back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Wife Of The Antagonist

Wife Of The Antagonist

luluklayalie

5.0
Ulasan
117.6K
Penayangan
157
Bab

Menjadi istri seorang Bos Mafia di novel dewasa? Alister Fernando adalah pria panas dengan segala kesempurnaan yang berhasil menyembunyikan bisnis ilegalnya. Sang antagonis yang tergila-gila pada protagonis wanita bernama Alice, yang kelak membunuhnya demi pembalasan dendam. Sial, alih-alih ke neraka setelah bunuh diri, Archelia malah menjadi istri Alister. Archelia dalam novel adalah tokoh antagonis yang selalu mencelakai Alice, sehingga membuat Alister dan protagonis pria berusaha membunuhnya. Meskipun novel dewasa itu berakhir indah dengan kemenangan protagonis, bukankah ini berarti bahaya besar untuk Archelia? Mampukah Archelia menjinakkan keliaran Alister?

Bab 1
Epilog Sang Antagonis

"Tidak, kumohon, buka matamu, Archelia!"

Alister memeluk erat tubuh sang istri yang bersimbah darah, gadis itu tampak lemas dengan kelopak mata yang mulai tertutup. Namun, di sela kesakitannya itu, Archelia tampak berusaha menarik kedua sudut bibirnya, meski dibarengi desis kesakitan.

"Berkorban untuk pria yang kucintai, aku tidak ada penyesalan, Alister. Jika diberikan kehidupan ke dua, aku tidak akan pernah menyesal pernah mencintaimu."

Rasanya sangat berat bagi Archelia untuk membuka mata. Kedua kelopak mata itu perlahan menutup sayu, menyisakan keheningan ketika Alister hanya bisa terpaku mendapati tubuh bersimbah darah itu hanya bergeming. Kedua mata Alister berkaca-kaca, pria itu bahkan tidak bisa merasakan apa pun di dadanya selain kehampaan.

Belum usai kesedihannya, tiba-tiba Alister merasakan benda dingin menempel di kepalanya. Pria itu tidak perlu menoleh ke belakang, ia tahu jelas siapa orang itu.

"Kau masih tidak ingin meminta maaf?" Suara seorang wanita yang sangat dikenali Alister.

Dada Alister terlalu sesak, tak mampu berpikir lagi. Pria itu tak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya pada jasad sang istri.

"Kau benar-benar tidak ingin meminta maaf padaku, Alister?"

Suara wanita itu kembali terdengar dibarengi kekehan sinis. Merasa kesal diabaikan, wanita itu menekankan lagi pistol pada kepala Alister, berharap pria brengsek yang ikut ambil bagian dalam pembunuhan orang tuanya itu memohon di akhir hidupnya. Namun, ternyata dia salah.

"Bukankah ini memang yang kau mau? Bunuh aku, Alice. Sekarang aku tahu ke mana aku harus pulang ke rumahku."

Alister menjawab dengan tatapan hampa pada wajah jelita sang istri yang telah tak bernyawa itu. Sesekali, tangannya yang dipenuhi darah membelai wajah sang istri.

"Maafkan aku, istriku."

"Brengsek! Aku menyuruhmu minta maaf padaku!"

Pria itu bergeming, masih memandangi sang istri layaknya orang yang kehilangan akal. Tak kunjung mendapati yang ia inginkan, Alice pun menarik pelatuk pistolnya. Suara tembakan memekakkan telinga, memecah keheningan. Bersamaan denga itu, darah memuncrat di wajah Alice ketika tubuh Alister jatuh dengan kepala berlubang.

***

"Cepat kirimi Ibu uang. Ayahmu kembali berhutang banyak dan selalu kalah judi. Kami dikejar-kejar pinjaman online. Sepuluh juta, hari ini."

Archelia menutup telepon dengan kesal. Baru saja pulang dari kantor dengan penuh kepenatan, wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu harus dicerca dengan permintaan uang dari orang tuanya di desa. Wanita itu mengeram, menghempaskan tubuhnya di atas kasur busa yang telah usang.

"Capek, Tuhan! Capek, sumpah!"

Suara nada dering kembali terdengar, Archelia segera mengambil ponselnya, sengaja menolak panggilan dari sang ibu. Masa bodoh dengan label "anak durhaka" yang akan dikantonginya. Memangnya mereka pikir sudah menjadi orang tua yang baik?

"Beban!" sungut Archelia lalu membanting ponselnya. "Dia yang judi dan terlilit hutang mengapa harus aku yang bayar?"

Namun, ternyata semua tidak cukup sampai di sana. Keesokan harinya tanpa diduga, Archelia mendapati keramaian di depan kantor di mana dirinya bekerja. Berapa terkejutnya Archelia kala mendapati sang ayah, pria berusia lima puluh tahunan yang sedang berteriak dan membuat masalah hingga harus dihadang beberapa security.

"Heh, anak durhaka! Sini lo!"

Hancur sudah image karyawan teladan Archelia. Tenaga Ginandra, sang ayah terlalu besar sehingga mampu menahan larangan tiga security sekaligus. Agaknya separah itukah pria itu membutuhkan uang sampai rela jauh-jauh datang.

Plak!

Wajah Archelia sampai terhempas ke samping saat tamparan keras dari tangan kasar mendarat di wajahnya. Beberapa orang memekik ketakutan melihat adegan kekerasan bak sinetron itu. Ketiga security juga segera mendekat dan menahan tangan Ginandra.

"Anak tidak tahu malu! Sudah dibesarkan malah jadi tidak diri, ya, lo! Mau jadi anak durhaka?!"

Pipi Archelia terasa panas, bahkan kini tampak merah. Ada sedikit luka sobekan di ujung bibirnya, sedikit mengeluarkan darah. Archelia mengeraskan rahang, menatap sengit pada sang ayah. Kedua tangan mungilnya mengepal erat di samping tubuh sampai membuat buku-buku jarinya memutih.

"Ayah butuh uang, 'kan?" desis Archelia dengan mata yang mulai berkaca-kaca meski Archelia sendiri enggan menangis.

Wanita itu lantas mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan lima puluh ribu hasil dari meminjam beberapa rekan sekantornya. Ini masih pertengahan bulan, jauh dari hari gajian. Mana ada Archelia mendapatkan uang sepuluh juta hanya dalam satu malam.

Dengan emosi di puncak ubun-ubunnya, Archelia melempar semua uang pinjaman itu ke wajah sang ayah.

"Ambil! AMBIL SEMUA UANG INI DAN ENYAH DARIKU!"

Jelas, perbuatannya itu membuat Ginandra geram. Pria itu berhasil menghempas kedua cekalan Security. Ketika bebas, tanpa belas kasih, Ginandra menjambak rambut Archelia lalu menampar dan memukul tubuh sang putri beberapa kali.

"BRENGSEK! ANAK TIDAK TAHU DIRI! LO PIKIR LO SIAPA BISA BERTINDAK NGGAK SOPAN KE ORANG TUA SENDIRI?!"

Kebrutalan Ginandra membuat tiga security kewalahan. Melihat suasana yang semakin memanas, beberapa karyawan berinisiatif menelpon polisi.

"Astaga, cepat telpon polisi dan ambulance!"

"Archelia, astaga dia bisa mati jika terus dipukuli seperti itu."

Setelah puas memukuli Archelia hingga gadis itu jatuh lunglai di atas paving stone, Ginandra segera memungut uang yang dilempar sang anak. Pria itu mengumpat kasar di sepanjang gerakannya. Bahkan, dia berhasil mengelak dari cekalan Security hingga membuat pria-pria itu terdiam bungkam.

Bahkan, meski telah membawa semua uang yang dilempar Archelia, pria itu masih sempat-sempatnya mengambil sisa uang di dompet Archelia dan memeriksa tas milik sang anak. Seraya melirik sinis sang anak yang mulai dikerumuni semua orang, Ginandra segera pergi dengan semua benda rampasan yang didapatkannya dari Archelia.

Sedangkan tubuh Archelia segera dibawa beberapa orang menuju rumah sakit untuk diobati. Entah bagaimana kisah itu berakhir, yang jelas ketika terbangun, Archelia sudah berada di rumah sakit.

Satu tetes bulir bening merembes di pipinya. Rasa perih masih tersisa. Tubuhnya terasa remuk redam merasakan siksaan sang ayah. Bahkan, kini Archelia tidak tahu lagi harus menaruh wajahnya di mana. Ia benar-benar malu.

Setelah beberapa jam dirawat di rumah sakit, Archelia memutuskan untuk pulang. Di atas kasurnya, terdapat sebuah novel berjudul "The Cruel Protagonist" yang baru selesai ia baca. Novel itu adalah hadiah pemberian salah seorang teman sekantornya yang menganggap isi novel itu penuh dengan kehidupan keras yang sama seperti Archelia.

Tidak tahu apa yang dipikirkan temannya itu, yang jelas semua berbeda. Novel itu berkisah tentang kehidupan keras para konglomerat dengan gaya hidup gelap mereka. Tentang perebutan kekuasaan, kekayaan dan pembalasan dendam. Jelas sangat jauh berbeda dengan survive yang Archelia jalani. Dirinya hanya anak dari orang desa yang menjalani kerasnya kehidupan dari sisi orang pinggiran. Kuliah dengan beasiswa gratis hingga bisa bekerja di perusahaan besar di ibu kota.

"Kamu bercanda, ini sama sekali tidak seperti kehidupanku."

Archelia tersenyum miris. Gadis itu memungut novel, mengambil bolpoin lalu menuliskan sebuah harapan miliknya.

Hidup dengan bergelimang harta, memiliki kekuasaan, dan suami yang tampan.

Membawa serta novel itu dalam pelukannya, Archelia berjalan keluar dengan susah payah. Dia menaiki tangga menuju roof top apartemen. Gadis itu berdiri di pinggir pagar lantai tujuh. Memandang pilu hiruk pikuk perkotaan dan kehidupan yang sangat melelahkan.

"Maaf, tapi aku butuh istirahat."

Perlahan, tubuhnya terhempas ke udara luas tanpa batas. Melayang menuju kehidupan yang bebas tanpa panggilan dan setoran uang gila-gilaan. Sejenak, Archelia menikmati sensasi diterpa angin ini dengan jantung berdebar.

"Oh, semoga ada yang mencairkan asuransi kematianku untuk membayar semua hutangku."

Brak!

"Breaking news, seorang wanita ditemukan jatuh dari lantai tujuh di atas sebuah mobil. Korban diduga bunuh diri karena tidak tahan dengan tuntutan keluarga."

***

"Hah!"

Archelia kembali membuka mata, betapa terkejutnya ia kala mendapati dirinya bukan berada di rumah sakit atau neraka, melainkan berada di sudut sebuah ruangan megah bak drama luar negeri.

"Saya peringatkan, Archelia!"

Archelia tersentak kaget mendengar suara pria yang menggelegar itu. Kedua matanya membelalak kala mendapati tubuhnya terangkat. Bukan dengan cara baik-baik, tetapi karena kerah baju miliknya ditarik oleh pria bertubuh tinggi hingga membuat Archelia harus menahan kaki dengan sekujur tubuh menggigil.

Pria itu tampak begitu rupawan dengan setelan jas hitam melipis. Dilihat dari kainnya saja, Archelia bisa membedakan jika itu adalah jas yang dikenakan oleh bos kalangan atas.

Bagaimana aku bisa di sini? Siapa pria itu? Dan mengapa dia marah padaku? Apakah aku mengenalnya?

Belum sempat semua pertanyaan itu terucap. Mulut Archelia dibuat kantup mendengar suara berat menderu lantang penuh amarah.

"Jika kau berani menyentuh Alice barang sehelai rambutnya pun, aku tidak akan segan membunuhmu. Camkan itu!"

Deg!

Satu dorongan keras membuat tubuh Archelia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Suara pintu dibuka lalu ditutup dengan keras membuat gadis itu tersentak. Pria misterius itu hilang, menyisakan Archelia yang kebingungan memandang ke sekeliling.

"Aku ini di mana?"

Suara pintu terdengar, Archelia menoleh, mendapati sosok pria lain yang memiliki setelan mirip. Hanya saja, meski pria itu memiliki tubuh yang tak kalah kekar dari pria yang sebelumnya membentak Archelia, tetapi dari sorot wajahnya yang satu tampak menunjukkan kekhawatiran mendalam.

"Nyonya, Anda baik-baik saja? Kita harus segera ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Anda." Pria itu langsung duduk, dengan gerakan cepat, hendak membopong Archelia.

Namun, mendapati orang baru yang tidak dikenal, jelas membuat Archelia segera mengelak dan menahan pria itu. Kening Archelia mengerut heran.

"Sebenernya, siapa kalian? Mengapa aku bisa berada di sini?"

Belum sempat pria di hadapannya menjawab, sosok pria berpenampilan serba hitam itu tampak membelalakkan mata terkejut.

"Astaga, Nyonya. Kepala Anda berdarah."

Unduh Buku