icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pembalasan Pamungkas Mantan Istri

Bab 3 

Jumlah Kata:618    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

t aku melihat darah mengalir di wajah Baskara. Dia terhuyung-huyung, tetap

nnya di pipinya. "Aku sampai di sini," katanya, dengan

tiran itu mati, digantikan oleh r

longsoran kenangan

tu sakit, tangisannya semakin lemah di kursi belakang. Aku sedang men

Eva. Bunga bilang ada pria yang mengikutinya.

. Putra kami meninggal dalam pelukanku satu jam ke

yelamatkanku. Dia kehilangan kedua kakinya. Rasa bersalah karena itu telah mengikatku padanya. Dia menggunakan kursi rodanya seperti singgasana kemartiran, sebuah tuduhan diam ya

arah karena luka dangkal, meng

njijikkan hingga memb

teriakan lain meme

orongku ke samping, membuatku tersandung dan jatuh. Lenganku yang pat

a, menamparku dengan keras. Lalu lagi.

i perhatian yang lembut saat dia dengan hati-hati

askara, matanya tertuju pa

tetes air mata mengalir di pip

ku tahu," bujuknya, menarik Bunga ke dalam p

diriku untuk bangkit, mengabaikan denyutan di lenganku, dan bersiap untuk

penuh kemenangan. Dia memegang lengan Baskara seperti sebua

epan Bunga. Itu adalah gerakan kecil yang tidak disadari, tetapi itu berbicara banyak. Setelah se

ku menatap mata

," kataku, suaraku datar. "Dan

g. "Apa yang kau bi

nvestor kunci yang akan diajak kerja sama oleh ayahnya, sebuah kesepakatan yang, dalam kehidupan pertama kami, telah membuat Aditama Group bangkrut. Dan angka

ku yang pertama untuk digali demi mencoba menyelamatkan perusahaan kami, in

" bisiknya, su

ih untuk batu di kepalamu," kataku din

n hanya tentang perusahaan. Dia akhirnya, benar-benar mengerti. Bukan ka

ya ingi

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
“Hal terakhir yang diberikan suamiku selama dua puluh tahun, Baskara Aditama, adalah surat bunuh diri. Surat itu bukan untukku. Surat itu untuk Bunga Lestari, adik angkatnya, wanita yang telah menjadi hantu yang menghantui pernikahan kami sejak awal. Dia menembakkan peluru ke kepalanya, dan dengan napas terakhirnya, dia memberikan seluruh kerajaan teknologi kami-hasil kerja kerasku seumur hidup-kepada Bunga dan keluarganya. Selalu saja dia. Dialah alasan anak kami mati, membeku kedinginan di dalam mobil mogok sementara Baskara bergegas menolongnya karena Bunga menciptakan krisis palsu lagi. Seluruh hidupku adalah perang melawannya, perang yang sudah telak aku kalahkan. Aku memejamkan mata, lelah luar biasa, dan ketika aku membukanya lagi, aku sudah menjadi seorang remaja. Aku kembali ke panti asuhan, tepat di hari ketika keluarga kaya Aditama datang untuk memilih seorang anak untuk diasuh. Di seberang ruangan, seorang anak laki-laki dengan mata penuh siksaan yang kukenali sedang menatap lurus ke arahku. Baskara. Dia tampak sama terkejutnya denganku. "Eva," bisiknya tanpa suara, wajahnya pucat pasi. "Maafkan aku. Kali ini aku akan menyelamatkanmu. Aku janji." Sebuah tawa getir nyaris lolos dari bibirku. Terakhir kali dia berjanji akan menyelamatkanku, putra kami berakhir di dalam peti mati kecil.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10