icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
The Trill of Romance

The Trill of Romance

icon
Bab 1
PROLOG
Jumlah Kata:1044    |    Dirilis Pada:20/11/2021

Tepat pukul dua belas siang, Ayu Soraya sudah duduk dengan tenang di halte bus yang letaknya sekitar lima ratus meter dari gerbang kampus. Ayu baru saja melihat situasi kampus yang ingin dirinya pilih, tentu saja jika melihat melalui internet saja rasa-rasanya kurang puas. Ayu sejatinya sempat ragu untuk mengambil kuliah di sini, karena sama saja dirinya akan terpisah dengan ibunya yang sering sakit-sakitan dan ia juga harus ngekos demi menghemat pengeluarannya nantinya.

“Evan nggak antar kamu, Yu?” tanya Ika salah satu temannya sekampung.

Ayu memalingkan wajah menatap Ika yang sedang menikmati es teh manis. “Dia udah mulai kerja katanya,” jawab Ayu seraya tersenyum tipis.

Ika mengerutkan dahinya, ia merasa janggal dengan pernyataan Ayu karena kemarin lusa ia sempat melihat Evan menggandeng tangan seorang wanita memasuki gerbang kampus swasta ternama di kota itu.

“Kamu yakin?” tanya Ika lagi memastikan.

“Yakinlah dia sendiri yang bilang tadi pagi,” kata Ayu bersamaan dengan bus yang mereka tunggu telah tiba. Mereka berdua bergegas menaiki bus dan kembali ke kampung.

“Ika kamu tahu nggak, Bapak hari ini pulang lho. Akhirnya setelah dua bulan tugas luar pulau terus,” kata Ayu setelah keduanya mendapatkan tempat duduk di bangku tengah.

“Wah, Ibu pasti senang ya? Semoga aja kali ini, Bapakmu nggak tugas keluar lagi. Siapa tahu dengan begitu Ibu segera bisa cepat sembuh ya, Yu,” timpal Ika. Ika tentu bahagia teman sekolah dan teman mainnya ini bisa kembali berkumpul dengan sang ayah, selama ini Ayu sudah banyak melewatkan masa remajanya dengan mengabdikan dirinya untuk mengurusi sang bunda.

“Amin …,” ucap mereka bersamaan.

“Ayu, jam berapa sampai rumah, Nak? Bapak sudah sampai baru saja.” Begitu pesan yang berasal dari Damar Prawira, ayah Ayu.

“Ayu sudah di atas bus, Pak. Sekitar tiga puluh menit lagi Ayu pasti sudah sampai.” Itu balasan pesan dari Ayu.

Hatinya semakin bahagia sudah mengetahui jika sang ayah sudah berada di rumah, kendati sang pacar sejak mereka lulus seperti menjaga jarak. Ayu tentu menyadari hal itu tetapi ia selalu berusaha untuk berpikir positif dan tidak menaruh curiga. Evan, pacarnya itu setiap pagi masih menghubunginya saja buat Ayu sudah sangat bersyukur karenanya. Ayu juga belum berpikir untuk terlalu serius dalam berlanjut ke jenjang berikutnya karena ia ingin menjadi orang yang berhasil dan bisa membanggakan kedua orangtuanya, terlebih jika dirinya bisa bekerja di luar negeri seperti yang dilakukan oleh saudara sepupunya Dion.

Ayu membuka pintu pagar rendah rumahnya dan bergegas melangkah riang ke pintu depan yang sedikit terbuka. Sayup-sayup terdengar tawa riang sang bunda yang rasanya sudah lama sekali tidak Ayu dengar, senyum gadis itu semakin mengembang karenanya.

“Selamat siang, spada!” sapa Ayu dengan ceria yang kemudian dibalas oleh kedua orangtuanya.

Ayu sendiri langsung berhambur memeluk leher sang ayah, Damar membalas pelukan sang anak semata wayangnya itu. Keduanya saling menyalurkan rasa rindu yang membuncah, wajar saja sudah dua purnama mereka tak bersua.

“Ayu kangen banget sama Bapak. Bapak jangan pergi ke luar pulau lagi ya, Pak?” pinta Ayu.

Masih di dalam pelukan anak perempuannya, Damar menjawab, “Sepertinya kali ini Bapak tidak akan pergi kemana-mana lagi. Bapak cuma ingin agar Ayu bisa menjadi anak yang selalu bisa mandiri dan baik ya Nak.” Kata-kata yang diucapkan oleh Damar memang biasa saja tetapi untuk Ayu terasa berbeda, dadanya berdesir dengan rasa yang membuatnya gundah. Ayu merenggangkan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah sang ayah yang memang tampak sedikit pucat di kulit paruh bayanya yang berwarna gelap karena seringnya terpapar sinar surya.

Ayu menangkup kedua sisi wajah sang ayah dan bertanya, “Bapak sakit?”

Damar tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala sang putri. “Nggak sakit Sayang, Bapak ini capek aja,” jawab Damar menyakinkan sang putri.

“Sungguh Pak, yakin nih?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayu terasa seperti ini menyakinkan dirinya sendiri jika sang ayah baik-baik saja dari pada melontarkan pertanyaan.

“Iya Bapak baik saja kok, Ayu. Buktinya bapak bisa gendong Ibu dari lantai dua,” timpal Ani.

Ayu melirik meja di depannya yang masih kosong tidak ada cangkir kesayangan sang ayah, ia pun kemudian benar-benar melerai pelukan sang ayah dan beringsut ke dapur. “Ya udah kalau gitu. Ayu siapkan makan siang dan teh hangat untuk Bapak ya.”

Perasaan tidak enak masih saja berkecamuk di hatinya, ia susah payah menepis hal itu tetapi rasanya kegelisahan itu tak jua pergi dari benaknya. Bahkan sampai mereka selesai makan siang dan kedua orangtuanya beristirahat di dalam kamar. Ayu menyibukkan dirinya dengan membersihkan rumah dan merawat taman mungil milik sang bunda hingga malam menjelang.

Ting … ting … ting ….

Ayu bergegas membuka pintu rumahnya saat terdengar suara pedagang bakso langganannya melintas. “Ayu beli bakso dulu ya Pak,” pamit Ayu.

Damar yang duduk di kursi ruang tamu dengan di temani sang istri hanya mengangguk dan kembali berkonsentrasi pada laptop yang ia pegang. Ia merasakan kejanggalan dengan isi laporan dari temannya di kantor.

Ayu baru saja hendak menyeberang ke rumahnya, saat dua mobil Polisi berhenti tepat di depan rumah itu. “Siapa itu Neng, tumpen ada pak Polisi?” tanya Jupri, pedagang bakso itu.

“Nggak tahu Pak, kok berhenti di rumah Ayu ya? Ayu tinggal ya Pak,” ujar Ayu seraya berlalu.

Perasaan Ayu semakin tak menentu, perutnya sakit terasa teremas-remas. Rasa resah yang sejak siang ia rasakan semakin menjadi saat ini.

“Maaf, Bapak-bapak ini mencari siapa ya?” tanya Ayu dengan ramah, tetapi jangan ditanya detak jantungnya seolah saling berlomba melompat keluar rongga dadanya.

“Betul ini rumah Bapak Damar Prawira?” tanya salah satu anggota polisi yang memakai atribut lengkap kepolisian dan berdiri paling dekat dengan Ayu.

Ayu mengangguk. “Betul Pak, itu Bapak saya ada di dalam. Mari Pak,” jawab Ayu.

Belum juga Ayu sampai di teras sang ayah Damar sudah berjalan ke luar menatap keheranan pada para petugas kepolisian.

“Ada keperluan apa Bapak-bapak ini mencari saya ya?” tanya Damar dengan hati gusar. Ia mencium sesuatu yang tidak beres dan hal itu membuat rasa nyeri pada dada kirinya, yang ia rasakan sejak tadi pagi semakin menjadi.

Salah satu anggota kepolisian menyerahkan sepucuk surat penangkapan terhadapnya dengan tuduhan penggelapan uang perusahaan. Para polisi yang bahkan belum ada satupun yang angkat bicara sudah dikejutkan dengan tumbangnya Damar dengan wajahnya yang pucat pasi dan matanya yang melotot.

Bahkan Ayu yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari sang ayah melemparkan bungkus baksonya begitu saja dan segera memeluk sang ayah yang tangannya begitu erat mencengkeram kaos bagian dadanya.

“Bapak kenapa? Pak bangun …. Ayu sayang Bapak, Pak!” Ayu menangis histeris seraya memeluk tubuh sang ayah.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka