapatkan lebih banyak dana, dan mereka menjalani kehidupan istim

ku melindungi kepalaku dengan lenganku

kekar bernama Marco, mengambil sebuah ba

mene

h menabraknya dengan ke

Bask

ku dengan tubuhnya saat batu itu

h. Dia hanya menoleh padaku, tatapan liar dan penuh kemenangan di matanya yang be

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
“Hal terakhir yang diberikan suamiku selama dua puluh tahun, Baskara Aditama, adalah surat bunuh diri. Surat itu bukan untukku. Surat itu untuk Bunga Lestari, adik angkatnya, wanita yang telah menjadi hantu yang menghantui pernikahan kami sejak awal. Dia menembakkan peluru ke kepalanya, dan dengan napas terakhirnya, dia memberikan seluruh kerajaan teknologi kami-hasil kerja kerasku seumur hidup-kepada Bunga dan keluarganya. Selalu saja dia. Dialah alasan anak kami mati, membeku kedinginan di dalam mobil mogok sementara Baskara bergegas menolongnya karena Bunga menciptakan krisis palsu lagi. Seluruh hidupku adalah perang melawannya, perang yang sudah telak aku kalahkan. Aku memejamkan mata, lelah luar biasa, dan ketika aku membukanya lagi, aku sudah menjadi seorang remaja. Aku kembali ke panti asuhan, tepat di hari ketika keluarga kaya Aditama datang untuk memilih seorang anak untuk diasuh. Di seberang ruangan, seorang anak laki-laki dengan mata penuh siksaan yang kukenali sedang menatap lurus ke arahku. Baskara. Dia tampak sama terkejutnya denganku. "Eva," bisiknya tanpa suara, wajahnya pucat pasi. "Maafkan aku. Kali ini aku akan menyelamatkanmu. Aku janji." Sebuah tawa getir nyaris lolos dari bibirku. Terakhir kali dia berjanji akan menyelamatkanku, putra kami berakhir di dalam peti mati kecil.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10