back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
The Thread of Destiny

The Thread of Destiny

Baby_Scorpio

5.0
Ulasan
2.2K
Penayangan
18
Bab

Altheda Estrella seorang gadis remaja dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Kehidupannya yang sederhana, dan sebatang kara tidak menyurutkan semangatnya untuk menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin. Hingga akhirnya Altheda berhasil menyelesaikan studinya, dan baru saja diangkat menjadi seorang dokter muda di salah satu rumah sakit ternama, Singapura. Namun, sepertinya benang takdir tidak berpihak padanya. Altheda harus meregang nyawa karena menyelamatkan seorang dosen dari penembakan. Sungguh disayangkan, nasibnya yang malang membuat pendidikannya selama bertahun-tahun harus sia-sia. Seakan-akan dipermainkan oleh takdir. Altheda terbangun dengan sakit kepala yang menyerang teramat sangat. Kilasan ingatan tentang seorang gadis remaja yang teraniaya dengan caranya sendiri, tetapi malah dituduh sebagai biang keladi silih berganti menghantam pikirannya. "Azalea ... Terimakasih telah memberikan kesempatan buat gue untuk tidak membuat 21 tahun gue sia-sia, juga ... Gue akan mengubah sudut pandang lo tentang hidup, Lea. Hidup bukan hanya terfokus dengan perhatian orang lain, pria, keluarga, ataupun teman-teman lo yang tidak satupun berguna itu, tetapi juga tentang bagaimana merajut masa depan agar menjadi lebih berguna." Altheda tersenyum miring, menatap wajah seorang gadis yang bernama Azalea Caleste dengan lekat. Wajah dari tubuh yang akan digunakannya, mulai dari sekarang dan nanti! "Gue Altheda Estrella S. Akan mendapatkan kebahagiaan dengan cara gue sendiri dengan tubuh lo, Lea." Satu hal yang tidak pernah diketahui siapapun sampai Altheda meregang nyawa--Rahasia terbesarnya. ***

Bab 1
The Thread of Destiny
TTOD:one

Happy Reading...!

***

Dur ... Duar ... Duar ... Bom ...

Suara dentuman dari letusan kembang api di atas langit salah satu kampus terbaik di Negara Singapura terdengar nyaring. Kilatan-kilatan cahaya dari percikan kembang api terlihat berwarna dan indah. Menakjubkan! Satu kata yang tepat untuk menggambarkan betapa indahnya langit malam dengan hiasan taburan bintang dan percikan kembang api kala ini.

Di pojok balkon aula kampus, senyuman manis dari seorang gadis yang terus mengadakan kepala menatap langit malam dengan takjub tak pernah luntur. Hiruk pikuk riuh suara dari orang-orang yang juga sedang berada di atas gedung tinggi itu tidak mengganggu aktivitas sang gadis sama sekali.

"Gue rasa tuh langit lebih bagus dari pada penampilan mereka, makanya lo lebih milih natap langit ketimbang para cogan yang ada di sana!" Seorang gadis lainnya datang mendekat, duduk bersandar di kursi panjang yang sama dengan yang diduduki oleh gadis sebelumnya.

Kepalanya ikut mengadah ke atas. Mengikuti gerakan sahabatnya yang sedari tadi tetap fokus dengan dunianya sendiri dari awal pesta berlangsung hingga saat ini. Ia menghembuskan nafas pelan. Nyaman! Mungkin karena ini, sahabatnya tidak ingin beralih dari sini sedari tadi. Tempat ini tergolong sepi dan tenang, suara ricuh tidak terlalu keras terdengar dari tempat ini.

"Ngomong-ngomong congrats atas kelulusan lo, Ela." Gadis itu berucap dengan tulus. Meskipun matanya masih terpejam dan dia tidak bisa melihat reaksi dari sahabatnya, tetapi dia tahu jika sahabatnya itu pasti tengah tersenyum meski tak bersuara.

Altheda Estrella, itu adalah nama dari gadis yang sedari tadi terus saja diajak bicara oleh temannya. Altheda atau gadis yang biasa dipanggil Ela merupakan sosok yang pendiam, tidak banyak bicara, dan selalu bertindak dengan cara logis dan bermakna.

Altheda bukanlah orang yang kaya. Ia hanya seorang gadis sederhana yang hidup sebatang kara. Pengalaman hidup yang dialaminya tidaklah sedikit lagi. Terlalu banyak rasa sakit, terlalu banyak caci maki, dan hinaan yang dia terima selama ini. Namun, Altheda tidak merasa jika itu merupakan suatu penghalang untuknya. Bagi Altheda, semua kepahitan yang dia terima selama ini akan terbayarkan sejalan dengan ilmu yang dia miliki, dan tentu saja dapat dibanggakannya di masa depan. Selain itu, Altheda juga merupakan satu-satunya inti dari kelompok mafia yang berkedok geng berandalan--SCaRY.

SCaRY terdiri dari lima orang anak muda yang memiliki bakat berbeda-beda. Selain itu mereka tidak berada di satu negara yang sama, bisa dibilang mereka hanya bersatu ketika ada misi. Itupun mereka tidak menunjukkan wajah masing-masing. Hanya Altheda yang mengetahui wajah mereka semua, karena katanya Altheda inti dari SCaRY yang merupakan satu-satunya bagian dari mereka yang wanita.

Alasan yang klasik memang. Meski alasan sebenarnya karena Altheda merupakan pencetus akan adanya SCary. Ia mendirikan SCaRY untuk tujuannya sendiri. Namun, soal kesetiaan jangan diragukan. Altheda mendapatkan kesetiaan dari SCaRY lebih dari apapun. Bagi kelima anggota SCaRY, Altheda sudah menjadi bagian hidup mereka. Tak ada Altheda maka tak ada kehidupan. Terkesan lebay memang, tetapi itulah kenyataannya.

Singapura, merupakan satu dari lima kota besar yang diduduki oleh SCaRY. Dan Altheda yang berada di sana bersama dengan kelompok kecil yang dipimpinnya--Start. SCaRY merupakan singkatan dari Start Come and Rule Young yang artinya Bintang datang dan menguasai anak muda, tetapi tidak banyak yang tahu arti dari singkatan itu karena mereka lebih mengenal SCaRY dengan Menakutkan.

Altheda itu penggila ilmu, itu sebabnya gadis itu rela pindah jauh-jauh dari Indonesia ke Singapura demi mengejar cita-citanya untuk memiliki pendidikan yang tinggi dan ilmu yang berlimpah. Meski kenyataan sebenarnya karena anak itu melarikan diri.

Dua puluh satu tahun sudah dirinya banting tulang kerja sana sini untuk dapat terus melanjutkan pendidikannya. Dan sekarang tepat diusianya yang ke-25 tahun dirinya memilih untuk menyelesaikan pendidikannya di gelar M.ked, S2 kedokteran. Bukan berarti dia ingin berhenti, tetapi Altheda merasa sudah saatnya untuk dirinya sedikit bersantai dan menikmati jerih payahnya dalam mengenyam pendidikan selama ini.

"Ngomong-ngomong lo kenapa sih lebih milih jadi dokter muda? Padahal setau gue, seorang yang bergelar magister seharusnya sudah berada di tahap dokter spesialis, kan?" Altheda membuka matanya perlahan setelah mendengar ucapan dari sahabatnya yang sedari tadi terus berusaha mengajaknya untuk bicara.

"Gue ngerasa ilmu yang tinggi enggak akan menutup kemungkinan gue untuk buat kesalahan. So, akan terlihat lebih normal kalo gue mengikuti prosedur dan memulai dari bawah," ucap Altheda santai sembari menatap kegiatan teman-temannya yang lain sedang berpesta ria.

"Alah gaya lo bambank, sok lu." Alva berdiri, ia memilih untuk menyandarkan tubuhnya di pembatasan balkon.

"Gue tahu banget lo, Ela. Enggak usah sok yes deh lo, itu pasti karena lo masih mau sekalian belajar lagi, kan ngaku lo! Lo itu terlalu terobsesi dan maniak dengan ilmu, Ela. Dan itulah kenapa gue selalu kalah setiap beradu argument dengan lo," tuduh Alva dengan jari telunjuk mengacung pada Altheda.

Alva--sahabat baik Altheda dari mereka berada di Sekolah Menengah Atas 5 tahun silam. Dia sangat tahu dengan sifat sahabatnya yang satu ini. Disaat semua orang seusia dengannya udah sibuk mencari pekerjaan, tetapi Altheda masih berkutat mencari ilmu. Sayangnya Alva tidak tahu saja, jika Altheda jauh lebih dulu bekerja sebagai seorang hacker sebelum mereka semua menginjakkan kaki ke dunia pekerjaan.

Altheda hanya tersenyum tipis. Ia tidak terlalu menanggapi ucapan berupa sindiran halus dari sahabatnya ini. Sudah terbiasa baginya mendengarkan sindiran-sindiran semacam ini dari dulu.

Semakin larut malam, dentuman keras musik semakin memekakkan telinga. Sudut balkon ruangan yang tadinya tidak terlalu berisik, sekarang mulai terdengar. Altheda menghela nafas panjang. Membosankan! Dia tidak terlalu menyukai pesta seperti ini, terlalu berisik dan tidak berguna. Andai saja pesta ini bukan dipelopori oleh beberapa dosen yang telah berbaik hati berbagi ilmunya pada Altheda, sudah dipastikan dirinya tidak akan mau berada di pesta yang membosankan seperti ini.

"Bosan?" tanya Alva pelan.

"Hemm... ." Altheda hanya membalas ucapan Alva dengan deheman. Lagi-lagi Alva harus menghela nafas berat. Ia harus ekstra sabar menghadapi sahabatnya yang super duper irit bicara ini.

Alva melirik jam tangannya, pukul 22.45 memang sudah sedikit larut malam. Mungkin jika mereka berpamitan pulang sekarang, itu tidak akan dipertanyakan lagi oleh teman-teman mereka yang lain.

"Mau pulang sekarang?" tawar Alva dengan mata yang terus menatap Altheda tenang.

"Boleh. Gue pamit dengan Sir Arthur bentar. Tungguin gue dan jangan coba-coba untuk meninggalkan gue sendiri di sini!" ucap Altheda dengan jari telunjuknya yang mengacung pada Alva. Alva tersenyum kecil, kepalanya mengangguk mengerti dengan permintaan Altheda.

Altheda segera bergerak menghampiri seorang dosen laki-laki paruh baya di salah satu kursi khusus dosen. Bibirnya tersenyum manis, dengan tatapan mata yang memuja. Sir Arthur merupakan salah satu dosen favoritnya karena pria itu mengajarinya dengan serius selama empat tahun terakhir masa kuliahnya.

"Sir,"

"Altheda ... Wah cukup mengejutkan melihatmu berada di pesta ini. Ini sebuah keajaiban," canda Arthur dengan senyum manis yang terkesan mengejek dimata Altheda.

"Anda mengejekku, Sir. Ini cukup menyakitkan dibandingkan sindiran Alva yang mengataiku maniak ilmu." Arthur tertawa terbahak mendengar penuturan Altheda. Gadis dihadapannya ini memang berbeda dari siswinya yang lain, gadis ini akan cenderung hormat pada mereka yang berilmu dan sedikit menyepelekan mereka yang berkuasa. Karena menurut kacamata Altheda, mereka yang berkuasa belum tentu memiliki ilmu yang cukup untuk bisa menghormati satu sama lainnya.

Tentu saja pandangan Altheda tentang ini tidak salah. Tidak sedikit mereka yang berkuasa lupa caranya memberikan hormat pada orang yang lebih tua, dan menurutnya itu merupakan minus ilmu paling dasar.

"Duduklah anak muda! Ayo kita berbincang sebentar, saya mempunyai sedikit penawaran yang menarik untuk kamu, Nak," tutur Arthur dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.

"Baiklah, jika Anda cukup memaksa." Altheda mendudukkan tubuhnya di kursi samping kanan Arthur. Pria paruh baya itu hanya mendengus kecil mendengar ucapan Altheda. Oh ayolah, dirinya tidak memaksa gadis ini sama sekali. Dia hanya menawarkan, ingat. Menawarkan!

"Ck ... Sepertinya sifat mu yang satu itu harus segera kau tinggalkan, Ela," gerutu Arthur jengkel. Altheda hanya terkikik kecil melihat dosen favoritnya menggerutu kesal. Sepertinya Altheda harus diberikan apresiasi karena selalu berhasil membuat dosen yang terkenal tak pernah marah dan sangat santai itu mengeluarkan ekspresi baru, jengkel.

"Jadi ... Apa yang ingin Anda tawarkan, Sir?" tanya Altheda.

"Tidak banyak, tapi sebelumnya saya ingin bertanya, Ela. Apa kamu berniat kembali ke Indonesia, setelah studi-mu selesai?" Bukannya menjawab, Arthur malah kembali melemparkan pertanyaan pada Altheda.

"Lalu, bagaimana dengan Anda? Kapan Anda berniat kembali ke Indonesia?"

"Altheda, tidak sopan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!" tegur Arthur memperingati.

"Hehehe." Altheda terkekeh pelan, lalu kembali melanjutkan katanya," Jika Anda lupa. Anda juga melakukan hal yang sama, Sir. Tapi aku akan menjawab pertanyaan Anda. Tidak! Aku sama sekali tidak berniat untuk kembali. For you information Sir, aku sudah bekerja di salah satu rumah sakit sebagai dokter muda."

"Ah ... Dokter magang rupanya,"

"Dokter muda, Sir. Bukan dokter magang," protes Altheda tidak terima.

Arthur hanya menanggapi dengan tersenyum. whatever, pikirnya.

Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan gadis dihadapannya ini dengan lembut. Altheda akan menjadi pilihan terakhirnya untuk mendapatkan simpati dari satu-satunya cucu laki-lakinya. Tiga bulan yang lalu, sebelum kelulusan dari para mahasiswi magister diumumkan Arthur telah mengirimkan file tentang Altheda pada cucunya di Indonesia.

Arthur benar-benar menyukai sifat dari gadis dihadapannya ini. Gadis yang minim ekspresi dan maniak akan ilmu. Gadis yang akan berpikir rasional secara berulang-ulang sebelum mengambil suatu keputusan. Gadis yang sedikit kurang akhlak tetapi Arthur menyukainya. Altheda akan menjadi gadis yang sempurna untuk cucunya, itu yang Arthur pikirkan. Dan kabar baiknya, cucunya tertarik dengan Altheda dan telah mengawasi gadis ini selama dua bulan terakhir.

"Sir, jadi ... Penawaran apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Altheda ulang, karena Arthur tak kunjung menjawab pertanyaannya yang pria itu tawarkan.

"Aku ingin kau menjadi-"

Dor ...

"Awas!" pekik Altheda kencang.

Uhuk ... Altheda terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap Arthur dengan raut wajah panik. "Apa anda baik-baik saja, Sir?" cicit Altheda bertanya dengan suara lirih tertahan.

***

Hallo Guys...! Duh sedikit pemberitahuan, jika nama kota dan negara hanya berada di imaginasi author. Latar tempat sama sekali bukan hal nyata.

Salam, Scorpio.

Buku serupa
Unduh Buku