Sister-in-law Charm

Sister-in-law Charm

Relaxaaa

5.0
Komentar
4.1K
Penayangan
18
Bab

Berawal dari menjemput adik iparnya di bandara, Kaliendra Walker tak pernah menyangka bahwa ia akan menyukai adik iparnya sendiri. Tidak peduli dengan statusnya yang adalah adik iparnya, Kaliendra berusaha mendapatkan gadis itu menjadi miliknya.

Sister-in-law Charm Bab 1 1, Kakak Ipar Dikira Supir

[Rara Aprillya]

"Good bye ..." lirihku saat pesawat yang aku naiki mulai berjalan.

Aku terus menatap ke jendela tidak percaya bahwa aku akan kembali lagi ke kota Neo'santara, tempat lahirku.

Sebenarnya aku tidak ingin kembali ke Neo'santara, tetapi kakakku terus memaksaku untuk pulang. Mau tak mau aku pun harus pulang selain masa kuliahku juga sudah habis aku juga sangat merindukan kakakku.

Oh ya perkenalkan namaku Rara Aprillya, aku adalah anak yatim piatu yang hanya mempunyai satu kakak perempuan. Hanya kakakku satu satunya keluargaku yang masih aku punya.

Aku kuliah di luar kota karena mendapatkan beasiswa, jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah bisa kuliah di luar Negri, karena kami hanya anak yang di besarkan di panti asuhan. Orang tua kami sudah meninggal sejak aku berumur 7 tahun dan kakakku 10 tahun karena kecelakaan, kami pun tidak tau orang tua kami masih punya saudara atau tidak.

Kami keluar dari panti asuhan setelah kakakku mendapatkan pekerjaan, ia bilang tidak mau merepotkan ibu panti...

Aku tidak keberatan memulai hidup baru berdua dengan kakakku di kontrakan kecil, kumuh dan sering di ejek orang yang lebih kaya. Setiap hari kakakku bekerja untuk membiayai sekolahku, aku tidak tahu kakakku bekerja apa karena kakakku tidak pernah memberitahuku apa pekerjaannya.

Kakakku berkata bahwa aku tidak perlu memikirkan apa pekerjaan kakakku karena yang terpenting aku bisa melanjutkan sekolahku dan tidak terputus seperti kakakku.

Aku pun menurutinya dan tidak pernah memikirkan pekerjaan apa yang kakakku kerjakan sehari-hari.

Setiap hari aku hanya akan belajar dan belajar dan aku pun menjadi murid yang pintar dan mendapatkan peringkat 1 setiap tahun, di akhir tahun SMA-ku aku mengikuti seleksi beasiswa di luar Negri dan aku pun mendapatkannya.

Kakakku pun mendukungku untuk kuliah di luar Negri, jadi dengan berbekal beasiswa dan juga keberanian aku pergi keluar negri untuk melanjutkan pendidikanku.

Sebenarnya aku tahu jika kakakku tidak rela bila aku jauh darinya, namun dia tidak mau berbicara jujur padaku.

Dan selama 4 tahun aku kuliah di luar Negri kami selalu berkomunikasi, sebenarnya kuliahku hanya 3 tahun.

1 tahun setelah aku belajar di luar negri kakakku menelfon katanya ia akan menikah, aku ingin sekali menghadiri pernikahannya waktu itu tetapi sialnya aku sedang ada Ujian, hal itu mebuatku tidak bisa menghadiri acara pernikahan kakakku.

Dan kabarnya kakakku itu sudah mempunyai 1 anak lelaki berumur 2 tahun. Kakakku tidak pernah mau mengirimkan foto keponakanku ataupun suaminya jika aku memintanya, ia malah berkata bahwa aku harus pulang ke Neo'santara dulu jika memang ingin bertemu mereka berdua.

Oke... Back topik.

Akhirnya setelah berjam-jam, aku sampai juga di Bandara. Setelah mengambil koper bawaanku, aku pun bergegas keluar dan mencari supir kakakku yang katanya akan menjemputku di Badara.

Aku membaca hampir setiap kertas yang di pegang oleh para supir atau kerabat orang yang datang dari luar negri sama sepertiku...

Karena aku tidak menemukan di mana keberadaan supir kakakku, aku pun memutuskan untuk menelfon kakakku. Mengambil ponsel dari dalam tas lalu mencari nomor kakakku dan langsung menelponnya.

Sambungan pertama dan ke dua tidak di angkat namun sambungan ke tiga di angkatnya.

"Hallo." sahut kakakku dari sebrang telfon.

"Hallo kak, kau tidak lupa kan jika aku akan pulang hari ini?" tanyaku.

"Ya tentu saja tidak sayang ..." balas kakakku.

"Lalu di mana jemputannya kak? Kenapa belum juga sampai, sudah lima belas menit aku di sini." keluhku mulai kesal.

"Hahaha ... Sabar sayang, mungkin sedang macet jadi sedikit terlambat." kata kakakku terkekeh di sebrang sana.

Aku mendengus kesal, walaupun aku tidak bisa melihatnya sekarang namun aku tahu bagaimana wajahnya sekarang. Kakakku memang tidak pernah berubah, pasti sangat menyebalkan.

"Hey ..." seseorang menepuk bahuku, aku menoleh dan menatap orang itu lalu berkata 'apa' tanpa suara.

"Apa kau Rara Aprillya?" tanyanya dan aku mengangguk.

"Apa kau yang menjemputku?" tanyaku lalu lelaki itu pun mengangguk.

"Ada apa Aprillya?" tanya kakakku.

"Tidak apa-apa kak ... ya sudah dulu ya kak, itu sepertinya supir ngaretmu sudah sampai." kataku menyudahi sambungan telfon lalu memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.

"Kenapa diam saja?" ujarku sebal.

"Maksudmu?" tanya supir kakakku itu menatapku bingung.

Aku menghentakkan kaki kesal ... "Cepat bawa kopernya lalu kita pulang." ucapku berjalan menjauhi supir kakakku.

"Hey tunggu! Aku bukan su---."

"Sudahlah cepat bawa koperku, aku lelah ingin segera istirahat ... Di mana kau menaruh mobilnya." ucapku kesal.

"Tapi aku bukan sup----." ucap supir kakakku.

"Aku bertanya di mana mobilnya!" pekikku kesal.

"Baiklah, ikuti aku." ucapnya lalu berjalan mendahuluiku.

Sampai di parkiran, ia langsung memasukkan koperku ke dalam bagasi mobil mungkin sekarang dia tahu pekerjaan supir itu tidak harus diperintah.

"Hey kenapa kau masuk duluan." ucapku kesal sambil mengetuk kaca mobil, karena supir kurang ajar itu malah masuk lebih dulu ke dalam kemudi dan tidak memperdulikan aku.

"Apa?" tanyanya membuka kaca mobil.

"Malah nanya lagi! Bukain pintu mobilnya, kenapa malah kau yang masuk tanpa membukakan pintu mobil untukku!" ucapku kesal.

Supir itu malah mendecakkan lidahnya kesal. "Cepat masuk sana, atau aku akan meninggalkanmu di sini." ucap supir kurang ajar itu kesal.

Aku melipat tanganku di depan dada, berani sekali supir ini memerintahku seenaknya.

"Tidak! Kau harus membukakan untukku." ucapku.

"Baiklah kalau tidak mau kau di sini saja." ucapnya santai dan mulai menstater mobilnya.

Jadi mau tak mau aku pun masuk ke dalam mobil dan menutupnya dengan kuat.

"Heh pelan dikit dong, bisa rusak mobilku kalau begini." gerutunya.

"Mobilmu? Hello ini mobil kakak iparku ya bukan kau." sarkasku sambil menunjuknya.

Dia itu hanya supir tapi kenapa lagaknya sok kaya, lihat saja pakaiannya. Supir kok pakai kemeja, berjas pula ... Sudah kaya bos saja.

"Kenapa kau memperhatikanku? Terpesona eh?" ucap supir kurang ajar, aku bisa melihat wajahnya dari kaca spion tengah bahwa ia sedang tersenyum miring.

"Jangan kurang ajar ya!" pekikku kesal, sebenarnya tadi aku sempat terpesona memang.

"Terserah kalau tidak mau mengaku." ucapnya, senyumannya tidak pernah lepas dari wajahnya yang memang sedikit tampan itu ... Ingat ya hanya sedikit.

"Tidak ada yang harus aku akui." ucapku.

Aku melipat ke dua tanganku di dada lalu memilih memperhatikan keluar jendela ...

***

"Jangan lupa bawa kopernya." ucapku lalu turun dari mobil dan berjalan menuju rumah megah yang ada di hadapanku.

Aku mendecakkan lidahku karena kagum melihat bangunan di depanku yang sangat besar, sungguh. Sekaya apa kah suami kakakku ini?

Ting tong.... Ting tong.... Ting tong....

Aku memencet bel, tidak lama kemudian seorang wanita cantik nan anggun keluar dari dalam rumah. Aku sampai terpesona melihatnya, benarkah ini kakakku? Cantik sekali.

"Kau sudah datang." ucapnya memelukku dengan erat.

"Aku sangat merindukkanmu kak." ucapku balas memeluknya.

"Kakak juga sangat merindukanmu." ucap kakakku.

"Mom..."

Aku merasakan ada yang menarik-narik kakiku, melihat ke bawah dan ternyata itu adalah seorang anak kecil yang sangat imut.

Aku melepaskan pelukan dari kakakku lalu berjongkok di depan anak kecil nan imut itu.

"Apa ini anakmu kak?" tanyaku.

Kakakku tersenyum lalu mengangguk.

"Wah imut nya ..." ucapku mencubit ke dua pipinya.

"Oh ya di mana kopermu kenapa tidak kau bawa?" tanya kakakku.

"Supirmu lelet kak ..." keluhku, lihat saja aku akan mengadu agar dia di pecat.

"Supir?"

"Ya, dia sangat kurang ajar kak, aku mau kakak memecatnya saja." adu-ku dengan menggebu.

"Tapi supir kakak hari ini tidak kerja." ucap kakakku.

"Lalu siapa yang menjemput ku dari bandara tadi?" tanyaku bingung, jika bukan supir, lalu siapa?

"Suami kakak."

"Hah!"

"Ya, suami kakak yang menjemputmu karena supir kakak sedang sakit hari ini." jelas kakakku.

"Jadi ... Astaga! Kakak ipar." ucapku tersenyum kikuk melihat supir eh maksudnya suami kakakku yang berdiri di belakang kakakku dengan tatapan kesalnya.

Mati aku!

Bersambung.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Relaxaaa

Selebihnya

Buku serupa

Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

kodav
5.0

WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku