/0/26438/coverorgin.jpg?v=a62374ef56376f88395da900a2247285&imageMogr2/format/webp)
Lia Adelia benci dengan Minggu sore. Dulu, hari Minggu sore adalah aroma martabak manis keju susu yang dibawa almarhum suaminya, Doni, dan suara tawa dua anak lelakinya yang berebut remote TV. Sekarang? Hari Minggu sore cuma sisa bau debu, keheningan yang menyesakkan, dan tumpukan tagihan yang bikin mata Lia perih.
Udah tiga bulan Doni pergi. Tiga bulan yang terasa seperti tiga puluh tahun neraka. Doni meninggal karena serangan jantung mendadak, pas lagi main bola sama anak-anak di taman. Cepat banget. Nggak ada sakit, nggak ada firasat, tahu-tahu aja Doni ambruk. Dan, seperti semua hal baik di hidup Lia yang mendadak hilang, ternyata kepergian Doni nggak cuma menyisakan kesedihan. Tapi juga bom waktu keuangan.
"Mama? Kenapa Papa nggak pulang-pulang, Ma? Sekolah bilang liburan semester cuma dua minggu," tanya Arka, si sulung yang baru masuk kelas dua SD. Pertanyaan polos itu selalu berhasil merobek hati Lia.
Lia cuma bisa tersenyum miring sambil memeluk Arka, "Papa lagi kerja keras, Nak. Di tempat yang jauh. Tempatnya bagus banget, banyak bintang." Lia membohongi anaknya, membohongi diri sendiri. Doni lagi di tempat yang jauh, iya. Tapi nggak akan pernah pulang.
Doni memang suami yang sempurna. Dia effortless banget dalam mencintai Lia, dari Lia yang dulu ramping sampai sekarang badannya jauh lebih berisi-atau gampangnya, gendut-setelah melahirkan dua anak. Doni nggak pernah protes. Doni malah sering bilang, "Aku suka, Yang. Kayak bantal, empuk!"
Cuma Doni yang bisa bikin Lia pede dengan badannya. Dan cuma Doni yang tahu kalau semua aset yang mereka miliki selama ini, rumah yang mereka tempati, mobil, bahkan asuransi jiwa Doni, itu semua atas nama mertuanya, Mama Ratna.
Doni terlalu baik dan terlalu percaya.
Lia menghela napas panjang. Udah seminggu ini dia resmi nggak lagi tinggal di rumah itu. Ya, lo denger sendiri: diusir.
Tepat sebulan setelah Doni meninggal, Mama Ratna datang dengan wajah dingin dan membawa berkas-berkas pengacara. Mereka menyangka Lia adalah wanita matre yang cuma mengincar harta anak mereka. Gila. Padahal Lia dan Doni merintis semuanya dari nol, tapi karena Doni terlalu polos dan terlalu mencintai ibunya, semua kepemilikan dipegang Mama Ratna.
"Kamu pikir gampang ya, Lia, mengurus dua cucu dan menjamin masa depan mereka? Sekarang Doni sudah nggak ada. Sebaiknya kamu kembali ke rumah orang tuamu. Rumah ini akan kami jual untuk biaya sekolah mereka," ujar Mama Ratna waktu itu. Nadanya datar, tapi dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Lia nggak melawan. Dia nggak punya energi untuk itu. Dia sadar, statusnya cuma menantu tanpa kuasa hukum apa-apa. Dua anaknya, Arka dan si bungsu Bima, memang dijamin biaya sekolahnya, tapi Lia harus pergi. Harus angkat kaki dari kenangan Doni.
Sekarang, Lia dan anak-anaknya tinggal di kontrakan kecil di pinggiran kota. Kamar yang cuma muat satu kasur, dapur mungil, dan kamar mandi yang selalu mampet. Jauh banget dari rumah mewah mereka yang dulu punya kolam renang mini.
Dan di sinilah tragedi Lia Adelia yang sesungguhnya dimulai: kebutuhan uang.
Uang sewa kontrakan, biaya makan sehari-hari, susu Bima, pulsa internet buat Arka belajar online. Semuanya mendadak jadi beban gunung yang menindih punggung Lia. Dia nggak punya skill spesial, cuma lulusan SMA yang langsung nikah dan jadi ibu rumah tangga. Tugasnya selama ini cuma masak, ngurus anak, dan memastikan Doni bahagia.
"Aku harus kerja. Harus," gumam Lia pada bayangannya sendiri di cermin buram.
Montase Pahit Pencarian Kerja
Minggu pertama pencarian kerja adalah mimpi buruk yang berulang-ulang.
Lia mencoba melamar ke sebuah butik sebagai Sales Assistant. Dia berdandan rapi, memakai kemeja yang masih muat (susah banget nyari ukuran XL yang nggak kelihatan kayak karung), dan sepatu pantofel yang bikin kakinya lecet.
"Terima kasih sudah datang, Mbak Lia. Kami sangat menghargai pengalamanmu sebagai ibu rumah tangga," ujar HRD butik, seorang perempuan muda yang terlihat stylish dan kurus, senyumnya seolah mengejek. "Tapi, mohon maaf, untuk posisi Sales Assistant kami butuh body goals yang bisa merepresentasikan produk kami. Kami juga butuh yang belum menikah, supaya fokusnya penuh."
Lia menahan air matanya. Body goals? Doni nggak pernah peduli. Kenapa dunia ini sekejam ini?
Lia coba lagi. Kali ini melamar di sebuah kantor properti sebagai Admin Gudang. Kedengarannya gampang, kan? Cuma urus berkas dan stok kunci.
Wawancara kedua, dengan seorang Bapak-bapak berkumis lebat.
"Jadi janda ya, Bu?" tanyanya tanpa basa-basi, mata genitnya menyapu tubuh Lia dari atas ke bawah. Lia menggenggam tangannya erat-erat, menahan amarah.
"Iya, Pak. Tapi saya jamin, saya profesional. Saya bisa kerja keras."
Bapak itu tertawa kecil, suara tawanya bikin Lia merinding. "Kerja keras sih kerja keras, Bu. Tapi kalau janda, suka banyak godaan. Apalagi... hmmm... Ibu kan masih muda dan... sehat."
Lia berdiri, mengambil tasnya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia keluar. Nggak sudi diperlakukan serendah itu. Dia bukan barang, dan status janda bukan label dosa.
Dia terus mencoba. Administrasi, kasir supermarket, bahkan pernah coba daftar jadi driver ojek online, tapi motornya disita karena nggak mampu bayar cicilan yang udah nunggak.
Setiap penolakan adalah pukulan di ulu hati. Setiap tatapan merendahkan seolah menggarisbawahi kegagalan Lia: dia gendut, dia janda, dia nggak punya ijazah sarjana. Dia adalah sampah yang dibuang dari kehidupan sempurna.
Dia sempat berpikir untuk menyerah. Dia memandang wajah pulas Arka dan Bima yang tidur di kasur sempit mereka, dan rasa putus asa itu lenyap seketika.
"Aku nggak boleh menyerah. Doni, bantu aku," bisik Lia lirih, air mata jatuh membasahi pipinya.
Panggilan Telepon yang Janggal
Puncaknya adalah saat uang di dompet Lia cuma sisa seratus ribu, dan persediaan beras di dapur tinggal buat dua kali masak. Lia sudah mengirimkan hampir lima puluh lamaran, dari yang formal sampai yang absurd. Semuanya nihil.
Tepat jam sebelas siang di hari Selasa yang terik, ponsel butut Lia berdering. Nomor nggak dikenal.
"Halo?" suara Lia serak karena hampir seharian dia nangis diam-diam.
"Selamat siang, saya Dinda dari HRD Bank Arta Utama. Dengan Ibu Lia Adelia?" Suara perempuan di seberang sana terdengar formal, tapi agak buru-buru.
Lia mengerutkan dahi. Bank Arta Utama? Dia ingat, dia pernah asal kirim lamaran ke sana. Posisi Office Girl, cuma iseng-iseng. Nggak mungkin kan dia dipanggil? Itu bank swasta elite, gedung kacanya aja kayak menara di film Hollywood.
"Iya, saya Lia. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
"Begini, Bu. Kami sudah mempelajari berkas Ibu, dan kami tertarik untuk menawarkan Ibu wawancara besok pagi jam sembilan. Untuk posisi... Asisten Direktur."
KLIK.
Lia yakin telinganya kotor. Asisten Direktur? Lia? Yang ijazahnya cuma SMA, nggak bisa excel selain buat bikin daftar belanjaan, dan badannya melar? Ini pasti salah sambung.
"Mbak, maaf. Sepertinya ada kesalahan. Saya melamar sebagai Office Girl," potong Lia, berusaha sopan.
Dinda di ujung sana malah terdengar kesal. "Tidak ada kesalahan, Bu. Kami mendapat instruksi langsung dari Direktur Utama untuk memanggil Ibu. Besok jam sembilan pagi. Berpakaian profesional. Jangan terlambat."
Sambungan terputus. Lia menatap ponselnya, tangannya gemetar. Ini jebakan? Atau cuma lelucon kejam dari semesta?
Tapi Lia nggak punya pilihan. Seratus ribu di dompet, dan dua anak kelaparan di rumah. Apapun risikonya, besok dia harus datang. Setidaknya, dia akan tahu apa maksud semua ini.
Jubah Tempur dan Rasa Insecure
Pagi itu, Lia menghabiskan waktu dua jam di depan cermin. Dia cuma punya satu setel baju formal yang lumayan layak: blazer hitam kebesaran dan rok span selutut yang terasa mencekik. Sepatu pantofel yang kemarin bikin lecet, dia paksakan lagi.
Dia terlihat... profesional, dalam batas kemampuannya. Tapi rasa insecure itu lebih tebal dari lapisan bedak yang dia pakai.
Dia memandang tubuhnya, yang terasa makin besar di tengah pakaian ketat itu. Dia teringat ucapan HRD butik soal body goals. Rasanya pengen nangis lagi, tapi Lia harus kuat. Dia mencium kening Arka dan Bima, menitipkan mereka pada tetangga sebelah yang baik hati, Bu Tati.
/0/29899/coverorgin.jpg?v=a904baf3345ab8abba0fa664fa2ec7bc&imageMogr2/format/webp)
/0/12390/coverorgin.jpg?v=dea0a04ade6a2b1d4f91b7c52b51a253&imageMogr2/format/webp)
/0/14447/coverorgin.jpg?v=05af3d30aea5c3a050a6440174e89965&imageMogr2/format/webp)
/0/10859/coverorgin.jpg?v=e0b93617e7396282cd4e5bbe5748ee46&imageMogr2/format/webp)
/0/13464/coverorgin.jpg?v=7e58b187b12a28153a66d7d886638bb0&imageMogr2/format/webp)
/0/12544/coverorgin.jpg?v=4952d36cc27d13df824bb23b5af10b98&imageMogr2/format/webp)
/0/30691/coverorgin.jpg?v=dcfd293ed4ecd50f1a2adda1ce0fa51f&imageMogr2/format/webp)
/0/16153/coverorgin.jpg?v=ec1ea740cd6fbfb9ad9fd8904ac421d9&imageMogr2/format/webp)
/0/16452/coverorgin.jpg?v=160ff56ff55019775ce87beb40539ccf&imageMogr2/format/webp)
/0/13557/coverorgin.jpg?v=fc94ee21ff3cb328b0874d2e8f3d6d46&imageMogr2/format/webp)