back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Santet Pengantin

Santet Pengantin

Maylafaisha

5.0
Ulasan
429
Penayangan
30
Bab

Berawal dari rasa sakit hati Rasti terhadap ibu sahabatnya yang dianggapnya sebagai penyebab kembarannya depresi dan akhirnya memilih bunuh diri hingga menyebabkan sang ibu pun harus menjadi pasien rehabilitasi jiwa. Membuatnya menghalalkan berbagai cara untuk menuntaskan dendamnya, teror demi teror dia ciptakan. Ilmu pengasihan dia tekuni demi melancarkan dendamnya, sahabat masa kecil dia korbankan demi terlaksananya semua rencana. Kobaran api dendam semakin tak berujung, ketika sang sahabat yang berhasil dihancurkannya menuntut balas. Demi membalaskan sakit hatinya, sang sahabat rela menjadi pengabdi setan. Berbagai ilmu hitam dia tekuni, demi membalas semua perbuatan Rasti kepadanya. Api dendam baru berakhir saat semuanya telah hancur tak bersisa, Rasti hancur setelah beberapa kali harus kehilangan calon anak tercintanya yang mengakibatkan semua kejahatannya diketahui oleh sang suami yang hancur perasaannya karena terlambat mengetahui perbuatan istri tercintanya, sang sahabat pun hancur setelah jiwanya terganggu akibat ilmu-ilmu hitam yang dianutnya mulai tak sejalan. Berusaha kembali ke jalan yang fitrah adalah pilihan yang terbaik untuk mengakhiri semuanya. Dosa tetaplah dosa, hanyalah keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa akan mengampuni semua dosanya yang menjadi pegangan dalam hidup mereka setelahnya. Semua manusia adalah pemimpin atas dirinya pribadi, semua perbuatan pasti ada pertanggungan jawabnya kelak. Jangan terbius dengan dendam karena dendam hanya akan menghancurkan.

Bab 1
Santet Pengantin
Part 1

Di dalam kamarnya yang hanya diterangi dengan sebuah lilin, Kania mengambil boneka jerami berbalut kain kafan yang sudah tertempel foto Rasti. Tanpa ampun, Kania menusuk bagian perut boneka jerami itu berkali-kali.

Dengan wajah bengis dan perasaan penuh dendam, Kania menusuki boneka jerami itu terkadang boneka itu di remasnya dengan sekuat tenaga, seolah ingin mematahkan badan Rasti melalui boneka jerami berbalut kafan itu.

"Rasakan itu, Rasti! Arga lebih pantas untukku!" ucap Kania dengan tawa bahagia.

Sejenak kemudian Kania tiba-tiba terdiam mengingat kenangan manisnya bersama Arga, tetapi raut wajah dan rahangnya langsung mengeras ketika dia mengingat kembali luka yang disebabkan oleh lelaki itu dan sahabatnya, Rasti.

"Arga, kamu adalah milikku! Selamanya tetap milikku! Hanya milikku!".

Tiba-tiba angin berhembus tak wajar ke dalam kamarnya yang tertutup rapat itu. Buku-buku yang tersusun rapi di lemari buku sebelah tempatnya duduk mendadak jatuh berserak ke lantai tanpa ada yang menyentuhnya dan samar hidungnya mulai mencium aroma amis yang tak biasa.

Seketika tengkuk Kania meremang, dia semakin yakin dendamnya akan segera terbalaskan.

"Datang ... datanglah! Aku memanggilmu, aku akan menjadi pengikutmu yang setia!"

Kania benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, karena luka yang tergores dalam di hatinya.

Dalam benak Kania sekarang yang ada hanyalah mewujudkan keinginannya untuk membalaskan dendam, sakit hati, kecewa, malu, marah kepada pasangan suami istri tersebut.

"Datanglah! Aku memerlukan bantuanmu! Bantu aku menuntaskan dendamku pada perempuan lacur ini! Datang! Mendekatlah!"

Hembusan angin yang membawa aura dingin itu semakin mencekam dengan ditingkahi suara lolongan anjing di kejauhan.

Mantra demi mantra diucapkannya dan seakan menjawab keinginannya, tiba-tiba terdengar bisikan-bisikan tidak kasat mata yang seakan ingin mengatakan bahwa 'mereka' siap membantu Kania yang sudah terbakar api dendamnya.

'Aku datang memenuhi panggilanmu! Katakan apa maumu maka akan kupenuhi semua permintaanmu dengan syarat beri aku sesuatu untuk kumakan!' Terdengar suara parau dan basah berbisik di dekat telinganya.

"Ambil yang kau inginkan dari perempuan itu! Dia milikmu! Dia milikmu! Hahaha," tawa Kania.

****

"Rasti, kamu di mana, Sayang?" Arga berjalan menuju dapur mencari Rasti, istri yang sekarang sedang mengandung buah hati pertama mereka.

Mendengar suara suaminya, gegas Rasti bangun dan duduk di atas kasur springbed tempat peraduannya dengan suaminya tercinta.

"Iya, Mas, aku sedang rebahan di kamar," jawab Rasti dari arah kamar.

Mendengar suara istri yang dicarinya dari dalam kamar, Arga bergegas menuju ke kamar dan mendapati perempuan itu tengah duduk menghadap pintu sambil merapikan rambut panjangnya yang kusut.

"Kok tumben masih pagi gini kamu tidur?" tanya Arga keheranan melihat Rasti masih setia berada di atas springbed.

"Iya maaf, Mas, tadi aku nggak enak badan, jadi aku rebahan bentar. Mas lapar ya? Aku masak dulu ya, Mas," tanya Rasti kepada suami tercintanya setelah lelaki tampan itu berada di dekatnya.

Arga hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan sang istri, sambil mengambil tempat duduk di sebelah Rasti tangannya terulur mengusap perut istinya yang sudah kelihatan membuncit itu, "anak ayah lagi apa di dalam situ? Anak ayah, jangan nakal ya, jangan bikin ibu sakit. Kasihan ibu, anak ayah sayang ibu kan?" Arga mengajak bicara anaknya.

Untuk beberapa saat Arga asyik berbicara dengan buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir, beberapa kali dia mencium perut buncit istrinya. Bahkan beberapa kali dia mengusap-usap lembut saat merasakan gerakan halus calon anaknya itu.

Arga berharap mempunyai seorang anak laki-laki agar bisa meneruskan usaha orang tuanya yang kini dipimpinnya setelah sang papi rehat dari dunia bisnis.

"Semoga kamu lahir sebagai anak lelaki ya, Nak. Anak lelaki yang tangguh, kuat karena kamu adalah pewaris bisnis Hartawan selanjutnya," ucap Arga.

Rasti mengusap kepala suaminya lembut, terkadang dia tertawa geli mendengar obrolan suami dengan calon anaknya itu, "asyik bener ayah ngobrol sama adek, ibu sampai dicuekkin," goda Rasti.

"Nggaklah, Sayang. Kamu tetap nomor satu sampai kapan pun, ayah cuma lagi kasih tahu sama adek supaya jangan nakal biar ibu nggak sakit. Iya kan, Dek?" lanjut Arga kepada calon anaknya.

Usai bercengkrama dengan buah hatinya, Arga menatap Rasti dan meraih bahu perempuan berkulit kuning langsat itu untuk dirangkulnya. Diusapnya rambut ikal hitam panjang istrinya, "terima kasih, Sayang," ucapnya.

Rasti yang tak tahu maksud perkataan suaminya hanya mengangguk dan kembali menanyakan apakah suaminya jadi mau makan atau kalau tidak dia akan membuat camilan saja untuk mereka.

Arga menyetujui usulan istrinya untuk membuat camilan, entah kenapa pagi ini perutnya terasa sangat lapar tetapi tidak ingin makan makanan yang terlalu mengenyangkan.

"Ya sudah, kalau gitu aku ke dapur dulu ya. Aku mau bikin camilan enak untuk suami tersayangku," kata Rasti.

Sambil berkata demikian, Rasti memasang kembali kerudung yang sempat dilepasnya tadi sebelum akhirnya berdiri dan beranjak ke dapur.

"Ya udah, aku tunggu di sini ya, Yang. Aku mau rebahan dulu sebentar. Sekitar dua puluh menit lagi kususul ke dapur," kata Arga yang diiyakan istrinya.

Rasti pun berjalan keluar menuju dapur sambil sesekali mengusap perutnya, dia merasa bahagia karena usaha yang dia lakukan dulu tidak sia-sia.

Tanpa Rasti sadari sedari tadi ada sesosok wanita di belakangnya tengah mengulurkan tangan bersiap mencelakakannya.

'Hadiahku, aku datang! Sungguh harum aromamu! Bersiaplah menerima ajalmu,' bisik sosok wanita itu

Gedebug!

Terdengar suara benda terjatuh berdebum cukup keras di dapur dan tidak lama terdengar suara teriakan, "Mas ... aduh, Mas tolong! Perutku sakit banget, Mas!" teriak Rasti memanggil Arga, suaminya.

Arga baru saja bermaksud untuk berbaring mengistirahatkan tubuhnya yang penat ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dapur.

"Astaghfirullah, suara apa itu? Jangan-jangan ...." Sontak Arga meloncat dari ranjang dan berlari ke arah dapur, tetapi sial tak dapat ditolak, karena terburu-buru dan tidak melihat arah jalannya, kaki kanan Arga terantuk kaki lemari baju di kamarnya.

Gubrak!

'Aduh, sakit banget jempol kakiku, jangan-jangan keseleo lagi nih. Bener-bener deh, nggak tahu orang buru-buru. Pakai acara kesandung segala. Dasar ceroboh!' omel Arga dalam hatinya sambil mengelus jempol kakinya yang terasa sakit.

Dengan langkah terpincang-pincang menahan sakit di jempol kakinya, gegas Arga bangkit dan kembali menuju dapur untuk mendatangi istrimya.

"Mas! Mas! Cepetan, Mas! Sini!" Terdengar kembali teriakan Rasti dari arah dapur.

"Iya! Bentar, Yang! Sabar! Jempol kakiku sakit nih, habis nabrak lemari!" balas Arga tidak kalah keras.

Dengan menahan sakit, Arga memaksakan kakinya menuruni anak-anak tangga dan menghampiri istrinya yang berada di dapur dan dia sangat terkejut melihat istrinya sudah dalam posisi jatuh terduduk.

Arga pun gegas berlari mendatangi istrinya yang tengah memegang perutnya, "Ada apa, Beb. Kamu kenapa?" tanya Arga dengan wajah kebingungan.

"Sakit, Mas ... perutku sakit banget!" rintih Rasti sambil memegangi perutnya yang sudah membesar, di antara kedua pahanya terlihat darah setengah kental mengalir membasahi daster yang sekarang sedang dipakainya.

"Beb, kamu kenapa? Ada apa sama kamu? Kamu kenapa bisa posisi kaya gini? Kamu jatuh duduk karena kepleset atau apa?" cecar Arga kepada istrinya yang tengah kesakitan.

Dengan menggigit bibirnya, Rasti, istri Arga hanya mampu menggelengkan kepalanya perlahan, menandakan dia suda tidak sanggup lagi bicara.

Rasti hanya bisa merintih lirih pertanda dia mulai lemah, dasternya semakin memerah oleh cairan kental yang terus keluar, "mas, tolong." Tenaganya semakin terkuras akibat mulai kekurangan darah.

Dengan sigap, melupakan rasa sakit di jempol kakinya yang tadi sempat terantuk lemari, Arga menggendong istrinya untuk dibawa ke rumah sakit, tetapi sesampainya di depan pintu mobil Arga menghembuskan nafas kasar sambil menepuk dahinya keras-keras, karena lupa membawa kunci mobilnya.

"Ah ... dasar bodoh! Aku lupa bawa kunci!" gerutu Arga, kesal dengan dirinya sendiri yang begitu ceroboh dari tadi.

"Yang, kamu duduk di sini ya sebentar, aku ambil kunci mobil dulu. Kamu bertahan ya!" Setelah mendudukkan Rasti di kursi rotan yang ada di teras rumah, Arga bergegas mengambil kunci mobilnya yang tergantung di dekat pintu kamar mereka, kemudian berlari kembali ke depan lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi menuju rumah sakit.

Berlomba dengan maut itu yang sedang Arga lakukan saat ini. Dia hanya ingin segera sampai ke tujuan, tapi entah kenapa perjalanan itu terasa sangat lama. Mobil miliknya yang biasa laju jalannya itu pun terasa lambat bahkan beberapa kali mesin mobilnya seolah tersendat-sendat.

'Hih! Kenapa sih mobil ini, lambat banget jalannya nggak kaya biasanya! Mana kaya mau mogok lagi. Please, jangan mati dong, kasian anak bini gue,' gerutu Arga berbicara dengan mobilnya.

Sementara di sebelahnya, beberapa kali Rasti menggigit bibirnya menahan rasa sakit di perut dan di sela-sela kedua belah pahanya yang terus mengalirkan darah.

Arga tidak ingin kehilangan istri dan anak yang sudah sangat dinantinya, Arga berusaha keras untuk memfokuskan perhatiannya ke depan, walau pun hatinya teriris pilu mendengar rintihan istrinya merasakan sakit yang tak tertahankan.

"Mas, cepetan, Mas. Aku udah nggak tahan lagi. Sakit banget, Mas. Allahu Akbar." Rasti merintih kesakitan.

" Iya, Sayang. Ini aku juga udah cepet, tapi aku nggak berani terlalu ngebut, Yang. Nanti kalau kita kecelakaan malah lebih repot lagi. Kamu bertahan sebentar ya, Yang. Kita udah hampir sampai kok." Arga meyakinkan Rasti dan berusaha menguatkan dengan menggenggam erat tangan perempuan itu untuk menyalurkan sisa kekuatan dan semangat miliknya saat ini, walau pun sebenarnya dia sendiri sangat kebingungan dan takut terjadi sesuatu kepada anak dan istrinya.

Arga memacu mobilnya lebih cepat dari sebelumnya, berharap cepat sampai ke tujuan tanpa menyadari bahwa selain dia dan istrinya, ternyata ada sosok lain ikut menumpang mobil mereka.

Sosok siapakah itu dan apa maksud kehadirannya di sana?

Jangan lupa berlangganan untuk mengikuti kelanjutannya.

***

Buku serupa
Unduh Buku