/0/24872/coverorgin.jpg?v=032e324468bb6285672c751841582adb&imageMogr2/format/webp)
Entah bagaimana mulanya, lelaki berambut sebahu itu bisa mengambil hati Intan. Tak dipungkiri, lelaki itu memang pintar. Rasa bersalah yang mengungkung Intan akhir-akhir ini dilenyapkannya dengan mudah. Bahkan ia tak canggung lagi mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari suaminya yang bejat itu.
‘Ayolah, lupakan suamimu!’
‘Untuk apa mengharapkan yang jauh kalau ada yang dekat?’
‘Berhenti mengharap sesuatu yang belum tentu! Sekarang saatnya melirik kepastian.’
Kalimat-kalimat Dodi terus memengaruhi pikiran Intan. Hingga lama-lama mereka jalin pertemanan dan tak canggung bertukar cerita. Intan pun bisa mengalihkan pikirannya.
Kedekatan yang tak lagi biasa membuat Intan berani mengajak Dodi ke rumah untuk dikenalkan pada Bapak dan Ibu. Dengan mobil yang dibawa Dodi, orang tuanya pasti senang. Setidaknya pilihan anak perempuannya kali ini benar dan tidak mengecewakan. Toh, mereka sendiri yang mengajarkan Intan untuk mencari lelaki kaya agar bisa memenuhi segala kebutuhan. Agar hidupnya tak perlu susah layaknya orang miskin.
Rupanya benar. Orang tua Intan menyambut baik. Tentu saja sebab Dodi adalah pengusaha sepatu yang memiliki cabang di beberapa kota. Muda. Kaya. Dua hal yang selama ini diharapkan Bapak dan Ibu.
***
“Segera urus perceraianmu!” Ibu berkata ketika Intan baru saja pulang main. Hari itu Sabtu sore menjelang malam.
Ibu tahu Intan diantar Dodi meskipun lelaki itu tidak mampir. Baru saja suara mobil berlalu. Sudah menjadi rahasia umum penduduk sini tidak punya mobil. Boro-boro mobil, motor saja baru hitungan jari.
“Kasihan Dodi. Jangan dibiarkan menunggu terlalu lama. Laki-laki tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka butuh kepastian. Kalau dibiarkan tanpa harapan, mereka akan berpikir dua kali,” ucap Ibu.
Intan tidak menjawab. Dia hanya melabuhkan badannya ke sofa.
“Ibu lihat Dodi itu lelaki baik. Kamu beruntung mendapatkannya. Di luar sana mungkin banyak perempuan antre ingin menikahinya.”
Intan lagi-lagi membiarkan Ibunya mencerocos. Malah hingga ibunya bosan dan Intan masuk kamar.
Tanpa pikir panjang lagi Intan langsung berbaring. Menatap langit-langit yang berwarna putih. Diam-diam hatinya menyuarakan kejujuran bahwa ia memang masih mencintai Iman dan berharap lelaki itu kembali.
[Selamat istirahat, cantik. Semoga mimpi indah.]
Dodi mengirim pesan itu beberapa menit kemudian. Intan membacanya meski tak antusias membalas. Intan tengah dirundung bimbang. Benarkah ini jalannya? Benarkah hadirnya orang baru bisa melupakan masa lalu? Benarkah rasa senangnya selama dengan lelaki baru ini? Atau Dodi hanya pelampiasan?
[Jangan lupa mimpiin aku. Aku sayang kamu.]
Diiringi emoticon senyum dan love, untuk kali kedua Intan hanya membaca.
Intan lalu membenarkan posisinya menjadi berbaring ke sisi kiri. Pandangannya tanpa sengaja melihat poto pernikahan. Senyum merekah sepasang pengantin itu jelas terlihat. Cantik dan anggun. Gaun hijau pas dengan warna kulit mereka.
Masih jelas dalam ingatan kebahagiaan itu. Intan yang dalam hati tak henti bersyukur karena penantiannya selama ini terwujud. Ia menjadi istri Iman. Lelaki yang selama ini ia cintai dalam diam.
Sayangnya euforia kebahagiaan itu kini memudar. Faktanya Intan malah memilih lelaki lain sekadar untuk melampiaskan kesepiannya. Dengan kesadaran penuh Intan mengakui dosa ini. Seharusnya memang tak boleh. Bagaimana pun, di mata hukum Intan masih sah istri Iman.
***
/0/6686/coverorgin.jpg?v=8f57c8487015cd2c6ba77b57592e0dbc&imageMogr2/format/webp)
/0/12072/coverorgin.jpg?v=4eab18104d90369d4fb0372bd91d7015&imageMogr2/format/webp)
/0/7117/coverorgin.jpg?v=0488c2f07bd899e58e09bfd23532f27d&imageMogr2/format/webp)
/0/12689/coverorgin.jpg?v=5f18ad5d904360b470f1120a07894116&imageMogr2/format/webp)
/0/21036/coverorgin.jpg?v=59d063bb8c8dcdf0fd1287fee0456278&imageMogr2/format/webp)
/0/8546/coverorgin.jpg?v=fbf9b0193808dfbf370ab42642e71e9f&imageMogr2/format/webp)
/0/17676/coverorgin.jpg?v=c838b304dcffa7016fddab1360bd3c1c&imageMogr2/format/webp)
/0/16738/coverorgin.jpg?v=78834ef12abc12ccf44e059c7fbc7d75&imageMogr2/format/webp)
/0/21474/coverorgin.jpg?v=20250114182853&imageMogr2/format/webp)
/0/21957/coverorgin.jpg?v=3e56ea6f879112f4c5d47416cdcddd68&imageMogr2/format/webp)
/0/18008/coverorgin.jpg?v=c117440b6886cefdb6e9950c4468fbbf&imageMogr2/format/webp)
/0/6794/coverorgin.jpg?v=fb3ce2b048de258e8219a58d91966140&imageMogr2/format/webp)
/0/10520/coverorgin.jpg?v=8362ba6365a8e12a64ad0ca121db53d4&imageMogr2/format/webp)
/0/15464/coverorgin.jpg?v=20250123120822&imageMogr2/format/webp)
/0/13960/coverorgin.jpg?v=993c2468b64bb5debbf8651bdb4dc393&imageMogr2/format/webp)
/0/17646/coverorgin.jpg?v=4693eb1f308e7c9df243c456c2e24735&imageMogr2/format/webp)
/0/8094/coverorgin.jpg?v=66e57ae9fa36a1754fd96f0abedfde6d&imageMogr2/format/webp)
/0/13634/coverorgin.jpg?v=0dc0548ead96d92736c8b70bde21c855&imageMogr2/format/webp)