Laras memilih pergi setelah David meminta untuk mengugurkan anak mereka. Kepergian perempuan itu tidak pernah menjamin hidupnya akan tenang dan kembali seperti semula. Bayang-bayang laki-laki itu masih terus menghantuinya. Lantas bagaimana jika mereka dipertemukan kembali Dengan diri mereka yang berbeda? Akankah mereka bersatu untuk anak mereka? Atau memilih hidup sesuai dengan rencana mereka masing-masing, walaupun rasa cinta masih bersemayam dalam hati mereka?
Wanita cantik bertubuh mungil itu duduk sendirian di kursi taman dengan gelisah, sedari tadi matanya menelisik ke penjuru taman berharap orang yang sedari tadi ia tunggu segera tiba. Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu ia duduk disini dengan segala perasaan gamang dan cemas yang bergumul di dada membuat Laras semakin di landa rasa takut.
"Maaf sayang tadi mas masih ada meeting."
Suara bariton yang tak asing ditelinga membuat Laras mengangkat wajah, wanita itu menatap David yang saat ini tengah menampilkan senyum hangat seperti biasa.
"Gapapa. Mas, ada yang ingin aku bicarakan."
Laras menatap David takut-takut membuat laki laki yang kini tengah berdiri di depan perempuan itu mengerutkan kening binggung namun tak urung mengangguk mengiyakan.
"Ya, katakan."
"Aku hamil."
To the point Laras berucap dengan satu tarikan nafas, suaranya yang bergetar berusaha perempuan itu redam sebisa mungkin. Sedang David, laki-laki itu menatap sang pujaan hati dengan wajah mengeras berusaha menepis bualan yang baru saja kekasihnya itu ucapkan. Yang benar saja. Sungguh sama sekali tidak lucu.
"Jangan bercanda Ras."
"Aku serius mas, apa kamu pikir aku sedang membuat lelucon dengan hal seperti ini."
Laki laki itu menatap Laras dengan mata memicing tajam, bibirnya menipis dan wajahnya merah padam karena emosi yang tersulut.
Sedang Laras yang duduk di depan David hanya mampu menundukkan kepalanya dalam dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Kita melakukannya mas," jelas perempuan itu.
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
David berujar sinis dengan senyum miring yang tersungging di sudut bibir laki-laki itu.
"Aku ingin pertanggungjawaban."
"Jangan mimpi ras, kita melakukannya suka sama suka lagian kita ini jauh berbeda. Aku dan kamu bagaikan langit dan bumi. Keluargaku tentu tak akan mengijinkan aku menikahi perempuan sepertimu."
Laras tertegun mendengar penuturan David barusan, hatinya sakit dan kedua kelopak matanya berhasil meluncurkan cairan bening yang sedari tadi perempuan itu tahan. Sesakit ini kah tuhan. Di campakan setelah di cecap rasa manisnya.
"Gugurkan dan aku anggap masalah ini selesai."
Kalimat yang di ucapkan dengan nada entang barusan berhasil membuat emosi Laras mencapai ubun-ubun, tangannya terkepal kuat, semudah itukah membunuh bayi tak berdosa bahkan anak mereka baru sebesar biji sekarang.
Plak
Satu tamparan keras berhasil Laras layangkan pada laki-laki brengsek di depannya ini. Biarkan saja ia di anggap kurang ajar atau apapun itu. Laras tidak peduli.
"Kutekankan mas, sampai kapanpun aku nggak akan pernah membunuh janin tak berdosa ini. Dia harus tumbuh dan kamu sebagai manusia tidak memiliki hak untuk melenyapkannya."
Laras berucap dengan wajah memerah kedua tangannya mengepal kuat ingin sekali menghadiahi laki laki di depannya ini dengan tinjauan keras namun ia sadar tenaga perempuan tak bisa menandingi laki-laki.
"Oh silahkan saja, namun ingat jangan pernah menyusahkanku karena anak itu. Ini terakhir kali kita bertemu dan jangan pernah menemuiku lagi."
Kalimat dengan nada dingin David sukses membuat Laras memalingkan wajah, sekuat tenaga perempuan itu menahan tangis yang akan kembali pecah. Oh tidak, dia tak akan mengemis pada laki-laki kurang ajar ini. Sesusah apapun hidupnya nanti ia bersumpah tak akan pernah meminta bantuan pada David. Detik ini baginya David sudah mati.
"Jangan khawatir kalau perlu aku akan pergi jauh dari hidupmu."
Senyum miring menghiasi bibir David sebelum laki-laki itu berlalu meninggalkan Laras yang saat ini terduduk lemas di kursi taman. Ya memang ini yang terbaik, dan Laras sangat sadar dengan posisinya. Hah, cinta itu menyakitkan sekaligus memuakkan.
Setelah lima belas menit termenung Laras akhirnya bangkit dari duduknya, wanita itu berjalan dengan gontai menuju tempat dimana sepeda motor miliknya ia parkir.
Jalanan yang ramai membuat suasana hati Laras semakin memburuk, mendung yang menghiasi langit sore pun seakan menggambarkan bagaimana keadaan hati perempuan itu. Remuk, hancur, patah, dan semua kata kata menyakitkan berkumpul dalam dirinya membuat Raras kesulitan hanya untuk sekedar bernafas.
Bab 1 PROLOG
10/12/2021
Bab 2 SATU
10/12/2021
Bab 3 DUA
10/12/2021
Bab 4 TIGA
10/12/2021
Bab 5 EMPAT
10/12/2021
Bab 6 6
16/12/2021
Bab 7 7
16/12/2021
Bab 8 8
16/12/2021
Bab 9 9
16/12/2021
Bab 10 10
16/12/2021
Bab 11 11
16/12/2021
Bab 12 12
16/12/2021
Bab 13 13
16/12/2021
Bab 14 14
16/12/2021
Bab 15 15
16/12/2021
Bab 16 16
09/02/2022
Bab 17 17
09/02/2022
Bab 18 18
09/02/2022
Bab 19 19
09/02/2022
Bab 20 20
09/02/2022
Bab 21 21
11/02/2022
Bab 22 22
11/02/2022
Bab 23 23
11/02/2022
Bab 24 24
11/02/2022
Bab 25 25
11/02/2022
Bab 26 26
15/02/2022
Bab 27 27
15/02/2022
Bab 28 28
15/02/2022
Bab 29 29
15/02/2022
Bab 30 30
15/02/2022
Bab 31 31
24/02/2022
Bab 32 32
24/02/2022
Bab 33 33
24/02/2022
Bab 34 34
24/02/2022
Bab 35 35
24/02/2022
Bab 36 36
06/07/2022
Bab 37 37
06/07/2022
Bab 38 38
06/07/2022
Bab 39 39
06/07/2022
Bab 40 40
06/07/2022