icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Dimadu Saat Koma

Dimadu Saat Koma

Penulis: Reina Putri
icon

Bab 1 Satu Tahun Koma

Jumlah Kata:994    |    Dirilis Pada: 07/04/2024

amu bangun juga," ucap Mas Adnan

ut haru sekaligus bahagia tergambar jelas di wajah teduhnya. Air matanya perlahan meleleh dipipinya, pria yang t

sebelah tanganku dipipi nya. Aku hanya tersenyum seraya m

n seraya membalas

um, makan? Atau ada yang sakit? Biar ma

um, kurasa sikapnya begitu berlebihan. Tapi aku b

nak kita?

selama dua tahun lamanya akhirnya terlahir ke dunia. Meski tak bisa melahirkan secara normal, tapi

u dulu, ya! Mas panggilkan dokter sebenta

elihatnya, m

a! Mas panggil dokter

ri. Sejenak, ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, hingga akhirnya ia berlalu setelah aku bala

-laki dan satu perempuan. Mereka langsung menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama pemeriksaan, kedua perawat terse

decak sang dokter usa

u seraya memicing

semuanya terlihat normal," sahut

al yang buruk padaku?" tanyaku sedikit sinis hingga mem

rsadar dari koma yang mbak alami selama satu

hampir tak percaya, namu

sca operasi hingga membuat mb

a, jadi tidak mungkin aku koma

ebut ini suatu ke

lama itu membuatku teringat pada banyak hal. Bag

ik, mungkin mbak bisa segera pulang," ucap dokter tersebut setelah k

menjabat tangannya. Sedangkan aku hanya melirik si

elama itu?" tanyaku setela

a terlihat berbeda, entah apa yang dia pikirkan yang je

mpingmu. Berharap, kamu terbangun karena suara tangisnya," tanya Mas Adnan deng

hingga Mas Adnan me

ita tentang kesepianku karena tak adanya kamu," je

ah pria yang setia, namun aku juga mengerti, kalau dia adalah pria normal yang pastinya membutuhkan sosok wanita dal

Mas Adnan membuyark

fotoku yang nampak dalam kondisi yang amat buruk. Bermacam alat t

ba wajahku seraya

jahku seperti it

kalau kamu sedang kritis hingga akhirnya kamu dinyatakan koma," jelasnya membuatku sedikit kag

dengan perasaan cemas. Aku taku

selnya, hingga terlihat bayi

ponsel Mas Adnan dengan ta

esar, mas?" tanyaku deng

seraya kembali mengusap layar ponselnya hingga t

a, sangat mirip denganmu," uc

rtinya aku sudah melewatkan banyak waktu. Padahal, aku sangat ingin meraw

Apa ada yang sakit?" tanya

ah melewatkan banyak waktu, aku tidak bisa

dan menyaksikan pertumbuhannya, kamu jangan sedih. Besok mas akan a

gat ingin bertemu denga

Mas Adnan lalu menge

uatku sangat takut," ucapku se

Mas Adnan seraya me

itu terkejut saat tau kalau aku sudah koma selama satu tahun," tutur

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimadu Saat Koma
Dimadu Saat Koma
“Tersadar dari koma pasca melahirkan anak pertamanya, Inara bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ditambah lagi dengan kejanggalan-kejanggalan yang ia temukan pada suami dan juga anaknya yang sama sekali tak respek padanya membuat ia sangat sedih. Hingga suatu hari Inara harus menerima kenyataan bahwa suaminya ternyata sudah menikah lagi. Hal itu membuat hubungan mereka tak seharmonis dulu. Dokter Feri -mantan kekasih Inara- sekaligus dokter yang menangani operasi Inara, kembali mendekati Inara untuk menjadi teman curhatnya hingga membuat wanita itu malah terjebak dalam rasa nyaman dengan sang kekasih dari pada suami. Pengkhianatan suaminya pun ia balas dengan hubungan gelapnya dengan sang mantan. Namun, apakah hal itu membuat masalahnya selesai? Atau justru Inara memilih untuk mengakhiri pernikahannya karena tidak terima dimadu? Lalu, siapakah yang pantas disalahkan atas semua yang terjadi?”
1 Bab 1 Satu Tahun Koma 2 Bab 2 Hanya Mimpi3 Bab 3 Aku Mendengarnya 4 Bab 4 Mantan Pacar5 Bab 5 Bertemu Dara dan Pengasuhnya6 Bab 6 Ibu Mertua 7 Bab 7 Kepergok8 Bab 8 Hanya Prank 9 Bab 9 Hati yang Retak10 Bab 10 Kepergok Bercinta11 Bab 11 Madu Pahit12 Bab 12 Minta Cerai13 Bab 13 Terpaksa Menerima14 Bab 14 Sampai Kapanpun Dia Anakku!15 Bab 15 Berbagi Hari16 Bab 16 Mantan Jadi Teman17 Bab 17 Hati yang Labil18 Bab 18 Dokter Cinta19 Bab 19 Apakah Cintamu Sudah Terbagi 20 Bab 20 Omongan Tetangga