/0/22952/coverorgin.jpg?v=f2a0a4600973c44cd64e979bea8f7592&imageMogr2/format/webp)
Syaqila berjalan tergesa ke dalam rumahnya. Saat siang tadi, sewaktu ia tengah sibuk berbincang dengan teman-temannya, orang tuanya tiba-tiba menelepon dan menyuruhnya untuk segera pulang tanpa mau menjelaskan apa alasannya. Syaqila kesal setengah mati, tapi ia tak bisa meluapkan amarahnya. Bisa-bisa orang tuanya kembali menyemburnya dengan kemarahan yang lebih. Untuk sekarang Syaqilla mencoba bersabar. Semoga setelah sampai di rumah ia akan mendapat sesuatu yang bisa sedikit menyenangkan hatinya.
Namun saat kakinya melewati pintu, Syaqila mendadak berhenti. Dahinya mengernyit heran melihat suasana rumah yang ramai. Seluruh anggota keluarga turut hadir di sana. Syaqila jadi bertanya-tanya, ada acara apa hingga semua orang berkumpul di sini?
"Syaqila!"
Syaqila menoleh ketika mendengar suara ibunya memanggil. Dilihatnya wanita itu berjalan mendekat dengan tergesa. Lalu tangannya menarik Syaqila supaya mengikutinya hingga ke dapur.
"Kamu teruskan ini. Mama akan memotong sayuran. Sudah mama kasih bumbu. Hanya tinggal menunggu matang."
Syaqila hanya bergeming dengan bingung. Dia baru sampai dan sudah dihadapkan dengan wajan berisi masakan yang hampir matang. Syaqila masih belum mengerti untuk apa ia disuruh melakukan ini?
"Ma, sebenarnya ada apa?" Syaqila tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama. Terlebih, dengan keadaan di sekitarnya saat ini. Syaqila merasa dia adalah satu-satunya orang bodoh di sini karena tidak mengetahui apapun.
"Kamu tidak tahu?" Bukannya menjawabnya, Utari justru bertanya dengan ekspresi polos. "Apa mama yang lupa memberitahumu, ya?"
Syaqila berdecak. "Mama tidak mengatakan apapun. Mama hanya menyuruh aku pulang, tapi tidak mengatakan alasannya," jelas Syaqila.
"Oh, berarti mama lupa memberitahumu," sahut Utari menganggukan kepalanya. Dia menatap putrinya itu dan menjelaskan. "Kamu ingat adikmu?"
"Adik?" Syaqila tampak bingung. "Sejak kapan aku punya adik?"
Utari yang kesal memukul kepala putrinya itu dengan spatula hingga Syaqila meringis memegangi kepalanya.
"Bisa-bisanya kamu lupa dengan adik kamu sendiri," gerutu Utari. Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Seingatku, aku memang tidak punya adik," gumam Syaqila. Dia masih ingat saat ia meminta adik pada ibunya, ibunya itu menolak dan malah meminta Syaqila untuk menganggap sepupu-sepupu kecilnya sebagai adik. Tapi, tentu saja itu akan berbeda. Adik-adik sepupunya itu tidak akan bisa bebas bermain dengannya. Mereka juga tidak bisa bebas menginap di sini karena mereka pasti akan lebih memilih ikut pulang jika orang tua mereka pergi.
"Adik yang mana sih? Bukannya aku anak tunggal?" ucap Syaqila tetap menyanggah ucapan ibunya.
"Raffael Abercio," balas Utari sedikit gemas. Bagaimana bisa putrinya itu melupakan adiknya sendiri? Meski sudah lama mereka tidak bertemu, seharusnya Syaqila tahu dia bukan satu-satunya putri Dermawangsa.
"Raffael?" Syaqila bertanya skeptis. "Maksud mama bocah cebol yang dulu sering ku ganggu?"
"Ya, itu!" Utari menjentikkan jarinya, tampak puas. "Kamu ingat ternyata."
Syaqila termenung. Bagaimana ia bisa lupa tentang Raffael? Bocah gendut yang dulu dibawa oleh ayah tirinya, dikenalkan padanya sebagai adik yang tidak diterima dengan baik oleh Syaqila. Bagaimana bisa ia menerima bocah gendut, cengeng, ingusan, dan jelek itu sebagai adiknya?
Syaqila memang menginginkan adik. Tapi adiknya tentu harus lucu dan menggemaskan. Bukan gendut dan mengerikan. Syaqila bahkan tidak mau berdekatan dengan Raffael saat itu.
Kehadiran Raffael tidak disukai Syaqila. Karena itu ia berusaha mengganggunya setiap ada kesempatan. Berharap dengan itu Raffael jengah dan memilih meninggalkan rumah.
/0/13486/coverorgin.jpg?v=4d70dc5d84d0c7c298ee2d95678721f2&imageMogr2/format/webp)
/0/16209/coverorgin.jpg?v=017c1c2925cd3f053d59f75228074638&imageMogr2/format/webp)
/0/18125/coverorgin.jpg?v=d549672352ea307e4831d2e746eaa55d&imageMogr2/format/webp)
/0/16660/coverorgin.jpg?v=ff5347ef297ecd837887a5325e7885cd&imageMogr2/format/webp)
/0/17339/coverorgin.jpg?v=4775793b536d9cf0cf7aabce74fa9b9a&imageMogr2/format/webp)
/0/12930/coverorgin.jpg?v=20250122183639&imageMogr2/format/webp)
/0/16988/coverorgin.jpg?v=fb6f5bc71b71ba673fd22385c858c968&imageMogr2/format/webp)
/0/10417/coverorgin.jpg?v=8155f48e04c97d07c0dc0f90cdce099a&imageMogr2/format/webp)
/0/17164/coverorgin.jpg?v=5399f2d9a3016cf695306f21f6d38fe9&imageMogr2/format/webp)
/0/23335/coverorgin.jpg?v=449cea810c5ef59b88cedb2b49dc88c2&imageMogr2/format/webp)
/0/17216/coverorgin.jpg?v=8de1de39814150b2a34ec36544991dd7&imageMogr2/format/webp)
/0/16858/coverorgin.jpg?v=55e57d0c3fbbbe72391c0a97e4415700&imageMogr2/format/webp)
/0/21489/coverorgin.jpg?v=5f70302b2dcf36ccf19dbe01bcfc7c20&imageMogr2/format/webp)
/0/18263/coverorgin.jpg?v=20240705142954&imageMogr2/format/webp)
/0/3399/coverorgin.jpg?v=e61b43a3fab04088051795b9ff6c4430&imageMogr2/format/webp)
/0/6192/coverorgin.jpg?v=cd1bd1ac74c80758e3c79bebbca0fb57&imageMogr2/format/webp)
/0/21274/coverorgin.jpg?v=b5a78bea3486434c9bfc6ada44e45cb7&imageMogr2/format/webp)
/0/20947/coverorgin.jpg?v=ab10417d839e86efa38945687e702b18&imageMogr2/format/webp)
/0/2751/coverorgin.jpg?v=afedef2cb9c91e39201ce746d637e369&imageMogr2/format/webp)