Jadikan Aku Budakmu, Nona

Jadikan Aku Budakmu, Nona

Dien Madaharsa

5.0
Komentar
1.5K
Penayangan
65
Bab

Setelah terbebas dari penjara, Jade mendapat rumah warisan dari kakek kandung yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Di dalam rumah itu terdapat sebuah lukisan perempuan kuno yang begitu mengesankan. Jade mulanya ingin menjual lukisan itu, tetapi niatnya urung karena tiba-tiba saja perempuan dalam lukisan itu hidup ... dan menginginkannya untuk menjadi budak darah.

Jadikan Aku Budakmu, Nona Bab 1 Lukisan

BARANGKALI ini adalah mimpi di siang bolong yang mengentak kesadaran Jade bagai pukulan godam yang kuat.

Pemuda itu berdiri di depan sebuah rumah empat lantai bergaya klasik Eropa abad pertengahan, yang menjulang muram bagai bangunan angker berbentuk persegi dan dibingkai langit kuning bebercak ungu. Tempat ini meneriakkan kesan warisan kuno yang dibiarkan sekarat dan rusak. Tidak benar-benar rusak, sebenarnya. Hanya saja catnya yang berwarna abu-abu sudah memudar dan hampir mengelupas, sebagian bingkai jendela berkisi enam yang berjajar di sepanjang muka teras agak gompal dan kacanya pudar, sementara tanaman ivy bersulur tebal merambati jeruji pagarnya yang berkarat. Sampah peradaban berupa daun kering dan bangkai serangga berserakan, tenggelam di antara rerumputan yang tak dipangkas, mengotori undakan teras yang berselimut debu dan retak-retak.

Pengamatan lebih lanjut membawa Jade ke kesimpulan bahwa rumah ini pastilah tidak diwariskan untuknya, atau kemungkinan paling kecil; dia salah alamat.

Tidak, ini alamat yang benar. Pemuda itu merogoh kembali lipatan kertas di saku jaketnya dan menghamparkannya di depan muka; Marona Lange, 45 Ruswer

Atensinya merangkak naik pada palang bertuliskan nomor 45 yang tergantung miring di dekat pintu ganda bercat hitam. Ini rumah yang diwariskan Kakek padamu, Jade. Kau tidak salah alamat!

Memikirkannya akan membuat kepalanya lebih pening lagi. Jade tak ingin perjuangannya sampai ke sini menjadi sia-sia hanya karena salah alamat, sebab perjalanan menuju kemari tidaklah mudah. Dia harus naik kereta selama 12 jam dari Palmer hanya untuk mendapat serangan pegal parah. Tulang punggungnya seperti retak dan kepalanya pening setengah mati. Pemuda itu butuh kasur untuk tidur seharian.

Berusaha menahan lelah, Jade mendorong pagar tua di hadapannya yang tidak terkunci. Bunyi nyaring gesekan besi yang sudah lama tak dibuka menusuk telinga, tetapi dia memilih abai selagi bersusah payah menyeret kopornya menyusuri halaman tak terawat yang basah karena sisa-sisa hujan. Pemuda itu naik ke teras dan sedang berusaha memasukkan kunci ke lubang pintu ketika tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

"Jade, ini aku, Dave. Kau sudah sampai?"

Jade menjepit ponselnya di antara pundak dan telinga seraya mendorong pintunya terbuka, lalu sedikit menendang kopernya agar masuk ke lorong utama. Bau pekat debu menyambutnya, membuatnya mengernyitkan hidung.

"Baru saja tiba. Mau tahu pendapatku? Rumah ini seperti lokasi film horor."

"Yah, setidaknya sekarang kau kaya raya, Nak. Kau suka suasananya?"

Jade menaruh koper di balik pintu, lalu melempar tas ranselnya di sofa terdekat, yang ketika dicermati baik-baik, rupanya memiliki kesan klasik yang mahal. Penutup sofanya terbuat dari beludru yang dipadukan dengan rangka kayu mahoni bercat emas. Pemuda itu meraba teksturnya; terasa kokoh dan lembut, walau sedikit berdebu.

Jade mengernyit. Penemuan ini secara praktis membuatnya tengadah untuk memeriksa seluruh penjuru ruangan yang hanya diterangi sinar dari jendela-jendela tanpa kerai. Segala hal yang menyambutnya adalah definisi mutlak dari kemewahan keturunan ningrat. Lantai kayu yang dipijaknya keras dan berbunyi ketukan mantap, sementara semua perabot yang diletakkan di sini terbuat dari kayu mahoni gelap dengan ukiran rumit; satu set meja tamu dan karpet berpola cerah, serta deretan rak berat yang berjajar bersama beberapa lukisan. Ambang lorong dan pilar penopangnya dibuat melengkung dan memiliki puncak tajam, mirip katedral-katedral di era Victoria, sementara tangga kembarnya melingkari di kedua sisi ruangan, menuju lantai berikutnya yang misterius dan suram.

Sekali lagi, keterkejutannya pecah.

"Tidak terlalu, Dave," balas Jade, dengan suara yang dibuat tenang. Pemandangan ini nyaris membuatnya kena serangan jantung di tempat. "Suasananya terlalu suram untuk ditinggali seorang diri. Aku ragu bakalan ada koloni hantu yang muncul dari loteng. Tapi mari fokus ke berita baiknya; siapa yang menyangka kakekku ternyata kaya raya?"

"Baru saat ini kau percaya apa kataku? Kau selalu bilang kakekmu adalah pensiunan yang hidupnya membosankan." Terdengar Dave terkekeh di ujung sambungan. "Saat aku pertama kali datang kepadamu, kau menyangka akan mendapat warisan rumah yang lebih kecil dan sempit dari unit apartemenmu."

"Yah, kurasa keraguanku wajar. Aku tak pernah ketemu dia seumur hidupku. Ibuku melarangku untuk bertemu dengannya, bahkan sekadar membagi alamat tempat tinggalnya saja ibuku pelit. Kau kan notarisnya, kukira kau sudah tahu tentang hubungan rumit kakekku dengan semua anak perempuannya. Selama ini yang terekam di kepalaku adalah pendapat kebencian ibuku mengenai pria tua itu."

"Oh, jangan panggil pria tua, dong. Dia sudah berbaik hati memberikan rumah itu padamu."

"Karena tidak ada ahli waris lagi selain aku," kata Jade, menyugar rambut cokelatnya ke belakang. Atensinya tengadah memperhatikan lampu gantung kristal di langit-langit ruang tengah yang tinggi. "Selama pria itu masih hidup, dia tak berusaha mencari aku. Itu sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa kakekku orang payah."

"Yah, sudahlah, aku tak bisa memahami kebencianmu. Tugasku hanya mengantar surat-surat penting dan wasiat kakekmu kepadamu," kata Dave.

Jade melangkah menyusuri ruang tamu, melihat-lihat lorongnya yang dipenuhi kabinet berdebu dengan barang-barang antik di dalamnya―artefak dari budaya lain, seperti cermin kayu, patung-patung kecil, kendil keramik, dan perhiasan-perhiasan etnis yang ditaruh dalam wadah bening. Berdasarkan penjelasan Dave, kakeknya dulu adalah seorang pengoleksi barang antik. Benda-benda seperti ini wajar ditemukan, meskipun kegunaannya masih perlu dipertanyakan. Jade sendiri tak begitu suka menghiasi rumah dengan ornamen yang berlebihan begini. Dia berpikir akan menjualnya nanti-nanti.

"Jadi, ada berapa kamar di rumah ini?" Jade bertanya, sementara dia membuka satu per satu pintu yang tersebar di sepanjang lorong lantai pertama.

"Satu kamar utama dan lima kamar biasa. Kamar utama adalah kamar bekas kakekmu. Uh, beliau menuliskan dalam riwayatnya kalau kau mungkin bisa menggunakan kamar yang lainnya, karena kamar utama tidak boleh...."

"Di mana kamar utamanya?"

"Hah?" Suara Dave terdengar terkejut.

"Kamar utama. Tentu saja aku mau menempati kamar utama," kata Jade, mantap. Dia membuka pintu terakhir di bawah tangga dan menemukan sebuah kamar yang cukup bagus, namun tidak begitu luas. Dindingnya dilapisi kertas bernuansa marun yang berbau sedikit apak. Dilihat dari perabotannya, sepertinya ini kamar perempuan. Mungkin milik mendiang ibunya atau salah satu dari saudara-saudaranya.

"Kakekmu melarangmu menggunakan kamar utama."

"Kenapa aku harus menuruti perintah orang yang sudah mati?"

"Itu wasiat, anak muda."

"Aku adalah pewarisnya. Sekarang semua yang ada di rumah ini berhak menjadi milikku."

Dave terdiam sejenak, dan Jade mendesak lagi, "Memangnya dia memberitahumu alasannya?"

"Sejujurnya ... tidak. Dia hanya bilang di suratnya kalau kamar utama lebih baik dibiarkan kosong."

"Bertambah lagi satu alasan mengapa aku pantas menyebutnya payah. Para manula tak pernah serius untuk menjelaskan sesuatu."

Dave terdiam lagi, dan Jade menebak pria itu pasti sedang menggulirkan mata. Namun toh Jade tidak peduli bila orang lain menganggap dirinya kurang ajar, sebab dia tahu orang lain tak memahami hidupnya yang selama ini serba kacau. Bahkan mendiang ibu dan kakeknya, yang selama puluhan tahun rupanya menyimpan harta sebanyak ini tanpa sepengetahuannya. Bagaimana bisa dia berpikir tenang? Selama ini Jade merasa ditipu.

"Ya sudah, terserah kau. Kamar utama ada di lantai tiga, pintu sebelah kiri dari tangga menuju loteng."

"Baiklah, aku ke sana." Langkah Jade berderap di sepanjang tangga yang melingkar.

"Omong-omong, aku akan secepatnya bertemu lagi denganmu. Kita janjian lewat virtual meeting, oke? Mungkin lusa atau hari setelahnya?"

"Tentu. Thanks, Dave." Kemudian Jade mendengar salam terakhir dari Dave sebelum ponsel itu benar-benar ditutup.

Seusai percakapannya dengan Dave, Jade melewati dua bordes tangga sekaligus dan sampai ke lantai tujuan. Dia menarik napas sejenak dan menyiapkan diri melangkah ke lorongnya yang lebih gelap dan suram. Hanya ada tiga pintu yang dua di antaranya merupakan ruang kosong. Satu pintu lain berada di ujung, dekat dengan ambang lengkung kecil ke arah loteng. Jade memantapkan langkah menuju kamar utama, lalu membukanya. Dia menyalakan saklar lampu yang terpasang di dekat pintu.

Ruangan yang menyambutnya, sesuai dugaannya, adalah ruangan paling besar dan luas. Kamar tidurnya terletak di tengah-tengah, diapit dua nakas kayu berpelitur rumit yang kakinya pendek dan melengkung. Karpetnya bundar berwarna emas, melapisi lantai kayu yang terlihat lebih mengilat daripada di luar tadi. Kemudian perabotan lainnya; lemari pakaian, lemari laci, dan meja rias cantik, mengelilingi dinding bercat kelabu. Jade bersiul senang, menghampiri kasur, lalu melemparkan diri ke atasnya.

"Ini kamar yang sempurna. Untuk apa melarangku menempatinya?" gumam Jade, sementara dia merentangkan tangannya di sepanjang kasur, mengusap seprainya yang lembut seperti bocah yang memeragakan kepakan sayap di pelataran salju.

Dia memejamkan mata sebentar dan menemukan fakta bahwa dirinya tak akan bisa tidur sebelum barang-barangnya dibawa naik. Maka Jade menikmati berbaring santai di sana selama beberapa menit.

Pandangannya pelan-pelan bergeser pada sebidang dinding yang digantungi seprai putih untuk menutupi sesuatu yang berbentuk persegi di baliknya. Sepertinya isinya pigura foto atau lukisan.

Di antara semua perabot yang ada, mengapa hanya benda itu yang ditutupi?

Tahu-tahu saja saja nalurinya dibanjiri rasa penasaran untuk menyibak seprai itu. Benaknya menebak-nebak; mungkin itu adalah potret lukisan kakeknya, atau keluarga kakek bersama anak-anak perempuannya. Kalau dugaannya benar, Jade tak kuasa melihat bagaimana rupa ibunya saat masih muda dulu, jadi dia turun dari kasur, menghampiri dinding, dan langsung menarik seprainya ke bawah.

Seketika, pemuda itu terpaku menatap sebuah lukisan yang bersemayam di balik pigura emas.

Itu bukan lukisan kakek atau anggota keluarganya, melainkan lukisan seorang gadis muda yang tak dia kenal. Berambut hitam dan sedikit bergelombang. Helainya turun melewati pundak sampai menyentuh pinggang. Warna kulitnya putih pucat, menyerupai mayat. Kalau saja tidak ada rona merah muda tersepuh di pipinya yang membuatnya kelihatan hidup. Barangkali ada sihir magis di kedua matanya yang sekelam malam, sebab ketika menatapnya, Jade lupa caranya bernapas. Dia terperenyak selama hampir satu menit, dan langsung berkedip dilalap rasa malu karena memelototi wajah seorang gadis terlalu lama.

Secara keseluruhan, lukisan gadis ini memiliki kecantikan yang agung. Jade tak tahu bagaimana

menjelaskannya, mengapa benaknya memilih kosakata "agung" untuk menggambarkan sosoknya yang terlihat gotik sekaligus aristokrat. Barangkali karena pakaian yang dikenakan gadis itu merupakan sulaman bulu hitam elegan berkerah rendah, dipadu dengan kalung batu rubi, dan sarung tangan berenda yang menutupi jemari panjangnya yang seputih susu, seperti busana bangsawan Eropa abad pertengahan.

Jade bisa menebak bahwa gadis itu bukanlah istri sang kakek maupun ibu atau saudara-saudaranya. Selain karena perbedaan tahun yang terlalu lampau, ciri-ciri fisiknya juga berbeda dari foto yang pernah Dave tunjukkan kepadanya. Semua anggota keluarga Jade memiliki rambut cokelat dan mata berwarna hazel atau hijau. Tidak ada yang kulitnya sepucat mayat, dan warna rambut serta matanya tidak sehitam gadis ini.

Setelah beberapa menit membeku dan mengamati lukisan, terbit pertanyaan ganjil dalam kepalanya;

Mengapa sang kakek menyimpan lukisan gadis asing di kamar pribadinya?[]

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Pemuas Nafsu Keponakan

Pemuas Nafsu Keponakan

kodav
5.0

Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Aku, Rina, seorang wanita 30 Tahun yang berjuang menghadapi kesepian dalam pernikahan jarak jauh. Suamiku bekerja di kapal pesiar, meninggalkanku untuk sementara tinggal bersama kakakku dan keponakanku, Aldi, yang telah tumbuh menjadi remaja 17 tahun. Kehadiranku di rumah kakakku awalnya membawa harapan untuk menemukan ketenangan, namun perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkahku. Aldi, keponakanku yang dulu polos, kini memiliki perasaan yang lebih dari sekadar hubungan keluarga. Perasaan itu berkembang menjadi pelampiasan hasrat yang memaksaku dalam situasi yang tak pernah kubayangkan. Di antara rasa bersalah dan penyesalan, aku terjebak dalam perang batin yang terus mencengkeramku. Bayang-bayang kenikmatan dan dosa menghantui setiap malam, membuatku bertanya-tanya bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan beban ini. Kakakku, yang tidak menyadari apa yang terjadi di balik pintu tertutup, tetap percaya bahwa segala sesuatu berjalan baik di rumahnya. Kepercayaannya yang besar terhadap Aldi dan cintanya padaku membuatnya buta terhadap konflik dan ketegangan yang sebenarnya terjadi. Setiap kali dia pergi, meninggalkan aku dan Aldi sendirian, ketakutan dan kebingungan semakin menguasai diriku. Di tengah ketegangan ini, aku mencoba berbicara dengan Aldi, berharap bisa menghentikan siklus yang mengerikan ini. Namun, perasaan bingung dan nafsu yang tak terkendali membuat Aldi semakin sulit dikendalikan. Setiap malam adalah perjuangan untuk tetap kuat dan mempertahankan batasan yang semakin tipis. Kisah ini adalah tentang perjuanganku mencari ketenangan di tengah badai emosi dan cinta terlarang. Dalam setiap langkahku, aku berusaha menemukan jalan keluar dari jerat yang mencengkeram hatiku. Akankah aku berhasil menghentikan pelampiasan keponakanku dan kembali menemukan kedamaian dalam hidupku? Atau akankah aku terus terjebak dalam bayang-bayang kesepian dan penyesalan yang tak kunjung usai?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Jadikan Aku Budakmu, Nona Jadikan Aku Budakmu, Nona Dien Madaharsa Romantis
“Setelah terbebas dari penjara, Jade mendapat rumah warisan dari kakek kandung yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Di dalam rumah itu terdapat sebuah lukisan perempuan kuno yang begitu mengesankan. Jade mulanya ingin menjual lukisan itu, tetapi niatnya urung karena tiba-tiba saja perempuan dalam lukisan itu hidup ... dan menginginkannya untuk menjadi budak darah.”
1

Bab 1 Lukisan

29/09/2025

2

Bab 2 Pemicu

29/09/2025

3

Bab 3 Darah

29/09/2025

4

Bab 4 Budak

29/09/2025

5

Bab 5 Rahasia

29/09/2025

6

Bab 6 Gaun

29/09/2025

7

Bab 7 Mawar

29/09/2025

8

Bab 8 Toko

29/09/2025

9

Bab 9 Kolektor

29/09/2025

10

Bab 10 Bangkai

29/09/2025

11

Bab 11 Bandit

29/09/2025

12

Bab 12 Mimpi

29/09/2025

13

Bab 13 Bohong

29/09/2025

14

Bab 14 Dusta

17/10/2025

15

Bab 15 Tertawa

17/10/2025

16

Bab 16 Film

27/10/2025

17

Bab 17 Rokok

28/10/2025

18

Bab 18 Izin

29/10/2025

19

Bab 19 Berita

30/10/2025

20

Bab 20 Rumor

31/10/2025

21

Bab 21 Rubi

01/11/2025

22

Bab 22 Evangeline

02/11/2025

23

Bab 23 Mumifikasi

03/11/2025

24

Bab 24 Belati

04/11/2025

25

Bab 25 Mabuk

05/11/2025

26

Bab 26 Ingatan

06/11/2025

27

Bab 27 Gustav

07/11/2025

28

Bab 28 Kebohongan

08/11/2025

29

Bab 29 Rapuh

09/11/2025

30

Bab 30 Undangan

10/11/2025

31

Bab 31 Foto

11/11/2025

32

Bab 32 Isabel

12/11/2025

33

Bab 33 Minggat

13/11/2025

34

Bab 34 Gelandangan

14/11/2025

35

Bab 35 Leluhur

15/11/2025

36

Bab 36 Lutut

16/11/2025

37

Bab 37 Pembunuh

17/11/2025

38

Bab 38 Perjanjian

18/11/2025

39

Bab 39 Museum

19/11/2025

40

Bab 40 Patung

20/11/2025